[Note : Update jika Author tidak sibuk]
Seorang siswa bernama Ash Kisaragi mendapati dirinya terpanggil ke dunia lain bersama teman sekelasnya. Kala itu mereka bertemu dengan seorang Dewi dan mendapatkan sebuah skill sesuai dengan yang mereka inginkan sebagai bekal ke dunia lain. Namun, berbeda dengan teman sekelasnya Ash mengambil semua skill yang tidak masuk dalam kategori skill petarung.
Setelah perpindahan dunia, Ash langsung pergi meninggalkan teman satu kelasnya. Ternyata ini bukan kali pertama Ash dipanggil ke dunia lain, ia tak ingin menjadi seorang pahlawan dan ingin hidup santai.
Namun ada begitu banyak masalah yang datang padanya, hingga ia bertemu dengan dewi yang pernah memanggilnya di pemanggilan pertama. Setelah itu Ash kembali mengemban nasib dunia, sebuah misi baru telah terukir padanya.
Kisah Pahlawan Yang Pernah Mengalahkan Raja Iblis Dan Dipanggil Kembali Untuk Menjadi Pahlawan Sekali Lagi. Namun kali ini musuh utamanya bukanlah raja iblis melainkan dewa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 : Pertemuan Kembali
Di bawah langit biru yang cerah, enam gadis berjalan di jalan-jalan berbatu ibu kota, menikmati hari yang dipenuhi sinar matahari hangat. Suasana kota begitu hidup, dengan suara dentingan logam dari pandai besi, teriakan para pedagang yang menawarkan dagangan, dan tawa anak-anak yang bermain di alun-alun. Mereka berjalan beriringan, gaun panjang mereka menyentuh tanah, sementara tudung yang menutupi kepala mereka berkibar pelan tertiup angin.
Di kiri dan kanan jalan, rumah-rumah batu dengan jendela kayu berukir tampak berdiri megah. Setiap rumah memiliki balkon kecil yang dihiasi dengan pot-pot bunga, memberikan sentuhan warna di tengah bangunan yang didominasi oleh batu abu-abu. Di depan rumah-rumah itu, para pedagang sibuk menawarkan kain sutra, perhiasan perak, dan kerajinan tangan yang datang dari pelosok negeri.
"Ini luar biasa!" seru salah satu gadis, Luna, matanya berbinar saat ia melihat seorang pengrajin perhiasan memamerkan kalung berkilauan. "Aku belum pernah melihat batu seindah itu."
Di depan mereka, menara gereja tua menjulang tinggi, jam besar di puncaknya berdentang, menandakan waktu makan siang. Aroma roti yang baru dipanggang tercium di udara, mengundang selera mereka. Tanpa berpikir panjang, mereka melangkah menuju sebuah toko roti kecil yang berada di ujung jalan. Di dalamnya, rak-rak dipenuhi roti segar, kue manis, dan pai daging. Gadis-gadis itu membeli beberapa roti hangat dan melanjutkan perjalanan mereka, menikmati setiap gigitan dengan senyum di wajah.
Saat mereka berjalan lebih jauh ke pusat kota, mereka tiba di alun-alun besar di mana sebuah pasar terbuka sedang berlangsung. Di sini, suasananya lebih ramai. Gerobak kayu penuh dengan buah-buahan segar, sayuran, dan rempah-rempah eksotis. Para pedagang dari negeri-negeri jauh dengan pakaian khas mereka berdiri di belakang meja, mengundang pengunjung untuk mencoba dagangan mereka. Seorang pria dengan jubah merah muda memamerkan barang-barang dari Timur Jauh: sutra halus, keramik berwarna-warni, dan parfum yang harum.
"Ayo kita lihat ini!" kata Koharu, gadis yang paling penasaran di antara mereka, menarik tangan temannya, Tama, menuju sebuah tenda besar yang dihiasi bendera warna-warni. Di dalamnya, mereka disambut oleh berbagai barang mewah—cermin berbingkai emas, lilin beraroma dari negeri seberang laut, dan botol-botol kaca yang dipenuhi dengan ramuan misterius. Pemiliknya, seorang wanita tua dengan mata tajam, menawarkan barang-barang itu dengan suara pelan namun penuh misteri.
Mereka keluar dari tenda dengan pikiran penuh keajaiban, kagum dengan beragamnya kehidupan di ibu kota. Di tengah keramaian, mereka melihat seorang pemuda bermain seruling, nadanya merdu mengalun di udara, membuat beberapa orang berhenti untuk mendengarkan. Tak jauh dari situ, seorang penyair membacakan puisi di atas panggung kayu kecil, dikelilingi oleh para penonton yang terpesona oleh kata-katanya.
Waktu berlalu begitu cepat, dan sinar matahari mulai sedikit memudar saat hari beranjak sore. Gadis-gadis itu memutuskan untuk mengunjungi salah satu taman kota sebelum kembali. Taman itu dipenuhi dengan pohon-pohon rindang dan bunga-bunga bermekaran, memberikan suasana yang tenang di tengah kesibukan kota. Mereka duduk di bangku kayu, memandang danau kecil di tengah taman, di mana angsa-angsa berenang dengan anggun.
“Hari ini benar-benar indah,” ujar Luna sambil tersenyum lebar.
Sambil menikmati ketenangan sore, mereka merenungkan segala hal yang telah mereka lihat—ibu kota yang penuh kehidupan, penuh warna, dan penuh cerita yang akan selalu mereka kenang.
.
.
.
Saat mereka duduk di bangku taman, menikmati sore yang indah, suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Gadis-gadis itu saling menoleh dengan rasa penasaran, tapi ketika mereka melihat siapa yang berjalan ke arah mereka, wajah-wajah mereka berubah tegang. Lima pria yang sangat mereka kenal, dan bahkan lebih mereka benci, kini berdiri di depan mereka dengan senyum sombong. Mereka adalah Ren, Itsuki, Naofumi, Motoyasu, dan Yuno—lima pria yang pernah mereka temui di dunia asal mereka.
"Apa kabar, gadis-gadis?" sapa Ren dengan nada angkuh, matanya memindai mereka satu per satu. Dia adalah pemimpin kelompok itu, selalu sombong dan suka merendahkan orang lain. "Senang melihat kalian di ibu kota. Tak kusangka kalian akan datang ke sini."
Risa segera berdiri, menatap tajam Ren dengan sikap waspada. “Apa yang kalian lakukan di sini?” tanyanya, suaranya penuh ketidakpercayaan.
Itsuki, yang terkenal dengan sifatnya yang licik, tertawa kecil. “Oh, kami di sini atas urusan penting, tentu saja. Kalian tahu, ada banyak hal yang bisa dilakukan pahlawan seperti kami.” Pandangannya menyelidik mereka dengan cermat, membuat suasana semakin tidak nyaman.
Azusa memutar matanya, jelas tidak terkesan dengan kehadiran mereka. “Kami tidak tertarik dengan apa pun urusan kalian. Kami hanya ingin menikmati hari kami tanpa gangguan.”
Naofumi, yang paling besar dan kuat di antara mereka, mendekat sedikit, membuat gadis-gadis itu mundur setengah langkah. "Kenapa buru-buru pergi? Kami hanya ingin berbincang. Toh, kita pernah begitu ‘akrab’ di masa lalu, bukan?" Kalimat itu diucapkannya dengan nada menggoda, tetapi gadis-gadis itu tahu betul niatnya tidak baik.
Tama, yang biasanya pendiam, kali ini tidak bisa menahan diri. “Kita tidak pernah akrab, Naofumi-san. Kalian selalu membuat masalah, serta pernah ingin mencelakai kami dan kalian tahu itu!”
Motoyasu dan Yuno tertawa, menikmati reaksi gadis-gadis itu. “Ah, tidak perlu marah-marah seperti itu, Tama-chan,” ujar Motoyasu, sambil melirik Ren, seolah mendapat dorongan untuk melanjutkan. “Kami hanya ingin bertanya-tanya, apa yang gadis-gadis seperti kalian lakukan di ibu kota? Lalu, aku juga tak melihatnya ada di sini, apa mungkin kalian sudah berpisah?”
Wajah Risa memerah, bukan karena malu, tapi karena marah. Sebelum dia sempat membalas, Tama yang selama ini paling tidak suka dikendalikan, maju lagi. “Kami di sini bukan urusan kalian. Dan kami tidak punya waktu untuk permainan bodoh kalian.”
Yuno, yang biasanya diam, kali ini tersenyum sinis dan berkata, “Jangan terburu-buru pergi. Kami bisa menunjukkan tempat-tempat menarik di kota ini. Kalian akan lebih aman bersama kami, daripada bersamanya—merujuk pada Ash.”
Risa merasa amarahnya memuncak. “Aman dari apa? Dari kalian? Kami tidak butuh perlindungan dari orang-orang seperti kalian.”
Ketegangan semakin terasa, dan jelas bahwa kedua kelompok ini tidak ingin berada di tempat yang sama. Namun, sebelum situasi semakin memanas, seorang pria yang lebih tua, dengan pakaian penjaga kota, datang menghampiri mereka. “Apakah ada masalah di sini?” tanyanya dengan suara tegas.
Ren dan teman-temannya segera merubah sikap mereka. “Tidak ada masalah, Pak,” kata Ren dengan senyum palsu. “Kami hanya berbicara dengan teman-teman lama.”
Penjaga itu menatap mereka dengan tajam, seolah tidak percaya sepenuhnya, tetapi ia juga tidak ingin memulai pertengkaran. “Kalau begitu, lebih baik kalian semua melanjutkan perjalanan masing-masing. Ini adalah tempat umum, bukan arena untuk membuat masalah.”
Melihat kesempatan untuk pergi, Risa segera menatap gadis-gadis lainnya dan memberi isyarat agar mereka ikut. Mereka semua berdiri, dan tanpa berkata apa-apa lagi, mereka berjalan menjauh, meninggalkan kelima pria itu yang hanya bisa berdiri di tempat dengan ekspresi kecewa.
Ketika mereka sudah cukup jauh, Luna menghela napas panjang. “Mereka tidak pernah berubah,” gumamnya, masih merasa jantungnya berdebar karena ketegangan tadi.
Azusa mengangguk setuju. “Mereka selalu berpikir mereka bisa mengendalikan segalanya.”
Flora yang sedari tadi ada bersama mereka hanya bisa diam karena tak mengetahui masalahnya. Ia hanya ingin segera bersama dengan Ash.
Saat dalam perjalanan kembali menuju ke penginapan mereka melihat Ash baru saja keluar dari penginapan.
"Oh...!" Ash tampak terkejut saat melihat para gadis yang berjalan mendekat ke arahnya dengan wajah kesal.
Bentar... kenapa mereka terlihat begitu kesal...? batin Ash tampak was-was.