NovelToon NovelToon
Apocalyps Girl

Apocalyps Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Zombie / Ruang Ajaib
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arju na

Sinopsis

Selama delapan tahun bertahan hidup di dunia yang telah hancur akibat kiamat zombie, Lily Mahendra berjuang menghadapi kelaparan, monster, dan pengkhianatan. Namun, pada saat ia hampir mencapai harapan terakhirnya, sahabat yang paling ia percayai justru mendorongnya ke tengah gelombang zombie yang mengamuk.

Saat kematian tampak tak terhindarkan, Lily membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat satu minggu sebelum kiamat melanda.

Kali ini, ia tidak sendirian. Sebuah Sistem Bertahan Hidup misterius dan Ruang Dimensi yang penuh sumber daya hadir untuk membantunya. Dengan pengetahuan tentang masa depan dan kesempatan kedua yang tak ternilai, Lily bertekad mengubah takdirnya, membalas pengkhianatan yang pernah ia alami, serta melindungi orang-orang yang benar-benar layak dipercaya.

Akankah Lily mampu bertahan dan membangun kehidupan yang lebih baik di tengah kehancuran dunia? Atau akankah takdir kembali menyeretnya menuju akhir yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arju na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 22 - GANGGUAN DAN ANGGOTA BARU

Saat ini Lily berjalan santai menyusuri jalanan kota yang telah berubah menjadi lautan reruntuhan. Bangunan-bangunan tinggi yang dulu megah kini tinggal puing-puing, sementara kendaraan berserakan memenuhi jalan.

Sesekali, zombie yang berkeliaran mendekatinya. Namun, tanpa menghentikan langkah, Lily hanya mengayunkan katananya.

Slash!

Kepala zombie itu langsung terpisah dari tubuhnya.

"Kota ini benar-benar hancur... Di kehidupan pertamaku, rasanya nggak separah ini deh," gumam Lily pelan sambil mengingat kembali masa lalunya.

Tanpa disadari orang lain, enam pasang mata terus mengawasi setiap gerakannya dari balik bangunan yang runtuh.

"Bos, itu cewek cakep banget. Bisa kali kita..." ucap pria berambut gondrong dengan tatapan penuh nafsu.

"Tahan dulu. Kita ikuti dia dulu, lihat dia mau ke mana," jawab pria bertubuh besar berkepala botak yang tampaknya menjadi pemimpin mereka.

Mereka bertiga terus membuntuti Lily hingga tiba di sebuah jalan yang sepi. Tidak ada zombie maupun manusia lain di sekitar.

Merasa kesempatan telah datang, ketiganya keluar dari persembunyian.

"Halo, Nona Manis. Mau ke mana nih kok sendirian? Gimana kalau Abang temenin? Nanti Abang kasih mi instan, deh," goda pria bertubuh kurus sambil menyeringai.

Lily sama sekali tidak terkejut.

Sejak tadi, ia sudah mengetahui keberadaan mereka melalui penglihatan mental miliknya.

"Cih... Dasar sampah masyarakat. Dunia sudah kiamat pun bukannya tobat, malah makin menjadi. Memang benar, kalau sampah tetaplah sampah sampai kapan pun," ucap Lily dingin.

Ucapan itu langsung membuat wajah sang bos memerah karena marah.

"Dasar jalang! Tangkap dia! Bawa ke hadapanku! Biar dia tahu siapa tuannya!" bentaknya.

Kedua anak buahnya langsung bergerak mendekati Lily.

Saat tangan mereka hampir menyentuh tubuh gadis itu...

Sring!

Slash!

"AARRGGHHH!!"

Jeritan memilukan terdengar.

Lengan pria gondrong itu terputus dan jatuh ke tanah bersama semburan darah.

"AAAKH! Tanganku! Tanganku!!"

Pria kurus yang melihat kejadian itu langsung menghentikan langkahnya. Tubuhnya gemetar melihat Lily masih berdiri tenang dengan katana berlumuran darah.

"Cih... Berani sekali sampah seperti kalian mencoba menyentuhku."

"Jalang sialan! Beraninya kau melukai anak buahku! Mati saja kau!"

Pria botak itu langsung menerjang ke depan.

Dalam sekejap, kedua lengannya berubah menjadi logam berwarna hitam mengilap.

Ternyata ia adalah manusia terbangkitkan dengan elemen logam.

Trang!

Buk!

Trang!

Suara benturan antara tangan logam dan katana Lily bergema di jalanan yang sunyi.

"Hahaha! Gadis jalang! Lebih baik kau menyerah saja. Sayang kalau kulit mulusmu terluka oleh tangan kuatku," ejek pria itu dengan senyum menjijikkan.

Lily meludah ke tanah.

"Cuih! Jangan harap. Kata menyerah nggak pernah ada di kamus seorang Lily Mahendra."

Melihat dirinya diludahi, amarah pria botak itu semakin meledak.

"Kurang ajar!"

Ia menghujani Lily dengan pukulan bertubi-tubi.

Buk!

Buk!

Trang!

Ting!

Lily terus menangkis setiap serangan menggunakan katananya.

Namun...

Saat melihat celah pertahanan Lily terbuka, pria itu langsung melayangkan pukulan ke arah perutnya.

Brak!

"Ugh...!"

Tubuh Lily terpental beberapa meter sebelum jatuh terduduk di atas aspal yang retak.

"Hoek!"

Darah segar menyembur dari mulutnya.

"Sialan... sakit banget, anjir..." gumam Lily sambil meringis kesakitan.

Ia perlahan berdiri kembali meski tubuhnya masih terasa nyeri.

Bagaimanapun juga, kekuatan manusia biasa dan manusia terbangkitkan memang sangat berbeda.

"Sialan... Lo, Botak... bakal gue bunuh..." bisiknya pelan.

"Hahaha! Sudahlah, Sayang. Jangan memaksakan diri. Ikut saja denganku, nanti kau akan kulayani dengan baik," ucap pria botak itu sambil menjilat bibirnya.

"Cih... Sampai mati pun aku nggak akan pernah ikut sama sampah kayak lo."

Diam-diam, Lily meneguk seteguk air spiritual dari ruang penyimpanannya.

Dalam hitungan detik...

Rasa sakit di tubuhnya perlahan menghilang.

Luka dalam yang tadi dideritanya mulai pulih.

"Apa?! Bagaimana mungkin?" seru pria botak itu dengan mata membelalak.

Kesempatan itu langsung dimanfaatkan Lily.

Sring!

Slash!

"ARGHH!"

Pria botak itu buru-buru menghindar sehingga hanya bahu hingga lengannya yang tersayat.

"Makanya kalau lagi bertarung jangan kebanyakan gaya," ucap Lily dingin.

Lily kembali menyerang.

Sring!

Slash!

Slash!

Pria botak itu terus mundur sambil menghindari setiap tebasan.

Namun...

Pada serangan berikutnya...

Slash!

"AAAAARRGGHHH!!"

Salah satu tangan logamnya terputus dan jatuh ke tanah.

"Tanganku!! Dasar gadis jalang!"

Pria itu meraung kesakitan.

Karena terlalu fokus pada lengannya yang putus, ia tidak menyadari bahwa Lily telah muncul tepat di belakangnya.

Lily mengangkat katananya.

"Haa... Ini akhir hidupmu, manusia sampah. Semoga di kehidupan keduamu nanti kau bisa menjadi manusia yang lebih berguna."

Slash!

Bug!

Kepala pria botak itu terpenggal dan menggelinding di atas jalan.

Tubuhnya roboh tanpa nyawa.

Melihat pemimpin mereka tewas dalam sekejap, kedua anak buahnya langsung gemetar ketakutan.

"W-wanita itu monster..."

Lily menatap mereka dengan wajah tanpa ekspresi. Tatapan dinginnya membuat kedua pria itu semakin ciut.

"A-ampun! Jangan bunuh kami! Kami janji—"

Slash!

Bug!

Sebelum pria gondrong itu sempat menyelesaikan ucapannya, kepala sudah lebih dulu terpisah dari tubuhnya.

Tubuh tanpa kepala itu roboh ke tanah dengan suara keras.

Melihat temannya mati begitu saja, pria kurus langsung terduduk lemas. Celananya bahkan basah karena tidak mampu menahan rasa takut.

"A-ampun, Nona... Saya janji nggak bakal jadi orang jahat lagi! Tolong ampuni saya!" pintanya sambil menangis.

Lily menatapnya datar.

"Orang sepertimu tidak pantas diberi kesempatan kedua. Menyusullah teman-temanmu."

Slash!

Bug!

Kepala pria kurus itu ikut terpenggal.

Kini jalanan kembali sunyi.

Lily menghela napas panjang sambil menyeka darah yang menempel di bilah katananya.

"Haa... selesai juga. Semoga setelah ini nggak ada gangguan lagi."

Ia kemudian duduk di bawah sebuah pohon yang masih berdiri kokoh di tengah kota yang telah hancur. Angin berembus pelan, membuat rambut panjangnya ikut bergoyang.

Setelah merasa tenaganya kembali pulih, Lily bangkit dan melanjutkan perjalanan.

Namun, belum lama ia berjalan...

Terdengar suara seorang wanita meminta tolong.

"Tolong... jangan dekati aku!"

Lily langsung menghentikan langkahnya.

Tak jauh di depan, seorang gadis sedang dikepung oleh beberapa pria. Tatapan mereka sama menjijikkannya dengan tiga pria yang baru saja ia bunuh.

"Haa... ternyata dunia benar-benar sedang tidak baik bagi kaum wanita."

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Lily langsung melesat.

Suuing!

Kecepatannya bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.

Sring!

Slash!

Bug!

Dua kepala pria langsung melayang ke udara.

Darah menyembur ke segala arah.

Pria terakhir membeku di tempat.

Wajahnya pucat pasi melihat dua rekannya mati bahkan sebelum sempat bereaksi.

"S-siapa kau...?" tanyanya dengan suara bergetar.

Lily menatapnya dingin.

"Haa... lebih baik kau mati saja. Kau lebih hina daripada kotoran."

Tanpa memberi kesempatan berbicara lagi...

Slash!

Bug!

Kepala pria terakhir ikut menggelinding di atas tanah.

Setelah memastikan tidak ada musuh lain, Lily berjalan menghampiri gadis yang baru saja diselamatkannya.

Saat jarak mereka semakin dekat, Lily sedikit terkejut.

Gadis itu memiliki mata heterokromia.

Mata kirinya berwarna hijau zamrud, sedangkan mata kanannya berwarna biru laut.

Namun, keterkejutan Lily hanya berlangsung sesaat.

Ia segera mengulurkan tangannya.

"Ayo."

Gadis itu menatap tangan Lily beberapa saat sebelum akhirnya menerima uluran tersebut.

Lily menariknya hingga berdiri.

"Terima kasih..." ucap gadis itu pelan sambil menundukkan kepala.

Sesaat kemudian ia menoleh ke kanan dan kiri, seolah mencari sesuatu.

Tak lama kemudian ia menemukan sebuah kacamata yang terjatuh di tanah.

Setelah memungutnya, ia langsung memakainya.

"Kamu kenapa bersama mereka?" tanya Lily.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab.

"Sebenarnya... aku satu kelompok dengan mereka. Tapi mereka selalu merundungku. Dan puncaknya tadi... mereka mau memperkosaku karena menganggap aku sudah tidak berguna."

Lily terdiam beberapa detik.

Tatapannya berubah semakin dingin.

Untung saja ia datang tepat waktu.

"Siapa namamu?" tanya Lily.

"Namaku Kayla Ananta."

Lily mengangguk pelan.

"Oke, Kayla. Sekarang kamu sudah aman."

Kayla mengangguk kecil.

"Kalau begitu... bagaimana sekarang?" tanya Lily.

Kayla tampak ragu-ragu sebelum akhirnya memberanikan diri berbicara.

"Emm... boleh nggak aku ikut sama Kakak?"

Lily menggaruk pelan pipinya.

"Eh... panggil Lily aja. Nggak usah pakai 'Kakak'."

Kayla tersenyum malu.

"I-iya, Kak."

Lily hanya bisa menghela napas pasrah.

"Yaudah deh, terserah."

Lily lalu melanjutkan ucapannya.

"Tapi aku belum langsung pulang. Aku lagi menjalankan misi membersihkan area zombie. Kamu yakin mau ikut?"

Kayla mengangguk mantap.

"Iya. Daripada sendirian, aku lebih memilih ikut Kakak."

Lily tersenyum tipis.

"Baiklah. Kalau begitu ikut aku. Tapi jangan jauh-jauh dan dengarkan semua arahanku."

"Iya, Kak!"

"Kalau begitu... ayo."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Lily kembali melangkah menyusuri jalanan kota yang dipenuhi reruntuhan.

Kayla segera menyusul di belakangnya.

Sejak hari itu, perjalanan Lily tidak lagi dilakukan seorang diri.

Ia kini memiliki seorang anggota baru yang akan menemaninya menjalankan misi membersihkan area zombie.

Sorry jarang update kemarin masuk RS aku gara gara demam maaf ya

Oke see Next chapter guysss ☺️☺️

1
Eva Akmal
smg sehat slalu n semangat
Cristina Billi
lanjut thor /Determined//Determined//Determined//Determined/
Eva Akmal
smg ibunya lekas sembuh n kita semua sehat aamiin..🤲🏻
Eva Akmal
seru
Cristina Billi
/Determined//Determined//Determined//Determined/
Anonim
selalu ditunggu up nya.... semangat/Determined/
Wapik
baca dulu ya🤭
bulan sabit: semoga suka ya maaf jelek masih pemula soalnya maklum masih anak kelas 1 SMA
total 1 replies
Cristina Billi
semangat thor/Angry//Angry//Determined//Determined//Determined/
Dania
semangat tor'di tunggu up nya
Dania
I hope your mother gets well soon
Etty Rohaeti
lekas pulih kembali untuk ibu nya
Ardella Ardellaarcell
lanjut kak
bulan sabit: besok atau gak Jum'at ya kak soalnya aku lagi ujian maklum masih sekolah 🤭🤣
total 1 replies
Arju Na
😄😄😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!