Bebas promosi!
Bukan, Pengantin yang tak Dirindukan.
Dicintai, atau mencintai. Mana yang akan kamu pilih? Jika Winda memilih untuk mencintai, berharap sosok yang dicintai balik mencintai. Namun, sayang. Harapan tidak sesuai kenyataan.
Kepahitan harus diterima. Kala orang yg terlihat benar berjuang. Nyatanya, hanya tipu muslihat semata.
Lantas, apa yang akan terjadi? Penasaran, yuk kita simak kisah selengkapnya!
Happy reading!
IG: @fakhiral2013
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fakrullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gugup
Dua gelas minuman dan juga dua porsi makanan saat ini sudah tersaji di meja. Winda melirik ke arah makanan dan minuman yang tersaji di sana namun tidak menyentuhnya. Matanya, kini mengalih ke arah Dedi yang sedari tadi
mematung menatapnya.
Kak Dedi kenapa ya, dari tadi kok lihatin aku terus?
Batin Winda bertanya.
Sementara itu Dedi…
Ya Tuhan … bagaimana aku harus memulainya.
Batin Dedi dengan helaan napas panjang.
Ini kali pertama bagi Dedi mengungkapkan rasa kepada lawan jenis. Perasaan yang sebelumnya belum pernah ia ungkapkan kepada siapun dalam hidupnya. Jika dulunya ia pernah memendam rasa kepada Annisa hingga hari ini,
detik ini ia ingin melepaskan segalanya dengan sebuah pernyataan kepada Winda. Ya, Dedi harus mengatakannya, karena jika tidak rasa terlarang itu pasti akan terus membelenggu hatinya.
Semoga keputusanku ini benar.
Dedi pun mulai mempersiapkan kalimatnya.
“Winda.”
Dedi memasang tatapan serius, dengan segala rancangan kalimatnya yang mulai tersusun.
“Iya Kak,” Winda membalas Dedi.
“Minumlah dulu,” Dedi mempersilahkan seraya menunjuk ke arah minuman, berusaha menghilangkan kecanggungan yang sedari tadi tercipta.
Dari awal mereka masuk ke dalam dan duduk di meja yang sama, tak ada satu kalimat pun yang terucap dari keduanya. Dedi dan Winda sama-sama terdiam di tempat nya.
Winda mengangguk, lalu mengulurkan tangannya ke arah minuman itu dan kemudian meminumnya.
“Sudah,” meletakkan kembali gelas miliknya setelah sedikit meminum minumannya melalui sedotan yang ada di sana. “Sekarang giliran Kak Dedi,” imbuhnya.
Ya, sama hal nya dengan Winda. Dedi pun tidak menyentuh sedikitpun minumannya. Sedari tadi pikirannya terus gelisah memikirkan perihal tentang perasaannya, meyakinkan hatinya untuk mengatakan suatu hal yang sangat
penting dalam hidupnya.
“Hahaha!” Dedi tertawa kaku, lalu kemudian ia pun mulai menyeruput minuman yang ada di depannya, sama seperti Winda. Dedi pun kini mulai mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan isi hatinya.
Sementara itu Winda, gadis itu muali dirundung rasa penasaran akan sebuah hal penting yang akan mereka bahas di sana.
“Kak Dedi, katanya ada hal penting yang mau dibicarakan? Boleh Winda tau itu apa?” tanya Winda dengan alis yang sedikit dinaikkan.
“Ehm!” Dedi berusaha membuang jauh-jauh keraguannya, dan mulai mengutarakan niatnya. “Sebenarnya, kedatanganku menemuimu dan juga mengajakmu ke sini karena….” kalimat itu terputus, sementara Winda terlihat
dengan serius menyimaknya.
“Karena apa? katakan saja Kak, jangan sungkan!” ujar Winda meyakinkan.
Kembali Dedi menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan.
“Winda, aku … a-aku….” Kalimat itu kembali terputus.
Winda merasa heran, wajah gugup yang ditunjukkan Dedi sekarang membuatnya bingung sekaligus bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang ingin Dedi sampaikan hingga membuatnya sampai gugup seperti itu, begitu pikir Winda.
“Kak, Kak Dedi mau bicara apa? Kenapa gugup sekali?” lagi, Winda bertanya.
Rasanya sangat aneh melihat Dedi yang seperti ini. Biasanya Dedi selalu menunjukkan sikap ceria di hadapannya, tak berhenti mengoceh sampai benar-benar membuatnya kesal. Tapi hari ini, Dedi sangatlah berbeda, sikapnya
sungguh berbeda tak sama seperti biasanya.
“Winda,” Dedi kembali memulai kalimatnya. “Jujur, saat ini aku merasa sangat gugup sekali. Aku ingin sekali mengutarakan sesuatu yang penting kepadamu, tapi aku sendiri tak tau harus dari mana memulainya.”
“Apa itu?” Winda semakin penasaran. Mata nya terlihat semakin menelisik ke arah wajah Dedi, berusaha menemukan sesuatu dari sana.
“Win,” Dedi kini tampak mengulurkan tangannya, perlahan lalu meraih tangan Winda yang terletak di atas meja, menggengamnya dengan erat.
Deg!
Seketika jantung Winda berdegup kencang karenanya.
Kak Dedi, sebenarnya apa yang ingin dikatakannya?
“Winda … sebenarnya aku, a-aku menyukaimu!”
sudah sekian lamanya, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun.. akhirnya bisa lanjut lgi alur ceritanya.
aq suka banget ceritanya .
please thor.. episode berikutnya jangan kelamaan..🙏❤️❤️
ternyata Reno.mantan suami Maya, kalo gak salah.