Semua bermula dari CINTA TERLARANG.!!!
Diselimuti ego, obsesi dan dendam, mereka tidak sadar jika semua perasaan itu yang telah menciptakan kehancuran dalam kehidupan mereka.
Kebahagiaan terenggut, mengorbankan orang-orang yang tidak bersalah di sekitar mereka. Banyak hati yang terluka, bahkan mereka yang melukai hatinya sendiri.
Seandainya saja bisa mengesampingkan ego, membuang obsesi dan menghapus dendam, mungkin kehancuran ini tidak akan mereka alami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Mas.!" Sinta menahan dada Alan saat menyadari perbuatannya sudah terlalu jauh. Dia sudah berjanji akan mengakhiri hubungannya dengan Alan. Percintaan kali ini tidak seharusnya terjadi lagi.
"Kenapa.?" Alan menatap dengan dahi yang dipenuhi kerutan halus. Tidak biasanya Sinta menghentikan aksinya di tengah-tengah permainan yang mulai memanas.
"Perutku sakit,," Ucapnya beralasan. Sinta sampai pura-pura memasang wajah kesakitan dan memegangi perutnya.
Raut wajah Alan tampak kecewa, namun dia segera menyingkir dari atas tubuh Sinta. "Ke kamar mandi dulu.?" Tanyanya lembut.
Sinta mengangguk, dia bangun dan memunguti pakainya yang sudah berserakan di lantai. Dia memakainya asal kemudian bergegas pergi ke kamar mandi.
Alan meraih celana pendeknya, dia memakainya sebelum duduk di sofa dan menunggu Sinta kembali.
Suara bel apartemen membuat Alan beranjak. Dia mengintip dari lubang kecil yang ada di pintu. Keningnya berkerut melihat kurir makanan berdiri di luar apartemennya.
"Sinta pesan sesuatu.?" Gumamnya kemudian membukakan pintu apartemen itu.
"Ya.?" Tanya Alan pada pria di depannya.
"Pesanan atas nama Sinta.?" Tanya kurir tersebut.
"Betul." Alan mengangguk ragu. Sebab dia merasa yakin Sinta tidak memesan makanan.
"Ada kiriman untuk Mba Sinta." Ujar kurir itu seraya menyerahkan paper bag berisi makanan dari salah satu restoran.
Alan menerimanya meski sekarang dipenuhi banyak pertanyaan dan kecurigaan. Entah siapa orang yang berbaik hati mengirimkan makanan sebanyak itu untuk Sinta.
"Dari siapa.?" Tanya Alan sebelum kurir itu pergi.
"Saya kurang tau Mas. Saya hanya diminta mengantar." Jawaban yang tak membuat Alan puas itu terpaksa di anggukan.
Kurir itu kemudian pamit. Alan berniat menutup pintu apartemennya, namun kedatangan seseorang membuat paper bag di tangan Alan terjatuh.
"Ga-Galang.?" Ucap Alan terbata. Wajah Adik iparnya itu dipenuhi amarah dengan tatapan tajam.
"Dasar bajingan.!!" Umpat Galang dan satu pukulan mendarat di wajah Alan.
Galang mendorong Alan masuk dan menutup pintunya agar bebas menghajar Alan tanpa khawatir di lerai oleh petugas keamanan.
"Sialan.!! Apa yang kamu lakukan pada Sinta.!!" Galang mencekik kuat leher Alan. Amarahnya semakin memuncak saat menyadari Alan tidak bertelanjang dada dan tidak memakai celana dal am di balik celana pendeknya. Galang bukan anak kecil, pikirannya sudah pasti mengarah ke hubungan intim.
"Lepas dulu.!" Alan menepis kasar tangan Galang.
Mendengar suara keributan di ruang tamu, Sinta segera lari dari kamar mandi untuk melihat apa yang terjadi dengan Alan. Dia berhenti seketika dan mematung di tempat saat melihat Galang ada di sana.
"Sinta.! Apa yang kamu lakukan dengan bajingan ini.?! Apa kalian sudah gila.?!!" Teriak Galang kecewa.
"Aku mencintai Sinta.!" Ucap Alan tegas. Dia seperti menyiramkan bensin ke api. Membuat amarah Galang semakin tidak terkendali. Dia kembali mencekik leher Alan dan memukulinya dnegan membabi buta.
"Brengs3k.!! Apa kamu sadar dengan ucapanmu.!! Kamu menyakiti Mba Liana.!" Bentaknya.
Sinta berlari menghampiri mereka dan berusaha memisahkan keduanya. Sebab Alan mulai membalas pukulan Galang.
"Mas Galang, Mas Alan hentikan.!!" Teriak Sinta di tengah-tengah mereka. Dua pria itu seketika berhenti berkelahi.
"Sinta minta maaf, Sinta mengaku salah." Tangis Sinta pecah. Dia bersimpuh di kaki Galang. "Sinta janji nggak akan mengulangi lagi, Sinta akan mengakhiri hubungan kami. Sinta mohon jangan kasih tau Mba Liana." Pintanya penuh sesal.
Galang terdiam, dia kehabisan kata-kata karna tidak menyangka adiknya melakukan perbuatan yang tidak bermoral seperti ini. Menjalin hubungan dengan suami kakaknya sendiri. Galang benar-benar syok. Belum lagi, dia memikirkan perasaan Linda dan mama Heni jika tau perbuatan Sinta dan Alan dibelakang mereka.
"Mas nggak mau putus, Sinta.! Mas akan menceraikan Liana dan menikahi kamu.!" Serunya.
Kedua tangan Galang mengepal kuat mendengar pengakuan Kakak iparnya. Bukannya merasa bersalah karna sudah mengkhianati Liana, Alan justru ingin menceraikan Liana.
"Mas.! Tolong jangan seperti ini, aku benar-benar menyesal dan ingin mengakhiri semuanya. Tolong jangan dipersulit." Ucap Sinta memohon. Dia sudah beralih memohon pada Alan.
"Mari kita lupakan semuanya. Anggap nggak pernah terjadi sesuatu diantara kita. Ayo hidup normal seperti dulu. Kita sudah melukai banyak orang."
Alan menggeleng, dia bersikeras mempertahankan hubungan terlarang mereka. Untuk kedua kalinya Alan mengatakan akan menceraikan Liana. Hal itu kembali mancing amarah Galang dan sebuah tinjuan kembali mendarat do wajah Alan.
"Bajingan seperti mu harusnya mati saja.!!" Umpat Galang penuh amarah.
"Sinta.! Bereskan baju-baju mu, mulai sekarang kamu tinggal sama Mas dan Mama.!" Titah Galang. Sinta mengangguk, dia segera pergi ke kamarnya untuk memasukkan baju-baju kedalam koper.
Galang menahan Alan yang ingin menyusul Sinta ke kamar.
"Dimana otak mu.!! Selingkuh saja sudah salah, apalagi dengan adik ipar sendiri.! Kamu benar-benar kehilangan akal.!" Maki Galang yang tidak lagi menunjukkan rasa hormat pada Kakak iparnya.
"Kamu pikir cinta bisa dicegah.! Aku mencintai Si,,"
Bughh.!!
Galang melayangkan tinjuan disudut bibir Alan. "Mulut kotormu ini lebih baik diam.!"
Galang benar-benar meluapkan amarahnya hingga wajah Alan babak belur.
Tak berselang lama, Sinta muncul dengan menarik koper besar. Alan yang melihat Sinta akan keluar dari apartemennya, berusaha mengejar. Namun Galang lebih sigap, dia mendorong Alan dan mengancamnya agar tidak mengejar Sinta.
...******...
Mobil yang dikendarai Galang dipenuhi ketegangan di dalamnya. Galang sudah bicara panjang lebar sejak mereka masuk ke dalam mobil. Dia mengungkapkan kekecewaannya ada Sinta, membuat wanita itu kembali terisak dan berkali-kali mengucapkan maaf.
"Kamu sadar nggak sih Dek.? Perbuatan kamu bisa menghancurkan keluarga kita. Kalau sampai Mba Liana dan Mama tau, keluarga kita bisa terpecah belah. Kamu bukan anak kecil lagi yang masih perlu di kasih tau ini baik atau buruk. Hal seperti ini harusnya bisa dicegah sejak awal." Tutur Galang kecewa.
Selama ini keluarganya sangat menyayangi Sinta, bahkan menjaganya mati-matian karna anak bungsu. Apalagi setelah meninggalnya suami Sinta. Perhatian mereka seolah hanya untuk Sinta. dan memastikan Sinta kembali hidup bahagia seperti dulu. Namun Sinta malah mengecewakan semua orang.
"Sinta minta maaf Mas." Lirihnya. Sinta bahkan sudah tidak bisa berkata-kata lagi karna malu pada Galang.
"Mas nggak mau tau, kalau sampai kamu ketahuan berhubungan lagi dengan Alan, Mas nggak segan-segan memberi tau Mama dan Mba Liana.!" Tegas.
Sinta mengangguk, dia benar-benar ingin mengakhiri kegilaannya. Walaupun bahagia bersama Alan, tapi dia tidak bisa tenang menjalani hidup. Setiap hari hanya dihantui rasa takut dan kegelisahan.
...*****...
Galang membelokkan mobilnya ke gedung apartemen. Sinta yang menyadari itu langsung menatap Kakaknya.
"Malam ini kita tidur disini dulu, Mama bisa penasaran kalau tiba-tiba kamu pindah ke rumah." Ujar Galang menjelaskan. Dia seolah tau arti tatapan Sinta.
Sinta tidak berkomentar, dia hanya perlu patuh pada Kakaknya yang masih berbaik hati dan peduli padanya.
Sinta mengikuti langkah Galang yang menyeret koper miliknya. Mereka naik ke lantai 8 dan berhenti didepan pintu apartemen. Galang menekan bel dan beberapa saat kemudian seseorang membukakan pintu.
Seorang pria melempar senyum pada Sinta, Sinta langsung menunduk sopan tanpa balas tersenyum padanya.
"Masuk Bro,," Ucapnya mempersilahkan Galang dan Sinta b masuk ke apartemennya.
aku skip bacanyaaa.. aga maless..
dah 4 hari bolak balik mantau