Quen Putri Alexander Merupakan aktris ternama dengan berbagai konflik yang menghiasi karirnya.Quen memiliki sikap angkuh yang tiada batas, selalu meremehkan orang lain, keras kepala,Manja dan selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, dan selalu mendapatkan garis keberuntungan.
Alvian Addison, pemilik dari Star Dream Agency. Di mana Quen menjadi salah satu artis andalan mereka. Alvian dan Quen juga terlibat dalam sebuah hubungan yang cukup serius.
Tapi apa jadinya jika suatu ketika satu persatu keberuntungannya mulai menghilang dan berganti dengan kesialan, dan sebuah kejadian yang tak mungkin dicerna oleh akal sehat setelah ia bertemu dan tidur dengan laki-laki yang tak di kenalnya.
Apa yang akan terjadi dengan Quen yang selalu mendapat keberuntungan sekarang harus mendapat kesialan yang tidak bisa dijelaskan oleh akal manusia apa akan bertahan atau memilih pasrah dengan takdir kesialan yang menimpa nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quenn9597, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Putra mahkota melepaskan tangannya.
"Kau bisa membohongi semua orang tapi tidak denganku! Luka seperti itu bahkan begitu gampang untuk dibuat, namun keahlianmu untuk mengeluarkan air mata itu cukup membuatku terkesan," ujar putra mahkota bertepuk tangan.
"Bahkan ayahku langsung percaya padamu, dan kepala perdana menteri Billy beserta putrinya bisa kau jatuhkan dengan sekali dayung," ucap putra mahkota terdengar seperti sebuah pujian namun bagi gadis itu malah sebaliknya.
"Apa aku salah jika aku membalasnya? Dia duluan yang menarik rambutku dan mendorongku dan aku hanya membalas dengan menamparnya saja," bela Quen.
"Sampai terluka?"
"Seingatku, aku hanya menamparnya dua kali, dan paginya dia bahkan sudah mengadu pada ayahnya, sedangkan aku harus mengadu pada siapa jika ada yang menindasku? Ayah? Ibu? Atau kerabatku yang mana? Aku hanya membela diriku apa itu salah?"
Quen menjelaskan semuanya dengan menggebu-gebu, ada mimik kasihan pada raut wajah putra mahkota walaupun itu tak terlihat dengan jelas.
"Katakan saja pada yang mulia raja jika aku berbohong, aku akan menerima konsekuensinya," lanjut Quen acuh.
"Aku bisa saja melakukannya, tapi jika mengingat Ibuku yang selalu mati-matian membelamu, itu sama saja aku tidak menghargai perjuangan ibuku," ujar putra mahkota.
"Aku akan menganggap semua ini seperti hembusan angin yang berlalu, tapi untuk masalah pergi dengan diam-diam dari istana itu sudah menggelar titah raja, dan tentu saja raja akan murka jika mengetahui semua ini," ujar putra mahkota.
"Apa raja mengetahuinya?" tanya Quen penasaran.
"Menurutmu?" Putra mahkota malah balik bertanya.
"Apa susahnya hanya menjawab iya atau tidak hah?"
"Kau takut?"
"Siapa yang takut?"
Quen tak mau mengakuinya mengingat saat raja bersuara keras tadi pagi masih terngiang-ngiang di kepalanya.
"Sebelum aku mengikutimu, raja belum mengetahuinya, tapi aku tidak menjamin untuk saat ini," ucap putra mahkota.
"Aku hanya bosan terus berada di sana, aku hanya mencari sedikit suasana luar," jawab Quen mengerucutkan bibirnya.
"Apa kau tidak tahu, banyak bahaya yang akan mengincarmu di tempat terbuka seperti ini?" Sela putra mahkota.
"Aku akan mengatakan kesalahan apa yang kau buat sampai saat ini, pertama membohongi raja, kedua melarikan diri dari istana Mawar dan bermain ria ditempat ini, ketiga kau bahkan tak bisa berjaga jarak dengan laki-laki walaupun dia itu sepupuku sendiri, kau harus ingat apa posisimu, dan semalam bahkan kau pergi saja tanpa menerima hukumanmu," ucap putra mahkota panjang lebar.
Sepupu?
Rio sepupunya putra mahkota, jadi itu artinya mereka juga saudara, kenapa hubungannya menjadi sedekat ini.
"Rio, maksudku Tuan muda Rio itu saudaramu?"
"Ah iya aku hampir lupa kalau kau pelupa dengan kadar di atas normal," sindir putra mahkota.
Quen hanya berdelik dan mendengus kesal.
"Walaupun begitu semua ada batasnya, apalagi sampai memeluknya erat seperti itu, kau tidak tahu kan bencana apa yang bisa ditimbulkan dari mulut ke mulut," peringat Putra mahkota.
"Apa kau sedang cemburu?" Tanya Quen blak-blakan, ia sudah hapal betul sikap alamiah laki-laki seperti ini walaupun jabatannya raja atau presiden sekalian , hanya saja mereka tak mau mengakuinya, gengsi menutup semuanya.
"Hubungan dekat apa yang kita miliki sehingga aku harus cemburu?" tanya putra mahkota dengan wajah datarnya.
"Ya sudah jangan terlalu membawa hati apa yang terjadi, mungkin kedepannya aku akan memiliki hubungan yang baik dengan tuan muda Baekhyun," ucap Quen.
"Jangan menguji-ujiku, sudah aku katakan aku bukan orang yang toleran, selama kau masih dikerajaan Alvalor sebelum menyandang gelar putri mahkota kau adalah tanggung jawab ayahanda dan ibundaku, dan setelah itu kau adalah tanggung jawabku tak ada satupun yang berani menentangku jika aku melakukan sesuatu di luar perkiraanmu, jadi bersikap baiklah selayaknya putri mahkota kerajaan Siam," ujar putra mahkota langsung meninggalkan Quen setelah menyadari kedatangan Bora bersama pengawal setianya.
Jangan lupa tinggalkan jejak
Like
Vote
Komen
Ulasan bintang nya
And Subcribe