Bagaimana jika kamu menyukai adik tirimu sendiri? Itulah yang di rasakan oleh Renzo pemuda tampan yang begitu menggilai adik tirinya yang begitu manis dan polos.
"Keluar selangkah lagi, besok kamu gak akan bisa berjalan lagi. Baby!"
Renzo mengendus leher adik tirinya yang sudah menangis ketakutan.
"No, Abang jangan lakuin itu ...,"
tangisan, permohonan adik tirinya begitu candu bagi Renzo, dirinya akan semakin dominan jika adik tirinya menangis memohon ampun di bawahnya!
"You're driving me crazy darling!"
. . .
"ini salah, kita saudara, kita tidak boleh seperti ini!"
Menghadapi fantasi gila Abang tirinya membuat Nazila hampir hilang arah, hidupnya merasa tidak tenang!
baca dulu 10 bab 😁 biar tau alurnya 🤓🥀🙃💐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _yan08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter. 33
.
.
Setelah satu hari lebih libur akhirnya Nazila kembali masuk sekolah meskipun sedikit takut akan pelaku pembullyan yang akan datang merundung dirinya. “Zila …!?” panggil Liana berlari menghampiri.
“Lia?”
Kedua gadis itu berpelukan sejenak untuk melepas rindu. “Gimana keadaan Lo? Udah baikan kan?” tanya Liana.
“Seperti yang kamu lihat kok, ayo masuk?” ajaknya.
“Syukur deh kalo gitu, btw nanti habis sepulang sekolah mau ikut gak?”
“Kemana?”
“Ke rumah Kaela, kita bakar-bakar nanti, buat ngerayain ultahnya Kaela,” ucap Liana begitu antusias.
Nazila melotot terkejut. “Kaela ultah …? Aduh …, kok mepet banget sih! Mana aku belum punya kado ulang tahunnya lagi, gimana ini Lia …!” rengek Nazila merasa tak enak.
“Aduh, jangan panik gitu lah …, makanya nanti sehabis sepulang sekolah kita langsung pergi buat cari kadonya.” Tukas Liana menenangkan Nazila yang sedikit murung.
“Ajak gue juga lah!” sahut Saka dari belakang membuntuti kedua gadis yang berada di depannya ini.
“Ih …, ngagetin aja Lo pea!” kesal Liana menampar pelan lengan Saka.
“Sakit betina! Main nampar-nampar aja Lo!” sinis Saka mengusap pelan lengannya yang ditampar oleh Liana.
“Siapa suruh ngagetin!” sinis balik Liana.
“Halah, gitu aja kaget! Kek orang pura-pura kagetnya Li!” delik Saka berjalan hendak melewati Liana dan Nazila.
Tiba-tiba Liana melepas rangkulannya bersama Nazila lalu menyusul Saka dah Hap. Liana menerjang Saka dari belakang dengan memeluk leher jakung tersebut.
“Lo–?” Saka melotot tajam, berutung dirinya tak tersungkur ke depan akibat betina satu ini.
“Apa? Kaget kan Lo? Nah itu yang gue rasain ya anjir!” sungut Liana membalas melototi mata Saka, jika dilihat dari sudut pandang orang lain posisi mereka seperti kekasih yang tengah bercanda namun aslinya mereka ini seperti kucing dan tikus yang tak pernah akur satu sama lain.
“Turun badan Lo berat, dasar gendut!”
“Saka sialan!” teriak Liana sekencang-kencangnya, membuat anak-anak di koridor tersebut menutup telinga mereka dengan teriakan kanjeng ratu Liana itu.
.
.
“Segini cukup kan?” tanya seseorang menyodorkan sebuah amplop coklat berisi sejumlah uang.
Pria tersebut membukanya lalu menghitung dengan acak. “Lebih dari cukup, thanks gue bakal kerjain apa yang Lo suruh, asalkan biru pink ngalir terus!” senyum si pria itu matanya tak lepas dari uang yang diberikan oleh wanita cantik di depannya ini.
“Bagus itu yang gue suka!” senyumnya menyodorkan sebuah benda entah apa itu.
Pria tersebut menerimanya lalu pergi meninggalkan wanita yang begitu cantik namun begitu menyeramkan menurutnya.
Wanita itu tersenyum penuh ambisi. “Aku sudah terlalu sabar, untuk kali ini tidak akan ku biarkan kau lolos Lorenzo, anak mama baik-baik ya disana, sebentar lagi kita akan membuat papa bertekuk lutut di hadapan mama.” Senyum Yunita, ya wanita itu adalah Yunita si ratu kampus yang kini sudah mulai gila terhadap Lorenzo Mahade'raja lelaki yang begitu Yunita dambakan.
.
.
“Lia, aku mau ngabarin Abang aku dulu ya?” ucap Nazila hendak menelpon Lorenzo namun keburu di cegah oleh Liana yang mengatakan.
“Ngabarin Nya nanti aja Zil, ayo ini udah jam dua siang nanti kita telat belum lagi, mau beli yang lainnya.” Tukas Liana begitu terburu-buru.
Mereka berdua berjalan menuju parkiran rencananya mereka berdua akan pergi menggunakan motor matic milik Liana tetapi Saka si curut Leo datang menghadang motor Liana.
“Lo–” mata Liana melotot tajam. “Lo apa-apaan sih, minggir gak, kita buru-buru nih, gue gak ada waktu yah buat ladenin manusia kek Lo!” Kesal Liana.
“Zil, turun …!” titah Saka menyuruh Nazila untuk turun.
Baru hendak mau turun sudah keburu di cegah oleh Liana. “Diem Zil, Lo jangan turuti permintaannya si Saka bejir!” sinis Liana.
Tanpa perasaan Saka mengambil kunci motor milik Liana. “Ya udah Lo dorong aja tuh motor, ayo Yo, kita pergi?” ajak Saka pada Leo yang hanya diam menatap Nazila di jok belakang motor Liana.
“Saka …!” teriak Liana begitu kesal bahkan hampir membanting motornya.
“Udah lah Lia, aku turun deh, biar aku pesan taksi aja kita kan mau buru-buru nih!” lerai Nazila begitu pusing dengan tingkah Saka dan Liana.
Dengan terpaksa Liana mengiyakan. Saka pun tersenyum cerah. “Lo gak usah pesan taksi Zil, sama Leo aja dia juga sendiri tuh, gak apa kan Yo?” tanya Saka mengedipkan matanya.
Leo yang paham langsung mengangguk, sahabatnya ini memang mengesalkan tapi begitu peka akan sekitarnya buktinya aja ini, biar dirinya bisa berduaan dengan sang gadis pujaan hatinya.
Pada akhirnya mereka pun berangkat ke mall terlebih dahulu kedua lelaki itu sudah di beritahukan juga oleh Liana bahwa mereka akan merayakan ulang tahun Kaela yang menaiki umur tujuh belas tahun, sebenarnya kejutannya yang paling pas kemarin malam tetapi karena waktu yang mepet akhirnya terjadi jam dua siang ini.
Di dalam mobil Leo, Nazila begitu canggung akan keadaan yang cukup hening Nazila gugup sebab abangnya selalu melarang dirinya untuk dekat-dekat dengan Leo kakak kelasnya tetapi mau bagaimana lagi keadaan cukup mendesak seperti ini. “Huh, semoga Abang gak tau, takut banget soalnya.” Batin Nazila.
“Kenapa kok tegang gitu? Kamu gak nyaman ya sama aku?” tanya Leo tiba-tiba tanpa melirik ke arah Nazila.
“Ga-k gitu kok kak, cuma …, cuma kepikiran sesuatu aja sih,” jawab Nazila begitu sulit.
“Kepikiran apa?” tanya Leo lagi.
“Kepikiran sama Kaela, aku sedih karena Kaela gak bisa sekolah lagi,” jawab Nazila dengan spontan.
“Oh …, ya mau gimana lagi, kita gak bisa merubah takdir yang penting kita cukup kasih dia semangat dan support buat kembali bangkit untuk sembuh.” Leo melirik Nazila sekilas.
“Kak Leo benar, mulai sekarang Zila bakal support Kaela buat kembali sembuh dan bisa berjalan seperti sedia kala!” sahut Nazila begitu penuh semangat membuat Leo tersenyum kecil dan mengusap rambutnya.
Mobil yang tadinya di isi dengan kecanggungan itu kini berubah menjadi lebih jangan dengan celotehan si gadis dan si lelaki merespon penuh perhatian.
Mereka berempat akhirnya sampai di mall dan mulai memilih kado untuk Kaela, teruntuk Liana dia cukup sedih melihat ke arah sepatu hak yang begitu Kaela impikan. “Beli aja, takdir gak ada yang tau siapa tau besok bisa jalan!” celetuk Saka dengan nada entengnya.
Acara sedih Liana langsung sirna tergantikan dengan raut wajah masam ingin menelan Saka hidup-hidup. “Minggir! Gue gak mau berantem sama Lo!” sinis Liana beralih menjauh dari Saka, orang yang begitu di kaguminya malah begitu menyebalkan untuk Liana, kemana perginya Saka si cool boy itu, kenapa jadi tengil seperti ini?
“Bukan Saka si cool boy, tapi Saka si bjir!” dengus Liana.
Dari sisi lain Leo dan Nazila berkeliling mencari hadiah untuk Kaela juga, tetapi Leo sudah mendapatkannya dan dia ingin membelikan sesuatu buat gadis pujaan hatinya ini, kira-kira hadiah apa yang cocok untuk gadis pujaan hatinya ini.
“Kira-kira kamu suka apa Zil?” tanya Leo tiba-tiba.
“Apa ya …, gak tau sih kak, soalnya Zila suka semuanya, yang penting bagus.” Cengir Nazila membuat Leo gemes.
“Ya udah kamu mau gak nerima jepit rambut dari aku?” Leo membuka kotak jepit rambut berwarna hitam gold dan harganya pun cukup mahal.
“Bagus banget …, kak Leo dapat dari mana?” tanya Zila dengan mata berbinar.
“Rahasia dong, jadi kamu mau terima gak nih?” tanya Leo sekali lagi.
“Mau dong kak, sayang banget kalo di tolak, ini bagus banget pasti Zila bakal jaga dengan baik!” seru Nazila sesaat Leo memasangkan jepit rambut tersebut.
“Cantik banget, apalagi yang make, makin cantik, jaga selalu ya cantik …?” Leo membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Nazila tak lupa mengusap pelan kepala gadis pujaan hatinya.
Nazila tersenyum sehingga matanya tertutup, mereka berdua tak peduli dengan pengunjung mall yang menatap gemes ke arah mereka berdua.
.......
.......
.......
...TBC...