Sudah beberapa kali ini Nara melihat bayangan orang berpakaian serba hitam, yang membawa benda mirip keranda mayat, berjalan di sawah depan rumahnya menuju hutan.
Setiap kali rombongan ini datang, esok harinya ada warga desa yang menghilang. Hal ini tentu mengusik kedamaian warga desa.
Hingga tibalah saatnya, Nara melihat alasan dari semua kejadian ganjil di desanya. Mampukah Nara memecahkan misteri yang menimpa desanya? Ikuti kisah Nara di cerita Lewat Tengah Malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ERiyy Alma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Minggu pagi keluarga Nara tengah disibukkan dengan kegiatan masak memasak. Nara, Asih dan Miranda asyik berbincang di dapur sembari menyiapkan beberapa nasi kotak yang akan dibagikan untuk warga sekitar yang menghadiri undangan pengajian dan doa bersama, yang akan diselenggarakan sekitar pukul satu siang.
Nara tak mengundang banyak orang, hanya sekitar dua puluhan orang beserta pak ustadz yang dikenal suaminya. Nara melihat Albi, Hendri dan Jono tengah mengeluarkan sofa dari ruang utama ke halaman samping, lantas menggelar karpet disana agar ruangan bisa sedikit lebih lega.
Jono adalah satpam baru yang sengaja Albi minta dari sang ibu. Meski akhirnya ibu Fathma mengizinkan, tapi tentu sebelumnya wanita itu mengomel panjang lebar, membahas kenapa anak dan istrinya tidak kembali saja ke rumah daripada membawa pekerja sang ibu. Albi hanya diam, cukup lelah memberikan penjelasan pada ibunya itu.
“Sayang, kalau sudah selesai ajak Mang Jono sama Hendri istirahat dulu. Kita sudah siapkan tahu isi dan jajanan lain di atas meja,” ucap Nara pada sang suami. Albi mengangguk dan tersenyum, lantas kembali membenahi posisi karpet yang belum juga terlihat rapi, karena ukurannya yang terlalu besar dibanding ruang tamu rumahnya.
Nara tersenyum geli, Albi ngotot membeli karpet ukuran jumbo meski Nara sempat melarangnya, dan inilah hasilnya, kini lelaki itu susah sendiri jadinya. Nara berlalu meninggalkan tiga lelaki yang masih kebingungan mengatur posisi karpet, ia kembali ke dapur menemui Miranda dan Asih yang asyik menikmati tahu isi dengan segelas teh hangat. Mereka berbincang sebab kerjaan mereka telah selesai, sekitar seratus nasi kotak mereka kerjakan hanya bertiga.
Nara memang hanya mengundang dua puluh orang, tapi ia akan membagikan nasi kotak merata pada semua tetangganya. Bukan tanpa alasan Nara memutuskan hal itu, sebab memang rumahnya tak begitu luas, tak cukup menampung seratus orang dalam satu tempat.
“Nara, kamu sendiri pernah nggak sih kayak ngerasa ada yang aneh gitu, mbak Asih sama Hendri kan lihat sendiri penampakannya, kalau kamu?” tanya Miranda saat Nara kembali duduk di sampingnya. Nara menggeleng pelan sambil menggigit tahu isi yang baru diambilnya dari piring.
Miranda bergidik ngeri, ia tak kalah penakut dari Asih. Saat kemah waktu SMP dulu, ia sering pingsan karena dikerjai teman-temannya. Nara masih mengingat semua itu, tak heran jika kini Miranda bahkan menaikkan kaki keatas kursi yang sedang didudukinya.
“Mbak Mir, kenapa itu kaki dinaikkan sih, udah tahu sempit, mana nyaman coba duduk seperti itu. Saya kok lihatnya risih dari tadi, mbak Miranda sesek banget kayaknya.” Asih merasa heran, meski awalnya segan akhirnya ia kebablasan mengungkapkan isi dalam pikiran, tak peduli lagi jika dua wanita di depannya bukanlah rekan, melainkan majikan.
“Mbak Asih nggak tahu ya? katanya kalau kita lagi bicara tentang setan, jin dan sebangsanya usahakan kaki, tangan dan seluruh badan kita tidak menempel pada lantai, karena mereka bisa mendengar kita,” jawab Miranda bersungguh-sungguh.
“Kamu anak kecil Mir? itu kan keyakinan bocil zaman dulu, masa dokter kayak kamu percaya hal seperti itu?” ledek Nara, menahan tawa sebab merasa lucu akan sikap sahabat juga sepupunya itu.
“Ih, apa hubungannya sama profesiku Nar, lah memang begitu kok kata orang-orang.” Miranda berusaha membela diri, kembali tangannya meraih cangkir teh, menyesapnya perlahan sambil menatap wanita di depannya yang memilih tertawa lepas pada akhirnya.
“Kali ini saya setuju ibuk, mbak Mir.” Asih menggelengkan kepala seraya berjalan menuju wastafel cuci piring untuk mencuci cangkir tehnya yang telah kosong.
“Heh kamu ini mbak, lagian kenapa sih panggil ibuk sama Nara kedengarannya jadi tua banget kamu Nar.” Miranda tertawa keras, kali ini ia berhasil membuat Nara terdiam, sedikit memberengut tapi tetap tak bisa marah, dan pada akhirnya mereka semua tertawa bersama meski tak yakin apa yang sebenarnya tengah mereka tertawakan kini.
Tak terasa waktu cepat berlalu, jam dinding menunjukkan pukul dua belas siang, tersisa satu jam lagi sebelum acara dimulai. Nara mengajak Miranda dan Asih untuk bersiap-siap, sekedar membersihkan diri agar terlihat lebih pantas nanti jika tamu undangan telah tiba.
.
Ustadz Hidayat baru saja tiba bersama seorang santri dari pesantrennya. Albi mempersilahkan ustadz untuk duduk di tengah undangan. Acara pengajian dimulai dengan bacaan surat Al Fatihah yang dihadiahkan khusus untuk mendiang Ilyas. Setelahnya pak ustadz juga memberikan sedikit nasehat tentang pentingnya melaksanakan kewajiban bagi seorang muslim, lantas acara ditutup dengan doa.
Semua tamu undangan benar-benar menyimak jalannya acara dengan penuh khidmah. Tak ada dari mereka yang sekedar berbincang ataupun mengantuk di tengah acara, meski acara diadakan tepat tengah siang. Nara dan Albi merasa sangat lega, berharap dengan acara ini arwah Ilyas akan lebih tenang. Dan jika memang itu hanya jin atau setan pengganggu semoga mereka tidak betah tinggal setelah rumah di adakan doa bersama.
“Hen, kamu sama Mang Jono tolong antarkan nasi kotak ini ke tetangga yang komplek sebelah ya, biar aku sama Doni antar ke tetangga dekat sini.” Albi mengajak Doni, putra tetangga depan rumah untuk membantunya mengantar sisa nasi kotak.
“Baik kak,” jawab Hendri. Mengajak Jono untuk mengikuti langkahnya.
Nara, Asih dan Miranda berbagi tugas, Miranda dan Nara melipat karpet sedangkan Asih menyapu lantai. Si kembar kebetulan tengah diasuh oleh ibunya Doni, Bu Narti. Tetangga depan rumah Nara itu seorang wanita yang baik hati. Ia dan suaminya hanya memiliki anak tunggal di usianya yang sudah senja, dia sering datang ke rumah Nara untuk mengajak kembar bermain, hanya saja satu minggu belakangan ia tengah berlibur dengan keluarga ke kampung halaman di bawah kaki gunung.
“Alhamdulillah ya Nar, acaranya berjalan lancar. Semoga setelah ini semuanya aman terkendali, tapi ngomong-ngomong bulek tahu nggak perihal penampakan di belakang rumahmu ini?” tanya Miranda.
“Nggak tahu Mir, aku dan mas Albi sengaja nggak jujur pada beliau, cuma bilang ingin adakan pengajian sama doa bersama karena memang dari awal beli rumah ini kita belum adakan acara doa bersama, salah kita juga,” jawab Nara melempar senyum tipis pada wanita di depannya.
“Lagian kalian sih, kenapa juga nggak pilih tinggal di rumah bulek aja?”
“Ih mbak Miranda, kayak nggak ngerti aja. Sebaik-baiknya mertua kalau tinggal bareng itu kurang nyaman rasanya, lebih bebas kalau tinggal di rumah sendiri, ya kan buk?” Asih ikut berkomentar.
Miranda sontak tertawa, “pinter juga kamu mbak, aku lupa hal ini. Hahahaha.”
Ketiganya pun tertawa bersama, menyadari ucapan Asih ada benarnya. Wanita itu sepertinya punya pengalaman yang sama mengingat gagalnya rumah tangga Asih dulu juga menurut rumor juga karena campur tangan pihak mertua, hingga ia memilih kabur dan bekerja di keluarga ibu Fathma.
Nara jg knp lsg berpikir arwah yg datang padahal tahu ada adik Ilyas yg hilang di hutan. knp gk mikir adiknya yg meneror dia
cerita novel kebanyakan spt itu, sdh tahu mau cerai tidak amankan diri