Gus Fatih diberikan pilihan oleh kedua orang tuanya. Menikahi seorang gadis sholeha yang merupakan seorang ning atau menikahi seorang wanita malam.
Kira-kira siapa yang akan gus Fatih pilih? Apakah gadis sholeha yang pandai agama, atau seorang wanita malam yang hidupnya tak tahu arah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skyl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~Wanita Pilihan Gus Fatih~ part 33
Saat Fatih ingin membuka lemari itu, tiba-tiba saja Dewi datang dan menghentikannya.
"Mau ngapain, gus?" tanya Dewi.
Fatih menggeleng dan seraya masih melirik lemari tersebut, Dewi pun santiasa berdiri di sana, akhirnya Fatih kembali duduk di samping istrinya.
"Mas kita pulang, yok," ajak Inara membuat Fatih mengangguk.
Mereka pun berdiri. Inara berpamitan kepada kakaknya dan Dewi mengangguk. Mereka pun pergi dari rumah itu, Fatih singgah ke toko kue sebab sang bumil yang minta.
"Sayang, kamu enggak suka kue rasa banana, jangan ngambil yang itu!" cegah Fatih.
"Apasih mas, aku suka sejak kapan aku bilang enggak suka kue rasa banana campur coklat?" tanya Inara masih kekeh ingin mengambil kue yang rasa pisang bercampur coklat itu.
"Seminggu yang lalu mas beliin yang ini untukmu, Humaira, dan kamu enggak makan malahan kamu memuntahknnya," ucap Fatih. "Mbak enggak usah bungkus itu, yang rasa strawberry aja," pinta Fatih membuat mbak penjual kue itu mengangguk.
Sang bumil pun mengerucut bibirnya, merasa kesal pada suaminya tak percayaan banget. Padahal sudah jelas-jelas ia sangat suka kue tadi.
,
"Mas nyebelin, ah." Inara pergi dari sana lebih dulu menuju mobil meninggalkan suaminya yang masih membayar kue yang dia ambil.
Fatih menghela napas panjang, setelah berterima kasih, ia mengikuti istrinya yang berjalan ke arah mobil.
Di dalam mobil, Inara hanya diam saja. Dan Fatih pun tidak berniat untuk membujuknya hal itu membuat Inara semakin kesal kepada suaminya.
Sesampainya di rumah, Inara turun lebih dulu dan masuk ke dalam rumah. Sedangkan Fatih hanya geleng-geleng kepala.
Bertepatan mereka sampai di rumah. Mobil abi Farhan pun ada, yang jelas lelaki paruh baya itu telah pulang, abi Farhan membawa seorang teman.
"Assalamualaikum," salam abi Farhan saat memasuki rumah.
Umi Tifa yang sedang berada di ruang tamu langsung bergegas ke untuk menemui sumber suara itu.
"Walaikumsslam, mas." Umi Tifa menciun punggung tangan suaminya dan melipat tangannya untuk teman suaminya.
"Mari duduk," ajak abi Farhan membuat rekan bisnisnya itu ikut itu duduk.
Fatih yang baru saja turun dari kamarnya turut bersalaman bersama mereka, mereka mengobrol santai. Fatih ikut nimbrung sambil menunggu umi Tifa menyiapkan air hangat dan cemilan.
"Oh ini gus Fatih, iya? Yang mimpin perusahaan anda di sini?" tanya teman abi Farhan membuat anak dan ayah itu mengangguk.
"Iya, pak. Dia yang akannmenjadi pemimpin seluruh cabang perusahaanku nanti."
Saat cemilan sudah ada. Obrolan pun semakin lama, dan kini Fatih juga tengah asik mengikut.
Sedangkan Inara sedang mmebantu mertuanya membuatkan makan buat mereka.
Usai makan, dan menanyakan sebuah alamat. Rekan abi Farhan itu pun berpamitan untuk pergi.
"Habibati, kamu masih marah sama masmu ini?" tanya Fatih pada istrinya.
"Jawab aja sendiri," balas Inara masuk lebih dulu ke kamar mandi.
Fatih pun menghela napas. Ia kira tadi istrinya begitu ramah kepadanya di meja makan, tak kira sudah membaik ternyata hanya spek-spek saja.
Saat bumil itu selesai mandi. Fatih memanggilnya untuk duduk di sampingnya. Inara yang merasa ada hal serius yang suaminya akan bahas langsung duduk di samping lelaki tersebut.
"Sayang," panggil Fatih sambil memegang tangan Inara.
"Iya mas?" tanya Inara.
"Beberapa hari ini mas mencari tahu penyebab kematian kedua orang tua kamu. Dan benar jika papa dan mama tidak meninggal karena murni kecelakaan, tapi seseorang yang membun*h mereka."
Mendengar ucapan suaminya, Inara ingin melepaskan genggaman tangan Fatih. Namun, Fatih semakin erat memegangnya.
"Ja-di siapa pelakunya, mas? Kenapa orang itu tega sekali?" tanya Inara, air matanya mulai mengalir membasahi pipi mulusnya.
"Mas belum tahu sayang, tapi yang mas dapat pelakunya sahabat dari papa sendiri yang melakukannya. Bukan pak Samsul, yang pernah kamu bilang saksi, pak Samsul sudah meninggal dengan bunuh diri sebab tak ingin menjadi saksi kematian papa dan mama."
Fatih memberikan sebuah foto. Namun, foto itu sudah begitu buram sebab pernah terkena air sehingga orang yang berada dalam foto itu jadi tak jelas.
"Yang di tengah ini adalah pelakunya, sayang. Tapi mas baru ingin mencari yang memiliki foto ini juga."
Inara menatap suaminya. "Mas aku pernah lihat foto ini, tapi aku lupa di man.... Eh, aku melihatnya dua tahun yang lalu kalau enggak salah saat aku membereskan barang-barang kami waktu di usir dari rumah, tapi aku lupa wajah pelakunya gimana."
"Mas juga seperti kamu, sayang. Mas juga sepertinya pernah melihat foto ini, tapi mas enggak tau di mana, walaupun wajah pelakunya sudah buram dan yang jelas cuma mata sepertinya orang ini mas kenal, dan ada di dekat mas."