Perjanjian antara Prabu Dira Pratakarsa Diwana dengan Putri Ani Saraswani, memicu perang yang melengserkan Prabu Galang Digdaya, ayah sang putri sendiri.
Setelah menggulingkan Prabu Galang dari tahtanya, Prabu Dira menikahi Putri Ani yang telah bersekutu dengannya. Putri Ani mau menikah dengan salah satu syaratnya, di hari pernikahan tidak ada istri Prabu Dira yang lain hadir.
Para istri Prabu Dira setuju suami mereka menikah dengan Putri Ani dengan tujuan bisa membangun benteng dan armada laut di kerajaan pesisir tersebut. Prabu Dira harus segera membangun armada laut yang kuat untuk menghadapi perang besar melawan Negeri Tanduk dan sekutunya.
Namun, syarat yang diajukan oleh Putri Ani yang melarang kehadiran istri Prabu Dira di hari pernikahan, justru menyinggung perasaan beberapa orang permaisuri.
Puncaknya, setelah Putri Ani menjadi istri muda Prabu Dira dan menjadi ratu di kerajaannya sendiri, dia ditemukan telah tewas. Salah satu permaisuri Prabu Dira diduga pelakunya. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DRM 33: Wanita Penyusup
*Dendam Ratu Muda (DRM)*
Cuuur! Cuuur…!
Itu bukan suara air seni beberapa lelaki yang jatuh memancur ke permukaan air, tetapi itu suara air yang dituang menggunakan cerek logam berwarna kuning emas, tapi bukan emas. Air yang dituang oleh para dayang jumlahnya ada lima. Air yang dituang pun adalah air panas.
Air panas itu dituang bercampur ke dalam bak batu. Sebenarnya bukan empat cerek saja air panas yang dituang, tetapi sudah berempat-empat cerek sebelumnya, sampai Ratu Ani yang sedang mandi dari air pancuran bak batu itu merasakan airnya hangat.
Pada bagian bawah bak ada tiga mulut pancuran yang ketiga airnya jatuh ke bak mandi yang digunakan berendam oleh Ratu Ani yang cantik jelita. Meski airnya bening, tetapi sulit menembus kebeningan itu karena padatnya kembang-kembang nan harum berbagai jenis. Jangan ditanya apakah saat itu Ratu Ani mengenakan pakaian basah atau tanpa busana sedikit pun!
Rincing Kila berdiri tidak jauh dari bak tempat Ratu Ani berendam dan bermanja ria dengan kehangatan air. Mungkin karena malam ini dia tidak akan mendapat kehangatan dari sang suami yang pulang ke istri banyaknya, jadi sang ratu memilih kehangatan air kembang.
“Cukup!” seru pelan Ratu Ani, setelah merasakan air sudah cukup hangat.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap para dayang serentak.
Mereka lalu menjura hormat kepada sang ratu yang tidak memandang kepada mereka, kemudian berbalik pergi menuju ke pinggiran ruangan pemandian tersebut, sehingga jaraknya cukup jauh, tapi masih terjangkau oleh suara teriakan.
Tinggallah Rincing Kila yang berdiri menemani junjungannya.
“Sangat tidak enak jika malam berlalu tanpa Kakang Prabu,” ucap Ratu Ani mengeluh.
“Aku juga, Gusti,” ucap Rincing Kila.
“Kau jangan mengejekku, Rincing!” hardik Ratu Ani dengan wajah yang sampai menengok memelototi pengawal pribadinya itu.
“Ma-ma-maaf, Gusti Ratu. Aku hanya mengungkapkan keluhanku,” ucap Rincing Kila setengah takut dan setengah berani. Takut karena junjungannya kini seorang ratu dan berani karena merasa dialah orang yang paling akrab dengan ratunya.
“Besok, aku akan bicara kepada Mahapatih agar pengawalnya menyiapkan diri untuk menikahimu,” kata Ratu Ani.
“Hah!” pekik Rincing Kila terkejut.
“Tapi, jangan mendadak sekali, Gusti,” ucap Rincing Kila setengah panik. “Aku belum ada persiapan. Setidaknya Gusti Ratu mengajari aku lebih dulu cara melayani lelaki di atas ranjang, seperti Gusti melayani Gusti Prabu.”
“Itu tidak perlu kau pelajari. Kau akan bisa sendiri. Dua malam tiga malam, kau akan menjadi pemain yang handal,” kata Ratu Ani.
“Seperti itu ya, Gusti,” ucap Rincing Kila. Kelunakannya menunjukkan bahwa sebenarnya dia tidak keberatan dinikahi oleh pengawal pribadi Mahapatih Badaragi yang bernama Ronda Galo.
“Kakang Prabu pasti sedang berkuda-kudaan dengan istrinya,” ucap Ratu Ani dengan napas yang setengah berat.
“Mereka masih di jalan, Gusti,” timpal Rincing Kila.
“Apakah kau pikir Gusti Prabu tidak melakukannya kepada Riskaya yang akan menjadi selirnya? Berpenampilan sebagai pengawal saja dia terlihat menggairahkan, apalagi jika hanya berdua-duaan dengan Kakang Prabu,” kata Ratu Ani bernada cemburu.
“Gusti Ratu jangan berpikiran buruk seperti itu. Gusti Prabu itu sangat baik dan sangat gagah perkasa, terbukti Gusti Ratu sangat tidak ingin berpisah dengannya. Pantas saja jika para permaisuri Gusti Prabu memilih sakit hati diduakan daripada harus kehilangan suami yang sangat sempurna,” kata Rincing Kila. “Saranku, lebih baik Gusti Ratu memikirkan tentang pemerintahan, masih menumpuk banyak masalah yang perlu diselesaikan.”
“Sepertinya aku perlu mengangkatmu jadi penasihat,” kata Ratu Ani.
“Terima kasih, Gusti Ratu,” ucap Rincing Kila serius seraya tersenyum lebar. Dia bahkan sampai menjura hormat kepada Ratu Ani.
“Setelah itu kau akan aku buang karena tidak layak menyandang posisi tinggi itu,” tambah Ratu Ani yang membuat ekspresi Rincing Kila seketika berubah asam.
“Aku ini pengawal setiamu, Gusti Ratu,” ucap Rincing Kila dengan wajah yang dikakukan.
“Ambilkan pakaianku!” perintah Ratu Ani, lalu dia memerosotkan tubuhnya lebih rendah sehingga kepala dan wajahnya masuk ke dalam air.
Ratu Ani menahan napas di dalam kesenyapan. Dia tidak mendengar suara apa pun di dalam air kembang tersebut.
Setelah agak lama menahan napas hingga pada ujung kesanggupannya, Ratu Ani segera mengeluarkan kepalanya.
Namun, sepasang mata Ratu Ani yang terpejam mendadak terbuka karena dia terkejut. Kepalanya tertahan oleh sesuatu yang membuat hidungnya belum keluar dari air.
Ratu Ani bisa melihat keberadaan seorang wanita berpakaian jubah hijau gelap duduk di pinggiran bak batunya. Satu tangan wanita itu mencengkeram kepala Ratu Ani dan menahannya agar tidak naik. Tenaga cengkeramannya kuat, sehingga tidak mampu dilawan oleh kepala sang ratu. Tangan itu hanya menahan, tidak bermaksud menenggelamkan kembali kepala sang ratu.
Namun, karena hidung dan mulutnya belum keluar dari dalam air, Ratu Ani pun jadi membuka mulut dan otomatis air kembang masuk ke dalam tenggorokannya.
“Blek blek blek!”
Ratu Ani seketika meronta.
Cprak! Dak!
“Huklll!”
Karena tidak bisa bernapas dan air justru masuk ke tenggorokan dan hidung, tiba-tiba satu kaki licin, putih, mulus melesat keluar dari dalam air menyerang ke arah punggung wanita berjubah hijau.
Namun, tanpa berpindah dari duduknya, wanita itu cukup menyikutkan siku tangannya menangkis tendangan kaki tanpa penutup itu.
Kaki yang menghantam tulang siku nan runcing membuat Ratu Ani menjerit di dalam air, membuat air semakin banyak yang masuk ke dalam tubuhnya. Dia seolah-olah sedang menendang ujung besi.
Namun setelah itu, wanita berjubah melepas kepala Ratu Ani dan dia bergerak berdiri. Dia membiarkan Ratu Ani menyelamatkan dirinya.
Pembebasan yang diberikan oleh wanita asing berjubah hijau sontak membuat Ratu Ani mengeluarkan kepalanya. Dia menarik napas sebanyak-banyaknya. Dia tidak peduli lagi dengan tubuh atasnya yang keluar dari air tanpa lindungan kain pakaian.
Wanita berjubah hijau ternyata membawa pedang bagus berwarna ungu gelap berpadu warna hitam.
“Uhhukr uhhukr!” Ratu Ani terbatuk-batuk sambil menatap tajam kepada sosok yang telah menyusup masuk ke tempat pemandian tersebut.
Banyaknya cahaya dian dan obor di dinding-dinding membantu Ratu Ani melihat jelas wajah wanita berpakaian bagus itu. Wanita berjubah tersebut memiliki paras cantik jelita, tapi terlihat jauh lebih dewasa.
Ratu Ani melihat Rincing Kila berdiri kaku tanpa bisa bergerak sedikit pun. Berbicara pun tidak. Dia juga memandang ke posisi para dayangnya. Kondisinya sama, para dayang itu juga berdiri diam.
“Siapa kau?!” tanya Ratu Ani membentak marah, tapi wajahnya mengerenyit menahan sakit pada tenggorokan dan kakinya yang berdenyut-denyut akibat tangkisan tadi.
Wanita cantik berjubah dan bertubuh indah itu tidak menjawab. Dia mengulurkan ujung sarung pedangnya ke pakaian yang ada tidak jauh. Dengan ujung sarung pedangnya, si wanita berjubah mencongkel baju itu sehingga terlempar kepada Ratu Ani.
“Berpakaianlah, agar para prajurit tidak menemukan mayatmu dalam kondisi telanjang!” suruh wanita tersebut.
Terkejut Ratu Ani sambil menangkap pakaiannya. (RH)