"Dia putriku, Sofia." Begitu kata Judan ketika banyak perempuan bertanya siapa gadis cilik yang sedang bersamanya. Ia tidak ingin banyak orang tahu bahwa sebenarnya gadis cilik itu adalah keponakannya. Hingga akhirnya ia bertemu Runi, seorang Perawat di rumah sakit tempat ia menghabiskan waktu karena ingin melepas trauma buruk karena kematian kakak laki-lakinya yang tak lain adalah ayah dari gadis cilik itu.
"Dia adalah keponakanku," ungkap Judan akhirnya karena tidak mau perempuan itu salah paham. Ini pertama kalinya ia mau membuka diri pada seorang perempuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33 Berdebar
Runi menatap Judan lurus. Ada kesungguhan di mata pria di depannya ini. Deg, deg, deg. Padahal dia sudah mengatakan bahwa dia masih belum ingin di dekati seorang pria, tapi nyatanya hatinya dag-dig dug tidak karuan di tatap pria ini. Dadanya berdebar. Ia tahu mengapa itu terjadi. Ada perasaan halus dan lembut, juga menyenangkan melewati hatinya.
"Terserah." Runi mengatakan itu dengan lirih lalu melanjutkan makan. Melihat Runi yang tidak lagi bicara panjang untuk membantah semua kalimat Judan, dia merasa perempuan ini tidak lagi membuat dinding tinggi. Runi terasa lebih lembut dalam menghadapinya. Itu membuat Judan merasa ada celah sedikit untuk berharap banyak.
Ya, jika aku terus mendesaknya ... aku yakin dinding itu akan roboh. Jadi aku bisa masuk ke dalam hatinya dengan mudah. Judan semakin yakin dengan tekadnya.
"Apakah tidur kamu nyenyak tadi malam, Runi?" tanya Judan.
"Ya," jawab Runi tanpa mengalihkan matanya dari piring sarapan. Sebenarnya ia tidak bisa tidur karena kelaparan, tapi Runi memilih menjawab singkat untuk memudahkan obrolan.
"Itu sungguh sangat disayangkan." Judan terdengar kecewa. Sepertinya Judan sengaja memancing perhatian. Runi yang tadinya terpaku pada makanannya, kini mendongak menatap pria didepannya. Setelah berhasil memancing perhatian Runi, Judan melanjutkan kalimatnya. "Karena tadi malam aku sangat kesulitan tidur. Tidurku enggak bisa nyenyak karena ditolak oleh kamu."
Runi terkejut mendengar lanjutan kalimat Judan. Ia pun beralih ke makanannya lagi. Pria ini mulai lagi.
"Maaf," ucap Runi lirih. Entah kenapa dia harus meminta maaf.
"Kalau kamu merasa bersalah. Lebih baik kamu pikirkan lagi soal perasaanku," ujar Judan enteng. Setelah tadi berwajah serius, kini Judan kembali ke mode tengil-nya lagi.
"Kenapa kamu menahan diri ketika menghadapi istri dokter itu? Bukankah kamu tidak pernah menggoda pria itu?" tanya Judan. Pria ini membahas kejadian di pesta itu lagi.
"Dia istri sah. Aku mengerti perasaannya. Siapapun itu pasti marah jika tahu ada wanita yang menggoda suaminya. Jika aku ada dalam posisinya, aku yakin akan melakukannya juga."
"Padahal dia sedang mempermalukan mu, Runi."
"Aku tahu, tapi dia melakukan itu karena emosi. Pasti ada mulut kurang ajar yang membuat dia kalap di rumah sakit. Aku tidak terkejut. Banyak perempuan membenciku karena status jandaku. Itu bisa di lihat dengan cepat. Karena sekalipun aku belum pernah bertemu dengan istri dokter Ronal, tapi dia bisa langsung mengenaliku. Itu artinya sudah ada informasi banyak yang masuk padanya."
Judan mengangguk setuju. "Itu terdengar bijaksana."
"Tidak. Aku hanya berpikir dengan logis. Siapapun akan marah jika seseorang mengusik miliknya yang berharga."
"Begitupun juga aku," celetuk Judan mulai lagi dengan wajah tengilnya.
Entah kenapa itu membuat Runi lega. Sikap biasa pria ini membuatnya merasa tenang. Apakah sebenarnya ada rasa spesial di hati Runi untuk Judan? Mungkin ... karena dadanya kerap berdebar ketika pria itu mendekatinya dan bicara terus terang soal perasaannya. Namun dia tidak boh terlena bukan? Luka lama masih teringat jelas di dalam ingatannya.
...***...
...***...
Pekerjaan di tempat kerja makin terasa enteng ketika ia melihat peluang bisa berada di hati Runi tadi pagi. Ini sungguh membawa dampak bagus untuk Judan. Padahal perempuan itu belum menerima cintanya dengan pasti. Ia pulang dengan hati bahagia. Serasa ada istri yang sedang menunggu di rumah.
Dia pikir akan langsung melihat perempuan itu untuk menyambutnya, tapi nyatanya rumah terlihat lengang. Dimana Runi? Judan melihat ke sekitar. Ia berinisiatif menuju ke kamar putrinya terlebih dahulu. Teleponnya berdering. Kaki Judan berhenti melangkah. Ia melihat ke layar ponsel untuk melihat siapa yang meneleponnya. Nomor asing. Tidak ada nama kontak yang tertera. Itu artinya orang itu tidak ia kenal. Judan menekan sembarang tombol untuk menghentikan nada dering yang mengalun.
Setelah itu ia kembali pada tujuan awal. Ia ingin melihat Sofia. Karena pintu kamar Sofia tidak tertutup, dia bisa mudah masuk ke dalam kamar tanpa membuat ribut.
Bibirnya tersenyum ketika melihat perempuan itu ternyata tidur di samping Sofia.
"Ternyata dia ada di sini. Dia makin mirip dengan Sofia. Seperti ibu dan anak," gumam Judan senang. Langkahnya pelan menuju ke ranjang. Matanya tidak berhenti memandang wajah polos wanita itu. Dia tidak ingin membuang kesempatan ini. Maka dari itu, dia tidak membangunkan Runi dan tetap duduk di pinggiran ranjang.
Namun rupanya pandangan mata Judan membuat Runi terusik. Kelopak mata perempuan itu bergerak pelan, hingga akhirnya terbuka samar. Karena masih berada di dalam keadaan setengah sadar, ia belum yakin bahwa pria ini adalah nyata. Tangannya terulur menyentuh pipi pria ini dengan lembut. Judan sempat tersentak kaget dengan apa yang dilakukan perempuan ini. Namun dia membiarkan Runi menyentuh wajahnya.
Dia pasti masih bermimpi.
"Apakah kamu kembali untuk menemaniku atau menjemput ku?" lirih Runi membuat wajah Judan berubah serius. Matanya mengerjap.
Siapa yang ada dalam mimpinya sekarang? Aku? atau ... mantan suaminya? Ada rasa cemburu mendengar Runi bicara lirih mengenai seseorang.
...----------------...
.. jangan sampai mengacaukan hasil tes DNA