Senja tak pernah menduga, jika di rahimnya bakal hadir dua sosok malaikat kecil akibat pelecehan yang dilakukan Bumi terhadapnya.
Pasca menikah dengan Bumi, Senja seringkali mendapat perlakuan kasar.
Bahkan Bumi tega beberapa kali mencelakai Senja hanya untuk melenyapkan bayi yang dikandungnya.
Di saat Senja tak mendapat kasih sayang dari suaminya, kehadiran Langit sudah cukup menjadi pelipur lara baginya. Namun, kehadiran Langit justru membuat Bumi menjadi cemburu sekaligus takut jika Senja akan jatuh ke pelukan Langit.
“Aku nggak mau kamu menjadi hujan. Tapi langit seperti namamu, Mas. Bak sebuah pepatah, 'Sesetia Langit Menemani Senja'. Langit yang begitu setia menemani senja meski ia nggak selamanya indah.” Senja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrafa Aris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. SLMS
Ketika pulang dari kantor, lagi-lagi Bumi menghela nafas kecewa. Tak ada lagi sambutan serta senyum hangat dari Senja seperti hari-hari sebelumnya.
Selalu hampa yang ia rasakan ketika memasuki rumah. Yang sering menyambutnya pulang kini adalah Bik Riri.
“Nak Bumi,” tegur Bik Riri dengan seulas senyum menyambutnya.
“Bik ... Senja,” sahutnya lirih dengan wajah lesu.
“Nak Senja ada di rooftop. Sebaiknya kamu mandi dulu lalu temui dia di sana. Bibik akan menyusul sekalian membawa kopi untuk kalian,” usul Bik Riri sembari mengelus lengan Bumi.
“Iya, Bik.” Bumi melanjutkan langkah menuju kamar.
Sesaat setelah berada di dalam kamar, ia termenung sambil menatap nanar paper bag berisi gaun yang ia beli tadi siang.
“Sebaiknya aku mandi dulu.” Bumi meletakkan paper bag itu di atas ranjang.
Sementara Senja yang sejak tadi berada di rooftop, tampak sedang menatap layar ponselnya. Mengelus wajah putranya yang terakhir kali diabadikan oleh Langit.
“Sayang, betapa miripnya wajah kalian dengan pria bejat itu,” gumam Senja.
Ia kemudian beranjak dari tempat duduk. Menghampiri pagar pembatas seraya memandang lurus ke depan.
Sekelumit ingatannya kembali berputar mengingat saat dengan lantangnya Bumi mengucapkan janji suci pernikahan kala itu.
Ia cukup tertegun sekaligus kagum akan sosok suaminya saat itu. Bahkan menyakini jika pria itu akan menyayangi, mencintai serta melindunginya. Sayangnya semua harapannya hanyalah angan belaka.
Buliran bening di pelupuk mata tiba-tiba saja jatuh tanpa permisi. Senja tersenyum miris sembari menghirup udara sebanyak-banyaknya.
“Apakah aku harus memberi kesempatan kedua kepada Mas Bumi seperti permintaan Mas Langit, Bik Riri juga Mang Dul? Meski bukan dia yang menyebabkan putraku meninggal, tapi kenapa hati ini seakan mati rasa serta menolak untuk memberinya kesempatan?”
“Senja.” Bumi menyentuh pundak sang istri. Mengelus lembut kemudian berdiri di sampingnya.
Senja tak menoleh atau pun menyahut. Sikapnya yang semakin dingin pada Bumi, jelas membuat suaminya itu seakan terhempas jauh.
Penyesalan, rasa bersalah, kehilangan sosok wanita yang tadinya begitu ceria serta hangat padanya berubah menjadi wanita pemberontak.
“Senja,” panggil Bumi lagi sambil menatapnya meski arah pandangan Senja tetap mengarah ke depan.
Sedetik kemudian Senja merubah posisi berhadapan dengan Bumi. Menatap lekat wajah sang suami yang tampak lesu.
Perlahan kedua tangannya terangkat mengelus rahang tegas Bumi dengan mata berkaca-kaca. Memeluknya erat seraya berbisik lirih.
“Mas Bumi, bisakah kita akhiri saja ikatan pernikahan ini? Rasanya aku sudah nggak sanggup berada dalam satu atap denganmu. Sudah nggak ada lagi harapan, rasa cinta serta hormatku padamu. Percuma jika diteruskan.”
“Semuanya semakin terasa hambar dan hati ini sering memberontak. Pergilah, kejarlah cintamu yang pernah kamu rajut bersama Jingga. Ceraikan aku, Mas.”
“Senja, aku nggak mau kita bercerai. Aku ingin kita memulai hubungan pernikahan ini dari nol lagi. Tolong beri aku kesempatan,” bisik Bumi dengan suara tercekat.
Tak ada jawaban dari Senja melainkan diam membisu dalam pelukan sang suami. Sebelum akhirnya ia mengurai pelukan itu lalu akan melangkah. Namun, tertahan karena Bumi memegang tangannya.
“Temani aku menghadiri undangan anniversary partner bisnisku.”
Senja menggeleng pelan. “Aku nggak mau membuatmu malu, Mas. Kamu bisa mengajak Jingga!” tegas Senja. Lalu melangkah pelan.
“Nak Senja.” Bik Riri mengerutkan kening.
“Bik, aku ke kamar dulu,” pamit Senja. Ia mempercepat langkah tanpa menyadari jika ia lupa mengambil ponselnya.
“Nak Bumi, ponsel Nak Senja.”
“Nggak apa-apa, Bik. Oh ya, kopinya bawa lagi ke bawah. Aku akan ke kamar Senja,” cetus Bumi.
********
Begitu berada di kamar Senja, Bumi menghampiri seraya menegur wanita itu yang tampak termenung di dekat jendela.
“Senja, ponselmu ketinggalan di atas tadi. Dan ini, gaun untukmu. Kenakanlah, temani aku ke undangan itu.”
“Aku kan sudah bilang, aku nggak mau!” sentak Senja dengan perasaan geram. Meraih paper bag itu lalu melempar ke arah pintu.
Mendengar ada keributan, Mang Dul yang kebetulan lewat di depan kamar, langsung masuk ke kamar Senja.
“Nak Senja, Nak Bumi, ada apa?” Mang Dul memungut paper bag itu. Ia kemudian memberi isyarat supaya Bumi keluar.
Mang Dul menghela nafas sembari menghampiri Senja. “Nak Senja, ada apa?”
“Aku menolak pergi bersama Mas Bumi menghadiri undangan partner bisnisnya,” terang Senja lalu duduk di sisi ranjang.
Mang Dul ikut duduk di sisi Senja. Merangkul bahu wanita itu lalu tersenyum.
“Pergilah Nak, nggak ada salahnya kamu menemaninya. Lagian di sana nggak ada yang tahu jika kalian suami istri,” usul Mang Dul sekaligus menasehati. “Nak Senja, Bumi sudah banyak berubah. Jika paman boleh sarankan, berilah dia kesempatan kedua. Nggak mengapa meski berat di awal. Lama-kelamaan kamu pasti bisa menerimanya.”
Senja menundukkan pandangan wajah ke bawah. Menatap lantai ubin sembari meremas sprei. Mempertimbangkan ucapan Mang Dul.
Satu jam kemudian ....
Setelah susah payah membujuk Senja, akhirnya wanita itu mau menemani Bumi meski ogah-ogahan.
Sejak tadi Senja menatap dirinya di depan kaca sembari merapikan wig-nya. Tak lama berselang Bumi menyapa sekaligus mengajaknya pergi.
Di sepanjang perjalanan menuju hotel, Senja hanya diam. Pandangannya terus mengarah ke samping jendela mobil.
Sedangkan Bumi yang sedang menyetir sesekali melirik istrinya itu dengan perasaan kalut.
********
“Senja, ayo,” ajak Bumi sesaat setelah memarkir mobil.
Tak ada jawaban dari Senja melainkan memilih membuka pintu mobil. Mengayunkan langkah cepat menuju lobby hotel.
Bumi menghela nafas kecewa lalu menyusul Senja. Saat akan mendekat, istrinya itu malah mengobrol dengan Aura.
Tak lama berselang satu notifikasi pesan masuk ke aplikasi WhatsApp-nya.
✉️ : Mas, kamu duluan saja. Aku akan menyusul bareng temanku. Aku nggak mau membuatmu malu hanya kerena jalan bareng dengan wanita rendahan ini.
Kecewa sekaligus tertohok membaca pesan dari sang istri. Bumi terpaksa meninggalkan Senja dan Aura di lobby.
Di ballroom, Bumi langsung menghampiri partner bisnis-nya.
“Damar, Quin, happy anniversary ya,” ucap Bumi. Ia berjongkok kemudian mengelus kepala Aizen.
“Thanks ya, Bumi,” balas Damar dan Quin. “Kamu dan Jingga kapan menyusul?”
“Entahlah.” Bumi menggedikkan bahu.
“Jangan tunda-tunda lagi, Bumi. Kalau bisa segerakan. Kasian anak orang yang mengharapkan kejelasan.”
“Hmm.” Hanya itu jawaban dari Bumi.
Beberapa menit kemudian, Senja, Aura dan Langit tampak berjalan bersama menghampiri sang penyelenggara acara.
Lagi ... hati seorang Bumi seketika menjadi panas memandangi sang istri yang tampak lebih nyaman dengan sepupunya itu.
“Pak Damar, Bu Quin, selamat untuk kalian berdua. Semoga langgeng terus ya,” ucap Langit.
“Wah, apa dia wanita itu? Maksudku, calon istrimu?” tanya Damar dengan seulas senyum.
Langit hanya mengulas senyum lalu melirik Senja kemudian ke arah Bumi.
Melihat senyum yang terlukis manis di wajah tampan sepupunya itu, Bumi seakan tak suka.
Mencoba bersikap santai dan biasa-biasa saja.
...----------------...