NovelToon NovelToon
Memory About You

Memory About You

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / BTS / Dokter Genius / Teen School/College / Trauma masa lalu
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Devi Triana

Kematian kekasihnya membuat Juno Elvaro terikat dengan masa lalunya. Orang-orang memanggil Juno pembunuh, karena Juno adalah orang yang mengakibatkan kekasihnya mati. Saat dunia benar-benar hancur, saat Juno benar-benar tidak ingin hidup. Erisa Katrina, Siswi baru yang masuk ke SMA tempat Juno bersekolah mengubah hidup Juno. Sasa begitu mirip dengan Sazza membuat Juno kembali teringat dengan sosok kekasihnya. Kilas balik masa lalu membuat Juno bernostalgia, namun sama seperti Juno, Sasa juga penasaran dengan sosok kakak kelas laki-laki yang begitu pendiam dan ditakuti semua orang. Saat mereka saling ingin tahu, sebuah moment memberi kesempatan untuk mereka bertemu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Triana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bimbang

Di lapangan sekolah, kini tiga orang anak gadis tengah duduk di bawah pohon rindang. Beralaskan taplak meja yang Athy curi dari meja guru di kelasnya, kini mereka duduk seakan-akan tengah piknik di taman wisata.

Makanan ringan yang mereka bertiga beli adalah bukti bahwa mereka benar-benar niat untuk menjadikan waktu istirahat itu sebagai waktu piknik. Athy tampak sibuk menyeruput es rasa lemon di tangannnya, matanya terarah ke lapangan futsal yang berada tidak jauh di dekat mereka. Menonton para anak laki-laki yang kini tengah bermain futsal sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa mereka.

Sedangkan, Eri berbaring di atas taplak yang agak lebar itu sembari membaca novel yang Athy bawa dari rumahnya. Gadis itu juga tampak santai menikmati sebungkus chiki yang terletak di atas perutnya.

Berbeda dengan mereka berdua yang tampak menikmati waktu santai itu. Sasa menghela napas setiap kali orang-orang berbisik melewatinya. Sembari menyeruput es kelapa yang dia beli dari kantin di tangannya, matanya menonton malas siswa laki-laki yang tengah bermain futsal di depan mereka.

"Kenapa? Kayak manusia gak punya semangat hidup aja kamu" Tanya Athy yang duduk di sebelah Sasa.

Helaan napas berat terdengar dari Sasa, lalu dengan wajah masam, dia ikut berbaring di sebelah Eri.

"Entahlah...aku gak tau"

"Kenapa? Apa karena orang-orang mulai jauhin kamu lagi?" Tanya Eri yang berbaring di sebelah Sasa kini. Sedangkan, Athy juga ikut berbaring bersama mereka berdua.

"Jangan khawatir. Kan, masih ada aku sama Eri" ucap Athy mengambil chiki yang berada di atas perut Eri, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.

"Ada kak Juno juga" ucap Eri membuat wajah Sasa semakin cemberut.

Ingatan kemarin kembali terulang di kepala Sasa. Ingatan saat Sasa mengaku menyukai Juno, namun laki-laki itu hanya tersenyum getir tanpa mengucap sepatah kata, lalu menepuk kepala Sasa dan pergi pulang tanpa pamit.

"Apa masalahnya? Cerita ke kita. Ini tentang Kak Juno kan?"

"Darimana kamu tau?" Tanya Sasa bangkit sembari menatap Athy yang tersenyum licik dengan kedua alis yang naik turun.

"Ekpresi kamu kebaca. Lihat mata sayu, pipi merah, bibir manyun. Ekspresi setiap kali kamu punya masalah sama Kak Juno"

"Wah. Thy, kamu bisa baca ekpresi? Coba aku" Tanya Eri kepada Athy yang dengan cepat membaca ekpresinya.

"Hmm, kalau kamu...cinta bertepuk sebelah tangan"

Ucapan itu membuat wajah Eri lesu, sedangkan Athy tertawa puas.

"Jadi, Sa. Masalah kamu apa?"

"Itu..." Sasa mengedarkan pandangan asal, lalu mulai bercerita tentang kejadian kemarin saat dia mengaku menyukai Juno kepada Juno. Pengakuan itu membuat Eri dan Athy menganga terkejut, karena mereka tidak tahu jika Sasa punya nyali yang besar untuk mengakui perasaan nya lebih dulu.

Tapi, itu masalahnya. Sasa terlalu cepat mengakui perasaan nya. Padahal, seharusnya laki-laki yang lebih dulu mengakuinya.

"Sa, kamu ngatain aku bodoh, tapi kamu sendiri bodoh"

"Kamu gak sabaran banget ya? Suka banget ya sama Kak Juno?"

Eri berucap di sambung dengan Athy. Mereka berdua menyalahkan Sasa di situasi ini.

"Kenapa? Aku suka. Terus, Kak Juno juga kelihatan suka sama aku. Jadi, apa salahnya bilang lebih dulu?"

Athy dan Eri saling memandang, lalu mereka berdua menggelengkan kepala tak habis pikir.

"Kamu yakin Kak Juno suka sama kamu, Sa?"

"Kamu gak kegeeran kan?"

"Itu..." Sasa menunduk dalam. Dia sendiri tidak yakin apakah Juno menyukai nya atau tidak. Tapi, apa maksud dari semua perlakuan ramah Juno selama ini? Menolongnya di lapangan sekolah, membantu Sasa mengerjakan tugas praktikum, membuatkan Sasa sandwich, menemaninya makan siang, mengelus rambut Sasa, membelikan dia roti keju dan susu fullcream, membawa tas nya, mengantarnya pulang...ah. Jika perlu disebut, masih banyak hal ramah yang Juno lakukan pada Sasa.

Apa aku beneran salah paham ya?

Namun, ada hal lain yang membuat Sasa tanpa pikir panjang mengakui rasa sukanya pada Juno.

Tatapan hangatnya...

"Oi, Erisa Katrina. Sebagai cewek memang gak salah sih ngakuin perasaan lebih dulu. Tapi, masalahnya cowok kalau kita ngaku duluan dianya pergi. Gimana ya? Cowok itu sukanya cewek yang gak mau sama dia. Iya gak, Ri?"

"Gimana ya, cowok itu kompetitif. Mereka lebih suka sesuatu yang memicu adrenaline mereka buat ngeraih sesuatu. Nah, salah satunya cewek. Kita tuh sebagai cewek malah harus nyediain rintangan biar mereka tertantang. Caranya? Ya jual mahal. Iya gak, Thy?"

Mereka berdua saling memandang, lalu terkekeh geli dengan ucapan mereka sendiri.

"Jadi, aku salah? Terus, sekarang Kak Juno pergi dan gak mau dekat sama aku lagi?"

Sasa menunduk dalam, rasanya dirinya ingin menangis. Apalagi, ekpresi enggan dari Juno kemarin terbayang di kepalanya. Padahal, dia ingin lebih dekat dengan Juno dengan mengutarakan rasa sukanya, tapi Juno malah semakin menjauh.

"Habislah aku"

"Gak apa-apa" ucap Athy menepuk pundak Sasa yang menunduk sembari menutup wajahnya.

"Kita tunggu reaksi Kak Juno"

•~•~•~

Di dalam kelas 12-2, semua orang tampak sibuk merapikan buku. Mereka bersiap untuk pulang begitu bel pulang berbunyi.

Beberapa di antara mereka memegang dahi, beberapa menepuk kepala mereka kesal karena jawaban yang mereka tulis di kertas ulangan benar-benar payah.

Sedangkan, laki-laki yang duduk di kursi paling ujung itu melamun menatap meja kayu dengan tangan yang memainkan pulpen yang dia pegang.

"Aku suka sama kak Juno...Aku suka sama Kak Juno...Aku suka sama Kak Juno..."

Suara itu terngiang-ngiang bak lirik lagu yang membuat candu. Butterfly effect menguasai perut Juno hingga rasanya dia ingin tertawa. Namun, kepalanya berisik memikirkan dia harus apa saat di dalam hatinya masih Sazzara Arin yang berkuasa.

Bak dua kutub yang saling mendorong jika bersatu, rasa yang timbul untuk Sasa tidak sebesar rasa yang bersemayam untuk Sazza, walaupun gadis itu telah pergi lama.

Dua perasaan itu membuat Juno frustasi. Di satu sisi, dia sudah berjanji untuk tidak hidup bahagia pada Sazza, karena. Laki-laki itu pernah begitu cinta dengan kekasihnya. Namun, di sisi lainnya, Erisa Katrina seperti sebuah buku yang membuat Juno tertarik.

Buku yang punya cover begitu cantik dan buku yan punya prolog yang membuat Juno penasaran ingin membaca cerita di buku itu lebih dalam.

Juno memijat pangkal hidungnya. Jujur, dia sendiri merasa seperti laki-laki jahat yang mempermainkan Sasa saat dirinya sendiri belum selesai dengan kenangan Sazza. Namun, rasa yang tidak diinginkan itu tumbuh, perasaan yang membuat Juno deja vu dengan gadis cantik yang pernah dia cintai, Sazzara Arin.

Rasa yang timbul, namun Juno tidak tau perasaan itu milik siapa.

Suara berat yang berasal dari depan kelas menginterupsi. Laki-laki paruh baya berkacamata kotak kini berdiri di podium depan kelas. Laki-laki itu Pak Adam, guru matematika kelas 12. Pak Adam berdiri sembari memegang kertas ulangan matematika yang beberapa waktu lalu mereka kerjakan.

"Oke, saya sudah periksa hasil ulangan kalian"

"Cepat banget, Pak?"

"Cepat dong. Wong tinggal corat-coret. Soalnya, jawaban kalian ngawur semua" ucap Pak Adam dengan wajah julid pada gadis yang duduk di kursi paling depan. Gadis itu tertawa bodoh sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Saya bagikan yo. Siti, Eka, Asa...Asa mana asa?"

"Di ruang kepsek, Pak. Tadi dipanggil Pak kepala"

"Loh, nyapo?"

Semua orang mengedikkan bahu. Mereka tidak terlalu peduli, karena mereka tidak tau kalau saat ini Asa tengah ditindaklanjuti mengenai kasus Sasa tempo lalu. Dia juga termasuk salah satu orang yang bekerja sama dengan Farah.

"Wes, lupakan. Enzy, Yosa, Juno...woah"

Reaksi Pak Adam membuat penasaran semua orang. Reaksi yang biasa ditunjukkan Pak Adam saat seseorang mendapatkan nilai yang tinggi.

"Kenapa Pak? Yosa ya, Pak? Seratus lagi?"

Laki-laki itu menggeleng kuat, membaca lekat-lekat kertas ulangan seorang siswa di tangannya.

"Kalau begitu, Enzy ya, Pak? Soalnya dia kan juara 2 umum?"

"Bukan. Kepo bener kamu" ucap Laki-laki itu, lalu menyerahkan kertas ulangan milik Yosa dan Enzy yang sudah berada di depan. Sedangkan, Juno masih berkutat dengan dunianya.

"Juno, Juno Elvaro" panggil Pak Adam dengan nada yang lebih tinggi daripada tadi. Juno tersadar, melirik sebentar, lalu bangkit menuju ke depan kelas.

"Tumben sekali ya, Juno. Jawaban kamu hari ini buagus tenan. Kalau begini terus, kamu bisa masuk siswa eligible, masuk univ negeri kamu. Atau, saya yang rekomendasikan ke univ bagus. Mau?"

Juno menatap kertas ulangannya dengan wajah datar. Lalu, tersenyum kecut pada Pak Adam yang berdiri di depannya dan kembali lagi ke tempat duduknya.

Sialan.

"Nilai ulangan yang bagus hari ini cuma Juno. Nilainya seratus, Yosa kamu kurang teliti di soal nomor tiga, tapi sudah bagus nilainya sembilan delapan. Kalau kamu Enzy, besok-besok belajar plus minus lagi. Saya heran kok hasil minus tiga dikurang minus enam jadi tiga. Mangan siang opo koe, ra fokus ngono?"

Berbeda dengan Enzy dan Yosa yang mengharapkan nilai seratus. Juno yang sudah meraihnya malah merasa tidak puas. Di dalam hati, dia mengutuk diri karena menyelesaikan soal ulangan itu sepenuh hati. Walaupun, dia sendiri tidak sadar karena hanya mengerjakan soal itu sekenanya.

Kepalanya yang berisi suara Sasa membuatnya bahkan tidak sadar sudah menyelesaikan soal ulangan. Namun, siapa sangka Juno yang dipanggil jenius matematika semasa SD masih punya harapan menjadi jenius yang sama. Walaupun, pujian dan kekaguman itu bagai kutukan bagi Juno yang mengharapkan pujian dan kekaguman yang sama dari orang tuanya dulu.

Tapi, tidak untuk sekarang, laki-laki itu benci pujian dan kekaguman yang mengingatkannya pada masa itu.

Juno meremas kertas ulangan itu, lalu memasukkannya ke dalam tas asal-asalan. Tangannya mengambil earphone lalu memasangkan earphone itu ke telinganya.

Suara musik yang melantunkan nada piani klasik bergema di telinga Juno. Matanya kembali menelisik ke arah kawanan awan yang berkumpul di atas langit lewat jendela.

Suara musik itu samar, karena kesadarannya kini berkelana bersama dengan lantunan musik piano yang pernah dia mainkan dengan Sazza dulu.

"*K*ak Juno. Kenapa kakak suka main piano?" Tanya Sazza kala itu pada Juno yang mengambil posisi nyaman di kursi dengan tangan yang bersiap menekan tuts piano di depannya.

Kini mereka berada di dalam ruang musik, membolos kelas matematika yang tidak ingin mereka berdua ikuti.

"Cuma...sewaktu main piano rasanya kakak bebas"

"Bebas?"

"Eum, kakak puas dan kakak lega. Kamu tau? Kakak gak selalu bisa cerita sama orang lain tentang keluh kesah kakak, bahkan mungkin gak ada yang mau dengar juga. Karena Mama dan Papa seringnya di kantor, mereka gak punya waktu buat dengerin cerita kakak dari kecil. Kak Kinan juga sama, karena harus menggantikan peran Mama di rumah, dia sibuk ngurus urusan rumah tangga dan sekolah"

"Waktu SD, kakak pernah ikut lomba matematika"

"Beneran? Wah, berarti Kak Juno pinter matematika dulu"

Juno memasang wajah sombongnya.

"Jelas lah, Aku kan Juno, pacarnya Sazza. Dulu, rasanya matematika itu hal yang paling mudah kakak selesaikan. Gak seperti masalah rumah dan masalah ayah mama yang gak ada habisnya. Tapi, kakak jadi benci matematika karena suatu hal. Tapi, karena hal itu pula kakak suka piano. Ngelihatin orang main piano di tengah jalan bikin kakak kagum"

"Kakak gak bisa marah kayak anak kecil yang tantrum, kakak gak bisa nuntut cinta dari ayah mama yang gila kerja. Kakak gak bisa nuntut perhatian dari Kak Kinan yang punya banyak hal untuk diurus"

"Jadi, kakak main piano. Karena, dengan piano kakak bisa nunjukin rasa sakit kakak, rasa sedih, kesal, dan bahagianya kakak lewat melodi indah yang bikin kakak lega"

Sazzara tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca, lalu dia mendekati Juno dan mengelus pelan puncak rambutnya.

"Kerja bagus, Kak Juno"

Juno tersenyum merekah dengan tatapan hangat menatap gadis itu yang tersenyum penuh rasa sayang.

"Kalau begitu, sekarang Kak Juno jadi piano nya aku. Kakak, tempat aku cerita dan menyalurkan perasaan aku. Kakak piano yang bikin aku bebas...Kak Juno piano milik Sazza seorang"

Ingatan itu menghantui Juno, tangannya memencet tombol di layar ponsel untuk menghentikan lagu yang dia mainkan untuk Sazza sehabis Sazza berkata bahwa dia piano milik Sazza seorang. Kebahagiaan dan kehangatan itu tidak bisa lagi kembali, namun mengapa ingatan itu terus terbayang hingga membuat Juno frustasi.

Za, kamu mau kakak gimana? Hati kakak pengen nerima dia, tapi kamu lagi-lagi muncul seperti bom waktu yang membuat rasa bersalah kakak kembali. Kakak lelah, Za. Kakak pengen bahagia, tapi kakak terlalu jahat untuk bisa bahagia.

•~•~•~NEXT

1
Mawar_Jingga
halo kak salam kenal🤗like dan komen mendarat ya mampir dan ikuti "sepotong sayap patah" di tunggu y happy reading☺️
sabana
sampai sini dulu, jangan lupa mampir di "cinta dibalik Heroin" dan "Bintangku"
Helmi Sintya Junaedi
lanjuuuut,,,
【Full】Fairy Tail
Terima kasih penulis hebat
La Otaku Llorona <33
Ditunggu cerita baru selanjutnya ya, thor ❤️
PetrolBomb – Họ sẽ tiễn bạn dưới ngọn lửa.
Jangan-jangan aku udah terjebak obsession sama tokoh di cerita ini😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!