Season 1 :
"Jika laki-laki yang menghamili mu adalah seorang Dokter, apakah papamu masih akan melakukan itu?"
Aurel tersentak, ia menatap Dokter itu dengan seksama.
"Apa maksud Dokter?"
"Aku akan menikahimu!"
Cerita ini menceritakan tentang perjuangan seorang dokter yang mati-matian menengang teguh sumpah jabatannya, hingga kemudian ia merelakan hidupnya, kepentingannya, perasaannya.
Lalu apakah akan selesai di sini? Masalah kembali datang ketika pria yang menghamili gadis itu muncul, dan tentang siapa sebenarnya pria itu dan apa hubungannya dengan Jessen, membuat hidup Jessen menjadi sangat rumit.
Season 2 :
Kehidupan baru David - Alea dimulai. Kehilangan bertubi-tubi yang dialami David membuatnya hancur dan rapuh.
Yang ia miliki sekarang hanyalah janin yang ada dalam kandungan Alea. Ia tidak ingin kehilangan lagi.
Bagaimana kehidupan mereka?
Siapa Ayah David?
Bagaimana dengan Jessen - Aurel?
Simak terus di COMPLICATED (David - Alea Story) ya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elza Veronika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siasat
Yosefina sudah begitu rapi dengan snelinya, ia melangkah keluar dari kamar dan mendapati Dirga sudah duduk di meja makan. Yosefina melangkah dengan malas, lalu duduk di samping suaminya itu.
"Hari ini aku ke Bali, mungkin sampai tiga hari." gumamnya santai sambil menyuapkan potongan roti isi selai ke dalam mulut.
Yosefina sontak tersedak. Ia menatap sosok itu dengan kebencian yang menyeruak.
"Kenapa dadakan sih? Acara apa lagi?" tanya Yosefina kesal.
"Ada simposium, pertemuan dengan alumni PPDS juga. Maaf aku baru sempat memberi tahu kamu." jawabnya santai.
Tidak sempat memberi tahu? Kemarahan Yosefina semakin memuncak, ia membanting sendoknya lalu berdiri dan pergi dari meja makan.
"Sejak kapan kamu jadi tidak begitu sopan?" tanyanya dingin.
"Sejak kapan kamu menganggap aku ada, menganggap aku istrimu. Dan sedikit saja memperdulikan aku sebagai istrimu?" balas Yosefina dengan mata memerah.
"Maksudmu?" tanya Dirga masih begitu tenang di kursinya.
"Kamu hanya hidup dengan profesi mu, kesibukan mu, jadwal praktek mu! Kamu tidak pernah menganggap aku istrimu, kamu tidak pernah menganggap aku ada dihidupmu!" teriak Yosefina lalu melangkah keluar dan membanting pintu sekeras-kerasnya.
Ia kemudian masuk ke dalam mobilnya, lalu segera memacu mobil itu pergi dari halaman rumahnya. Selalu begini, ia tidak pernah dianggap ada bukan? Hidup Dirga hanya untuk kesibukannya sendiri! Bukan untuk dirinya! Kadang Yosefina heran, untuk apa sih Dirga menikahinya? Bahkan menyentuh tubuhnya pun Dirga sangat jarang!
Yosefina menyeka air matanya, dalam pikirannya hanya ada Jessen sekarang, ia ingin Jessen! Dan ia harus mendapatkan kembali laki-laki itu!
***
"Saya balik dulu!" guman Jessen sambil sesekali mengusap.
Perawat dan beberapa dokter koas hanya mengangguk pelan dan membiarkan Jessen melangkah keluar dari IGD. Jessen dengan mata yang begitu berat itu terus melangkah ke parkiran. Ia harus segera sampai dirumah untuk kemudian sekedar memejamkan mata dan mengistirahatkan tubuhnya.
"Nih, kopi!" guman sosok itu sambil menyodorkan cup Coffe itu pada Jessen.
Jessen menatap sosok itu lalu tersenyum sinis, "Minum saja sendiri!" gumannya ketus sambil terus melangkah.
"Hey, matamu hampir terpejam, yakin kamu bisa sampai rumah jika menyetir dengan kondisi seperti itu." Yosefina menarik tangan Jessen, lalu kembali menyodorkan kopi itu.
"Thanks!" Jessen menerima cup itu, meneguknya sekali teguk, lalu membuang cup itu ke dalam tempat sampah.
"Sama-sama, mau langsung pulang?" tanya Yosefina sambil mengekor di samping Jessen.
"Menurutmu?" Jessen benar-benar jengah.
"Iya menurutku kamu akan pulang."
"Lantas kenapa kamu masih tanya?" tanya Jessen ketus lalu melangkah secepat mungkin meninggalkan sosok itu sendirian.
Jessen berharap bahwa wanita itu tidak lagi mengejarnya. Malas sekali ia harus meladeni sosok itu. Kenapa sih ia masih harus menganggu hidupnya? Jessen tidak lagi mendengar langkah kaki yang mengikutinya. Berarti dia aman! Dia langsung masuk ke dalam mobilnya.
Kehadiran wanita itu seolah-olah menjadi mimpi buruk bagi Jessen. Semoga dia tidak melakukan hal-hal diluar batas, melakukan hal-hal yang dapat mengacaukan lagi hatinya. kehidupannya.
***
Aurel baru saja selesai mandi, ia sedang mengeringkan rambutnya ketika mobil itu berhenti di depan rumahnya. Itu mobil suaminya. Sudah pulang rupanya dia.
"Pagi Sayang!" sapa Jessen lalu memeluk tubuh Aurel dan mengecup keningnya.
"Mau mandi dulu?" tanya Aurel sambil mengikuti langkah Jessen.
"Mau langsung tidur dulu boleh?" Jessen menatap istrinya setengah memohon.
"Yasudah kalau begitu, ganti baju dul ...."
Jessen sudah merebahkan tubuhnya di kasur, dan ia sudah tidak bergerak lagi. Tampak sangat bahwa sosok itu benar-benar lelah. Dan Aurel tidak berani banyak bicara lagi, ia hanya menghela nafas panjang sambil tersenyum kecut.
Begitu berat tugas seorang dokter itu, namun ada setitik rasa bangga menyeruak dalam hati Aurel. Ia masih menunggu hasil SBMPTN. Apakah ia lolos masuk fakultas kedokteran? Apakah kemudian ia akan berjodoh dengan profesi yang sama dengan suaminya itu? Aurel menatap sosok itu dengan iba, lalu dengan perlahan menutup pintu kamar itu dan melangkah pergi dari depan kamar tidurnya.
***
Yosefina dengan gemas masuk ke dalam ruang residen, tampak tiga orang temannya sudah hadir di sana.
"Kenapa sih, kok datang-datang jelek amat?" tanya Tiara sambil menatap heran Yosefina yang datang dengan wajah ditekuk itu.
"Iya nih, lagi bulanan?" sambung Hani yang sedang sibuk menyalin catatan milk Tiara itu.
"Bawel, sebel aku!" desis Yosefina sambil mendaratkan pantatnya di kursi.
"Sama?"
"Banyak orang! Sudahlah jangan kebanyakan tanya lagi."
Tiara dan Hani hanya mengangguk pelan, mereka kembali sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Sedangkan Andika yang sejak tadi diam masih sibuk dengan smartphone di tangannya.
"Visit jam berapa?" tanya Yosefina ketika semua yang disana benar-benar diam.
"Setengah jam lagi, siap-siap deh," guman Hani yang kini sibuk membersihkan stetoskopnya dengan tissu basah.
"Siapa nanti yang visiting?"
"Dokter Chandra!"
"Sial!" desis Yosefina kesal. Konsulen rese itu lagi yang visiting hari ini? Pastikan dia akan ditagih presus yang kemarin bukan? Ahh sial!
"Iya, makanya aku bilang tadi suruh siap-siap." jawab Hani asal tanpa menoleh ke arah Fina.
"Kalau pura-pura sakit perut kira-kira dia percaya nggak sih?" tanya Fina asal.
"Coba aja deh, semoga nggak disuruh ngulang."
Yosefina menghela nafas panjang, harinya begitu jelek hari ini. Bagaimana sih cara membuat sosok itu mau menerimanya lagi? Sebodoh amat deh dia sudah beristri, Yosefina tidak peduli!
"Fin ...." tanya Hani membuyarkan lamunan Fina.
"Apaan?" tanya Fina sambil memijit keningnya.
"Kamu sakit perut beneran?" tanyanya ketika wajah Yosefina itu tak kunjung cerah.
"Entahlah, aku pusing."
"Kamu tak tampak baik."
"Cara bikin mantan mau balikan sama kita gimana sih?" tanya Yosefina tidak menghiraukan pertanyaannya Hani.
"Apa? Nggak salah dengar nih? Siapa yang mau balikan sama mantan?" Hani menatap Fina tak percaya.
"Aku!" jawab Fina jujur.
"Gila, dapat suami sudah spesialis mau kamu tinggal?" Hani melotot tidak percaya.
"Kamu mau? Buat kamu aja aku ikhlas kok." Fina memijit keningnya, belum tahu sih mereka gimana ajaibnya Dirga itu.
"Sorry, udah married nih. Kalau belum sih mau mau aja!"
"Jadi gimana, caranya balikan sama mantan itu gimana?"
"Entahlah, aku nggak pernah balikan sama mantan kok!"
"Kalau cara jadi pelakor gimana?" tanya Fina sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Astaga, Fin! Kamu sehat kan, Fin?" Hani mengelus dadanya. Sebenarnya apa yang terjadi pada Yosefina?
"Entahlah, yang jelas aku sudah jenuh!" Yosefina bangkit lalu melangkah keluar.
Tiara, Hani, dan Andika saling pandang, kenapa akhir-akhir ini sikap Yosefina begitu lain? Apa yang terjadi kepadanya? Memang siapa yang hendak ia debut dari istrinya? Andika mengangkat bahunya, lalu mereka kembali sibuk dengan urusan mereka masing-masing.