Tidak ada kisah Cinta di dunia ini yang seindah kisah novel..
Tidak ada yang tahu.. Seperti apa dan bagaimana proses masa depan kita terjadi..
Namun ada juga beberapa kisah yang serupa dengan kisah di novel..
Karena beberapa kisah novel memang pernah terjadi di dunia nyata..
"Kadang sesuatu yang kita lihat tidak sesuai dengan kenyataan.
Kebencian yang terlalu dalam ini membuatku terjatuh.
Tapi memang begitu kenyataannya laki-laki itu menyebalkan dan aku muak melihat tingkah gilanya itu, dasar laki-laki aneh dia!
Jika bisa saat itu juga aku mematahkan lehernya. Tapi, aku tidak bisa melakukannya. Karena aku...."
_Shica Mahali_
"Jangan dilihat dari luar. Maka kau akan semakin penasaran dengan apa yang ada didalamnya.
Aku menyesal telah menyakiti perasaannya.
Aku tidak mengira kalau ini buah dari kesalahanku.
Maafkan aku, boleh aku mengenalmu lebih jauh lagi?
Tapi aku......"
_Raihan Alfarizi_
PERINGATAN!!!
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucu Irna Marhamah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
".. Tidak ada keluarga didunia ini yang tidak peduli dengan anggota keluarganya.. Jika ada, itu bukan keluarga, melainkan orang lain yang hidup dalam satu darah, satu keturunan yang sama dan satu ruang lingkup, namun tidak ada kasih sayang dalam hatinya.. "
***
•••Raymond Harnojoyo•••
Keesokan harinya
Keluarga besar mengadakan sarapan bersama. Dengan menu tradisional.
Namun ada juga beberapa yang melakukan olahraga pagi atau lari pagi tanpa sarapan terlebih dahulu.
Setelah itu, mereka beraktifitas masing-masing. Ada yang pergi ke kantor, jalan-jalan, pergi les, ada juga yang diam di rumah.
Gita tidak tertarik untuk pergi keluar rumah, dia memilih tinggal di rumah bersama teman barunya Shica.
"Oh ya ayo kita berkeliling.. Aku akan menunjukkan semuanya tentang keluarga besar Harnojoyo" kata Gita.
Gadis periang itu menarik tangan Shica dan mengajaknya ke ruang khusus.
Ruangan yang dipenuhi lukisan besar. Shica terpana melihatnya.
"Lihatlah.. Ini kakeknya kakek kami.. Tuan Baskoro hendarso Harnojoyo.. " kata Gita.
Terlihat pria gagah berpakaian adat Jawa tengah berdiri dengan keris ditangan kanannya. Wajahnya sangat berwibawa dan terkesan hangat.
Gita menarik Shica ke lukisan selanjutnya.
"Ini kakek buyut kami.. Namanya Tuan Tribuwono Ajdi Handoko Harnojoyo " kata Gita.
Pria berpakaian adat Jawa dengan tongkat jalan ditangan kiri nya itu juga terlihat hangat dan bijaksana.
Gita menarik Shica ke lukisan berikutnya.
"Yang ini kakek ku.. Eyang Purnomo Yusgiantoro Dirgaharhjdo Mangunkusumo Harnojoyo " kata Gita.
Shica melihat lukisan pria gagah dengan jas dan blangkon serta buku ditangannya. Background lukisan itu juga berada di ruangan seperti ruangan kerja kantoran.
Shica merasa yang ini berbeda. Pria berwajah dingin dan terkesan kejam ini begitu menakutkan bagi Shica.
"Kakek kami sekarang berada di Myanmar.. Mungkin beberapa minggu lagi beliau akan kemari" kata Gita.
"Lalu yang ini Om Abikusno Harnojoyo " kata Gita ke lukisan berikutnya.
Shica sudah sangat mengenal Abi. Terlihat pria berjas itu memegang dokumen ditangannya sambil tersenyum hangat. Dengan background kantor.
"Dan.. Nanti, di samping lukisan Om Abi, akan ada lukisan Ray.. " kata Gita sambil melihat dinding kosong disamping lukisan Abikusno.
Sementara itu, Ray sedang lari pagi. Setiap hari libur, dia pasti akan berolah raga.
Ray biasa berolah raga di mansion kadang dia juga berolah raga di tempat gym bersama sepupunya.
Tiba-tiba dia bertubrukan dengan seseorang.
"Maafkan aku.. Aku tidak melihat mu" kata gadis cantik yang tidak sengaja bertubrukan dengannya.
Ray membantu gadis itu berdiri.
"Maaf aku juga tidak hati-hati " kata Ray.
Gadis itu mendongkak. Dia terpukau melihat ketampanan Ray.
"Naina? " gumam Ray.
"Raymond? " seru Naina.
"Sedang apa kau disini? " tanya Ray. Tiba-tiba gadis bernama Naina itu memeluk Ray.
Ray terkejut. Dia melepaskan pelukan Naina.
Naina menatap Ray dengan sedih.
Ray pun melanjutkan lari paginya meninggalkan Naina dalam kebungkaman seolah tidak terjadi sesuatu.
"Ray disini.. Ray di Jakarta.. Dia pasti di mansionnya" gumam Naina.
Ray mendengus kesal. "Sedang apa Naina disini.. Apa dia tidak sekolah? " batin Ray.
Dia memasuki pelataran mansionnya. Namun dia bertubrukan dengan seseorang.
"Aduh" ringis gadis itu.
"Maaf.. Aku tidak hati-hati lagi" kata Ray.
Ternyata Shica yang dia tubruk barusan.
"Shica? " Ray melihat Shica memakai pakaian olahraga. Rambut panjangnya di kuncir kuda memperlihatkan lehernya yang jenjang.
Shica mengusap dahinya yang sakit karena berbenturan dengan dada Ray.
"Aku mau lari pagi" kata Shica.
"Ini sudah jam sembilan, kau baru mau lari pagi? " tanya Ray.
"Yaa.. " jawab Shica kemudian berlalu keluar.
"Aku temani ya" kata Ray.
"Kau kan baru saja kembali.. Pasti melelahkan " kata Shica.
"Ayolah.. Jarang kita menghabiskan waktu bersama " kata Ray.
"Apa? " tanya Shica.
"Emm.. Apa aku salah? " tanya Ray.
"Errr lupakan" kata Shica.
Dia pun mulai jogging.
"Eh jangan kesana.. Tuh kesana saja " kata Ray sambil mengarahkan Shica ke berlawan arah.
Ray sengaja mengajak Shica jogging ke berlawanan arah karena tidak ingin bertemu lagi dengan Naina.
Padahal, Naina sedari tadi berdiri melihat kebersamaan mereka berdua.
"Ray.. Dan gadis itu.. " gumam Naina.
Shica dan Ray jogging ke area taman kota. Mereka jadi pusat perhatian.
"Apa yang mereka lihat? " gerutu Shica.
"Tidak tahu " jawab Ray.
Shica mendengus.
"Aku mau duduk dulu" kata Shica sambil duduk di bangku taman. Ray pun menurut dan duduk disampingnya.
"Aku cari minum dulu ya" kata Ray kemudian berlalu meninggalkan Shica.
Shica melihat ke sekeliling. Banyak para pasangan yang menghabiskan waktu mereka di Taman kota.
Shica tersenyum. Dia membayangkan bagaimana jika dia juga menghabiskan waktu bersama Raihan.
Shica menggeleng pelan. "Konyol sekali " batin Shica.
Ray kembali dengan 2 botol air mineral. Shica menerimanya.
"Thanks" kata Shica.
"Sama-sama " jawab Ray kemudian duduk disamping Shica.
Shica meminum air mineral tersebut.
"Ah lelah sekali " gerutu Shica.
"Jarang berolah raga? " tanya Ray.
"Emm.. Aku pernah berolah raga sampai lupa segalanya.. Itu terjadi waktu aku kelas sembilan" jawab Shica.
"Apa yang membuatmu berolah raga sampai lupa segalanya? " tanya Ray.
"Aku tidak mau menceritakannya" gumam Shica dengan kepala tertunduk.
"Baiklah.. Kalau begitu, aku tidak memaksa.. " kata Ray.
Shica menatap Ray.
"Raymond laki-laki yang berbeda.. Dia sangat baik dan lembut.. Berbeda dengan Raihan.. Tapi aku lebih menyukai Raihan.. Karena aku juga tidak tahu pergaulan Ray selama di Eropa" batin Shica.
"Apa yang kau pikirkan tentangku? " tanya Ray dengan ekspresi heran.
Shica mengalihkan pandangannya. "Tidak ada" jawab Shica cepat.
"Kau mulai menyukaiku yaa" goda Ray.
"Aku tidak bilang" gerutu Shica kemudian bangkit dari duduknya dan kembali lari pelan.
Ray mengikutinya.
"Apa kau pernah jatuh Cinta? " tanya Ray.
"Emm.. Entahlah " jawab Shica.
"Apa kau tidak ingat? " tanya Ray.
"Aku tidak tahu" jawab Shica.
Ray menggeleng pelan.
"Dan bagaimana denganmu? Apa kau juga pernah menyukai seseorang? " tanya Shica.
"Tentu saja" jawab Ray dengan ekspresi kosong.
Shica menatap Ray.
"Tapi.. Dia mencintaiku karena harta.. Dia tidak tulus mencintaiku" kata Ray dengan suara sedih.
Shica menghentikan langkahnya. Ray juga menghentikan langkahnya beberapa langkah didepan Shica.
Shica mendekati Ray kemudian membelai bahu Ray.
"Maaf.. Aku tidak bermaksud.. Jika kau tidak mau bercerita.. Tidak usah memaksakan diri " kata Shica.
"Aku mau menceritakannya.. Ini sudah lama terjadi " kata Ray.
"Kita ke mansion dulu lalu membersihkan diri dan kita akan pergi menghabiskan waktu bersama " kata Shica semangat.
Ray menatap Shica.
"Benarkah? " tanya Ray.
"Iya.. Ayo! " seru Shica sambil menarik tangan Ray dan berlari ke mansion.
By
_Ucu Irna Marhamah_
Sicha sebenar tidak pernah mencintai reynaldi, dengan jelas dia menunjukkan dia masih mencintai pria lain didepan suaminya, hak reynaldi tidak dia berikan tapi saat reynaldi mengambil paksa sicha berkoar sebagai korban, tapi pada satu jadi istri raihan dia senang hati beri hak raihan selalu bermeraan dengan raihan
Sicha tidak layan untuk reynaldi seharusnya reynaldi bisa dapat wanita yang lebih menghargainya