novel modern yang mengangkat legenda ilmu Kanuragan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamazakura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kapten Siluman dan Sang Putri
Fani Hendak makan siang. Ia biasa makan siang di restoran kecil dekat tempat kerjanya. Restoran bergaya Kanton dan menyajikan makanan oriental. Restoran nyaman yang didominasi warna merah.
Baru saja satu langkah di dalam restoran itu, Fani menemukan sosok yang belakangan ini mengusik kesendiriannya. Ia lah Taupan. Taupan gagah berwajah bersih dan begitu beradu pandang dengan Fani otomatis tersenyum lebar dan melambai.
Fani menanggapi dengan santai, ia tidak terganggu. Tapi sedang malas makan berdua. Niatnya memang mau makan sendiri. Tapi tidak mungkin juga ia menolak ajakan makan sang Kapten Siluman itu.
Fani pun datang dan duduk satu meja dengan Taupan. Pakaian Taupan selalu baru dan glamor. Kali ini bahkan ia mengenakan kemeja yang terbuat dari kain yang mengkilat motif batik hitam putih. Persis seperti Kepala rombongan saat kondangan.
"Makan yuk, silahkan, silahkan, pesan saja," senyum Taupan.
"Makasih," ucap Fani sambil membuka buku menu. Cantik sekali Fani di mata Taupan. Pipi Fani merah merona diantara seluruh kulit tubuh yang putih, lentik bulu matanya dan lengkungan alisnya, sungguh, Taupan betah berlama-lama menatapnya. Fani sedikit terganggu.
"Oh iya Pak, tidak ngantor hari ini? gak patroli atau bagaimana??" ucap Fani basa-basi.
"Oh, ya ini, saya sedang memantau keadaan bank kamu itu. Kami lebih siaga kali ini." bohong Taupan.
"Oh," ucap Fani singkat. Sejenak sepi menyela, lantas keduanya memesan makan.
"Saya ini polisi rahasia, ya begini, gak pake seragam hehe," ucap Taupan. Tidak lama kemudian makanan datang dan Taupan makan dengan lahapnya. Fani jadi lucu sendiri, ia merasa sedang makan dengan seorang tukang pukul yang kelaparan. Entah kenapa, Fani kembali merasa aman walaupun ia tahu, sangat mungkin, orang ini memiliki kekuatan ilmu hitam dan bahkan, kalau sudah mati, jasadnya tidak akan diterima bumi. Tapi ia jadi polisi? Tapi ia menyelamatkan nyawanya. "Hm?" Fani jadi pusing sendiri.
"Ayo, dimakan, gak enak kalo udah dingin, ini, enak banget ini," ucap Taupan dengan mulut penuh makanan. Fani pun sadar dari lamunannya dan menikmati makanannya. Mie pedas dengan seafood.
***
Sementara itu, Abe dan beberapa temannya yang ahli desain sedang sibuk merancang kostum untuk Taupan.
"Ya itu, bagus kan. Hitam saja kayak kulit ular toh," ucap Abe dengan antusias.
"Iya iya, ini bagus nih, tapi topengnya jangan kayak Spiderman dong," protes salah satu teman Abe dan di sambut anggukan tiga yang lainnya.
Dul Karim datang dan tidak tertarik dengan desain kostum itu. Ia sedang mencari Taupan.
"Abe, Taupan ke mana?"
"Dia lagi apel, deketin cewek yang kemarin tuh," jawab Abe tanpa menoleh. ia dan yang lain sedang serius mengamati desain kostum itu.
"Bukankah sekarang dia seharusnya di ruang Penataran?" heran Dul Karim. Seperti dirinya di hari-hari awal ditempat itu. Ia banyak masuk kelas dan mengikuti Penataran. Mulai dari disiplin sampai pengenalan pasal-pasal.
Letnan Anwar datang dan mengajak Dul Karim berbicara di tempat tertutup. Keduanya masuk ke ruang rapat dan menutup pintu. Dari luar di mana ruang kontrol berada, Pembicaraan letnan Anwar dan Dul Karim itu seperti orang bisu.
"Dul, Kita akan menghadapi segala kemungkinan terburuk yang mungkin saja terjadi," ucap letnan Anwar dengan nada yang berat.
"Iya, saya mengerti Pak."
***
Selesai menyantap makanan dan melepaskan kepergian Fani. Taupan tiba-tiba merasakan pusing dan sakit kepala yang luar biasa. Pandangannya pun mengabur. Sebelum orang-orang memperhatikan, Taupan berlari ke dalam gang yang sepi. Di situ ia leluasa mengekspresikan rasa aneh dan sakit di kepalanya.
"Anakku, takdir sudah memilihmu anakku... Aku bangga padamu..." suara itu menggema di dalam kepala Taupan. seperti sebuah handphone berbunyi di dalam telinga. Nyaring dan pekak, menyakitkan.
"Heahhhh!!!" Taupan berteriak dan tiba-tiba tubuhnya hancur lebur menjadi abu berwarna hitam.
Di tempat berbeda, jauh dan senyap diantara dinding batu yang dingin . Partikel-partikel debu berwarna hitam berkumpul dan perlahan membentuk Taupan. Tempat keberadaan Taupan sekarang adalah di dalam sebuah ruangan batu dengan sedikit pencahayaan dari luar yang penuh dengan akar dan belukar.
Berdiri di hadapan Taupan seorang pria gagah berbalut jubah hitam.
"Anakku, Takdir telah berpihak padamu. Aku bisa mencium aroma kemenangan dari sini. Sekarang, bahkan aku bisa memanggilmu. Luar biasa, kamu berhasil datang memenuhi panggilanku." ucap sosok itu yang wajahnya tertutup gelap karena membelakangi celah masuknya cahaya.
"Aku bukan anakmu, bapakku sudah mati," ucap Taupan mantap dengan tatapan menilai penuh curiga.
Sosok itu mendekat sambil berucap.
"Ribuan tahun lamanya, bangsa kita tersisihkan, menghuni goa-goa gelap dan dianggap siluman, mahluk yang mempunyai ilmu hitam berkawan iblis, diburu, dipotong-potong. Bahkan jasad para pendahulu kita mereka jadikan pajangan dan bahan tertawaan." Taupan menyimak dan terus menyimak. Sosok itu berjalan mengitari Taupan.
"Ribuan tahun terkurung di tempat terkutuk ini, Aku kira tidak ada yang menemukan kitab yang aku sembunyikan itu dan mempelajarinya. Ternyata, aku bangga sekali. Kau tercium hebat sekali. Sesuatu telah menimpamu dan itu ternyata membuatmu jauh lebih hebat."
"Apa maksudmu dan siapa dirimu?"
"Apa gurumu tidak pernah cerita tentang hubungan para pemilik ajian Rawarontek?" Sosok itu malah berbalik tanya.
"Aku yang terakhir yang tersisa. Kau yang terbaru dan terbaik. Kita hanya tinggal kita. Lanjutkan perjuanganku, lanjutkan cita-cita dewa yang telah menciptakan Rawarontek untuk mengganti manusia-manusia yang rakus dan rapuh itu!"
"Maaf, maaf, aku tidak mengerti," jujur Taupan. Otaknya tidak mampu memahami apa yang orang aneh itu katakan.
Tepat di hadapan Taupan, sosok itu menjulurkan tangan. Tangan kotor dan kusam itu tampak berotot dan segar.
"Akan aku tunjukkan sesuatu padamu Nak," ucap sosok itu pelan dengan acungan tangan yang minta di pegang, seperti seorang rabi yang penuh kebijakan dan hendak memberkati. Sejenak Taupan berpikir, akhirnya ia putuskan untuk menerima permintaan sosok itu. Daripada ia mati penasaran. Dengan perlahan Taupan menyentuh telapak tangan si sosok itu yang terbuka.
Seperti sebuah aliran listrik yang berkedut tak beraturan. kedua tangan itu terhubung, dan kesadaran Taupan terpengaruhi sebuah ruang dan dimensi yang tampak kelabu.
Awan serupa api dan angin semuanya sebentuk asap yang samar dan pedih. Suasana hampir gelap gulita. Tatapan Taupan menemukan sosok yang sepertinya itu dirinya sedang berdiri di atas lelehan mayat-mayat yang berbau amis. Sosok yang sama persis seperti dirinya itu mengenakan pakaian serba hitam mengkilap seperti sisik ular. Ia berdiri paling depan diantara ratusan, bahkan ribuan pasukan yang tampak siap dan berjejer dengan parang dan panah.
"Kau adalah pemimpin, penakluk! kau tidak bisa di kalahkan hahaha!!!" Bersamaan dengan hilangnya suara tawa itu, Taupan terjatuh di atas bak sampah di dalam gang sepi itu. Seorang pemulung tua yang kebetulan sedang mengorek sampah kaget di buatnya, terserak hampir jatuh. Tiba-tiba sosok Taupan jatuh hampir menimpa dirinya. Taupan linglung dengan pakaian kotor.
up
up