Justin menarik tangan Jihan, mereka lalu menaiki balon udara itu. Para genk abatasa membantu pelepasan balon udara. Perlahan lahan balon udara itu bergerak keatas, tinggi dan semakin meninggi. Semua yang menyaksikan dibawah sangat terpesona melihat Justin dan Jihan diatas.
"Hore.. Justin.. Jihan"
"Justin.. Jihan.. bahagia selalu kalian"
Orang orang dibawah kompak menyuarakan teriakkan kebahagiaan untuk Justin dan Jihan.
"Aku yang menyiapkan kejutan ini untuk kamu jihan"
"Justin kamu romantis banget" ucap Jihan, kedua matanya berkaca kaca
Justin tersenyum berdiri mendekati Jihan.
"Boleh kah aku memelukmu, Jihan?"
"Silakan Justin, peluk aku semau mu, karena sekarang aku sudah sah jadi istri kamu"
Justin memeluk Jihan dengan waktu yang lama, tangan Jihan pun merangkul erat tubuh Justin. Kedua nya sama sama terpejam, Justin lalu melepaskan pelukan nya dan mengecup kening Jihan di udara. Kemudian mereka duduk berdampingan menatapi awan awan. Jihan menyadarkan kepalanya dipundak Justin.
Jangan lupa Like, Comen, Vote, Tip Dan Rate 5 nya ya guys, semoga suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Za N_STAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Puk ... puk ... puk ...
Tanpa diduga salah satu anggota genk badik berlari sambil membawa belati tajam kearah belakang Justin. Namum seorang gadis berlari untuk menghalangi hantaman belati itu ketubuh Justin. Dia adalah Cici.
"Justiiin ... awaaas!"
Justin kaget menoleh kebelakang. Dan ...
Jlebbb ...
"Aaakhh ..."
"Ya Allah ... Ciciii!"
Si penusuk itu hanya terpaku melihat Cici jatuh tergeletak bersimbah darah. Justin memegangi kepala dan tubuh Cici yang tak memakai hijab. Justin bersedih melihat kedua mata Cici semakin menyaup. Suara ambulance terdengar, polisi gabungan akhirnya datang melerai keributan itu. Jason dan genk nya tunggang langgang kabur dengan motor-motornya.
Teman-teman Justin atau sebagian genk abatasa banyak yang terluka dan harus dirawat dirumah sakit. Beberapa saksi pengguna jalan yang menyaksikan keributan itu menuturkan bahwa genk abatasa tidak bersalah, mereka adalah korban. Justin masih memegangi tubuh Cici yang tertusuk di bagian perut. Kondisinya semakin kritis, Cici segera dilarikan kerumah sakit dengan memakai mobil polisi didampingi Justin. Pandangan Cici semakin kabur melihat wajah Justin yang begitu khawatir.
"Ci, kamu harus bertahan. Sebentar lagi kita sampai kerumah sakit!" Ucap Justin.
Cici tersenyum, seolah ia pasrah dengan keadaannya.
"Jus, tolong hubungi Jihan aku ingin bicara sama dia," tutur Cici.
Justin menatap wajah gadis cinta pertamanya itu dengan rasa pilu.
"Iya. Nanti Jihan akan aku hubungi, sekalian sama keluarga kamu yang penting sekarang kamu harus kuat!"
Cici tidak pernah menginginkan keluarganya yang sudah tak peduli, ia lebih mengharapkan Jihan yang datang kepadanya.
"Jangan, gak perlu kamu hubungi orang tua aku. Aku benci mereka!"
"Jangan gitu, Ci. Biarbagaimanapun mereka adalah orang-orang penting buat kamu, ingat Ci jangan pernah kamu membenci orang tua kandung kamu sendiri karena itu akan mengganjal kamu ke surga."
Sesampainya dirumah sakit, Cici langsung di bawa keruang darurat. Justin menghubungi istrinya, Jihan sangat terkejut mendengar berita yang di sampaikan oleh suaminya tentang peristiwa Cici.
"Ya Allah, ia sayang aku akan kerumah sakit sekarang sama abi. Biar aku naik taksi aja!" Ucap Jihan melalui televon.
Justin merasa sangat berjasa kepada Cici yang telah mengorbankan dirinya dari benda tajam.
"Kenapa kamu harus ngelakuin ini, Ci?"
Cici kembali tersenyum.
"Aku ikhlas, Jus. Aku gak pengin kamu kenapa-napa, karena kamu masih punya tanggung jawab sama Jihan dan anak dalam kandungannya. Aku mencintaimu Justin!"
Justin tak kuasa meneteskan air mata, kemudian Jihan datang bersama abi Akbar. Jihan langsung menangis melihat keadaan Cici.
"Ci ... kamu harus bertahan, kamu pasti sembuh!"
Jihan ... m-maafin aku yang udah berniat jahat sama kamu ingin merebut Justin dari kamu. Jihan ... Justin, semoga kalian selalu bahagia dan rukun. Seki lagi maafin aku, aku ... aku ... ahhh,"
Jihan langsung menuntun Cici mengucap kalimat syahadat.
"Cici ayo ikutin aku ... asyhadualaillahailawllah ... waashaduana muhammadarosulullah ..."
Dengan terbata-bata Cici mengikuti kalimat syahadat.
"As .. asyhadu ... ala ilahailalloh ... wasyhaduana ... m-muhammadarosulullah ..."
Cici menutup mata untuk yang terakhir kalinya bersama hembusan nafas terakhir.
"Inalillahiwainaillaihirojiun," ucap Jihan dan Justin secara bersamaan.
Isak tangis keluarga mengiringi pemakaman Cici. Penyesalan Wike kini terasa setelah kepergian putri sulungnya yang secara mendadak, kedua adik Cici Reno dan Reni pun sangat terpukul atas kejadian yang menimpa sang kakak, merek tak kuasa menahan tangis. Di balik hati dengki Cici sebenarnya dia adalah seorang gadis yang baik, Cici adalah anak korban perceraian orang tua, semenjak itu ia menjadi broken home. Justin dan Jihan sama-sama tertunduk memandangi makam cici yang masih merah bertabur bunga-bunga. Begitupun dengan Darmawan, Febian beserta istrinya Clara ikut merasakan pilu. Justin mendekati tante Wike mencoba minta maaf dan menenangkan hatinya.