NovelToon NovelToon
Cinta Beda Umur Juga Asik

Cinta Beda Umur Juga Asik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

Arabella yang di paksa bertunangan dengan anak sahabat ayahnya. saat dia tau bahwa yang jadi tunangan nya adalah orang yang dia sukai, maka Bela dengan senang hati menerima nya.


Arga seorang CEO muda yang mempunyai kekasih matre harus rela bertunangan dengan Arabella.

apakah kisah mereka bakal berjalan dengan mulus atau kandas di tengah jalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31.

Langkah demi langkah, Bela terus berjalan santai sambil memainkan ujung rambutnya yang panjang terurai. Angin sore yang sejuk menerpa wajah polosnya, membuatnya tersenyum sendiri membayangkan betapa indahnya hidupnya belakangan ini. Segala beban, fitnah, dan kesedihan sudah hilang tak berbekas, digantikan oleh kasih sayang ayahnya, kehangatan sahabat, dan perhatian lembut dari Arga yang kini bisa ia rasakan lebih leluasa. Di benaknya, hanya ada kedamaian dan harapan indah untuk masa depan. Ia sama sekali tak menyadari bahwa di balik bayang-bayang bangunan tua di sampingnya, maut sedang menanti dengan senyum seram.

Ratna melangkah pelan, mendekat selangkah demi selangkah. Napasnya tersendat-sendat, campuran antara rasa sakit fisik yang terus menggerogoti tubuhnya dan adrenalin yang meluap-luap karena dendam kesumat. Di balik punggungnya, pisau dapur yang sudah tumpul namun cukup tajam itu dicengkeram erat. Matanya yang sembab dan cekung itu menatap tajam ke arah punggung Bela, seolah ingin membakar gadis itu hidup-hidup. Semakin ia mendekat, semakin kuat rasa benci yang mendera hatinya. Bagaimana bisa gadis muda itu berjalan begitu bahagia, begitu damai, sementara ia sendiri harus menderita, merana, dan menunggu kematian yang perlahan menyiksa?

"lu nggak pantas bahagia... nggak pantas..." bisik Ratna bergetar, jarinya memutih karena mencengkeram gagang pisau terlalu kuat.

Saat jarak mereka tinggal beberapa langkah saja, Ratna mengumpulkan sisa tenaganya, lalu tiba-tiba berlari kecil menerjang ke arah Bela.

"LU HARUS MATI." teriak Ratna melengking, suaranya parau dan mengerikan memecah keheningan sore itu.

Bela terkejut bukan main. Ia menoleh cepat, namun terlambat. Ratna sudah ada di hadapannya dengan mata melotot dan pisau yang terangkat tinggi. Gadis itu menjerit keras, refleks menangkupkan kedua tangan ke depan wajahnya untuk melindungi diri. Tubuhnya yang ringkih terhuyung mundur hingga punggungnya menabrak tembok bata di pinggir jalan.

"Bu... Bu Ratna?!" seru Bela kaget dan takut setengah mati, matanya membelalak tak percaya melihat sosok wanita yang dulu dikenal sebagai guru yang cantik dan anggun itu kini berubah menjadi sosok iblis yang mengerikan, kurus kering, pucat, dan penuh kebencian. "Bu Ratna... ada apa ini? Kenapa Ibu... kenapa Ibu bawa pisau?!"

"gausah panggil nama gue! Mulut kotor lu itu nggak pantas panggil nama gue!" bentak Ratna dengan napas memburu, ujung pisau itu kini menempel tepat di leher jenjang Bela, membuat gadis itu menahan napas ketakutan. Air mata mulai menggenangi mata Bela, bukan hanya karena takut mati, tapi karena ia sedih melihat kondisi wanita di hadapannya.

"Ibu... kenapa Ibu benci saya? saya nggak pernah nyakitin Ibu... saya nggak pernah ngelakuin hal jelek ke Ibu..." ucap Bela lirih, suaranya bergetar namun tetap ada nada kelembutan yang tulus.

Kata-kata itu justru membuat Ratna semakin marah besar. Ia menekan pisau itu sedikit lebih kuat hingga muncul goresan kecil yang memerah di kulit leher Bela. Darah segar menetes pelan.

"Diam! masih aja bersandiwara ya?! Sama persis seperti ayah lu! Sama persis seperti Arga! Kalian semua sama saja! Pura-pura baik, pura-pura suci, padahal kalian penghancur hidup orang lain!" Ratna menggeram, air mata kemarahan bercampur air mata kesedihan mengalir deras di wajahnya yang kotor dan pucat.

"Arga...?" Bela mengerutkan kening di antara rasa sakit dan takutnya. "Apa hubungannya ini sama Pak Arga, Bu?"

"Hubungannya?! Semuanya ada hubungannya sama dia! Dan sama lu!" Ratna mendekatkan wajahnya, menatap tajam tepat ke dalam manik mata Bela. "lu yang ngerebut dia dari gue! Dulu Arga milik gue! Kami saling mencintai! Tapi lu... lu datang sebagai gadis kecil yang polos, lu curi hatinya, lu buat dia lupa sama gue, lu buat dia buang gue begitu aja! Kalau bukan karena lu, gue pasti sudah jadi istrinya! gue pasti hidup bahagia, kaya raya, terhormat... gue nggak akan sampai jadi sampah kayak gini! gue nggak akan kena penyakit sialan ini!"

Bela menggeleng lemah, air matanya menetes deras. "Bu... Ibu salah paham. Pak Arga dan Ibu sudah selesai jauh sebelum saya dekat sama beliau. Dan penyakit apa yang Ibu maksud? Kenapa Ibu menyakiti diri sendiri dan menyalahkan orang lain?"

"DIAM! LU YANG SALAH! LU DAN AYAH LU! AYAH LU YANG KAYA RAYA, KEKUASAAN KALIAN YANG BIKIN GUE JATUH! SEKARANG LU HARUS BAYAR SEMUANYA!" Ratna hilang kendali sepenuhnya. Ia mengangkat pisau itu tinggi-tinggi, bersiap menikamkan ke dada Bela dengan sisa tenaga terakhirnya. "lu harus ngerasain sakitnya menderita! lu harus hancur kayak gue!"

Tepat saat pisau itu akan melayang turun, terdengar teriakan keras dari ujung jalan, disusul langkah kaki berat yang berlari secepat kilat.

"BELA!!!"

Itu suara Arga. Firasat buruknya ternyata benar. Ia mempercepat langkahnya hingga hampir berlari kencang saat melihat sosok yang dikenalnya mengancam nyawa gadis yang dicintainya. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat ujung pisau itu bersinar tajam di bawah cahaya matahari sore.

Ratna menoleh sejenak, terkejut melihat sosok Arga yang datang dengan wajah pucat pasi dan mata yang nyaris keluar dari kelopaknya karena panik. Keterkejutan itu membuat gerakannya sedikit terhenti. Kesempatan itu tak disia-siakan Bela. Dengan refleks dan keberanian yang ia kumpulkan, ia menendang keras perut Ratna.

"Aarrghhh!" Ratna mengerang kesakitan, tubuhnya terhuyung mundur, pisau di tangannya nyaris terlepas.

Namun wanita itu tak menyerah. Rasa sakit itu justru memicu amarahnya makin menjadi. Ia kembali maju, berusaha mencakar wajah Bela, berniat melukai gadis itu sekuat tenaga meski ia tahu ia tak akan sempat membunuhnya karena Arga sudah terlalu dekat.

"lu yang ngehancurin hidup gue... sini muka lu biar gue hancurin wajah lu... biar Arga jijik lihat lu bitch !" teriak Ratna gila.

Arga tiba di sana tepat waktu. Dengan satu sentakan kuat, ia menyingkirkan tubuh kurus Ratna hingga wanita itu jatuh terhempas ke tanah. Arga langsung memeluk Bela yang gemetar hebat, mengecek leher dan wajah gadis itu dengan tangan yang bergetar tak terkendali.

"Kamu nggak apa-apa?! Bela... lihat aku... ada luka di lehermu... Ya Tuhan..." Arga bicara terbata-bata, rasa takut kehilangan itu begitu nyata mencekik lehernya. Ia menangkup wajah Bela, memastikan gadisnya aman.

Di tanah, Ratna tertawa terbahak-bahak di sela isak tangisnya yang menyakitkan. Ia menunjuk ke arah mereka berdua dengan jari gemetar.

"Lihat... lihatlah kalian berdua... pasangan bahagia yang munafik! Kalian menang, kan?! Kalian hancurin gue, kalian buang gue ke jalanan, kalian bikin gue sakit parah, sekarang kalian pelukan-pelukan di depan mata gue?!" Ratna batuk-batuk hebat, darah segar sedikit keluar dari sudut bibirnya. Penyakit itu sudah merusak tubuhnya dengan cepat.

Arga menoleh ke arah wanita itu, tatapannya bukan lagi marah, tapi penuh rasa sedih dan iba yang mendalam. Ia berlutut perlahan di dekat Ratna, sementara Bela yang masih gemetar berdiri di belakangnya, menatap mantan kekasih Arga itu dengan mata basah.

"Ratna... dulu gue cinta lo dengan tulus," ucap Arga pelan, suaranya tenang namun tegas. "Tapi lo yang memilih pergi saat gue sedang susah, saat lo pikir gue bangkrut dan nggak punya apa-apa. lo tinggalin gue demi harta dan lu rela tidur sana sini sama banyak laki-laki . lu bukan dibuang, lu yang buang gue. Lalu saat lo menyesal dan kembali, gue udah nggak bisa lagi. Bukan karena Bela, tapi karena hati gue sudah tertutup oleh kekecewaan yang lo bikin sendiri. Bela datang belakangan, dia nggak pernah ngerebut apa-apa dari lu karena lu sendiri yang sudah melepaskannya dulu."

Ratna terdiam, tawanya terhenti. Kata-kata itu menembus benak kacau wanita itu, menyentuh sisa-sisa akal sehat yang masih tersisa.

"Dan semua musibah yang menimpa lu... penyakit ini, kemiskinan ini, rasa malu ini... itu semua akibat jalan yang lu pilih sendiri, Ratna. Hubungan terlarang lu , kelakuan lu yang buruk, kebohongan lu... itulah yang membawa kamu ke titik ini. Jangan salahkan Bela, jangan salahkan gue. Kita semua menuai apa yang kita tanam," lanjut Arga lembut namun menohok.

Ratna menangis lebih keras, tubuhnya terguling memeluk dirinya sendiri. Kebenaran itu terlalu pahit, tapi tak bisa ia sangkal lagi.

"Maafin gue... maafin gue Bel... gue gila... gue sakit... gue cuma takut mati dan benci sendirian..." isak Ratna lirih, suaranya melemah drastis.

bela hanya tersenyum lembut.

"saya maafin , Bu. saya nggak pernah punya dendam sama Ibu. saya sedih banget lihat Ibu jadi begini... Ibu masih bisa berubah, masih bisa berobat, masih bisa minta ampun sama Tuhan. Jangan benci dunia, Bu... dunia nggak jahat sama Ibu, cuma Ibu yang jahat sama diri sendiri," ucap Bela tulus, matanya memancarkan kasih sayang yang murni.

Ratna terdiam, masih terdengar isakan kecil. lalu dia mendongak menatap Arga yang di depannya yang masih berlutut . dengan suara serak dan mata memerah bengkak karna menangis. " Arga boleh gue peluk? sekali aja. Anggap aja sebagai perpisahan kita."

Arga menoleh kearah bela seolah-olah dia meminta izin, tapi bela hanya tersenyum kecil. Arga kembali menatap Ratna lalu menggangguk, mengiyakan permintaan Ratna.

Ratna langsung menghambur ke pelukan Arga. dengan suara isakan yang makin keras dan pilu, tapi di dalam isakan itu Ratna menyeringai. tanpa pikir dua kali Ratna langsung menusuk perut Arga, tanpa rasa iba ia cabut pisau yang sudah bersarang di dalam perut Arga dan menusuknya kembali.

Arga langsung jatuh ke tanah, tangannya memegang perut yang terasa sakit, perih, dan panas seperti terbakar. darahnya tidak berhenti keluar, mata Arga mulai berkunang kunang . dia masih mendengar suara bela yang menjerit dan suara Ratna tertawa terbahak bahak.

1
Rafi Hafizh
👍
Ananda Anggit
😍💪💪
Rafi Hafizh
semangat author👍
Rafi Hafizh
semangat author.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!