Apakah dengan merenggut nyawa seseorang yang tidak bersalah membuatmu hidup tenang dengan bergelimang harta??
Jika hal itu dapat menghantarkan setiap orang ke surga dunia dan surga akhirat, tentu kau sudah tidak hidup di dunia ini. Melainkan sudah menjadi tumbalku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona ribka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 Tumbal Pesugihan
Sesampainya di depan kamar dimana suaminya di rawat, Isna langsung masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu. Saat Isna masuk, semua yang ada di sana memandang Isna kaget karena kedatangan Isna yang sangat cepat.
Disana ada Ferry kakak tertua di keluarga suaminya, ada bapak dan ibu mertuanya serta ada bibi dan paman dari suaminya. Namun sejak menikah Isna memang tidak terlalu dekat dengan mertuanya. Isna hanya berinteraksi secukupnya saja, syukurnya kakak dan adik suaminya semuanya mau mendekat ke Isna itu yang membuat Isna tidak terlalu canggung berada di keluarga mereka.
"Loh kamu kok udah disini??" Tanya Ferry.
"Iya bang, bagaimana keadaannya??" tanya Isna tanpa menjelaskan pertanyaan dari Ferry.
"Ya begitulah keadaan suamimu, jawab dulu pertanyaanku Isna kok cepat banget sampai disini." Ucap Ferry menekankan.
"Iya bang, sebenarnya Rasty juga di rawat disini." Jawab Isna sembari terus memandang wajah suaminya.
"Sebenarnya ada apa sih dengan kalian, kenapa kalian jadi begini." Ucap Ferry.
"Emangnya Robert gak cerita apa-apa ke abang dan ibu??" tanya Isna.
"Gak ada Na, kalau ada kita juga gak nanya kamu begini. Coba kamu ceritain deh ada apa sebenarnya. Dan Rasty kenapa masuk rumah sakit, sakit apa??" tanya Ferry.
Dengan berat hati akhirnya Isna menceritakan apa yang sedang terjadi di keluarganya. Isna sengaja tidak mengadukan apapun, Isna ingin Robert yang menjelaskan semuanya kepada keluarga besarnya. Namun apa daya, kini Robert tidak bisa bicara hanya bisa terbaring lemah tidak berdaya. Robert terkena stroke berat yang membuat seluruh tubuhnya lumpuh membuatnya tidak bisa apa-apa bahkan tidak bisa berbicara.
Isna menceritakan Rasty yang mencoba b*n** d*r* dengan minum banyak obat-obatan. Isna juga menceritakan awal mula dia mencurigai suaminya sampai memergokinya hal-hal aneh milik suaminya.
Isna juga mengatakan mengenai ruang rahasia yang di buat suaminya. Semua hal di ceritakan Isna dengan gamblang melupakan rasa malu dan tidak enak kepada keluarganya.
Namun tanggapan dan ekspresi keluarganya yang membuat Isna semakin terkejut. Tidak ada rasa kaget atau ekspresi marah di keluarga suaminya, ekspresi mereka seperti sudah tidak heran mendengar hal itu. Dan entah mengapa saat Isna memandangi wajah anggota keluarga suaminya yang seperti biasa saja, naluri Isna bekerja menyuruhnya untuk berhenti.
Isna pun diam tidak melanjutkan cerita lagi, namun anehnya dari mereka tidak ada yang menyinggung atau bertanya kembali soal pesugihan yang dilakukan Robert yang membuatnya mengalami hal pahit ini.
Walaupun begitu niat Isna untuk bercerai tidak luntur, Isna pun mengatakannya disana tanpa ragu.
"Bu, pak, bang, saya ingin bercerai dengan Robert." Ucap Isna.
Hal ini lebih membuat seluruh keluarganya kaget ketimbang Isna yang menceritakan pesugihan yang sudah dilakukan Robert.
"Kok tiba-tiba begini, lagi kondisi begini, kamu bilang bercerai??" Ucap ibu Robert dengan nada yang cukup tinggi.
"Ibu tenang saja, saya tidak akan bercerai saat ini. Saya akan bertanggung jawab mengurus suami saya sampai sembuh setidaknya bisa berjalan kembali. Setelahnya saya akan mengajukan perceraian." Jawab Isna.
"Kalau begitu urusan kalian, untuk sekarang kamu rawat dulu suamimu ini. Jangan kamu mau hidup enaknya, udah sakit begini kamu tinggal. Setidaknya kamu balas budi walaupun sedikit, karena menikah dengannya kan kamu hidup nyaman beberapa tahun jadi jangan kamu lupakan." Ucap ibu Robert dingin.
Setelah ibu mertua Isna mengatakan hal itu beliau bangkit berdiri keluar dari ruangan yang diikuti oleh suaminya serta bibi dan paman Robert.
Tinggalah Ferry dan Isna berdua di kamar perawatan Robert. Di momen itu Isna menanyakan mengapa Robert bisa sampai seperti ini.
"Bang, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Robert jadi seperti ini??" tanya Isna sambil terus mengelus tangan suaminya yang tak berdaya.
Saat ini Robert belum sepenuhnya sadar, dia bisa membuka matanya sesekali namun lebih banyak menutup mata.
"Aku juga gak ngerti Na, kata ibu dia tiba-tiba pulang ke rumah terus gak balik-balik mendem di kamar di rumah ibu. Aku juga taunya di rumah ibu karena ibu telepon dan bilang dia kejang-kejang, kalau gak ya aku gk tau apa-apa Na. Karena ibu hanya menjelaskan dia pulang ke rumah sudah dua hari ya aku pikir kalian lagi berantem biasa. Aku gak lihat kejadiannya tapi ibu bilang, ibu mau ke kamar dia pas buka kamar dia udah kejang-kejang di kasur air liurnya keluar terus langsung lah di larikan ke rumah sakit dan di nyatakan Stroke." Jawab Ferry.
Isna hanya diam menunduk mendengar perkataan abang iparnya.
"Na, sebenarnya aku bingung kenapa Robert tiba-tiba berhenti kerja dari pekerjaannya yang sudah mapan, jabatannya sudah tinggi dan tiba-tiba dia lepaskan gitu aja. Sebenarnya kenapa??" tanya Ferry yang memang merasa adiknya tidak masuk akal meninggalkan jabatan dan pekerjaan yang sudah sangat mapan untuk merintis usaha dari nol.
"Entahlah bang, aku gak tau alasan sebenarnya dia apa. Dulu saat ku tanya dia bilang agar bisa menghabiskan waktu bareng keluarga lebih banyak kalau punya usaha sendiri. Tapi nyatanya apa dia lebih banyak menghabiskan waktu di luar mengurus usahanya. Aku menyesal sudah mengizinkan dia keluar dari perusahaan itu. Jika saja aku bisa mencegahnya ini semua pasti tidak akan terjadi. Walaupun dia bilang agar banyak memiliki waktu bersama keluarga, namun yang ku lihat dia penuh ambisi untuk bersaing dengan sahabatnya sendiri. Semenjak Johan membuka usaha dan berhasil aku melihat sisi yang berbeda dari suamiku sendiri, dia terlalu berambisi sampai menghalalkan segala cara." Ucap Isna.
"Hah, aku bingung sekali lihat kalian, tapi ya sudahlah sudah terjadi apa boleh buat. Sekarang kamu pergilah merawat Rasty, biar disini aku saja yang merawatnya. Nanti jika sudah boleh pulang aku akan mengantarkannya ke rumah kalian." Ucap Ferry.
"Jangan ke rumah kami bang, ke rumah ibuku saja. Setelah Rasty pulang aku akan langsung pindah ke rumah ibuku jadi tolong antarkan suamiku ke rumah ibuku. Aku tidak akan menginjakan kaki di rumah itu lagi." Jawab Isna tanpa keraguan sedikit pun.
"Baiklah." Ucap Ferry pasrah.
Isna pun berdiri berpamitan dan pergi ke kamar perawatan putrinya Rasty. Namun Isna tidak langsung masuk ke dalam kamar rawat Rasty, di depan kamar Rasty Isna duduk dan menangis. Menangis dengan diam, tatapan kosong namun air mata semakin deras turun membasahi kedua pipinya.
Isna bingung apa yang harus dia lakukan dan apa yang telah dia lakukan. Isna bertanya-tanya dalam hati dan pikirannya sebenarnya sekarang apa yang dia sedang alami. Mimpi kah, nyata kah atau sekarang masih permulaan menuju kesengsaraan yang abadi sepanjang hidupnya.
Pikiran Isna sangat kacau sampai tak tertahan lagi olehnya dan tumpah dengan derasnya air mata.
Bersambung..
Selanjutnya apakah yang akan terjadi dengan mereka??
Terimakasih untuk semua teman-teman yang sudah membaca dan terus mengikuti cerita saya. Semoga teman-teman dapat terhibur dengan cerita-cerita saya, tetap sehat dan selalu semangat untuk kita semua. Love you all ❤️.