Komitmenlah yang membuat dua orang terikat dalam sebuah hubungan. Seperti perjanjian, suatu hari akan dipertanyakan. Sekuat itu Ayya menggenggam ikatan meski sedari awal tak terlihat ada masa depan.
Sementara Ali butuh cukup waktu untuk me-reset ulang perasaannya setelah masa lalu bersarang terlalu lama dalam ingatan.
Akan dibawa ke manakah rumah tangga mereka yang didasari atas perjodohan orang tua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Info Akurat
Drrttt! Drrttt! Drrttt!
Ponsel Ali bergetar di atas meja. Satu persatu informan menghubungi Ali untuk melaporkan informasi yang di perolehnya. Sala satunya berada di Amerika, dia berhasil menguntit orang-orang terdekat Vina dan menelisik beberapa informasi penting, bahkan sang informan berhasil memaparkan beberapa bukti untuk mendukung informasi yang diperolehnya. Ternyata gosip tentang Vina yang terlibat kasus narkoba, itu bukan hanya isapan jempol, dan yang membuat Mark murka saat itu, dikarenakan Vina terlibat kasus prostitusi, tertangkap mata oleh suaminya namun, belum tercium oleh polisi. Jadi soal pemukulan itu benar adanya dilakukan oleh Mark karena telah habis kesabarannya. Merasa hidupnya sangat kacau dan terancam, maka Vina lari ke Indonesia untuk menghindari kemarahan suaminya dan juga kejaran polisi Amerika. Vina merasa akan aman jika berada bersama Ali karena dia seorang polisi. Tanpa disadari, Vina telah membahayakan hidup dan reputasi Ali sebagai polisi, karena jika kepolisian mengetahui kasus Vina, mungkin Ali akan mendapat tuduhan karena telah menyembunyikan tersangka selama ini. Karena itu Ali harus bertindak cepat untuk menyelesaikannya.
Ali mendatangi Vina yang masih tinggal di rumah pribadinya, pertama-tama Ali membuang semua foto-foto yang terpasang di dinding tanpa ada yang tersisa karena akan menimbulkan kesalah pahaman jika suami Vina datang menjemputnya.
“Apa yang kamu lakukan dengan foto-foto itu Al?” tanya Vina keheranan.
“Seharusnya sudah sejak lama aku membuangnya,” jawab Ali.
“Vin, serahkan dirimu ke polisi, secara baik-baik.”
“Apa maksudmu, Al?”
“Lakukan demi anak dan suami kamu, hanya mereka yang masih menyayangimu saat ini.”
“Al_” ucap Vina sambil menunduk.
“suamimu akan datang menjemput karena itu, bereskan semua barang-barang kamu.”
“Suamiku? kamu memberitahunya kalau aku ada di sini, Al? kamu akan membiarkannya menyiksaku lagi?” tanyanya gelisah.
“Dia berhak atas dirimu karena dia adalah suamimu, aku pastikan dia tidak akan melakukan kekerasan lagi, kecuali jika kamu mengkhianatinya lagi.” Vina menggigit bibirnya dia tidak menyangka jika Ali akan mengetahui semuanya.
Tak lama kemudian Mark datang bersama anak laki-lakinya, Vina kaget karena mereka muncul tiba-tiba di hadapannya. Vina membalikan badannya seolah tak ingin melihat wajah suaminya, atau mungkin dia merasa malu.
“Apakah kamu benar-benar tidak pernah merindukan Marvin? setiap hari dia menanyakanmu,” ucap Mark setelah terdiam beberapa saat. Vina mulai membalikkan badannya, air matanya perlahan menetes. Marvin, anak lelakinya segera berlari ke pelukan Vina, “Mommy! i miss you, Mommy.” Anak itu menumpahkan tangisannya di pelukan ibunya.
“I'm so sorry,” lirih Vina sambil memeluk erat putranya lalu turut menangis.
“Vin, ikutlah bersama suamimu!”
Vina menghampiri suaminya lalu berlutut dihadapannya. Mark mengangkat tubuh Vina dan memeluknya.
“Mark, jangan lupa janjimu, sebelum kembali ke Amrik, kalian harus mengadakan konferensi pers di depan media.”
“Baiklah, terima kasih untuk bantuannya.”
Ali meninggalkan mereka di rumahnya dan membiarkan tinggal untuk sementara waktu, sampai diadakannya konferensi, sementara kasus Vina akan di proses di Amerika.
Satu masalah sudah selsai, Ali berpikir untuk segera mencari Ayya, tapi sepertinya akan sulit membawa Ayya pulang sebelum Vina mengklarifikasi kesalahan pahaman yang terjadi belakangan, terutama untuk meyakinkan mertuanya. Ali masih harus menunggu beberapa saat lagi.
Dalam situasi seperti ini, Ibra justru memanfaatkan keadaan untuk mendekati Ayya karena dia tahu rumah tangganya sedang berada di ujung tanduk, Ibra mendatangi Ali dan membujuk Ali untuk segera memperjelas status Ayya, dengan kata lain dia ingin Ali segera melepaskan Ayya, supaya dia bisa meminangnya.
Tok! tok!
Bik Nur mengetuk pintu kamar Ali dan memberitahu jika Ibra datang untuk menemuinya.
“Mau apa lagi dia datang ke sini?” gumam Ali sambil turun dari kamarnya.
“Ada apa? jangan bilang kamu ingin cari masalah denganku.”
“Mas! ini tentang Ayya, dia mungkin tidak akan kembali ke sisimu, apa lagi orang tuanya, mereka tidak akan mengizinkan itu terjadi.”
“Tahu dari mana kalau Ayya tidak mau kembali, kapan dia mengatakannya padamu?” tanya Ali sambil mendelik.
“Meskipun dia tidak mengatakan secara langsung, harusnya kamu mengerti itu, mas.”
“Aku tahu persis prinsip Ayya, dia punya komitmen, dan keterikatan denganku, sekali pun dia tidak ingin bersamaku, tapi dia tidak akan pergi dengan mudah.”
“Kamu egois, Mas. karena telah merenggut kebebasannya dan kamu telah memaksa Ayya untuk bertahan dalam penderitaan.”
“Kalau begitu, katakan di mana Ayya, supaya aku bisa membicarakan ini secara langsung.”
“Aku tidak akan mengatakannya, Mas. karena kamu pasti akan membawanya dengan paksa.”
“Hhaa ... Ibra, Ibra. kamu payah, kamu sadar tidak? kalau kamu sudah seperti pengemis selama ini, kamu harus tahu kalau Ayya bukanlah benda yang bisa aku buang seenaknya, lalu kau pungut seperti sampah.”
“Mas, kamu memang tidak membuangnya seperti sampah, tapi kamu telah memperlakukannya lebih buruk dari sampah.”
“Iisshhh ....” Ali mengepalkan jemarinya seraya merekatkan giginya karena begitu geram dengan ucapan Ibra yang semakin lama semakin menjengkelkan, andai saja dia tidak ingat dengan profesi dan reputasinya, pasti sudah lama dia menghajar Ibra supaya tak berkutik.
“Ibra! jangan selalu memancing emosiku, karena kesabaranku ada batasnya, sebaiknya kamu pulang sebelum aku naik darah.” Ali kembali ke kamarnya dan meninggalkan Ibra sendiri di ruang tamu.
Tak dapat di pungkiri, Ali saat ini merasa gelisah karena dia khawatir gerakannya kalah cepat oleh Ibra, semakin lama Ibra ternyata semakin tidak tahu malu, dia melakukan berbagai cara untuk memuluskan tujuannya apa lagi saat ini Ayya berada jauh dari Ali, membuat Ibra semakin leluasa mendekatinya.
Ali putuskan, besok untuk datang ke rumah mertuanya, bagaimana pun caranya dia harus bisa membawa Ayya pulang ke Jakarta.
****
Bu Aisyah membuka pintu ketika terdengar suara ketukan dari luar, namun dia sedikit kaget ketika didapatinya Ali yang bertamu saat itu. Jauh di lubuk hatinya, Bu Aisyah memang sedang ingin mendengar kabar tentang menantunya itu, pasalnya saat terakhir bertemu di rumah sakit, keadaannya masih memprihatinkan.
“Nak Ali! bagaimana keadannya sekarang, tampaknya sudah semakin sehat seperti sedia kala.”
“Alhamdulillah, Umi. Berkat doa dari semuanya.”
“Oh, ya. Silahkan masuk dulu.” Ajak Bu Aisyah.
Setelah duduk, Ali menatap ke setiap sudut ruangan, seperti sedang mencari sesuatu.
BERSAMBUNG ...
Readers-ku tersayang mana suaranya? Author doakan semoga kalian selalu sehat dan banyak rejeki. Jangan lupa angkat jempolnya buat tekan like dan komen di bawah, dukung selalu karya-karya recehanku, supaya lebih semangat up-nya.😘