Lean si gadis tomboy yang digosipkan sebagai penyuka sesama jenis oleh orang tak bertanggung jawab, dan membuat citra keluarga besarnya hampir jatuh, membuat kedua orang tuanya terpaksa menikahkan Lean dengan anak sahabatnya untuk menampik gosip tersebut. Mampukah Lean si gadis tomboy yang urakan hidup bersama Agam si pria sempurna yang cuek?, akankah perasaan bersemi diantara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andry kumala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mempermalukan Lean
“deg!, deg!, deg!” hati Lean terguncang mendengar perkataan yang Agam bisikkan. “meleleh sumpah hati gua!, please jangan bereaksi alay Lei!!” teriak Lean pada hati dan pikirannya agar tetap tenang. Ingin rasanya Lean mengekspresikan perasaannya dengan melompat kegirangan, atau bernyanyi dengan lantang. Namun demi menjaga gengsi, sembari terus mengatur nafas, Lean berusaha untuk tetap tenang.
Kini pandangan mereka berdua pun saling terhubung, dengan posisi Lean yang masih berada di atas pangkuan Agam. Adrenalin dalam tubuh mereka berdua pun mengalir bebas ke seluruh tubuh. Degub jantung tak beraturan, ditambah hembus nafas yang hampir tersengal, menghanyutkan mereka berdua dalam aliran hasrat.
Semakin panas, tiba – tiba “tok!, tok!, tok!” terdengar keras ketukan pintu ruang kerja Agam. Terperanjat kaget, Lean segera turun dari pangkuan Agam dan duduk menyebelahinya dengan gugup. “sialan!, ganggu quality time gua aja!” gerutu Agam dalam batin sambil mengerutkan dahi. “masuk!” Agam berteriak ketus.
Nampak perempuan berambut pendek masuk dengan beberapa file di tangannya, sambil terus tersenyum menatap Agam. Namun melihat Agam yang tengah duduk menyebelahi perempuan lain dengan jarak yang teramat dekat, api cemburu pun mulai tersulut dalam hati maupun pikiran perempuan tersebut. “kurang ajar!, berani – beraninya duduk di samping Pak Agam!” gerutu perempuan berambut pendek sambil menahan emosi.
“ada apa Re?” tanya Agam dengan datar. “ini laporan yang kemarin bapak minta!” sahut perempuan berambut pendek bernama Rere sembari mengulurkan beberapa berkas yang dipegangnya. Masih berekspresi datar, Agam pun meraih berkas tersebut tanpa berkata apa pun. “oke, kamu boleh pergi!” sahut Agam memberi kode keras pada Rere untuk berlalu pergi dari ruangannya. “anjay!, frontal banget nih orang!“ gumam Lean dalam batin sambil melongo kaget.
“Kalau begitu saya permisi pak!” Rere menyahut dengan sopan, meski dalam hatinya ingin rasanya ia duduk diantara Agam dan juga Lean. Berjalan keluar, tiba – tiba “Rere!” Agam berteriak memanggil Rere untuk kembali masuk dalam kantornya. Dengan senyum bahagia, Rere pun masuk dengan tergesa – gesa. “iya pak?” sahut Rere sambil terus tersenyum. “panggilkan Puput!” ucap Agam dengan datar. Sedikit kecewa, Rere pun menyahut “oh baik pak!”.
Sembari berjalan keluar, Rere yang samakin kesal dengan adanya Lean di sekitar Agam, membuat Rere begitu gelisah. “Pokoknya gua gak boleh biarin tuh perempuan tetep di samping Pak Agam!, Pak Agam cuma milik gua!” gerutu Rere dalam batin sembari mengerutkan kening.
Di kantor Agam.
“Gam, sepertinya perempuan barusan yang bernama Rere tuh suka sama lu deh!” ucap Lean mengganggu konsentrasi Agam yang tengah fokus membaca laporan. “trus?” sahut Agam tanpa mengalihkan pandangan dari berkas – berkas yang di pegangnya. “lu udah tau?” Lean penasaran sambil mendekatkan wajahnya guna menatap Agam lebih dekat. “tujuan gua kesini tuh buat kerja, nyari nafkah buat istri gua yang bawel!, di luar masalah pekerjaan, I don’t care!” Agam menyahut sambil menatap Lean.
Lagi – lagi ucapan Agam membuat hati Lean semakin meleleh dibuatnya. Jika hati Lean terbuat dari es batu, maka saat ini es batu Lean telah sepenuhnya mencair dan tengah diteguk oleh Agam. “aaaa tolong!, tenang Lei, tenang!” ucap Lean dalam batin sembari terus mengatur napas berusaha tetap tenang.
“tok!, tok!, tok!” terdengar ketukan pada pintu ruang kerja Agam. “masuk!” perintah Agam dengan suara datar. “ada apa ya pak?” Puput yang penasaran berjalan menghampiri Agam. “Put, bawa Lean, mahasiswi yang magang di perusahaan kita untuk berkeliling perusahaan!. Kenalkan pada masing – masing Divisi, dan jelaskan pada Lean sistem kerja pada perusahaan kita!” perintah Agam masih dengan suara datar. “baik pak!” sahut Puput dengan patuh.
Bagai mendapat tugas negara, secara profesional, puput melaksanakan perintah Agam dan membawa Lean berkeliling sembari terus menjelaskan. Begitu banyak materi yang Puput sampaikan, hingga membuat Lean yang terus menyimak serius hampir mual dibuatnya. “masalah sepele pun ikut dibahas!, padahal di kampus juga udah di jelasin!, kenapa gak poin – poinnya aja sih!” gerutu Lean sambil terus menyimak penjelasan Puput yang terkesan monoton dan itu – itu saja.
“drrtt!” tiba – tiba ponsel Lean bergetar. Karena penasaran, Lean mengambil ponselnya dan segera membaca pesan masuk yang ternyata dikirim oleh Bima “mau makan siang apa?, biar gua anter ke tempat lu!” tulis Bima pada pesan singkatnya. “nasi padang 2 bungkus, minumnya es jeruk!, thank’s ya ganteng!” Lean membalas pesan singkat Bima sambil tersenyum. Membayangkan sebungkus nasi padang porsi jumbo, dengan jeroan sebagai lauknya, membuat kelenjar air liur Lean pun aktif dibuatnya.
Belum puas Lean membayangkan nasi padang yang akan dikirim oleh Bima, tiba – tiba Puput menyahut ketus. “kalau dijelasin tuh jangan main hape!, dengerin materi yang disampaikan!, baru magang aja udah gak sopan!” Puput mengomel ketus. Sembari mengatur nafas, Lean terus mengontrol emosinya yang hampir meledak. Ingin rasanya ia mengumpat kasar pada Puput. Namun Lean memilih lebih tenang dan tak mau larut dalam emosinya.
Lean sendiri sadar jika perbuatan yang baru saja ia lakukan memang kurang sopan, menyadari posisinya saat ini hanyalah mahasiswi magang yang masih butuh banyak bimbingan. “maaf!” ucap Lean sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku. Sejujurnya Lean cukup emosi, namun jika Lean membuat keributan hanya karena kesalahan yang ia buat sendiri, pastilah Agam orang pertama yang merasa malu. Dengan berbesar hati, Lean pun sedikit melunakkan hatinya dan meminta maaf.
“mentang – mentang dibawa sama Pak Agam, jangan sok dan seenaknya sendiri ya!” Puput terus mengomeli Lean, hingga tak sedikit orang yang langsung menatap sinis ke arah Lean. “iya maaf!” Lean mengulangi permintaan maafnya, dan berharap perempuan dengan blazer biru itu berhenti bicara. “kalau kamu gak bisa dibilangin, saya laporkan Pak Agam!” Puput terus mengomel di sepanjang jalan. “anjay banget nih orang, gak capek apa nrocos mulu dari tadi!” gerutu Lean sembari terus menahan malu atas ocehan yang terus Puput berikan.
Seolah sengaja mengambil kesempatan untuk merusak image Lean di perusahaan, puput mengeraskan suaranya seakan ingin menyiarkan pada semua orang, jika etika Lean amatlah buruk. Tak sengaja mendengar keributan yang terjadi di luar, Agam yang berada di dalam ruang Divisi Pemasaran mendongak kaget, pasalnya di setiap kata – kata yang tak sengaja ia dengar, terselip nama Lean yang terus berulang – kali ia dengar.
Dengan penasaran, Agam keluar dari ruangan Divisi Pemasaran sembari menguping apakah yang terus diributkan sedari tadi. “kamu itu masih magang di sini!, baru masuk sehari tapi gak punya etika!, di perusahaan ini kinerja dan sopan santun itu nomer satu!, eh ini anak magang yang kuliah aja belum lulus, berani – beraninya gak ....” belum selesai Puput menyelesaikan ocehannya yang terdengar panas di telinga Agam, tiba – tiba “Puput!, berani – beraninya kamu bikin keributan di sini!” teriak Agam dengan begitu lantang dan suaranya menggema ke seluruh penjuru perusahaan.
Dengan tangan yang tiba - tiba gemetar, Puput pun menoleh ke arah Agam yang tengah meneriakinya sambil bertolak pinggang. “aaaaa Agam!, help me please!” teriak Lean dalam batin sembari memberikan ekspresi melas menatap Agam. Melihat ekspresi Lean yang menatapnya melas seolah meminta bantuan, emosi Agam semakin memuncak.
“tugas kamu itu jelasin sistem kerja!, bukan ngomel gak jelas kayak gini!. Saya pikir kamu salah satu orang profesional yang bisa saya andalkan!, Ternyata bukan!. Sekarang kamu pulang sana!” teriak Agam dengan kencang sambil menunjuk ke arah pintu. Begitu menakutkan, seluruh karyawan yang ikut menyaksikan pun langsung tertunduk takut. “maafkan saya pak!” rengek Puput meminta maaf.
Tak menggubris permintaan yang Puput sampaikan, Agam terus meneriaki Puput untuk enyah dari hadapannya. “pergi sekarang juga!, sekarang!” teriak Agam dengan suara yang makin meninggi. Akhirnya dengan berisak tangis, Puput berjalan keluar dari perusahaan dengan hati yang teramat hancur. “mulai sekarang!, selain saya, jangan ada satu orang pun yang berani berkata kasar pada Lean!” teriak Agam guna memperingatkan karyawannya yang lain.