Seorang Guru ahli Matematika berusia 32 tahun tiba-tiba menjadi remaja 17 tahun pada saat dia sedang tertidur di malam hari, pria yang bernama lengkap Ahmad Ibrahim begitu terkejut ketika ia terbangun di pagi hari.
Ahmad Ibrahim menggunakan nama baru yaitu Orion. Mau tidak mau dia harus menjalani kehidupanya sebagai seorang siswa menengah atas, setiap satu minggu kemampuan analisanya semakin meningkat pesat disebabkan kejadian yang menimpa dirinya.
Dia bertemu dengan seorang gadis di sekolah barunya bernama Akira yang ternyata adalah seorang detektif. Orion mengunakan identitas Shadow untuk mengungkap kasus yang begitu rumit baik di dalam dan di luar lingkungan sekolah.
Tak di sangka, beberapa kelompok mafia dan pengusaha besar terlibat dalam kasus yang ia hadapi bersama dengan Akira.
Dari situlah perjalanan besar Orion di mulai sehingga mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Accy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 33 : Interview
Pada saat Akira dan Orion sedang berada di laboratorium, Arya dan kedua wanita cantik sedang memasuki pintu laboratorium yang terbuka. Di saat itu, mereka memperhatikan Akira dan Orion sambil melangkahkan kakinya dengan maksud menghampiri mereka.
"Ternyata Orion berada di sini, kita di buat sibuk mencarinya," kata Arya.
"Jadi itu teman yang kakak maksud,!? kata Raisa sambil menatap Arya.
"Sepertinya sih begitu,!" kata Irma sambil memandang Raisa sejenak.
"Iya, itu teman baruku yang aku ceritakan pada kalian," kata Arya sambil menatap lurus ke depan selanjutnya berkata."Kamu kemana ajah sih,!?"
Orion dan Akira memalingkan wajahnya ke arah sumber suara.
"Aku mencari sesuatu," kata Orion.
Akira kemudian kembali memalingkan wajahnya seperti semula, dia berkata.
"Ini jenis narkoba yang sama," ujarnya lalu memalingkan wajahnya ke arah Orion.
Arya dan kedua gadis cantik yang berada di sampingnya menyimak dengan seksama kemudian Arya mengeluarkan suaranya.
"Aku menemukan sesuatu di lantai atas gedung sekolah kita," kata Arya sambil mengambil selembar kertas dari saku celananya, dia lalu menyerahkan kertas itu kepada Akira, dia berkata." coba lihat isi di dalam kertas itu."
Akira menatap Arya sejenak sambil menerima selembar kertas, dia lalu membentangkan kertas itu selanjut memperhatikan apa yang tertulis di dalamnya."Shadow," gumamnya.
Di saat itu, Raisa kemudian melangkah satu langkah ke depan lalu berkata.
"Gambar Theorema Phytagoras itu seperti petunjuk yang mengarah ke tempat ini, setiap sisi-sinya terkait dengan tempat kejadian perkara."
Akira kemudian memalingkan wajahnya ke arah Raisa."Mungkin yang di maksud gadis ini adalah narkoba yang aku dan Orion temukan beberapa waktu yang lalu," ucapnya dalam hati lalu kembali memalingkan wajahnya ke arah kertas yang ia bentangkan.
"Segitiga ini berbentuk lancip dan jaraknya berbeda-beda,"ucapnya dalam hati, akira lalu melipat kertas itu dan selanjutnya berjalan cepat ke pintu utama laboratorium. setelah ia tiba, dia melihat ke arah kantin sejenak lalu kembali membuka selembar kertas itu.
"25 Meter," ucapnya sambil menatap lurus ke kantin dengan serius."Sepertinya benar jika jarak dari laboratorium dengan kantin adalah 25 Meter, sebaiknya aku mengujinya terlebih dahulu," ucapnya dalah hati, dia lalu memalingkan wajahnya ke arah Orion, Arya, Raisa dan Irma.
"Aku ke kantin dulu yah,! dan jangan kemaa-mana,!" ucapnya sambil berjalan ke arah kantin dengan maksud mengukur dengan kedua kakinya.
Di saat itu, Arya sedang menatap Orion dengan sangat serius, dia berkata.
"Apa benar kamu berada di atas gedung sekolah beberapa waktu yang lalu,!?"
"Itu benar," kata Orian sambil tersenyum.
Arya menatap Orion dengan sunguh-sunguh, dia lalu mengulangi perkataanya dengan maksud memastikan dugaanya.
"Apa kamu berada di atap gedung beberapa waktu yang lalu,!?" kata Arya yang begitu penasaran dengan jawaban Orion begitu pun dengan Raisa dan Irma yang juga sibuk menyimak percakapan mereka berdua.
"Itu betul," kata Orion sambil menatap Arya.
"Jadi itu adalah dia," begitulah kata yang terlintas dalam benaknya tanpa mengucapkanya, dia terdiam, dia lalu berkata.
"Apa kamu melihat seseorang berada di atas gedung sekolah,!?"
"Aku hanya seorang diri,"
"Apa kamu yang menulis dan menggambar segitiga Theorema phytagoras,!? Kata pemilik kantin, seorang siswa memakai kaca mata naik ke atas gedung sekolah, ciri-cirinya sangat identik denganmu,!"
"Aku tak menggambar apa pun atau menulis pesan apa pun, aku memang betul berada di lantai atas gedung sekolah. Tapi, apakah pemilik kantin yakin jika itu adalah aku, lalu bagaimana jika itu orang lain sebelum aku atau setelah aku.?"
"Benar juga sih,!" kata Arya.
"Betul juga,!" kata Irma dan Raisa secara bersamaan.
Arya, Raisa dan Irma saling menatap sejenak secara bergantian.
"Kita bertiga ke pemilik kantin untuk mastikanya apakah orang yang di lihatnya adalah teman kakak atau bukan selanjutnya kita deteksi tulisanya juga, apakah itu tulisan teman kakak atau bukan. kebetulan. kak Akira juga berada di kantin saat ini," kata Raisa menatap Arya dan Irma secara bergantian.
"Betul juga sih.! Aku rasa bukan Orion yang meninggalkan pesan itu sebab jika itu adalah Orion, ngapain dia repot-repot nulis pesan seperti itu, pastinya dia memberitahu aku dan Akira secara langsung. Lagian, kita bertiga juga sedang mencari petunjuk," kata Arya.
Irma dan Raisa saling menatap sejenak, mereka terlihat bingung begitu pun dengan Arya.
Orion hanya tersenyum kecil memperhatikan mereka bertiga.
"Mungkin saat ini Akira sudah menyadari sesuatu," begitulah kata-kata yang terlintas dalam benak pemuda tampan yang memakai kaca mata itu.