Follow IG ; Vi_via129.
Alana adalah gadis yang baik hati dan cerdas. Tapi karena keloid di wajahnya dan penampilannya yang aneh membuat ia sering di bully di sekolah dan lingkungan tempat dia tinggal. Bahkan saudari kembarnya pun ikut-ikutan membullynya.
Hingga suatu hari pembullyan itu menyebabkan Alena saudara kembarnya koma dan Alana yang harus menanggung biaya perawatan Alena.
Sadar ia tidak memiliki apapun dan akan semakin menyulitkan hidupnya jika ia terus berhutang kepada sahabatnya. Alana memutuskan untuk menerima tawaran sahabatnya Naya untuk menikah dengan Pamannya yang terkenal dengan kata kejam, sadis dan tak punya hati. Dengan harapan ia dapat mengubah takdirnya.
Sanggup seorang Alana mengubah takdirnya menjadi lebih baik? Dan bagaimana cara dia menghadapi, pria tak berhati yang terkenal sadis dan kejam itu? Kepo in yuk.🤗🤗
Mengandung sedikit bumbu panas-panas.🤗🤗 Harap bijak dalam memilih bacaan.😘😘 follow IG vivia129. untuk visual dan segala informasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vi_via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak berperasaan.
" Sudahlah sandrina, hentikan omong kosong ini! Dia hanya sakit bukan mati. Dan aku tidak membuangnya dia berada di apartemen aku sementara aku disini untuk berkerja! kenapa kamu malah memojokkan aku, aku ini Keluarga kamu sandrina bukan dia." Teriak Saddam. " Dan apa yang kita lakukan itu sudah sewajarnya sebagai pasangan suami istri tapi kenapa hanya aku yang kamu permasalahan."
" Kamu benar-benar tidak berperasaan! Ya aku akui apa yang kalian lakukan itu memang wajar! Tapi setidaknya kamu membawanya ke rumah sakit, saat mengetahui dia sakit. Bukan meninggalkannya begitu saja di apartemen kamu. "
" Itu kemauannya." Sahut Saddam lagi.
" Iiihhh kamu ini, benar-benar menyebalkan! Aku menyesal menemui kamu." Rasanya Sandrina ingin mencekik adiknya itu.
" Aku juga tidak meminta mu untuk datang." Sahut Saddam dengan entengnya.
Membuat Sandrina yang sudah sangat kesal kepada adiknya itu, mengangkat gelas kopi yang tinggal setengah di atas meja kerja Saddam, kemudian menyiram kopi itu ke dada Saddam membuat Adiknya itu terkejut sekaligus tidak percaya dengan apa yang di lakukan sandrina kepadanya.
" Sandrina, apa-apa kamu." Teriak Saddam. Sembari berdiri dari duduknya dan Mengibas-ibaskan jas yang dia gunakan dan membuka satu persatu kancingnya. " Kenapa kamu begitu kekanakan."Lanjutnya.
" Setidaknya aku tidak sama seperti kamu egois dan tidak punya perasaan. Sekarang semua terserah kalian! Aku nggak akan peduli lagi dengan hubungan ini. Kalau kamu ingat kamu punya istri silahkan temui dia, jika tidak! Lakukan apapun yang kamu mau. Kamu bukan lagi anak kecil yang harus aku tuntun untuk ini dan itu setiap saat. Kamu juga bukan orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Kamu orang berpendidikan, tapi kamu tidak punya hati, bahkan orang bodoh saja tahu harus bersikap seperti apa. " Geram Sandrina, ia berbicara sambil menunjuk-nunjuk wajah sang adik. Setelah itu ia berbalik dan meninggalkan Saddam, walaupun ia masih ingin memarahi adiknya itu.
" Arrggghh, kenapa semua menjadi seperti ini." Teriak Saddam, sembari mengusap wajahnya dengan kasar. " Aaaarrggghh." Geramnya lagi, tangannya terkepal dengan begitu kuatnya, saking marahnya ia sampai meninju tembok yang ada di belakangnya.
Dari awal dia sudah tidak ingin menikah, tapi kakaknya itu selalu mendesak dan memaksanya, sekarang semua sudah seperti ini, dia juga yang di salahkan. Saddam benar-benar di buat frustrasi dengan kegigihan kakaknya itu dalam membela Alana.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Tiga hari Alana di rawat di rumah sakit, selama itu, Saddam tidak sekalipun datang untuk mengunjungi Alana, jangankan datang tanya keadaannya saja tidak.
Hal itu membuat Sandrina berpikir untuk mengakhiri hubungan ini sebelum Alana semakin tersakiti lebih dari ini.
" Al." Panggil Sandrina, Sembari menghampiri Alana yang tengah duduk di atas ranjang rumah sakit itu. Infus di tangannya sudah di cabut wajahnya pun sudah tidak se-pucat hari pertama ia dibawa ke rumah sakit dan hari ini ia sudah di bolehkan untuk pulang.
Alana yang sedang asyik bercerita dan tertawa bersama Naya, mengangkat wajahnya, menatap ke pada Sandrina. " Iya kak!" Jawabannya.
" Ada yang ingin kakak bicarakan sama kamu." Ujarnya sembari mengusap kepala Naya yang sedang duduk di atas ranjang yang sama dengan Alana." Sayang kamu tunggu di luar sebentar ya." Pintanya kepada Naya.
" Iya ma." Sahut Naya, sembari turun dari ranjang itu dan melangkah keluar ruangan rawat sahabatnya itu.
Begitu pintu ruang rawat Alana di tutup dari luar, Sandrina langsung duduk di samping Alana sembari menggenggam kedua tangannya.
" Al, kakak sudah tidak bisa lagi memaksa Saddam untuk bersikap baik kepadamu." Akunya kepada Alana. " Kakak juga tidak ingin kamu tersakiti dengan tinggal bersamanya. Tapi keputusan itu ada di tangan kamu, jika kamu ingin berpisah sekarang! Katakan saja. Kakak tidak akan marah dan akan membantu kamu, kakak juga akan memastikan Alena akan mendapatkan pengobatan yang terbaik walaupun kamu bukan adik ipar aku lagi." Lanjutnya, setelah memikirkan semuanya dengan baik.
" Terima kasih ya kak, udah peduli sama aku, udah sayang juga sama aku! Tapi aku belum ingin menyerah sekarang, aku masih ingin berusaha! Sampai waktu yang telah kakak dan aku sepakati! Nggak papa kan kak?" Sahut Alana.
" Apa kamu yakin? Kamu akan semakin terluka lebih dari ini, sayang! Kakak nggak mau sampai terjadi sesuatu dengan kamu." Ujar sandrina.
" Tenang saja, aku kuat kok kak! Pisik dan mental aku sudah terbiasa dengan rasa sakit! Sekarang aku sudah sembuh dan aku sangat yakin untuk menjalani semuanya sekarang, kakak jangan khawatir ya, aku akan baik-baik saja dan akan selalu begitu." Sahut Alana sembari menyunggingkan senyum diwajahnya untuk meyakinkan Sandrina.
" Tapi Al, bagaimana jika kamu tidak bisa melakukannya." Tanya sandrina.
Dan Alana pun menjawab. " Aku akan berhenti setelah waktu yang telah kita sepakati." Pada akhirnya Sandrina tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk mengubah pilihan Alana, Ia hanya bisa mengangguk dan mendukungnya.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Setelah keluar dari rumah sakit, Alana di antara ke apartemen Saddam atas permintaannya. Walaupun Naya sempat protes dan menolak hal itu. Tapi Alana berhasil meyakinkan sahabatnya itu.
Dan disinilah Alana, di apartemen Saddam! Naya dan mamanya telah pulang karena tidak ingin bertemu atau melihat Saddam, sebab kedua orang itu masih marah kepada Saddam.
Drrttt... drrttt....
Getaran dari ponsel yang baru saja Alana cas dan nyalakan itu, membuat Alana yang sedang memasak, menghentikan kegiatannya. Ia mematikan kompor kemudian menjawab panggilan itu.
" Hallo, Bu." Ucap Alana setelah menggeser berwarna hijau itu dan menekan speaker suara.
" Dimana kamu!" Tanya ibunya dari seberang sana.
" Al, di rumah Naya Bu! Kan ibu tahu sendiri Al lagi kerja." Jawab Alana.
" Jangan banyak alasan ya kamu! Kamu sudah satu Minggu tidak pulang, rumah tidak ada yang membersihkan dan ibu sudah tidak punya pakaian bersih lagi untuk di gunakan, sekarang juga kamu pulang dan kerjakan semua itu, awas saja kalau ibu balik ke rumah, rumah masih berantakan dan pakaian ibu belum di cuci." Ujar wanita itu dari seberang sana.
" Iya Bu! Alana akan minta izin dan ke sana sekarang." Sahut Alana, tapi ibunya sudah lebih dulu mengakhiri panggilan itu.
Alana tersenyum menatap ponsel di Tangannya! Kecewa dan sakit hati! Tentu saja Alana rasakan, tapi gadis seakan lupa caranya menangis dan hanya bisa tersenyum walau pisik dan mental tidak baik-baik saja.
Alana sudah lelah mencari jalan pintas untuk mengakhiri semua ini lebih cepat. Toh takdir masih ingin bermain-main dengannya.
Alana meletakkan ponselnya di atas meja! Kemudian meneruskan masakan. Setelah selesai. Wanita itu menyantap makanannya seorang diri.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading..💝💝...