Pegang aku erat-erat, peluk aku dan percaya padaku.
***
Story by MTMH18
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Sudah hampir satu tahun lamanya Aellys koma, Saga masih setia menemaninya. Leo, putra merea sudah tumbuh semakin cerdas, dia mengerti keadaan Aellys dan selalu datang bersama mama Aellys dan mamih Saga untuk melihat perkembangan Aellys.
Dokter memang bilang kalau saat itu keadaan Aellys mulai membaik, tapi sampai sekarang Aellys masih menutup matanya. Saga sudah berubah, bukan Saga yang mudah terpancing emosi, dia mulai merubah sifat buruknya dan mencoba bersabar menunggu Aellys kembali sadar.
“Ayah!” pekik Leo girang membuat Saga yang mengusap rambut Aellys menoleh ke arah pintu. Di sana putranya di gandeng oleh papa Aellys dan papihnya, Saga beranjak dan menghampiri putra kecilnya itu.
“Hai, anak Ayah!” Saga membawa putranya ke dalam gendonganya, dia bersama Leo melangkah ke arah Aellys. Ruangan Aellys sudah di pindahkan, tapi alat-alat di tubuhnya tidak berkurang satu pun.
“Mau cium Bunda?” tanya Saga kepada Leo yang menatap Aellys dengan senyuman di bibir mungilnya, Leo mengangguk semangat sebagai jawaban. Saga mendekatkan tubuh Leo dengan Aellys agar putranya dapat mencium Aellys.
“Bunda, Leo kangan,” ucap Leo yang duduk di pangkuan Saga di kursi di dekat Aellys. Saga menatap sedih ke arah putranya, bukan Leo saja yang menginginkan Aellys cepat sadar. Namun, dia dan semuanya. Aellys sudah begitu lama beristirahat, itu tidak baik dengan kesehatannya. Apalagi tubuhnya nanti. Saga menghela nafas dan menggenggam tangan Aellys yang tersemat cincin pernikahan antara dirinya dan Aellys.
Ini memang konyol, tapi Saga tidak ingin kehilangan Aellys lagi. Dia meminta restu kepada orang tua Aellys untuk menikahi putrinya yang sedang koma. Memang ini di tentang oleh kedua orang tuanya dan orang tua Aellys. Namun, dengan sifat keras kepala yang dia miliki. Saga bersikeras untuk menikahi Aellys, seminggu setelah kejadian jantung Aellys tak berdetak.
“Hai, bentar lagi hari pernikahan kita! Kamu tidak ingin merayakannya? Atau kamu tidak ingin mengadakan resepsi pernikahan kita?” tanya Saga pada Aellys yang dapat di dengar papihnya dan papa Aellys.
“Aku tidak bisa melihat Aellys dengan alat-alat sialan itu!” seru papa Aellys dengan menghela nafas tajam.
“Aku sudah kerahkan semua dokter terbaik, bahkan sampai memanggil dokter dari luar. Tapi, semua berkata sama,” balas papih Saga.
“Hansen!” panggil papa Aellys pada papih Saga yang menatap sendu ke arah putranya, dia begitu bangga dengan Saga yang masih bisa bertahan dan selalu di samping Aellys sampai saat ini. Dia mengakui kalau putranya sangat hebat dan telah membuktikan kalau dia benar-benar pantas mendapat Aellys yang begitu baik dan kuat.
“Hm?” gumam papih Saga membalas panggilan tersebut.
“Apa kita perlu membujuk Saga untuk mencari wanita lain dan ibu baru untuk Leo? Aku tidak yakin Aellys dapat bertahan begitu lama dengan kondisinya saat ini!” ujar papa Aellys membuat Hansen, papih Saga langsung mengalihkan pandangannya dan menatap papa Aellys dengan tajam.
“Kamu berkata apa? Aellys itu putrimu, Rama!” seru papih Saga menatap tak suka pada papa Aellys yang menghela nafas dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
“Aku hanya tidak ingin masa muda Saga di habiskan dengan menjaga Aellys yang tidak pasti! Dia masih banyak waktu dalam pencariannya,” ucap papa Aellys yang tidak di setujui papih Saga.
“Meskipun kita menyeret Saga, anak itu tidak akan pergi untuk meninggalkan Aellys! Apa kamu lupa? Bagaimana ide konyolnya yang bersikeras menikahi Aellys yang sedang koma? Apa itu waras menurutmu?” tanya papih Saga membuat papa Aellys menggelengkan kepalanya.
“Kamu benar, Saga tidak akan pernah meninggalkan Aellys!” titah papa Aellys.
“Iya, karena dia begitu mencintai Aellys. Bahkan, sudah hampir satu tahun Aellys tidak sadarkan diri, tapi Saga masih saja menjaganya dan tidak ingin siapa pun menjaga Aellys! Waktu yang cukup lama untuk menguji besar cintanya kepada Aellys. Kita tidak dapat memisahkan mereka, biarkan takdir berkata lain dan Aellys kembali bersama kita di sini,” jelas papih Saga yang membuat papa Aellys tersenyum kecil dan menatap ke arah putrinya yang massih tidak sadarkan diri.
“Saga! Kamu belum sarapan kan? ini Papih bawa masakan Mamih kamu!” seru papih Saga saat putranya menghampiri mereka di sofa dengan Leo yang terus menempel dengannya.
“Iya, Pih,” Saga membiarkan papa Aellys mengambil alih Leo, karena dia ingin sarapan. Saga menyantap sarapannya dengan lambat, semua rasa di dalam mulut terasa hambar. Dia sangat rindu dengan masakan Aellys, tidak ada makanan terenak selain masakan Aellys, meskipun mamihnya selalu memasakkan makanan ke sukaannya. Semua yang dia cicipi tidak terasa.
“Kenapa makannya lama begitu? Kamu massih punya gigi kan?” tanya papa Aellys membuat Saga meringis. Mertuanya ini memang sangat pandai dalam menghinanya, tapi Saga berterima kasih kepada papa mertuanya yang begitu mudah meyakinkan papihnya yang menentang keputusannya untuk menikahi Aellys yang sedang koma.
“Saga tidak begitu lapar,” jawab Saga membuat papihnya tertawa kencang dan Saga hanya menatap datar sang papih.
“Tidak lapar, tapi perutmu berbunyi!” kelakar papihnya saat mendengar suara dari perut Saga. Dengan cepat Saga melahap sarapannya, wajahnya sudah memerah, karena malu.
“Bagaimana perusahaan, Pih?” tanya Saga yang selesai membereskan barang-barang bekas sarapannya. Dia kembali memangku Leo yang langsung menempel padanya dan putranya itu memainkan ponsel miliknya.
“Kamu jangan khawatir! Papih lebih berpengalaman darimu! Tentunya saja perusahaan berkembang dengan pesat, bahkan jauh di atas saat kamu memegangnya,” jawab papihnya dengan nada sombong membuat Saga mendengus kesal dan papa Aellys memukul kepalanya dengan bantal sofa, mau tak mau Saga tertawa kecil.
“Syukurlah kamu masih bisa tertawa!” seru papa Aellys membuat papih Saga yang hendak melayangkan protes pada besannya terhenti dan menatap tak percaya ke arah putranya yang kembali menampilkan wajah datarnya.
“Giliran Papih yang lihat wajahnya datar! Memang kamu ini lebih sayang sama mertuamu dari pada Papihnya sendiri!” seru papihnya dengan suara sedihnya membuat papa Aellys memutar mata jengah dan Saga menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku sang papih.
Saga menoleh ke arah Aellys, dia terkejut dengan apa yang di lihatnya. Dia mengusapa matanya berkali-kali dan mengerjapkan matanya. Saga menyerahkan Leo kepada mertuanya dan melangkah cepat ke arah Aellys. Kedua lelaki paruh baya itu menatap Saga bingung dan beranjak dari duduknya, ikut melangkah ke arah Aellys.
“Aellys kamu sudah sadar?” pekik bahagia Saga membuat papihnya dan papa Aellys terkejut dan ikut melihat ke arah Aellys yang sudah membuka kedua matanya.
“Bunda!” pekik bahagia Leo dalam gendongan papih Saga.
Saga Eighner Kith
Kalau aq sih nggak masalah tak dibls koment aq.. yg penting aq senang baca, ksh like, ksh hadiah.. kadang gak komentar... saking asiknya baca.. 😂😂😂
Semangat terus ajah Thorr.. bikin novel lagi yg lbh seru.. Aktor pake nm yg blm dipakai di novel" sini.. kek Antonio Candra, Bonifatius, Cherryl, Gladhis, Joel, atw Sukiran, Paijo, Parno... wkwkkk.. 😂😂😂😂🙈🙏
Tetap lanjut ahhh.. penasaran cerita halunya.. 😄😄😄🏃♀🏃♀🏃♀🏃♀