Kehidupan rumah tangga Riana baik-baik saja, sampai suatu malam dia tak sengaja bertemu dengan Almeer. Seorang pemuda yang hadir ke dalam hidupnya dan membuat biduk rumah tangganya menjadi kacau.
Rumah tangga Riana tak dapat lagi diselamatkan, setelah suaminya mengetahui Riana sedang mengandung anak dari pria lain.
Bagaimana lika-liku percintaan Riana dan Almeer?
Akankah mereka menemukan kebahagiaan?
Salahkah apa yang Riana lakukan?
Ikuti kisah selengkapnya.
Follow IG : @poel_story27
Cover By : @wnc_design_didesc
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poel Story27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berjuang Bersamaku
Wanita paruh baya yang tak lain adalah nyonya Agnes itu, memperhatikan Riana dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan sinis.
Berbeda dengan nyonya Agnes yang mengenakan outfit serba branded, penampilan Riana jauh lebih sederhana. Riana memang lebih suka tampil apa adanya, bahkan sejak dia masih menjabat sebagai presdir di anak perusahaan mantan suaminya.
"Seperti ini wanita pilihan kamu, Al? Dia bahkan tidak ada apa-apanya dibanding Fenny, pilihan mommy itu lebih segalanya dibanding wanita ini!" seru nyonya Agnes pada Almeer, sementara itu lirikan sinisnya tidak beralih dari Riana.
"Mommy memilihkan berlian langka untukmu, tapi kamu malah memilih sampah!" tambah nyonya Agnes, sementara itu Riana hanya menunduk takut.
Almeer mengeraskan rahangnya mendengar kata 'Sampah' yang dilontarkan ibunya untuk Riana. Andai saja yang menghina Riana adalah wanita asing, dia pasti sudah meremas bibir culas tersebut.
Sayangnya kata-kata itu dilontarkan oleh wanita sudah melahirkannya, jadi Almeer tidak bisa bertindak lebih keras. Almeer masih ingat, bagaimanapun dia tidak akan ada di dunia ini tanpa adanya seorang ibu.
"Mom, tolong jangan hina Riana, dia wanitaku, dan aku sudah memilihnya. Jadi tolong hargai pilihanku," ujar Almeer pelan, tapi nada bicaranya sangat tegas.
Nyonya Agnes menghiraukan teguran putranya, tatapan mengintimidasinya kini menyorot Riana tanpa berkedip.
"Kamu, dasar wanita tidak tahu diri! Kamu sudah memberi pengaruh buruk pada putraku, sehingga berani melawan orang-tuanya!" bentak nyonya Agnes.
Almeer yang tidak mau ribut dengan ibunya, segera menarik Riana dari sana. "Maaf, Mom. Kami harus pergi!"
"Almeer!" teriak nyonya Agnes berang.
Almeer membuka pintu mobilnya untuk mempersilakan Riana masuk, mobil milik Dino lebih tepatnya. Setelah itu dia masuk untuk duduk di belakang kemudi, dengan mengabaikan teriakan kesal dari mommynya.
Sepanjang perjalanan Riana hanya diam saja, hatinya perih mendengar hinaan yang diterimanya barusan. Siapa yang tidak sakit jika dikatai sampah?
Baru saja dia memantapkan hati untuk menerima Almeer, kini dia sudah mendapat pukulan telak dari orang terdekat Almeer, ini membuat Riana ingin menyerah, karena sadar akan status dirinya.
Almeer yang menyadari kerisauan Riana, mengulurkan tangan untuk meraih tangan Riana, tapi malah mendapat tepisan dari Riana.
"An, kamu marah sama aku?" tanya Almeer heran. Padahal seharian ini Riana sudah bersikap hangat padanya.
"Aku tidak marah sama kamu, Al. Aku memilih menyerah pada hubungan kita, hubungan ini memang tidak layak untuk diperjuangkan, Al. Maksudku, aku ini tidak pantas untuk dirimu," lirih Riana dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Almeer tercekat mendengar pernyataan Riana, buru-buru dia menepikan dan menghentikan laju mobilnya.
"Jangan bicara seperti itu, An. Aku mohon!" ujar Almeer sambil menatap Riana lekat-lekat.
"Tapi seperti itulah kenyataannya, Al. Dari segi apa pun aku memang tidak pantas untukmu. Benar apa yang dikatakan mommy kamu, aku ini hanya wanita tidak tahu diri, yang sudah merusak hidup kamu," isak Riana.
Almeer melepaskan seat bealt yang ia kenakan, diraihnya tangan Riana dan digenggamnya dengan lembut.
"Baru saja tadi pagi kamu membuatku begitu bahagia dengan pengakuanmu, An. Apa secepat ini kamu akan menghancurkannya? Aku masih ingat saat kamu bilang, akan selalu menjadi yang terdepan untuk mendukungku. Kamu juga bilang akan tetap di sisiku tidak peduli jika langit dan bumi berbalik ingin menghancurkanku, apa sekarang kamu sudah melupakannya, An?" tanya Almeer dengan penuh penekanan.
Riana menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingin kamu menjadi anak durhaka, Al. Aku tidak mau merusak hidup kamu!"
"Hidupku ini memang sudah rusak, An! Dan jika kamu pikir hidupku menjadi rusak karena dirimu, kamu salah! Aku seperti ini karena pilihanku, dan dengan kehadiranmu memiliki semangat untuk berjuang. Please, An, jangan menyerah. berjuang sama-sama dengan aku ya," pinta Almeer sepenuh hati.
"Tapi hubungan kita tidak direstui, Al. Pikirkan juga keluarga kamu," sela Riana
Almeer menghela napas berat. "Kamu salah, An. Hubungan kita belum direstui, bukan tidak direstui. Yang perlu kita lakukan sekarang hanyalah menutup kuping, dari semua nada sumbang yang tidak ingin kita bersama, itu saja. Percayalah, An. Hubungan kita pasti akan mendapatkan restu suatu saat nanti." Sekuat hati Almeer berusaha meyakinkan Riana.
Riana masih terdiam, pikirannya benar-benar kacau saat ini. Perkataan nyonya Agnes yang pedas dan menyakitkan tadi masih terngiang jelas di telinganya.
Karena tidak ada jawaban, Almeer kembali membujuk wanitanya. "Berjuang sama aku ya, An. Dan ini bukan sekedar tentang kita, anak dalam kandungan kamu juga membutuhkan keluarga yang utuh, An. Kamu juga harus memikirkannya."
Riana menoleh, tapi tatapannya terlihat dingin di mata Almeer. "Al, jika yang kamu khawatirkan adalah anak ini, maka aku tidak akan keberatan untuk memberikan hak asuhnya padamu nanti, asalkan aku masih diizinkan untuk menjenguknya dan mendapat pengakuan sebagai ibunya."
Almeer mendesah frustasi, rasanya sulit sekali untuk menyakinkan Riana. Tidak pernah ada niatan di hati Almeer untuk memisahkan anak itu dari ibunya, sudah jelas dia juga menginginkan ibu dari anaknya itu.
"Aku tidak berkata seperti itu, An. Aku bilang anak kita membutuhkan keluar utuh! Apa bisa dikatakan keluarga utuh jika mommy dan daddynya hidup terpisah? Aku juga menginginkan kamu, An. Apa karena umurku yang lebih muda darimu, sehingga kau tidak mempercayai perasaanku?"
"Aku percaya kamu, Al. Tapi ...."
Riana tidak dapat meneruskan kata-katanya, karena tiba-tiba tangan Almeer sudah mendarat di pinggangnya. Pria itu juga mencondongkan tubuh, mengikis jarak di antara mereka hingga menyisakan beberapa senti saja.
"Jangan ada kata tapi lagi, An," ujar Almeer pelan.
Jarak mereka yang terlalu dekat, membuat Riana dapat mencium harumnya napas pria berondong itu. Ditambah tatapan Almeer yang begitu lembut, membuat Riana seakan terbius sempurna.
Kedua mata yang beradu itu mulai menghadirkan desiran panas, yang memaksa jantung Riana berdegup lebih cepat.
Tatapan Almeer menjadi semakin sayu, kini matanya hanya terfokus pada bibir ranum Riana, lembut dan terlihat penuh dengan polesan lipstik berwarna merah pucat, yang membuat Almeer ingin merasakan lagi manisnya bibir itu.
Tanpa aba-aba Almeer mulai meraup bibir ranum itu, dia mulai menghisap manisnya bibir Riana dengan lembut, dan penuh kasih sayang.
Mata bening Riana terpejam, dia perlahan membalas permainan lidah Almeer, menikmati belitan lidah yang menguasai di dalam rongga mulutnya.
Riana semakin terhanyut, bahkan tangannya kini sudah melingkar di leher kekasih berondongnya itu. Dia mengimbangi pagutan demi pagutan Almeer, sehingga ciuman itu semakin lama semakin panas dan menuntut.
Tanpa sadar Riana mengeratkan rangkulannya di leher Almeer, membuat pria itu semakin mendekat, sementara itu tangan Almeer juga melingkar posesif di pinggang Riana.
Suasana yang tadinya tegang, berubah menjadi romatis, hanya menyisakan deru napas yang saling memburu.
Mereka semakin terhanyut dalam suasana memabukkan, tangan Almeer yang tadinya hanya diam, mulai berselancar menyusup ke dalam baju Riana, dia mendesis tertahan saat tangan Almeer memainkan puncaknya yang mulai mengeras.
Riana pasrah menikmati perlakuan tangan Almeer, yang berhasil mengirimkan gelenyar memabukkan yang berpusat pada area intinya, Riana dapat merasakan ada yang mulai basah di bawah sana, membuat matanya semakin terpejam, membiarkan dirinya semakin terhanyut dalam gairah yang mendamba.
"Al, hentikan!" Riana mendorong Almeer, kesadarannya tiba-tiba kembali saat mendengar dering ponsel milik almeer.
"Mengganggu saja!" Almeer mengumpat kesal saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya, lalu melemparkan ponsel tersebut ke atas dashboard mobilnya.
Bersambung.
semangaaaat semua perempuan