Panggil saja aku Mentari umur ku yang masih belia di paksa dewasa. Harus menerima masalah begitu berat dalam keluarga. Ibu ku mati bunuh diri tak sanggup menerima ke jahatan yang ayah ku berikan.
Ayah ku menjual ku kepada mami Tiara hanya untuk membahagiakan istri mudanya. Bagaimana kehidupan ku selanjutnya?
Atau aku mati saja ikut bersama ibu ku di surga. Bagaimana nasib adik ku Revalina jika aku mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gupita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekonyolan Revalina
"Ini calon kamu, Nat?" ekspresi Angel masih tidak percaya dengan siapa Nata datang.
"Iya, Ma. Ini calon istri Nata," jawabnya.
"Bukannya, dia..." ekspresi Angel bingung.
"Pacar Alex, maksudnya," Nata menatap sang mama.
"Kamu merebutnya? Atau jangan-jangan, waktu lalu kalian berantem itu, rebutan wanita," cecar Angel.
"Sabar, Ma." Niko menenangkan sang istri, dengan menggenggam tangannya.
"Maaf, Ma. Ini salah Alex, aku nggak tau kalo Mentari pacar, Bang Nata." Alex duduk di samping Angel.
"Kenapa dia harus menerimamu? Kenapa tidak menolakmu, saja?" Angel mencecar lagi.
"Ma, dia kasian sama Alex, di tempat umum masa iya, mau di tolak," terang Alex.
Angel tiba-tiba tertawa, "Panik nggak?"
"Mama!" teriak Nata dan Alex bersamaan.
"Mama, bercanda aja," protes Niko.
"Sorry, Sayang. Sekali-sekali ngerjain mereka, Pa. Mama kesel tau, liat mereka berantem, kemarin."
Mentari rasanya pengen pingsan karena ulah Angel. Ekspresi wajahnya sudah seperti ingin memakan manusia hidup-hidup. Nata menggenggam tangan Mentari, ia menguatkan Mentari agar tak bersedih.
"Mentari, maafkan Mama, ya. Just prank kok," ucap Angel.
"Iya, Ma. Maafkan Mentari juga, ya. Karena kekacauan ini, Mentari yang membuatnya. Jadi pada salah paham."
Acara pun di mulai dengan makan malam keluarga. Yang di mulai dengan drama queen, Angel telah sedikit membuat semuanya terkejut. Niko dan Angel sepakat akan menikahkan Mentari dengan Nata secepatnya.
"Kalian berdua kapan menikah?" tanya Niko.
"Belum tau, Pa. Mentari juga masih kuliah, semester satu. Apa nggak buru-buru." Nata meminta pendapat.
"Jangan lama-lama, Pa," pinta Angel.
"Kenapa si, Ma, harus buru-buru gitu?" tanya Alex.
"Nanti kalo Mentari hamil gimana?" Angel menatap Nata.
"Hah, hamil? Seriusan aja." Alex terkejut, tidak percaya.
"Belum, Lex," jawab Nata.
"Bisa aja kamu khilaf, seperti kemarin, ngabisin beberapa milyar cuma dalam semalam," cibir Angel.
"Bima," hardik Nata, sambil meremas taplak meja.
"Apa!" teriak Alex.
"Jadi waktu kamu di culik, Bang Nata yang bantuin?" selidik Alex.
Mentari hanya menganggukkan kepalanya, ia enggan berbicara. Rasanya masih sakit di dadanya jika mengingat Leo. Yang seharusnya menjadi ayah yang baik, malah menjualnya demi uang.
"Siapa yang menculik Mentari?" cecar Alex.
"Ayahnya," jawab Nata, sambil mempererat genggamannya.
"Gila!" Leona keceplosan.
"Tenang, Mama dan Papa akan bantu kalian, untuk meminta restu, ayah Mentari." Angel mencoba mengerti isi hati sang anak.
"Kalo belum sah, jangan lali Nata," nasihat Angel.
"Iya, Ma."
"Apaan sih, yang boleh?" Alex binggung.
"Kayanya, mereka udah tidur bareng," bisik Leona di telinga Alex.
"Sialan, kecolongan," gumam Alex.
"Apanya, Lex?" tanya Niko.
"Nggak pa-pa, Pa," elak Alex.
*****
"Terima kasih, Kak. Udah mau nganterin pulang, udah dibelanjakan juga," ucap Revalina.
"Kaya apa aja, Va. Belajar yang benar, ya, aku pulang dulu," pamit Rio sambil mengacak-acak pucuk rambut Revalina.
Rio telah berlalu Revalina tetap duduk di teras rumah. Sampai Mentari pulang Revalina tak sadar. Mentari berjalan mendekati Revalina lalu ia menepuk pundaknya.
"Kamu mikir apa, Va? Sampai Kakak pulang, kamu tidak sadar."
"Aku tadi ketemu Nenek Sihir, Kak," jawab Revalina lesu.
"Dimana?" jawabnya dengan antusias.
"Di resto, di pintu masuk lagi, mana aku di tabrak ama Nenek Sihir, sampai jatuh," sungut Revalina.
Terluka ...tapi tak berdarah...
Ajarkan aku cara tuk melupakanmu
Bila membencimu tak pernah cukup 'tuk hilangkan kamu
Ajarkan aku, sebelum merusak kedalam-dalamnya
Bellanca mengejek Revalina dengan nyanyian, Ia langsung tertawa terbahak-bahak.
"Kakak, ih!" teriaknya.
"Apa?"
"Jahat banget."
"Lalu, kamu balas nggak? Itu Nenek Sihir," Mentari mengamati sang adik sibuk mendramatisir keadaan.
"Balaslah, masa nggak. Aku nggak mau, ya. Di pandang lemah lagi," Revalina berkacak pinggang.
"Gaya kamu, kaya berani aja, Va," ejek Mentari.
"Beranilah, tanya Kak Rio, kalo nggak percaya, tapi anaknya ikut tahu, Kak."
"Oh, ya? Ganteng nggak?"
"Najis sih, tanyanya," ejek Revalina.
"Tapi, Ganteng juga dilihat-lihat," jawab Revalina.
"Sialan lo!" teriak Mentari sambil melempar heels-nya.
"Kakak!" Revalina mengejar Mentari masuk ke dalam rumah.
"Eh-eh, kok lari-larian, awas jatuh nanti," tegur Ibu Fatimah memperingati.
"Iya tuh, Bu. Kak Mentari nakal," sungut Revalina.
"Masak muka cantikku ini, dilempar heels, coba. Bayangkan, Bu, terluka," lanjutnya.
Mentari menjawabnya dengan nyanyian lagi, "Tapi tak berdarah..."
"Astaga, kalian berdua." Ibu Fatimah terkekeh.
Mentari dan Revalina menghentikan pertengkaran mereka berdua. Binggung melihat Ibu Fatimah tertawa tidak jelas. Ibu Fatimah sadar sedang diperhatikan oleh Revalina dan Mentari langsung diam.
"Kenapa berhenti, Bu?"
Bersambung.....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤