Kisah tentang langit dan bumi yang meskipun sama luasnya, namun tak dapat bersatu.
Angkasa adalah anak hasil perselingkuhan ibunya. Dia dibenci banyak orang. Kekerasan dan pembullyan yang sering dia dapatkan membuatnya ingin mengetahui alasan untuknya hidup.
Suatu hari Angkasa bertemu dengan seorang Gadis. Gadis itu membuatnya tersadar bahwa selama ini dia terlalu pengecut untuk menolak ketidakadilan yang dia dapatkan. Dari situ, hidup Angkasa mulai berubah.
Kisah tentang seseorang yang ingin hidup bertemu dengan seseorang yang sangat menginginkan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hulapao, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LIBURAN
“Kak, boleh minta foto sebentar?” Empat orang adik kelas menghampiriku yang hendak pergi ke ruang club. Mereka tampak antusias.
Awalnya aku heran. “Boleh.”
Kami berfoto berlima. Aku heran, entah sejak kapan beberapa anak kadang menghampiriku dan meminta foto. Lalu yang lebih aneh, ada yang memintaku untuk menyanyi. Padahal ini bukan panggung, tapi aku disuruh mengadakan konser dadakan.
“Makasih kak.”
Aku mengangguk. “Aku pergi dulu ya.” Aku mulai melangkah, meninggalkan mereka.
“Kak.”
Aku menghentikan langkah. “Iya?”
“Eh, itu, apa… kakak sudah punya pacar?” Tanya salah satu adik kelas, dia tampak gugup. “S-Soalnya selama ini tak terdengar kabar tentang pacar kakak. L-Lalu juga tak ada kabar kakak dekat dengan siapapun. J-Jadi kami penasaran.”
Aku diam sejenak kemudian menggeleng. “Aku tak punya pacar.”
“Benarkah?!” Seru mereka berempat, kompak.
“Eh, kenapa? Padahal kakak sangat populer di sekolah, di tempat lain juga, seperti banyak orang yang mengenal band kakak. Dan… diantara kalian, kakak-lah yang paling banyak punya fans.”
“Benarkah?!” Kini giliran aku berseru.
Mereka berempat tampak tertegun sejenak. “Benar. Memang kakak tak tahu?”
Aku meringis sambil menggaruk kepala. “Aku hanya heran kenapa orang-orang banyak yang menjadi fansku.” Kataku.
Padahal ada kak Lang yang sangat hebat dalam merencanakan sesuatu. Ibaratnya jika tak ada kak Lang, mungkin band ini tak akan berjalan. Awan juga, dia pelengkap kak Lang. Dia yang paling mengerti tentang musik. Lalu ada kak Mawar yang cantik, apalagi dia vokalis kami. Dia sangat menawan saat diatas panggung. Mata cokelatnya sangat mirip dengan Dhara.
“Astaga! Padahal kakak itu terlihat sangat keren saat bermain drum. Apalagi saat kakak sudah terlarut dalam melody, kakak seperti menarik kami semua di dalam musik kalian. Lalu…”
“Lalu?” Tanyaku penasaran.
Wajah adik kelas itu memerah. “L-Lalu kakak juga… tampan.”
Tampan? Aku? Aku tertawa. Selama ini tak ada yang berkata seperti itu padaku. Malahan dulu, sebelum aku pindah ke kota ini, orang-orang selalu menatapku jijik. Padahal aku berpakaian rapi dan tak ada kotoran di wajahku. Kecuali saat mereka membullyku. Wajahku ini mungkin terlihat banyak bekas tapak sepatu.
“Angkasa!” Seru kak Mawar seketika aku membuka pintu club. Dia menghampiriku, hendak memelukku namun dihentikan kak Lang sambil menatap kak Mawar tajam.
Aku yang bingung hanya bisa tersenyum canggung. “Ujiannya bagaimana? Sudah pengumuman?”
Kak Mawar mengangguk mantap. “Kami lulus!” Seru kak Mawar. “Kami juga diterima di universitas waktu itu.”
“Benarkah?” Seruku, aku menoleh pada kak Lang untuk memastikan.
Kak Lang mengangguk.
“Selamat kak, aku ikut senang.”
“Makanya ayo merayakan ini, ayo liburan!” Kak Mawar lagi-lagi berseru. “Lang sudah setuju. Awan juga memperbolehkan kami berlibur di resort milik orangtuanya asalkan dia boleh mengajak siapa?” Kak Mawar menatap Awan yang sedang mencoba-coba gitar. “Oh, Fajar sama Bunga.”
Eh, Kalau Fajar masih maklum karena mereka seperti sepasang kekasih. Lalu, untuk apa Awan ingin mengajak Bunga? Aku menatap Awan. “Bunga?”
Awan tampak salah tingkah. “A-Aku juga ingin mengajak kak Jay.”
“Baguslah, banyak orang makin seru.” Kata kak Mawar. “Jadi-“
“Aku juga ingin mengajak seseorang.” Potongku.
“Eh, siapa?”
“Dhara. Boleh kan?”
Kak Mawar diam sejenak, lalu menggeleng.
“Kenapa? Pasti Dhara juga akan senang.” Paksaku. “Kak Mawar juga ingin lihat Dhara senang kan?”
Karena jadwal manggung kami yang cukup padat, kami hanya punya satu hari waktu kosong. Kami akhirnya memutuskan hari itu untuk liburan, saat sekolah juga sudah mulai libur. Aku memberitahu Dhara setelah kami memutuskan harinya. Dhara terdengar senang saat aku menelponnya.
“Kak, besok siapa saja yang ikut?” Tanya Bunga saat kami selesai makan malam.
Anak-anak panti asuhan sudah pada kembali ke kamar masing-masing entah itu tidur ataupun masih mengobrol dengan teman sekamarnya. Hanya aku, Bunga, Fajar, dan kak Jay yang tersisa di ruang makan.
“Anak-anak band dan Dhara.” Jawabku. “Kalian semua sudah diberitahu Awan kan?”
Mereka bertiga mengangguk.
“Tadi saat di kelas Awan memberitahuku. Gila! Ternyata Awan diam-diam punya resort. Dia sama sekali tak pernah cerita padaku.” Seru Fajar yang bersungut-sungut marah.
Aku tertawa.
“Memang semua harus kau ketahui?” Kata kak Jay. “Lagipula itu resort milik orangtuanya kan, bukan punya Awan sendiri.”
Eh, tumben sekali kak Jay bisa bicara hal-hal bagus seperti itu. Biasanya dia malah balik mengolok Fajar.
“Kau bagaimana kak Jay? Hari itu kan bukan jadwal liburmu.” Tanyaku.
“Aku sudah bilang pada bos, aku akan mengambil cuti di hari itu.”
“Baguslah.” Kataku.
“Kak.” Panggil Bunga. “Ngomong-ngomong, aku tak pernah bertemu kak Dhara di sekolah.”
Aku diam sejenak. “Dhara…” Aku berpikir keras. Aku tak bisa bilang kalau Dhara sudah tak sekolah lagi. “D-Dia pindah sekolah, sepertinya.”
“Eh, kok sepertinya?” Bunga heran.
Aku hanya meringis. “Ngomong-ngomong Bunga, kau diajak Awan sendiri atau melalui Fajar.” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Tadi saat istrahat kak Awan sendiri yang memberitahuku.”
Aku manggut-manggut. “Kalian sudah dekat, ya?”
“Eh, enggak kok, kami hanya dekat karena kak Awan selalu mengajariku bermain musik. Dia sudah seperti guru musik bagiku.”
Aku tersenyum garing. Kasihan sekali Awan hanya dianggap sebagai guru musik oleh Bunga.
“Ang, dulu saat kau kembali ke rumahmu, aku belum bertanya banyak.” Tanya kak Jay. “Bagaimana respon keluargamu saat kau datang?”
Aku mengangguk. “Semua baik-baik saja.” Aku tersenyum. “Meskipun perlahan, mereka mulai menerima keberadaanku. Kakak tiriku itu, dia, sudah tak pernah memukuli lagi. Dia… malah pernah menolongku.”
“Syukurlah.” Kata kak Jay.
“Lalu, keluargamu yang lain?” Tanya Fajar. “Dulu saat kami lihat penampilanmu di mall waktu itu, Ibumu bercerita banyak tentangmu pada kami, ya kan kak Jay?”
Kak Jay mengangguk. “Sepertinya dia sangat menyayangimu.”
“Ibuku lah satu-satunya orang yang selalu memperlakukanku dengan sangat baik sejak dulu.” Kataku.
“Ayahmu? Eh, Ayah tirimu?”
“Dia juga sudah menerimaku. Kalian tahu kan jaket jeans yang selalu kupakai. Itu adalah pemberian Ayahku.” Aku tersenyum lebar. “Aku sangat senang."
Ayah, sejak dulu aku selalu ingin dianggap olehnya, berbicara banyak hal dengannya, diperlakukan seperti anaknya sendiri. Namun jika di posisi Ayah, aku bisa memaklumi rasa bencinya saat itu. Tak ada tempat yang bisa dipakai untuk melampiaskan amarahnya, kecuali padaku. Tapi sekarang dia bahkan juga menungguku untuk makan bersama, hal yang tak pernah dia lakukan sebelumnya.
“Ra, kau sudah tidur?” Aku menelponnya.
“Belum. Masih belum ngantuk.” Kata Dhara. “Besok jadi kan? Liburannya? Aku sudah tanya kakak tapi aku ingin memastikannya lagi.”
Aku tersenyum. “Jadi dong. Sepertinya kau sangat antusias.”
“Tentu saja. Aku bahkan sudah mempersiapkan barang-barangnya sejak tiga hari yang lalu.”
Aku tertawa. “Aku senang.”
“Aku juga senang, akhirnya aku bisa seharian bersamamu besok.”
aku bacanya nyicil ya kak, udah aku fav