IG. Suliani_Cucu
Seasen 1
Aksara Pramudiya adalah seorang pria muda yang kaya raya, dia menyukai seorang perempuan yang terlihat cantik dan sederhana.
Dilihat dari sisi manapun perempuan itu terlihat sangat cantik dan masih terlihat berusia dua puluh tahunan.
Sayangnya dia berbeda keyakinan dengan nya, bahkan ternyata dia sangat kaget jika perempuan yang dia sukai ternyata lebih tua lima tahun dari nya.
Lebih parah nya, perempuan itu ternyata adalah seorang janda beranak satu.
Season 2
Banyak anak membuat hidup Aksa dan juga Najma penuh warna, bahkan kisah anak-anak mereka pun begitu beragam.
Pastinya, diantara salah satu anak Aksa dqn Najma ada yang kecantol sama Janda.
Siapa ya?
Yuk kita kepoin kisah nya.
Mohon dukungan nya buat si aku penulis yang masih amatiran ini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjenguk Callista atau bundanya?
Pagi pagi sekali Aksa sudah terlihat rapih, dia ingin menemui Callista dulu sebelum berangkat ke kantor .Saat turun Aksa berpapasan dengan Ibu nya, Ibu nya pun langsung menegur Aksa.
"Sayang, kamu kok udah rapih banget ?? Ini baru pukul enam loh," ucap Nur kepada putra kesayangannya.
Aksa tahu kalau ini masih sangat pagi, tetapi dia sudah sangat tidak sabar ingin segera bertemu dengan Callista dan ingin segera tahu bagaimana keadaan anak itu sekarang.
"Aku ingin melihat keadaan Callista Bu, aku khawatir banget sama dia. " Aksa menampilkan wajah sedihnya.
Nur malah tersenyum melihat wajah putranya itu, karena dia merasa kalau putranya itu bukanlah hanya mengkhawatirkan Callista saja, tetapi putranya itu juga mengkhawatirkan Najma.
"Khawatir sama Callista, apa sama bundanya?" Tanya Nur.
Aksa sedikit kesal mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya, karena dia merasa kalau ibunya itu terkesan sedang menggoda dirinya yang sedang merasa khawatir.
"Bu, aku beneran khawatir sama Callista ini." Aksa berkata dengan wajahnya yang cemberut.
Nur malah semakin tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh putranya, terlebih lagi melihat ekspresi dari wajah putranya.
"Iya Ibu percaya, tunggu sebentar jangan berangkat dulu." Nur mengelus lembut lengan putranya.
Nur langsung pergi ke dapur, sedangkan Aksa terlihat duduk di ruang keluarga. Dia sedang menunggu Ibunya yang entah sedang apa, tak lama Nur pun datang dengan membawa kotak nasi susun berisi nasi lengkap dengan lauk paknya.
Aksa mengernyit heran dengan apa yang di bawa oleh ibunya, dia bukan mau piknik tetapi malah dibawakan kotak bekal. Ini merupakan hal yang aneh bagi Aksa.
"Itu untuk aku, Bu? Aku bukan mau piknik loh, ngapain aku dibawa bawain bakal segala. Emangnya kalau lapar aku nanti tidak bisa nyari makanan sendiri apa?" tanya Aksa.
Nur merasa kalau anaknya itu terlalu percaya diri, bisa-bisanya dia menganggap kalau apa yang dia bawa itu untuk membekali putranya tersebut.
"Buat Najma, Sayang, kasihan dia nggak ada yang ngurusin. Pasti dia juga belum makan dari kemarin, tolong bawain buat dia ya Sayang."
Nur menjelaskan dengan raut kekhawatiran, single parent seperti Najma pasti sangatlah kerepotan mengurusi anaknya sampai tidak sempat makan.
Aksa pun mengangguk paham, ternyata ibunya itu juga begitu pengertian dan juga perhatian terhadap Najma.
"Siap Bu, kalau gitu aku berangkat ya." Aksa berkata seraya mencium kening Ibu nya.
Nur pun tersenyum melepas kepergian putranya, sedangkan Aksa langsung tancap gas menuju rumah sakit. Saat tiba di rumah sakit, Aksa langsung masuk ke dalam ruangan Callista.
Di sana nampak Najma sedang duduk sambil melantunkan ayat suci Al Qur'an, sedangkan Callista nampak masih terlelap.
Aksa pun segera duduk di sofa tunggu, dia mendengarkan suara Najma yang terdengar begitu merdu di telinganya. Bahkan setiap ayat yang di lantunkan oleh Najma, terasa langsung menyentuh kalbu.
'Suranya indah sekali, semua yang terucap dari bibir wanita itu terasa sampai menyentuh hati. Kenapa hati ini terasa menghangat?'
Semakin Aksa mendengar kan semakin hatinya terenyuh, ada rasa tenang dan damai saat mendengar Najma mengaji.
'Apa sebenarnya yang sedang dia baca? Kenapa begitu mampu menenangkan hati? Kenapa begitu terasa mendamaikan jiwa?'
Tak hanya suaranya yang sedang Aksa dengarkan, Aksa juga memperhatikan raut wajah Najma, begitu cantik dan mempunyai suara yang sangat merdu. Dia juga perempuan yang sangat tegar, mampu mencari nafkah untuk nya dan juga putri nya.
Bagi nya Najma benar benar wanita idaman, andai saja mereka satu keyakinan Aksa pasti langsung mendekati Najma, meyakinkan nya agar mau menikah dengan dengan nya.
'Heh,, sekali nya ada perempuan yang mempunyai paket komplit malah beda iman. Isshh, ngomong apa sih aku? Mana mau dia sama aku ini..
Aksa seraya membatin seraya menggeleng kan kepalanya, dia merasa apa yang dia sudah katakan sangatlah salah.
Saat selsai mengaji Najma langsung menyimpan Al Qur'an kecil ke dalam tas nya, dia ingin keluar sebentar untuk mencari sarapan untuk nya. Perut nya sudah terasa sangat perih karna belum makan dari kemarin sore, saat Najma membalikkan badan nya dia begitu kaget karna melihat Aksa yang sedang duduk anteng sambil menatap nya.
"Mas Aksa sejak kapan di sini?" tanya Najma.
Wanita itu tidak menyadari kedatangan Aksa, tentu saja hal itu membuat dirinya begitu kaget luar biasa.
"Eh? Aku sudah dari tadi di sini, kamu begitu khusyuk saat membaca Al Qur'an tadi. Makanya sampai tak menyadari kedatangan ku, jadi nya aku duduk saja di sini."
Aksa nampak menjelaskan, dia takut kalau nantinya Najma akan mengira kalau dirinya tidak sopan. Walaupun memang dia tidak sopan karena tetap di sana walaupun belum diijinkan.
"Ooohh," ucap Najma.
"Ini aku bawa titipan dari Ibu, makan lah dulu. Kamu pasti sangat lapar ." Aksa berucap sambil menunjukkan apa yang dia bawa dari Nur.
"Terima kasih," ujar Najma.
Najma pun menghampiri Aksa, dia mengambil kotak nasi yang Aksa berikan. Dengan perlahan Najma membuka semua isi nya, ada nasi, sayur dan juga ada ayam goreng.
Mata Najma pun langsung berbinar, dia pun segera duduk dan membaca basmallah .Pelan pelan Najma pun menyendok nasi beserta lauk lengkap ke dalam mulut nya, Najma mengunyah makanan nya sambil memejamkan mata nya.
Ah! Rasanya benar-benar sangat enak, dia bahkan merasa kalau ini adalah makanan terenak yang baru dia cicipi. Sepertinya hal itu terjadi karena memang dia belum makan sejak kemarin.
Aksa yang melihat reaksi Najma merasa heran, wanita itu seperti baru menemukan makanan setelah puasa panjang.
"Kamu kenapa?" tanya Aksa
"Rasa nya sangat enak, aku jadi merasa sedang makan masakan mommy."
Selain masakan yang diberikan oleh Aksa sangatlah enak, dia menjadi teringat akan ibunya. Najma berbicara dengan mata yang sudah berkaca kaca, sungguh dia merindukan ibunya saat ini.
Di saat dia sedang berbahagia saja, dia sering merindukan Ibunya dan ingin mendapatkan pelukan hangat dari ibunya tersebut. Apalagi di saat sedih seperti ini, tentu saja Najma lebih membutuhkan pelukan hangat ibunya itu.
"Sudah jangan cengeng, malu sama anak kamu yang udah mulai gede. Kenapa tidak menelpon kalau kangen?" tanya Aksa.
Aksa merasa aneh dengan Najma, wanita itu berkata sangat merindukan ibunya, tetapi herannya wanita itu sama sekali tidak menelpon ibunya tersebut.
"Dulu daddy sama mommy sangat marah pada ku, untuk menelpon saja aku sangat takut. Padahal aku sangat rindu, aku ingin sekali memeluk mereka."
Najma berkata dengan pipi yang sudah basah dengan air mata, dia teringat akan dirinya yang dulu membangkang terhadap orang tua. Dia terlalu mementingkan cintanya, hingga pada akhirnya dia meninggalkan kedua orang tuanya dan hidupnya dirasa sangat sengsara.
"Sudah jangan nangis, aku ke sini untuk melihat keadaan Callista bukan untuk melihat kamu menangis."
Aksa merasa iba dengan apa yang dikatakan oleh Najma, tetapi dia juga tidak bisa melakukan apa-apa.
"Kamu itu tega sekali, setidak nya biar kan aku menangis walau hanya sebentar." Najma berbicara sambil menangis sesenggukan.
Aksa hanya terkekeh mendengar ucapan Najma, tetapi pria itu tidak ingin memancing kesedihan Najma. Dengan cepat dia mengalihkan perhatiannya.
"Bagaimana dengan Callista?" tanya Aksa.
"Dari malam dia belum bangun, kata dokter itu biasa terjadi karna pengaruh obat. Semoga saja Icha bisa cepat sembuh, aku tak tega melihat nya terbaring lemah seperti ini."
Najma berkata dengan sedih, dia menatap wajah putrinya yang masih belum sadarkan diri. Wajah gadis kecil yang selalu mampu membuat dirinya kuat dan juga tegar dalam menghadapi hari-harinya.
"Sudah sudah, aku ngantor dulu. Tolong kabarin terus kondisi pacar ku, karna aku sangat menghawatirkan keadaan nya."
Aksa terkesan sedang meledek Najma, wanita itu tentu saja terlihat sangat kesal dan juga marah. Anaknya itu masih sangat kecil, bisa-bisanya sudah diakui sebagai pacar oleh Aksa.
"Enak saja, aku tidak mau punya menantu tua seperti mu." Najma berkata dengan sangat ketus, tentu saja hal itu membuat Aksa tertawa.
"Kalau aku ngga boleh sama putri nya, sama bunda nya boleh nggak?" tanya Aksa.
Najma sempat terdiam, wajah nya pun terlihat memerah .Tapi dengan cepat dia mengalihkan pandangan nya, dia tak mau jika Aksa akan mengetahui rona wajah nya saat ini.
"Cepatlah pergi, jangan menggoda ku terus. Nanti kamu bisa di pecat sama Nenek Wina, tahu rasa kamu."
Najma berkata tanpa berani menatap wajah pria itu, wajah pria yang dirasa begitu baik sekali kepada dirinya. Walaupun mereka tidak punya status hubungan yang jelas, tetapi pria itu selalu saja berbuat baik kepada dirinya dan juga putrinya.
"Ya, aku segera berangkat. Jangan lupa kabarin aku terus, aku ingin tahu perkembangan kondisi nya."
Aksa berkata dengan serius kali ini, Najma langsung menganggukan kepalanya tanda mengiyakan apa yang diinginkan oleh Aksa.
"Iya iya, udah sana berangkat." Najma berkata seraya mengibas kan tangan nya seperti sedang mengusir ayam.
"Ck! Biasa aja, jangan kaya ngusir kucing." Aksa berbicara dengan bibirnya yang sudah mengerucut.
Aksa pun segera meninggal kan Najma ,dia langsung berangkat ke kantor nya. Saat tiba di kantor, mood Aksa menjadi tidak baik. Karna Aksa melihat Maria yang sedang duduk menunggu nya di lobi kantor, Aksa melewati nya begitu saja.
Maria yang melihat Aksa melewati nya pun langsung bangun dan menyusul lelaki yang masih berstatus kekasih nya itu, Aksa sangat tahu jika Maria akan segera menyusul nya.
Namun, dia pura pura tak menyadari nya, hal itu membuat Maria kesal dan menarik tangan Aksa dengan kasar. Dia merasa kesal, Maria merasa sudah tak di anggap lagi oleh sang kekasih.
"Tunggu, Sayang, aku ingin bicara dengan mu."Pinta Maria
Aksa pun tahu jika dia harus segera menyelesaikan semua nya, dia juga tak mau menggantung kan hubungan nya dengan Maria. Dia sudah tidak mau berbicara lagi dengan wanita itu, wanita yang sudah membuat dirinya kecewa.
"Kita bicara di ruangan ku," ucap Aksa.
Setelah berucap, Aksa langsung melanjutkan langkah nya kembali tanpa menghiraukan Maria. Dia tetap saja berjalan, rasa nya aksa ingin cepat sampai di ruangan nya.
Sedangkan Maria terlihat sedikit berlari, karena dia harus mensejajarkan langkah nya dengan langkah kekasih nya.
Banyak orang yang melihat ke arah mereka, tapi Aksa merasa sudah tak peduli. Yang dia ingin kan saat ini hanyalah putus dengan Maria, dia sudah tak mau lagi berhubungan dengan wanita seperti Maria.
'Sialan! Kenapa dia begitu mengacuhkan aku?' rutuk Maria dalam hatinya.
obrolan bunda sama ayah bilang kuliah 2 tahun udah belagak udah jadi dokter kalo ada yg sakit
menggoda 🤧
emezing kali 💃💃💃
he he he he