Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.
Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.
Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta yang Tak Dianggap
Dewi menatap layar ponselnya beberapa saat setelah membaca pemberitahuan bahwa dirinya resmi diterima bekerja di Arunika Food Group. Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil. Bukan senyum bahagia seperti seseorang yang baru mendapatkan pekerjaan impian, melainkan senyum penuh kepuasan karena sesuatu yang sudah direncanakannya akhirnya berjalan sesuai keinginan.
Dadanya terasa lega. Selama ini ia memang sengaja mendekati kesempatan itu, menyusun langkah demi langkah tanpa membiarkan siapa pun mengetahui tujuan sebenarnya. Kini, pintu yang ia tunggu-tunggu akhirnya terbuka. Ia bahkan bisa membayangkan apa yang akan dilakukannya setelah berada di dalam perusahaan tersebut.
Dewi menggenggam ponselnya erat, matanya memancarkan keyakinan. "Akhirnya..." gumamnya pelan. Ada rasa puas sekaligus antusias yang bercampur menjadi satu. Baginya, diterima di Arunika Food Group bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari rencana yang jauh lebih besar.
Senyum licik kembali muncul di wajahnya. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang sebenarnya ia inginkan. Dan selama rencananya berjalan mulus, Dewi tidak peduli jika harus berpura-pura menjadi seseorang yang sama sekali bukan dirinya.
Dewi masih berdiri di hadapan makam kedua orang tuanya. Tatapannya tertuju pada dua nisan yang selama ini menjadi pengingat akan kehilangan paling menyakitkan dalam hidupnya. Angin sore berembus pelan, tetapi hatinya justru terasa semakin berat. Setiap kali datang ke tempat itu, luka lama seolah kembali terbuka.
Ia berjongkok, membersihkan rumput kecil yang tumbuh di sekitar makam. Jemarinya sempat bergetar, menahan air mata yang sejak tadi menggenang. Namun, Dewi segera mengusapnya. Ia tidak ingin menangis. Bukan sekarang. Ia datang bukan untuk meratapi masa lalu, melainkan untuk menguatkan kembali tekadnya.
"Ma, Ayah... Dewi belum lupa semuanya," bisiknya lirih. Suaranya terdengar bergetar, tetapi sorot matanya penuh keteguhan. "Dewi akan tetap menjalankan rencana ini. Dewi akan membalas semua yang sudah mereka lakukan kepada kalian."
Dadanya terasa sesak ketika mengingat semua kejadian yang membuat kedua orang tuanya pergi dari hidupnya. Rasa kehilangan yang dulu membuatnya hancur perlahan berubah menjadi dendam yang ia simpan bertahun-tahun. Ia tahu jalan yang dipilihnya tidak mudah, tetapi kali ini ia tidak ingin mundur.
Dewi menatap kedua makam itu untuk terakhir kalinya sebelum berdiri. Wajahnya kembali tenang, menyembunyikan badai yang masih berkecamuk di dalam hati. Baginya, langkah pertamanya sudah dimulai sejak ia diterima di Arunika Food Group.
"Aku akan menyelesaikan semuanya," ucapnya dalam hati. "Demi kalian."
Di waktu yang hampir bersamaan, Raffi datang ke pemakaman untuk mengunjungi makam ibunya. Ia berjalan perlahan sambil membawa bunga yang sejak tadi digenggamnya. Ada kerinduan yang tidak pernah benar-benar hilang setiap kali ia berdiri di tempat itu.
Tanpa disadari Raffi, makam ibunya ternyata berada tidak jauh dari makam kedua orang tua Dewi. Hanya beberapa baris nisan yang memisahkan mereka. Namun, takdir seolah sengaja membuat keduanya berada di tempat yang sama tanpa pernah mengetahui keberadaan satu sama lain.
Raffi duduk di samping makam ibunya. Tatapannya kosong, sementara pikirannya dipenuhi kenangan tentang sosok yang sudah lama tidak bisa lagi ia peluk. Ia tersenyum tipis meski matanya mulai berkaca-kaca.
"Raffi datang lagi, Bu," ucapnya lirih. "Maaf kalau selama ini Raffi belum bisa membuat Ibu bangga."
Sementara itu, beberapa meter dari sana, Dewi masih berdiri di depan makam kedua orang tuanya. Ia mengusap air mata sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan tempat tersebut.
Raffi tidak menyadari bahwa seseorang baru saja pergi dari area makam yang tidak jauh darinya. Begitu pula Dewi yang sama sekali tidak mengetahui bahwa Raffi berada di sana. Mereka hanya dipisahkan oleh jarak yang begitu dekat, tetapi belum waktunya bagi mereka untuk saling bertemu.
Dua orang dengan masa lalu yang berbeda, dua kehilangan yang sama-sama meninggalkan luka. Tanpa mereka sadari, jalan hidup mereka perlahan mulai mengarah pada satu titik yang sama.
................
Julian pulang ke rumah dengan wajah kesal. Begitu masuk, ia langsung menemui ibunya dan mengeluhkan keputusan ayahnya yang menurutnya tidak masuk akal. Ia merasa sebagai anak pemilik perusahaan, seharusnya dirinya mendapat posisi yang lebih tinggi, setidaknya sebagai manajer atau bahkan direktur.
"Kenapa Ayah malah menempatkanku dari bawah? Aku ini anaknya, bukan karyawan biasa," gerutu Julian dengan nada penuh keberatan. Harga dirinya terasa terusik karena ia harus memulai dari posisi yang menurutnya tidak pantas untuk dirinya.
Namun, Mahesa sama sekali tidak merasa bersalah atas keputusan tersebut. Baginya, jabatan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan hanya karena hubungan keluarga. Julian belum memiliki pengalaman dan bahkan belum benar-benar memahami bagaimana perusahaan itu berjalan.
Mahesa ingin putranya belajar dari bawah, mengenal pekerjaan setiap bagian, memahami kesulitan para karyawan, serta mengetahui bagaimana sebuah keputusan kecil dapat memengaruhi perusahaan secara keseluruhan. Ia tidak ingin Julian tumbuh menjadi pewaris yang hanya pandai duduk di kursi besar tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.
"Kalau suatu hari kamu ingin memimpin perusahaan ini, kamu harus tahu bagaimana perusahaan ini bekerja," ujar Mahesa tegas. "Kamu tidak punya pengalaman. Jadi, mulai dari bawah bukan berarti Ayah merendahkanmu. Justru Ayah sedang mempersiapkanmu."
Julian terdiam, tetapi jelas belum bisa menerima perkataan ayahnya. Ada rasa gengsi yang membuatnya sulit mengakui bahwa Mahesa mungkin benar. Di dalam hatinya, ia masih merasa seharusnya mendapatkan perlakuan khusus sebagai anak pemilik perusahaan.
Mahesa hanya menghela napas melihat sikap putranya. Ia tahu Julian mungkin akan membencinya untuk sementara waktu, tetapi ia tidak ingin memberikan kemudahan yang justru akan membuat anaknya gagal ketika suatu hari benar-benar harus mengambil alih tanggung jawab besar.
Julian masih berdiri dengan wajah muram. Perkataan ayahnya terus terngiang di kepalanya, tetapi bukannya menyadarkan dirinya, justru membuat harga dirinya semakin terusik. Ia merasa diperlakukan seperti orang asing di perusahaan milik keluarganya sendiri.
Ibunya mencoba menenangkan Julian, tetapi pemuda itu tetap menggerutu. Baginya, memulai dari posisi rendah hanya akan membuat orang-orang di perusahaan memandangnya sebelah mata. Ia tidak terbiasa menerima perintah, apalagi dari seseorang yang menurutnya berada jauh di bawah dirinya.
Sementara itu, Mahesa tetap tenang. Ia tidak berniat mengubah keputusannya hanya karena Julian marah. Justru ia berharap pengalaman pertama itu akan membuat putranya belajar menjadi lebih dewasa.
"Kalau kamu memang merasa pantas menjadi direktur, buktikan dulu kemampuanmu," ujar Mahesa. "Jangan karena kamu anak Ayah, semua orang harus tunduk kepadamu."
Julian terdiam. Kalimat itu terasa menusuk egonya. Namun, di balik rasa kesal tersebut, muncul tekad untuk membuktikan bahwa dirinya mampu. Ia ingin menunjukkan kepada ayahnya bahwa keputusan menempatkannya dari bawah adalah sebuah kesalahan.
Malam itu, Julian masuk ke kamar dengan langkah berat. Ia menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur sambil menatap langit-langit. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa mulai besok dirinya harus menghadapi dunia yang tidak akan selalu memberinya kemudahan.
Dan tanpa Julian sadari, posisi rendah yang begitu ia benci justru akan mempertemukannya dengan banyak hal yang selama ini tidak pernah ia ketahui tentang keluarganya sendiri.
Nenek Ratih yang sejak tadi mendengar pertengkaran kecil antara Julian dan Mahesa akhirnya menghampiri cucunya. Ia menemukan Julian masih duduk dengan wajah kusut, jelas belum bisa menerima keputusan ayahnya.
Ratih duduk di sampingnya lalu mengusap bahu Julian dengan lembut. "Kamu boleh kecewa, Julian. Tapi jangan sampai rasa gengsimu membuat kamu menolak kesempatan untuk belajar."
Julian menghela napas panjang. Ia masih merasa keputusan ayahnya tidak adil. "Tapi Nek, aku anak pemilik perusahaan. Kenapa aku harus mulai dari bawah? Orang-orang pasti menertawakanku."
Ratih tersenyum tipis. "Justru kalau kamu langsung duduk di kursi direktur tanpa pengalaman, orang-orang akan lebih mudah menertawakanmu ketika kamu tidak tahu apa-apa."
Julian terdiam. Perkataan neneknya perlahan membuatnya berpikir. Selama ini ia memang hanya mengetahui perusahaan dari cerita ayahnya. Ia tidak pernah merasakan bagaimana sulitnya seorang karyawan bekerja, menghadapi target, menerima perintah, ataupun menyelesaikan masalah di lapangan.
"Jangan malu memulai dari bawah," lanjut Ratih. "Kursi direktur itu bisa kamu dapatkan nanti. Tapi pengalaman dan kepercayaan orang lain tidak bisa dibeli hanya dengan nama keluarga."
Julian menundukkan kepala. Rasa kesalnya belum sepenuhnya hilang, tetapi hatinya mulai sedikit melunak. Ia tahu neneknya tidak pernah bermaksud menjatuhkannya.
"Baiklah, Nek. Aku akan coba," ucap Julian akhirnya, meski masih terdengar berat.
Ratih tersenyum lega. Ia tahu perjalanan Julian masih panjang. Namun, setidaknya malam itu cucunya mulai memahami satu hal—menjadi pewaris perusahaan bukan hanya tentang mendapatkan jabatan tinggi, tetapi tentang membuktikan bahwa dirinya benar-benar pantas memimpin.
Mahesa tiba-tiba teringat sesuatu yang selama ini belum pernah mereka bicarakan secara serius. Ia menatap Julian dengan tatapan penuh selidik, lalu menyinggung tentang seorang gadis yang beberapa tahun terakhir dekat dengan putranya selama berada di Amerika.
"Selama di Amerika, kamu dekat dengan seseorang, kan?" tanya Mahesa.
Julian tampak sedikit terkejut, tetapi kemudian menghela napas. Ia tidak berniat menyembunyikannya. "Namanya Dewi. Kami memang pernah berpacaran, tapi hanya hubungan biasa. Tidak ada yang serius."
Naura yang mendengar nama itu langsung menunjukkan raut wajah kurang senang. Baginya, Julian sebagai putra keluarga Pratama harus memiliki pasangan yang memiliki latar belakang baik, pendidikan tinggi, dan mampu berdiri sejajar dengan keluarga mereka.
"Ibu berharap kamu memilih perempuan yang standarnya tinggi dan setara dengan keluarga kita," ujar Naura dengan nada tegas. "Bukan sekadar karena kamu pernah dekat dengannya selama di Amerika."
Julian terdiam. Ia merasa sedikit tidak nyaman mendengar ibunya berbicara seolah-olah hubungan harus diukur berdasarkan status dan latar belakang keluarga. Namun, ia juga tahu Naura selalu memiliki gambaran tertentu mengenai perempuan yang pantas menjadi pendampingnya.
Mahesa hanya memperhatikan percakapan itu tanpa ikut menyela. Ia tidak ingin memaksakan pilihan kepada Julian, tetapi ia juga ingin putranya memahami bahwa hubungan masa lalu tidak selalu harus dibawa ke masa depan.
Sementara itu, Julian kembali teringat pada Dewi. Ia memang menganggap hubungan mereka sudah berlalu dan tidak pernah membayangkan perempuan itu akan kembali masuk ke dalam hidupnya.
Namun, tanpa Julian sadari, nama Dewi yang baru saja disebut di rumah itu mungkin bukan sekadar cerita masa lalu. Gadis yang selama ini dianggapnya hanya sebagai mantan kekasih biasa sedang menyiapkan langkah untuk kembali hadir dalam kehidupannya.