Kisah cinta antara 2 insan yang berbeda agama, akankah bertahan selamanya?
Kisah ini mengisahkan tentang seorang pria Kristen yang jatuh cinta dengan wanita Muslim, mereka berjuang mempertahankan cintanya untuk bisa sampai pelaminan, namun rintangan dan ujian terus-menerus menerpa hidup mereka, ditambah dengan restu orang tua yang sulit sekali mereka dapatkan.
Bagaimana akhir kisahnya? Apakah mereka berhasil sampai pelaminan atau justru cinta mereka kandas di tengah perjalanan?
Mari saksikan kisah cinta mereka..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Hari Senin
Julian kembali melanjutkan aktifitasnya di kantor seperti biasa.
Setibanya di kantor, ia langsung mengirimi pesan pada Kiana.
"Kamu tega banget ya, aku udah hampir mati gara-gara kamu, tapi apa? kamu sama sekali ga dateng jengukin aku. Bener ternyata apa yang Resya bilang ke aku." isi pesan Julian pada Kiana.
Kiana yang saat itu sedang di kampus, langsung membaca pesan dari Julian dan membalasnya, "Memang Resya bilang apa?"
"Kamu gak perlu tau Resya bilang apa, aku kecewa banget sama kamu Kiana." kata Julian.
Kiana pun langsung menghubungi abangnya yang bernama Ridho, ia mengiriminya pesan berisi, "Bang, gue minta nomor temen lu yang namanya Resya dong. Penting, plis langsung bales yah!"
Tanpa basa-basi dan curiga, Ridho langsung membalas pesan Kiana dan memberikan kontak Resya pada Kiana.
Kiana yang mendapat nomor Resya pun langsung melabrak Resya via pesan di aplikasi whatsapp.
"Ngomong apa ke Julian?" kata Kiana pada Resya.
"Duh sorry, ini siapa ya?" balas Resya.
"Gue Kiana, pacarnya Julian. Maksud lo apa sih?" ucap Kiana.
"Gue gak ngomong apa-apa ke Julian. Cuma bilang aja kalau lo gak pantes buat Julian." jawab Resya.
"Terus lo pikir, lo yang pantes buat Julian?" balas Kiana.
"Bukan gue, tapi Ety. Dia lebih pantes sama Julian daripada lo." kata Resya.
"Lo jodohin Julian sama Ety? udah gila ya lo? Julian itu udah punya pacar!" balas Kiana.
"Baru pacar kan? bukan istri." jawab Resya.
"Emang udah gak waras ya lo!" balas Kiana.
Resya pun tidak membalas pesan Kiana, ia malah mengadu kepada Julian.
"Jul, ini cewe lo nih barbar banget deh, ngelabrak gue pake kata-kata kasar. Gak pantes panget sih jadi perempuan, cocoknya jadi preman pasar." kata Resya mengadu.
"Emang dia chat lo?" tanya Julian.
"Iya nih, kasih tau dong! Jadi cewe yang anggun, jangan kaya preman pasar. Lo lagi mau aja pacaran sama cewe preman kaya gitu. Kaya gak ada cewe lain." kata Resya sambil pergi meninggalkan Julian.
Julian pun semakin kesal mendengar aduan Resya tentang Kiana, ia pun segera menelpon Kiana.
Kiana yang saat itu sedang dalam kelas dan ada jadwal kuliah, langsung menolak panggilan dari Julian.
Julian kembali menelepon berkali-kali, namun tetap ditolak oleh Kiana karena ada dosen yang sedang mengajar.
Letih menelepon dan selalu ditolak, akhirnya Julian mengirim pesan untuk Kiana.
"Kamu udah keterlaluan ya Kiana! kamu angkat telepon aku sekarang juga!" kata Julian dalam pesannya.
Kiana tidak menggubris pesan dari Julian, ia malah mematikan HPnya karena tidak mau diganggu saat jam mata kuliah berlangsung.
Julian kembali menelepon Kiana, namun terdengar suara operator yang berkata, "Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi."
Berkali-kali Julian menelepon, namun lagi-lagi suara operator yang menyambutnya.
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Sore hari, perkuliahan Kiana sudah selesai. Ia menuju ke gerbamg depan kampus bersama dengan Dira.
"Kenapa sih Na? kayanya hari ini lesu banget? lagi ada masalah?" tanya Dira.
"Enggak kok Ra, lagi cape aja." jawab Kiana.
"Oh gitu, bener nih gak ada masalah apa-apa?" Dira kembali bertanya untuk meyakinkan.
"Iya beneran kok Ra." jawab Kiana.
Dira menoleh ke arah dekat gerbang, ada seseorang yang ia lihat mirip dengan Julian, namun motor yang digunakannya berbeda dengan motor yang biasa Julian kendarai. Pria itu mengendarai motor besar merk ternama.
"Na, itu Julian bukan si?" tanya Dira.
"Mana?" jawab Kiana yang tidak yakin.
"Itu loh! yang naik motor gede warna merah di sebelah sana?" kata Dira.
"Bukan, motornya aja beda." jawab Kiana.
Mereka pun melangkah semakin dekat dengan pria tersebut dan Kiana melewatinya, namun tiba-tiba ada yang menarik tangan Kiana dari belakang. Kiana menyangka itu adalah Betran, ia pun sontak berkata, "Apaan sih Bet, iseng kan lu ah!" sambil menoleh ke seseorang yang menariknya.
Pria tersebut membuka kaca helm full face yang ia kenakan.
Dira pun langsung berkata, "Tuh kan bener Julian. Gue ga salah kira."
"Kamu ngapain di sini?" tanya Kiana.
"Kita perlu bicara." ucap Julian sambil menunjukkan ekspresi marahnya.
Dira yang melihat mereka, menyadari kalau mereka berdua sedang bertengkar. Lalu Dira pun pamit untuk pulang duluan, "Gue duluan ya Na!"
"Iya Ra. Hati-hati ya!" kata Kiana.
Dira pun melambaikan tangannya dan dibalas oleh Kiana.
Lalu, Julian langsung menarik tangan Kiana yang satunya dengan kasar, memaksa Kiana untuk ikut dengannya.
"Auw, sakit. lepasin!" kata Kiana sambil berusaha melepaskan tangannya.
"Kamu harus ikut aku!" kata Julian.
"Iya, aku akan ikut sama kamu. Tapi lepasin tangan aku, sakit." kata Kiana sambil merintih.
Julian pun melepaskan tangan Kiana, dan terlihat dengan jelas warna merah bekas cengkraman Julian di tangan Kiana. Kiana pun mengelus-elus tangannya untuk meringankan rasa sakit yang ia rasa sambil berjalan mengikuti Julian ke motornya.
Akhirnya Kiana pun ikut dengan Julian, Ia mengajak Kiana ke tempat makan cepat saji pada malam itu.
Sesampainya di restoran tersebut, Julian berkata "Kamu mau makan apa?"
"Aku pesen minum aja." jawab Kiana.
Julian pun memesan makanan, Kiana duduk di meja kosong yang telah ia pilih sambil menunggu Julian.
Julian pun datang sambil membawa makanan dan minuman yang Kiana pesan.
"Kamu ngapain ngajak aku kesini?" kata Kiana.
"Ada yang perlu aku bicarain sama kamu. Kenapa kamu ga angkat telepon aku tadi pagi?" tanya Julian.
"Aku lagi kuliah, lagi ada dosen di kelas." jawab Kiana singkat.
"Emang ga bisa kamu izin ke toilet sebentar buat angkat telepon aku?" kata Julian.
"Enggak" jawab Kiana.
"Kamu emang bener-bener udah gak perduli sama aku ya Kiana. Aku masuk rumah sakit aja kamu ga ada jenguk aku. Terus kamu ngapain chat Resya?" kata Julian.
"Aku cuma nanya aja, dia ngomong apa ke kamu. Salah?" jawab Kiana nyolot.
"Nanya??? kamu jelas-jelas ngatain Resya, kamu hina dia pakai kata-kata kasar kamu. Jangan kamu berlaku seperti preman ya Kiana!" bentak Julian.
"Aku? aku ngatain Resya? aku hina Resya?" Kiana balik membentak Julian.
"Iya! gak punya sopan santun, persis seperti preman!" ucap Julian.
"Memangnya kamu sudah membaca pesan aku sama Resya?" tanya Kiana.
"Aku gak perlu baca, aku percaya banget sama Resya!" jawab Julian.
"Kamu lebih percaya Resya daripada aku??" kata Kiana.
"Iya, jelas aku percaya sama Resya daripada sama kamu." balas Julian.
"Kamu baca sendiri pesan aku dengan Resya nih!!!" kata Kiana sambil memberikan HP miliknya kepada Julian.