Ketika dua orang dengan budaya berbeda bertemu, Bonar Siregar perantauan dari Tapanuli dengan Zulaikha gadis Minang nan cantik jelita. Takdir mempertemukan mereka dan memutuskan membina rumah tangga bersama.
Namun, pihak ketiga muncul di kehidupan mereka, ia adalah Putri Sakinah. Putri Mahkota kerajaan Padang Nunang.
Putri Sakinah yang juga atasan dari Bonar Siregar sebagai Pengawal pribadinya, jatuh cinta padanya. Berbagai cara dilakukan oleh Putri Sakinah untuk mendapatkan cinta dari Pemuda tampan dan baik hati itu.
Di lain sisi, pihak Kerajaan sedang terjadi kekacauan, akibat dari Kerajaan Majapahit melakukan penaklukan terhadap daratan Sumatera.
Bagaimana kisah selanjutnya?
Pantengin terus ya, ada banyak sejarah abad ke 14 di Sumatera yang diselipkan dalam Novel ini.
#Season Dua
Putri Sakinah diculik oleh anak buah Patih Prawiranegara dan dibawa ke Majapahit.
Bagaimana nasibnya selanjutnya? atau tindakan apa yang akan dilakukan oleh Bonar Siregar?
Pantengin terus, ya. Karena alur ceritanya akan berbeda dengan season satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Regar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putri Sakinah Dilamar Sang Raja
Sebelum meninggalkan wilayah Melaka, rombongan Putri Sakinah melapor terlebih dulu pada kerajaan Melaka, selaku tuan tanah di negeri ini.
Raja, kerajaan Melaka menyambut mereka dengan hangat, Putri Sakinah dan Bonar Siregar selaku kepala Pengawal menghadap Sang Raja.
"Apakah engkau sudah memiliki tempat untuk berlabuh tuan Putri?" tanya Raja, kerajaan Melaka di sesi sarapan pagi di dalam istana.
Sang Raja terpesona akan kecantikan dan aura elegan yang dipancarkan oleh Putri Sakinah. Putri Sakinah lansung berubah 360° ketika dihadapan Sang Raja.
Bonar Siregar bahkan tak percaya apa yang ia lihat, bagaimana tidak! Putri Sakinah yang ceroboh dan manja itu berubah menjadi Putri Mahkota sungguhan, tak seperti biasanya bak rakyat jelata saja. Cara bicaranya, gerakan tubuhnya dan cara makannya pun elegan tak ada celah sedikitpun.
Putri Sakinah menebar senyum tipis yang terpancar dari wajahnya, membuat jantung Sang Raja, kerajaan Melaka berdegup kencang. Tak sabar ia mendengar kata-kata apa yang akan diucapkan oleh bidadari surga di hadapannya ini.
"Maaf Yang Mulia ..." Putri Sakinah melirik ke samping, tempat Bonar Siregar duduk. "Lebah kecil ini sudah menemukan pohon untuk bernaung, walaupun ia tak sekuat pohon Ulin, namun cukuplah untuk berteduh dikala hujan dan terpaan badai."
Sontak semua orang disana kaget, padahal Sang Raja yang tampan dan berwibawa itu ditolak mentah-mentah. Sang Rajapun bingung, "siapakah gerangan pemuda yang beruntung itu," gumannya.
Sang Raja kemudian menyimpulkan pemuda beruntung itu adalah pengawal Putri Sakinah sendiri, sebab ia memperhatikan sorotan mata Putri Sakinah yang begitu tulus melihatnya. Namun hal sebaliknya terpancar dari Bonar Siregar. "Apakah ini cinta bertepuk sebelah tangan?" Pikiran itu terbersit dalam benak Sang Raja.
Bonar Siregar kaget, kenapa Putri Sakinah menolak lamaran Sang Raja. Padahal Raja, kerajaan Melaka tampak baik dan bijaksana, tentu saja tampan juga.
Bonar Siregar menatap dalam-dalam Putri Sakinah yang menebar senyum manis padanya. "Apakah aku begitu berarti dalam hatimu tuan Putri, sehingga kau hanya melihat pohon layu ini, padahal ada begitu banyak pohon yang kuat dan bagus." Itulah kata yang diucapkannya dalam hati.
"Ehm ...." Sang Raja memecahkan keheningan, "jikalau tuan Putri sudah memiliki tempat bersandar, apa boleh buat ... aku mungkin tak sesempurna pemuda itu hahaha."
"Yang Mulia terlalu merendah, namun hati sudah tertambat, sulit untuk dilepas. Jikalau dulu Yang Mulia lebih dulu menghiasi hati ini, mungkin saja aku akan terbawa arus juga," seru Putri Sakinah lagi.
Sang Raja, kerajaan Melaka mengangguk setuju. Dia sudah tidak sanggup lagi meluluhkan hati Putri Sakinah. Setelah selesai sarapan pagi bersama, mereka meninggalkan istana. Sang Raja, kerajaan Melaka juga meminjamkan beberapa prajuritnya untuk mengawal rombongan Putri Sakinah menuju Negeri Sembilan.
Bonar Siregar melamun, kenapa bisa Putri Sakinah menolak lamaran Sang Raja. Yang paling membingungkannya adalah jawaban Putri Sakinah malah tertuju padanya.
"Uda ... kau kenapa?" tanya Putri Sakinah dari bilik kereta kuda.
"Tuan Putri ... tolong jaga sikapmu, tak elok memanggilku dengan sebutan itu," sela Bonar Siregar.
"Hehehe kan, aku sudah memberitahu dunia tentang perasaan yang terpendam ini ... sekarang aku hanya menunggu ...." Putri Sakinah tersenyum memandangi Bonar Siregar yang tampak gugup. Tak ada kata yang keluar, mulutnya terkunci. Bonar Siregar hanya membalas tatapan Putri Sakinah.
"Aku tahu akan begini ..." Putri Sakinah tetap tersenyum dan menutup bilik kereta kuda.
Bonar Siregar tetap memandangi kereta kuda disampingnya, namun samar-samar terdengar suara rintihan tangis dari dalam. Ternyata sikap tegar yang dipancarkan oleh Putri Sakinah itu hanya diluar saja.
Bonar Siregar menghela nafas panjang, ada rasa sesak di dadanya juga. Entah mengapa hatinya kini terbagi juga untuk Putri Sakinah. Namun ia tak mungkin mengingkari janjinya dengan Zulaikha, gadis yang pertama mewarnai hidupnya. "Hah .... " Bonar Siregar menatap langit biru negeri Jiran itu. "Maaf ..." ucapnya pelan.
Bersambung ...
📒 Catatan:
*Uda : Abang (bahasa Minang)
*Kerajaan Melaka adalah kerajaan yang terletak di pantai barat semenanjung Malaysia.
*Negeri Sembilan adalah daerah perantauan orang Minang, mereka masih terikat dengan kerajaan Pagaruyung. Sehingga mereka mengangkat pemimpin yang dikirim oleh kerajaan yang bergelar, "Yang Dipertuan Besar."
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan dicari sendiri ya ...😁😁 Soalnya novel ini hanya mengambil latarnya saja.
Si Malin (Kundang) bangkit lg..
jd sobatny si Bonar nih ..🤣
Semangat Bang!!!
ini hanya saran dan masukan.
bagus sekali ceritanya. lucu dan seru. sangat menghibur.👍