Sebuah kisah cinta Andhara Trisha gadis tomboi berusia 23 tahun dengan seorang OB sebuah hotel,Bagas Pratama cowok berusia 25 tahun.
Di saat Bagas sudah siap untuk meminang Andhara, hadirlah seorang cowok dingin yang mendekati Andhara.
Bagaimana perjalanan kisah cinta mereka?
Siapakah cowok dingin tersebut?
Dan siapakah pelabuhan terakhir cinta Andhara?
Ikuti kelanjutannya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TRIO A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Ponsel Pandya bergetar, sebuah panggilan masuk dari Salma.
"Assalamualaikum Pandya,"
"waalaikumsalam, iya Nek, ada apa, tumben,"
terdengar suara isak tangis di ujung ponsel.
Andhara ikut penasaran, dan bertanya, "ada apa Kak?"
Pandya menggelengkan kepalanya serta mengangkat kedua bahunya, karena tiba-tiba suara terputus. Tapi, Pandya merasa tak enak. Akhirnya, Pandya memutuskan untuk kembali ke rumah Omnya yang masih agak jauh dari tempat Andhara.
"Kakak pulang dulu ya Dik, lain waktu kesini lagi,"
"baiklah Kak, hati-hati."
Pandya dengan cepat meninggalkan tempat Andhara, dengan mengendarai motornya Pandya melewati jalur sepi. Pandya sudah tahu betul jalan-jalan yang tembusan untuk menghindari kemacetan.
Saat motor ia lajukan dengan kencang tiba-tiba komplotan preman menghadang, dengan cepat Pandya menghentikan motornya dan mematikan mesin.
"Hey, kalian sudah bosan hidup!" seru Pandya dengan mengepalkan jari tangannya.
Komplotan tersebut tertawa bersama dengan suara yang keras, seorang dari mereka berseru, "punya nyali kau rupanya."
"Ya jelas, ngapain takut dengan kalian para preman b*****ek," sahut Pandya dengan membusungkan dadanya.
"Berani sekali kau ini, belum tahu siapa kita," kata seorang dari mereka dengan senyuman sinis.
Tubuh mereka jauh lebih besar dari Pandya seorang diantara mereka bertato penuh, hingga tak nampak lapisan kulit bersih, rambutnya gondrong dan ikal.
Pandya sama sekali tak gentar dengan mereka yang di hadapannya, meskipun jumlah mereka ada lima orang.
"Mau kalian apa, saya cuma numpang lewat kenapa dihadang, emang kalian pikir ini jalan punya bapak kalian, dasar d***l," bentak Pandya dengan suara lantang.
"Serahkan uang pada kami bisa juga motor elo itu, buat kami kalau elo masih mau selamat,"
"enggak, tak sepeserpun kalian bakal depetin apapun dari saya, jelas,"
mendengar perkataan Pandya yang menantang, komplotan preman tersebut semakin marah, dan tiba-tiba seorang dari mereka mendekati Pandya, mengepalkan jari tangan dan diarahkan ke muka Pandya. Dan rupanya gerakan tersebut terbaca oleh Pandya, dengan cepat Pandya menangkis dan memberikan sebuah bogem keras tepat mengenai perut preman tersebut.
Melihat hal tersebut tentunya semakin membuat teman yang lainnya semakin marah. Dan rupanya dari kejauhan ada warga yang mengintip, mereka ketakutan.
"Beraninya elo sama anak buah gue," kata seorang yang mungkin bos mereka.
"Ngapain takut, kalau emang berani, satu lawan satu, bukan main keroyokan, dasar ba*ci,"
perkataan Pandya semakin membuat geram para preman tersebut, dengan cepat tangan bos preman menghantam tepat di muka Pandya hingga membuat Pandya meringis kesakitan. Namun dengan gerak cepat Pandya membalasnya dengan tendangan tepat mengenai perut preman tersebut, hingga preman tersebut jatuh tersungkur.
Dan masih belum puas Pandya menambah pukulan demi pukulan pada bos preman tersebut, hingga darah segar keluar dari bibirnya.
Melihat bos mereka tersungkur, preman yang lain merasa ragu untuk melawan Pandya dan akhirnya mereka melarikan diri, warga yang mengintip dari kejauhan segera mendekat begitu tahu bos preman telah kalah. Mereka mengejar preman yang kabur dan menghakimi bersama, pengeroyokan masal berlangsung semakin keruh karena seorang dari mereka berusaha melarikan diri.
Beberapa diantara warga mendekat ke Pandya mengucap terimakasih atas perjuangan melawan preman tersebut. Pandya hanya tersenyum dan menjelaskan, bahwa tak perlu takut dengan kejahatan. Jangan panik saat menemui penjahat, tenangkan pikiran karena hanya saat tenang dan pikiran jernih akan memunculkan ide cemerlang dalam menghadapi masalah termasuk pemalak. Dan salah satunya jurus seribu langkah atau teriak, minta bantuan.
Pandya kembali ke motornya dengan tangannya berulangkali mengusap pipinya yang sedikit lebam bekas kena pukul bos preman.
Pandya menyalakan mesin motornya dan meninggalkan para warga, perjalanan tinggal sebentar lagi untuk sampai di rumah Omnya.
Rupanya di rumah Rudi sudah mendengar kabar bahwa Mentari sedang opname, karena Salma tidak bisa menyampaikan pada Pandya twrganggu oleh jaringan maka Salma menyampaikan kabar pada Rudi.
Rudi duduk di kursi ruang tamu ditemani Silvi menunggu kedatangan Pandya. Begitu terdengar suara mesin berhenti di garasi segera Rudi membuka pintu ruang tamu.
Pandya sedikit terkejut saat Rudi sudah di depan pintu bersama Silvi dengan wajah cemas. Pandya mengira mereka sudah mengetahui kejadian yang ia alami, tapi dugaan Pandya salah justru mereka kaget melihat pipi Pandya yang lebam terutama Silvi.
"Pipi kamu kenapa Pandya, sampai memar seperti itu?"
"pasti baru berantem," sahut Rudi.
"Iya Om, Te, aku dipalak preman. Jadi ya, aku lawan karena mereka menghadang jalanku juga minta uang atau motor aku."
"Baguslah klo memang seperti itu. Kamu sudah melawan kejahatan."
Pandya masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi, menunggu Silvi mengambil kompres air hangat untuk mengurangi nyeri bekas puluhan bos preman.
Perlahan Silvi mengompres pipi Pandya dengan sabar. Dan perlahan Rudi menyampaikan tentang kondisi Mentari yang kritis di rumah sakit.
Pandya sangat terkejut dan minta pada Rudi untuk segera dipesankan tiket kereta api menuju ke Malang. Pandya segera mengemasi pakaian yang akan dibawa pulang, pikirannya sudah kacau, bayangan Mentari nampak jelas di hadapannya.
***
Singkat cerita saat tiba di Malang, Pandya sangat lemas melihat kondisi mamanya yang tergolek lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit, di sebuah ruangan yang sedang dijaga beberapa anggota keluarga.
Di sana tak ada tangisan namun juga tak ada keceriaan hanya wajah sedih menghias raut mereka.
Dan tepat seminggu setelah kepulangan Pandya, Mentari menghempuskan nafas terakhir. Pandya terdiam kembali setelah mengucapkan (innalillahiwainnailaihirojiun) sambil mencium kening sang Mama, butiran halus menetes membasahi kedua pipi Pandya yang semakin lama semakin deras tak bisa terbendung.
Mendengar berita meninggalnya Mentari banyak sekali pelayat yang datang, ingin menyaksikan pemakaman orang yang paling berjasa dalam hidup mereka.
Proses pemakaman yang begitu cepat apalagi saat memandikan jenazah Mentari, Pandya terus ikut turun tangan. Saat peletakan jenazah di liang lahat, Pandya lah yang melantunkan adzan untuk almarhumah sang Mama.
Mata Pandya penuh dengan air yang menganak sungai yang menetes perlahan - lahan tanpa ia sadari, sesak terasa dada Pandya.
***
Setahun telah berlalu, semenjak Mentari meninggal dunia, Pandya memutuskan untuk tidak kembali ke Jakarta. Dan ia telah mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan BUMN. Tekadnya untuk melamar Andhara sudah kuat, Pandya ingin mempunyai pendamping hidup seutuhnya.
Dengan tekad bulat Pandya datang ke rumah Andhara berdasarkan alamat yang diberikan oleh Andhara. Saat itu Andhara masih di Jakarta. Pandya menemui otangtua Andhara dan menyampaikan keinginannya untuk melamar Andhara. Namun sepertinya sang Ibu Andhara tidak ridho karena selama ini Andhara dekat dengan Bagas.
Menurut Lestari terlalu singkat perkenalan Pandya dengan Andhara, yang jelas tak ada ijin dari Lestari. Apalagi Andhara masih di Jakarta, sedangkan Bambang sebagai bapak Andhara menyerahkan keputusan pada Andhara, karena yang akan menjalani adalah Andhara.
-Bersambung -
Like dong, komentar juga vote atau hadiah buat Author ya
Terimakasih
Salam Manis
TRIO A
wehhh pakaian dinas malam yg membuat Pandya panas dingin 🤪
nah lo siapa yg minta tolong
pandya habis jalan* nanti makan masakan ibu mertua mu yah awas klw ga ku jewer nanti kamu yah🤭🤣
like♥️
Saling dukung ya
Mampir di novelku
GADIS TIGA KARAKTER
mas makanlahhh masakan ibu mertuamu walau tidak sesuai seleramu hargailahhh toh kamu kan tidak setiap hr disitu