Raavero Alves ... Pengacara tampan, maskulin, angkuh, obsesif dan agresif, melakukan dua kesalahan fatal dalam hidupnya. Dia menikahi Rania Alexander untuk sebuah kesepakatan damai dan membawa pulang mantan kekasihnya ke Kediaman Alves, dua hari selepas pernikahannya dengan Rania.
Rania Alexander ... Seorang Wedding Planner. Dia gadis angkuh, cantik, ambisius dan pantang menyerah berjuang untuk menolak pernikahannya dengan Raavero. Dia sedang membangun karirnya dan muak pada pria.
Sementara sang mantan kekasih, berusaha untuk menempatkan kembali posisinya seperti semula saat masih menjadi kekasih Raavero.
Perang dingin di antara keduanya, ditambah sikap anti-pati Ibunda Raav pada Rania, memperburuk keadaan.
Raavero berada di antara dua pilihan, di antara tiga wanita dengan kerumitan mereka masing-masing. Dia hanya harus memilih satu di antara keduanya. Wanita yang dia cintai atau wanita yang melahirkan puterinya?
***********************************************
Dengan rendah hati mohon kritik dan sarannya untuk Author agar lebih baik lagi dalam menulis.
Jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen, favorit, share, vote agar Author lebih semangat menulis. Makasih untuk dukungannya.
by Senja Cewen...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Cewen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 Aroma Raavero...
Fajar telah mulai menyingsing. Burung gereja berkicau riuh menyongsong pagi. Rania ingin bangun, tetapi sesuatu menahannya di tempat tidur. Ia merasakan pening hebat menyerang kepalanya. Matanya tak ingin terbuka. Dia masih mabuk, padahal cuma meneguk sedikit Tequila.
Hidungnya mengendus-ngendus sesuatu. Dia membaui sebuah aroma. Raavero.
"Baiklah. Aku mabuk Tequila dan aroma Raavero. Aku harus ke psikiater minggu ini. Halusinasi ini bertambah buruk," batinnya galau.
Dia telah mencium aroma Raav di mana - mana. Di bantal, di selimut, di udara bahkan di lengan bajunya. Jika terus macam ini, tekad untuk melupakan Raav perlahan akan pupus.
Samar-samar terdengar gemercik air dari kamar mandi. Siapa yang menggunakan kamar mandi? Septi? Tanpa minta ijin Rania? Tidak mungkin. Septi ditugaskan menemani Summer saat ini.
Jangan-jangan Raavero? Tidak mungkin. Rania menggeleng. Bukankah Raavero telah memutuskan untuk menyingkirkan penyihir dan hidup damai bersama malaikat?
Tok ... Tok ... Tok...
"Raav? Kamu sudah bangun?"
Suara Mikaila memanggil pelan. Nada suaranya terdengar seperti seorang istri memanggil suaminya.
"Oh .... Ada apa dengan orang-orang ini? Mengapa mengetuk pintu kamarnya dan bukan kamar Raav? Apakah dia mau pamer? Menyebalkan."
Rania menggerutu jengkel. Dia berbalik badan, meraih bantal dan menutupi kepalanya. Tidak ingin mendengar.
Astaga ... Kasur ini, aroma Raav pula. Yah Tuhan, tolonglah. Aromanya ada di mana-mana. Bikin gila. Jangan - jangan ini kamar ... Raavero Alves?
Serentak berbalik, kembali telentang lalu mengejap - ngejabkan mata. Pupil itu berputar dan terhenyak ... Ini sungguh kamar Raav? Mereka berbagi ranjang?
Rania mengangkat selimut, menengok dan bernapas lega mendapati minidress backless-nya semalam masih melekat di sana. Dia tidak ingat kejadian semalam. Sungguh teledor. Mengapa dia di kamar Raavero? Apa Rania pergi pada pria itu secara sukarela?
"Raavero???"
Suara Mikaila lagi, lebih keras. Sebuah ide terlintas di benak Rania. Sebodoh amat. Semoga kamar Raavero Alves tak terkunci dan Mikaila menemukannya di sana. Mungkin, ini akan jadi episode terakhir untuk Mikaila Gilsha.
Rania mengatur posisi tidur. Minidress - nya sengaja disingkap jauh ke atas. Dia memulai pose wanita menggoda, tidur kelelahan di ranjang seorang pria.
Rania menunggu. Dia akan memberi kejutan yang tak terlupakan untuk Mikaila. Ketukan pintu kembali terdengar lebih halus.
Lalu ....
"Daddy? Bolehkah aku masuk? Daddy, belum bangun?"
Rania langsung melongo. Matanya terbelalak lantas cepat-cepat menurunkan dressnya ke posisi semula.
Selena???
"Dad ... Selena dan Mommy boleh masuk, yah?"
Rania tergopoh-gopoh bangkit, turun dari tempat tidur, memungut sepatu high heels yang berserakan, meraih clutch ... pandangannya menyapu ke seluruh ruangan.
"Apa lagi? A - apa lagi milikku? Di mana aku akan bersembunyi?"
Kamar Raav tak memiliki lemari. Dia harus ke balik cermin-cermin ini, tetapi tak tahu di mana pintunya. Dia melongok ke bawah kasur. Itu ranjang tanpa kolong tak seperti di kamarnya. Idiot. Dia memaki dirinya. Mengapa harus terjebak di sini?
"Dad???"
"Sepertinya Daddy-mu lagi mandi, Sayang. Yuk, kita tunggu di ruang bawah."
"Nggak mau, Mom. Kita masuk aja yuk."
Tak ada pilihan lain. Rania berjinjit, mengendap-endap menuju kamar mandi. Pintunya tak dikunci. Gadis itu masuk, menutup pintu dan menguncinya. Sesaat sebelum pintu kamar Raavero dibuka. Rania lalu ingat ponselnya. Dia memeriksa clutch dan lega ponsel itu ada di sana. Tidak lucu jika benda itu tiba-tiba berdering. Syukurlah. Ponselnya juga mati kehabisan arus. Kupingnya segera menancap di pintu kamar mandi, menajamkan pendengaran.
"Dad?"
Suara Selena lagi. Rania lemas. Dia menggigit bibir kuat dan terperangah ketika ia mengangkat wajah. Napasnya tertahan di tenggorokan. Pening di kepala musnah secara ajaib. Itu karena ...
Raavero Alves.
Tombol shower masih menyala dan gemericik air menyentuh lantai terus terdengar. Pria itu sedang bercukur dan sangat terperanjat saat bayangan Rania terpantul di cermin. Kepala Raavero terkulai sebentar, menunduk pada wash back, sebelum kembali menatapi cermin. Memastikan bahwa dia hanya berhalusinasi. Namun, dia keheranan. Gambar Rania masih di sana walaupun buram. Tangan besarnya lalu terulur mengusap uap pada cermin hingga kaca menjadi jernih. Ketika yakin di belakangnya benar Rania. Dia berbalik antusias.
Handuk putih melilit pinggangnya. Rambut pria itu basah, beberapa helai jatuh di depan mata membuatnya tampak seksi. Butiran-butiran air masih menempel di tubuh dan beberapa dari mereka mengalir dramatis menuruni dada, lengan, lehernya. Yah Tuhan. Dia sempurna. Rania menelan liurnya susah payah. Tubuhnya panas dingin. Dan jantungnya mulai dag dig dug tak karuan.
Raavero mendatangi Rania. Bibirnya mengulum senyuman seringai. Ia laksana serigala dan Rania bak domba. Ini makanan siap saji terbaik sepanjang masa.
Rania menunduk lemas saat Raavero menyeringai padanya. Kakinya gemetaran dan berharap pintu tempat dia bersandar adalah pintu Doraemon. Dia ingin pintu itu terbuka dan melemparkannya ke kutub selatan, sejauh mungkin dari Raav.
Raav menunduk. Tangannya bertumpu pada pintu. Aroma busa pencukur, shower gel dan shampoo menyatu jadi satu menyerbu hidung Rania. Aroma maskulin yang memabukkan.
Wajahnya terlalu dekat dan Rania menggeleng separuh memelas. Saat itulah terdengar suara Selena memanggil lebih keras.
"Daddy, Malaikatmu punya kejutan untukmu? Where are you, Daddy? Apa kau sedang mandi, Dad?"
Raavero terkejut dan mengangkat wajahnya. Jadi, ini alasan Rania lari masuk ke kamar mandi? Wanita malang, dia tak tahu bahwa ada pintu penghubung di antara kamar mereka. Ini keuntungan untuk Raavero. Dia meringis senang.
Tatapan Raavero seakan mampu menembus pintu kamar mandi. Saat dia kembali pada Rania, gadis itu memberi isyarat agar menjawab panggilan Selena.
"Da - ddy lagi mandi, Nak!"
Raavero menjawab keras. Bibirnya masih mengulum senyum geli melihat Rania ketakutan.
"Ohh, baiklah. Aku akan menunggu," sahut Selena.
Rania memberi kode, meminta Raav menyuruh Selena menunggu di bawah. Mata gadis itu melebar, kening berkerut dan dia menggigit bibirnya. Raavero menikmati wajah putus asa di hadapannya.
"Selena. Bisakah kamu menungguku di luar? Umm ..." Kalimatnya digantung begitu melihat ekspresi angguk-angguk kecil Rania.
"Apa yang kau lakukan? Suruh Selena pergi sekarang!" Bibir Rania berucap tanpa suara. Raavero balas tersenyum, 'suka - suka aku!'.
"Daddy akan ganti pakaian dan bersiap-siap."
Rania menghembuskan napas lega. Mereka menunggu jawaban Selena.
"Baiklah, Dad. Aku akan menunggumu. Jangan lama-lama, yah!"
Pintu ditutup perlahan. Raavero kembali pada Rania. Dia tidak bergeser sementara Rania makin rapat ke pintu. Mata mengamati Rania. Pria itu jelas sedang merencanakan sesuatu.
"Aku akan pergi."
Mencoba lepaskan diri dari Raavero setelah yakin Selena dan Mikaila telah pergi dari kamar.
"Selena masih di depan. Dia menungguku di depan kamar. Kamu tidak dengar perkataanku padanya tadi?"
"Kalau begitu, keluarlah dan bawa mereka! Aku akan pergi setelah kamu mengajaknya ke bawah."
"Bagaimana jika aku tak mau?" Raavero mengernyit. Bibirnya tersenyum menggoda. Dia berdehem. "Ini pemandangan langka dan terbatas. Seorang wanita memakai minidress, rambutnya acak-acakan, bertelanjang kaki dan wajah bangun tidur ... menggairahkan .... Aku pasti mendapat berkat Tuhan pagi ini, disuguhi sesuatu seistimewa ini. Tak akan ku sia-siakan."
"Jangan konyol! Puterimu menunggu. Semua ini salahmu. Mengapa membawaku tidur di kamarmu?"
"Jangan salahkan aku! Kamu minum-minum lalu mabuk dan terus meracau 'menginginkanku'."
Rania menahan napasnya. Dada Raav hampir menyentuhnya kini. Wewangian dari tubuh Raav merasukinya hingga ke ubun-ubun. Dia memabukkan dan dia suka mengintimidasi orang.
"Um ... Em ... Aku tak mungkin begitu!"
"Yah, kau begitu... Rania. Orang - orang yang berada di bawah pengaruh alkohol cenderung lebih terbuka dan lebih jujur. Mereka juga lebih membara. Kamu bahkan berbicara soal konsep s** yang menggairahkan setelah minum alkohol."
Wajah Rania merah padam. Raav pasti bohong. Dia pandai memojokkan orang. Seakan membaca tatapan tak percaya, Rania.
"Aku punya bukti. Terekam di ponselku sebagai kenang-kenangan. Aku akan mengirimnya padamu. Kamu bisa dengar sendiri."
Dawnia akan meneriakinya idiot, jika perempuan itu tahu tentang ini. Sungguh bodoh. Dia tahu, bahwa Tequila memabukkan, mengapa nekat?
"Kamu ingin lenyapkan aku dari pikiranmu hanya dengan tiga teguk Tequila? Aku terlalu dominan, Rania. Kamu tak akan sanggup."
Rania terpana. Dia meracau tentang itu juga? Berarti tak ada rahasia lagi sekarang. Raavero memegang semua kartunya.
"Apa permainan kita sudah berakhir? Kau telah jatuh cinta padaku. Kamu mengakui semalam. Jadi, kamu akan tinggal di sisiku sekalipun aku menyiksamu."
"Kamu harusnya tidak meladeni orang mabuk." Rania gusar lebih pada dirinya sendiri. "Menyingkirlah! Aku mau pergi."
"Se - le - na, bisa tolong Daddy?"
Mendadak Raavero berteriak nyaring. Matanya tak lepas dari Rania. Pria ini ...
"Kau memang psikopat gila," desis Rania. Dia mendorong Raav, tetapi pria itu terlalu kuat. Ceklek. Pintu kamar dibuka. Suara Selena terdengar dari ruang tidur.
"Ada apa Daddy?"
"Umm... Bisakah kamu ambilkan Daddy handuk di laci pertama nakas samping tempat tidur?"
"Oh yah. Tentu saja," jawab Selena riang.
"Berhentilah main-main! Dia cuma anak-anak."
Rania mengumpat. Raavero tak peduli. Dia melingkari lengannya di pinggang Rania, menarik Rania kuat hingga menempel ke tubuhnya. Dia membuka pintu sedikit. Dia melongok keluar dan tangan kanannya terulur menerima handuk.
"Ini ... Dad ..."
"Tunggu Daddy di bawah yah, sayang! Aku hampir selesai."
"Okay, Daddy."
Selena pergi lalu menutup pintu untuk kedua kalinya.
"Apa yang kamu lakukan? Selena cuma anak-anak," raung Rania.
"Dan aku cuma seorang pria yang sedang ingin berduaan dengan istriku."
"Kamu berduaan dengan Mikaila juga. Apa kamu menikmatinya?"
"Yah, sangat. Apalagi jika seseorang ketahuan sedang mengintipku. Itu semakin mendebarkan."
"Jadi, kamu tahu aku mengintip dan kamu sengaja membelai rambutnya?"
Rania memelototinya tidak percaya. Pria itu tahu? Jangan-jangan dia juga tahu Rania menangis di gudang perkakas? Antara kesal dan malu, Rania menginjak kaki Raav kuat dan mendorong tubuh pria itu, lalu pergi dari sana.
**********************
Halo semuanya, jangan lupa like tiap episodenya, vote, share, favorit yah...
Biar Author tambah semangat Update.
Dukung terus yah...
Selamat membaca yah...
Senja Cewen...