Davina pikir dia akan menjadi pengantin paling bahagia hari ini. Pernikahannya berjalan dengan baik bahkan sampai dia mengucapkan janji setianya pada lelaki impiannya.
Namun, tiba-tiba seseorang bangkit dari tempat duduknya untuk merusak segalanya.
"Calon pengantin perempuan itu milik saya, Pak Pendeta! Dia tidak boleh jadi milik orang lain!" kata Raka, tegas.
Seluruh jemaat yang hadir langsung gaduh.
Apakah Davina jadi menikah hari ini? Atau dia harus mengenyahkan terlebih dahulu si iblis yang selalu mengganggu hidupnya selama ini?
Covers obtained from pexels, free to use.
IG Author : @ingrid.nadya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingrid nadya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Giselle
Espoir bekerja sama dengan satu sanggar tari lain bernama Nararya akan melaksanakan pertunjukan seni balet di Gedung Kesenian Jakarta dua minggu lagi. Mereka mendapatkan tiga kali kesempatan melaksanakan gladi resik untuk mengenal panggung dan menyempurnakan gerakan. Gladi resik tersebut akan diadakan hari ini, minggu depan dan H-1 sebelum acara.
Espoir dan Nararya akan menampilkan sebuah repertoar balet klasik berjudul Giselle. Pemeran utama Giselle diperankan oleh murid Espoir bernama Tiara, sementara pemeran utama pria Albrecht diperankan oleh murid Nararya bernama Ivan. Sementara pemeran pendukung lainnya kebanyakan diisi oleh murid Nararya yang lain.
Espoir baru berdiri selama tiga tahun, tentu perjalanan Davina untuk mengumpulkan banyak anak didik masih panjang. Murid yang diasuhnya sejak awal saja masih sedikit sekali dan kebanyakan masih kanak-kanak. Hanya beberapa saja murid yang sudah matang secara teknik balet, itu pun caplokan dari tempat kursus lain, seperti Tiara.
Nararya sendiri adalah tempat Davina dulu kursus balet sejak keci. Dia bahkan sempat mengajar disana setelah dia resmi lulus dari pendidikan baletnya. Tiara adalah salah satu murid pertamanya. Makanya, setelah Davina memutuskan mendirikan Espoir, Tiara langsung mantap untuk mengikut gurunya itu.
Hubungan Davina dengan pendiri Nararya sangat baik, mereka masih saling bantu, contohnya seperti sekarang ini. Espoir belum bisa membuat pertunjukan sendiri, selain karena masih punya sedikit murid asuh, juga karena Espoir belum punya penari laki-laki sama sekali. Makanya, masih membutuhkan bantuan Nararya.
Begitu Ilana, sang pendiri Nararya, memasuki gedung, Davina langsung menghampiri wanita bersahaja tersebut.
"Tante Ila!" Davina langsung memeluk dan mencium kedua pipi Ilana.
"Davina! Semakin cantik saja!" Ilana tersenyum sambil memegangi kedua lengan Davina.
"Ah, Tante bisa aja!" Davina tersenyum.
"Gimana Espoir? Lancar?"
"Syukurnya makin banyak yang daftar, Tan. Ini juga karena Tante Ila mau bantu promosi."
"Ah, memang Espoir juga sudah mulai harum namanya. Tiara menang Asian Grand Prix kan bulan lalu?"
Davina mengangguk lalu melirik sebentar Tiara yang sedang menari di atas panggung, "Tiara tuh kebanggaan Espoir dan Nararya, Tan."
"Banget. Tapi dia itu bentukan kamu seratus persen." Ilana tertawa. Sama sekali tidak menunjukkan rasa persaingan sama sekali. Memang harusnya semua perempuan seperti ini, saling mendukung.
Ilana adalah guru balet Davina. Dia merasa Davina adalah salah satu penerus untuk mengembangkan balet di Indonesia, makanya dia sama sekali tidak pernah berniat bersaing dengan Davina. Sesuatu yang akan selalu dia syukuri. Bahkan dia jadi bangga pada diri sendiri, saat mentornya kini menjadi sahabat untuk menjalankan pertunjukan balet bersama-sama.
"Ayo, duduk, Dav! Kita lihat apa Ivan bisa menandingi Tiara." Ilana mengerling. Mereka pun duduk tepat di depan panggung.
"Aku makin tegang, dilihatin dua guru profesional!" keluh Ivan sebelum gladi resik dimulai.
"Awas kamu ya kalau malu-maluin Nararya, Tante suruh kamu les sama Tiara," gurau Ilana.
Semua orang tertawa. Ilana memang pintar sekali membuat suasana mencair. Pengalaman memang tidak bisa menipu.
Gladi resik pun dimulai.
"Teknik Tiara memang gak ada lawan," decak Ilana, kagum.
"Ivan juga semakin berkembang, Tante."
"Wah, sudah jauh berkembang dia. Dulu dia mah pantonim, bukan balet." Ilana terkekeh.
Lalu Davina fokus mengamati Tiara yang sedang menari di atas panggung, mencatat apa saja kekurangan yang bisa dia tangkap agar nanti bisa didiskusikan lebih lanjut dengan Tiara.
Repertoar Giselle memang adalah salah satu repertoar paling sulit untuk ditampilkan oleh seorang balerina, namun sekaligus jadi salah satu tolak ukur untuk menilai kemahirannya. Bukan hanya teknik menari yang harus bagus, namun kedalaman emosi pemerannya juga sangat diperlukan.
Karena Giselle adalah sebuah kisah cinta yang tragis.
Giselle diceritakan sebagai seorang gadis desa yang memiliki jantung yang lemah. Suatu hari, desanya mengadakan sebuah pesta panen anggur. Disana dia bertemu dan jatuh cinta dengan seorang pemuda desa, yaitu Loys. Namun, Loys sebenarnya adalah seorang bangsawan bernama Albrecht yang menyamar demi mendapatkan hati Giselle.
Ibu Giselle sebenarnya lebih menyetujuinya untuk bersama dengan pemuda desa lain, bernama Hilarion, yang sudah dikenalnya lebih dahulu. Namun, Giselle tetap teguh pada Albrecht.
Di tengah-tengah pesta, sekelompok bangsawan melewati desa mereka. Mereka pun singgah sebentar untuk menikmati pesta tersebut. Albrecht kaget saat melihat ternyata ada Bathilde, tunangannya di antara para bangsawan tersebut. Dia segera bersembunyi, meninggalkan kerumunan pesta agar tidak diketahui.
Hilarion yang juga mencintai Giselle sebenarnya sudah curiga dengan Loys sejak awal. Dia mencoba mencari tahu tentang saingannya tersebut. Dan akhirnya menemukan sebuah horn yang hanya dimiliki oleh bangsawan di antara barang-barang Albrecht. Horn adalah sebuah alat tiup untuk memanggil para bangsawan yang lain.
Setelah kumpulan bangsawan pergi meninggalkan pesta panen, Albrecht kembali muncul di pesta. Hilarion langsung membunyikan horn tersebut. Dan kumpulan bangsawan kembali datang. Bathilde melihat Albrecht dan mengumumkan bahwa dia adalah tunangannya.
Giselle jatuh dalam kesedihan. Dia menari dan terus menari di pesta tersebut sampai akhirnya dia mati karena dia memiliki jantung yang lemah. Giselle pun menjadi hantu wilis, yaitu hantu perempuan yang belum menikah.
Begitulah kisah di babak pertama repertoar ini.
Davina sering merasa heran dengan Giselle. Kenapa dia memilih jatuh cinta dengan Loys, si pemuda asing, yang tidak jelas sama sekali? Padahal jelas-jelas ada Hilarion di sisinya selama ini.
Jika Davina jadi Giselle, tentu saja dia akan memilih Hilarion seratus juta kali. Karena dia mengibaratkan Nikolas sebagai Hilarion, sementara Raka adalah pemuda asing yang dia tidak tahu sama sekali apa tujuannya. Hendak menyakitikah? Atau apa?
Davina tidak berani-berani mencoba. Dia tidak rela menjadi wilis hanya karena Raka!!
'Ingat aja terus sama si anak setan!' batin Davina, kesal pada diri sendiri.
Davina mencoba fokus lagi pada muridnya, namun ternyata babak pertama sudah selesai. Mereka sedang mempersiapkan untuk babak kedua.
"Gimana, Tan?" Davina menoleh pada Ilana.
"Luar biasa. Tiara sangat luar biasa."
Davina tersenyum bangga. Tiara benar-benar anak didik kebanggaannya.
"Davinaaaa!" Tiba-tiba seseorang muncul di dekat mereka. Davina kaget. Dialah Yuni, sahabatnya dulu saat mengambil course di Eropa. Yuni memang menjadi salah satu pengajar di Nararya saat ini.
"Yuni!" Davina langsung memeluknya.
"Apa kabar bu bos satu ini?"
"Bisa aja kamu. Baik-baik. Kamu gimana, Yun?"
"Baik juga dong. Gimana Ivan? Dia anak didikku juga loh!" Yuni mengerling pada Ilana dengan bangga.
Ilana terkekeh, "Mintanya dipuji terus! Ngomong-ngomong, calon manten gak dipingit? Kok bisa-bisanya dateng?"
"Ya ampun, nikah mah bisa ditinggal. Pertunjukan balet anak-anak gak boleh." Yuni mengibaskan tangan pada Ilana.
Mereka tertawa. Meskipun tawa Davina terdengar kaku. Sahabatnya akan menikah sebentar lagi, dia juga diundang. Namun, bagaimana dia pergi ke acara pernikahan saat ini? Sementara pernikahannya sendiri pun batal.
Ke kantor saja dia masih sembunyi-sembunyi!
"Jangan bilang kamu batal datang ke nikahanku, Dav?" Yuni melirik curiga.
Davina hanya tersenyum, minta dimaklumi.
"Daaaaav, pleeeeease? Masa kamu gak datang sih? Aku pengen kamu datang!" Yuni merengek.
"Lihat nanti ya, Yun."
"Dav, please?" Yuni memelas.
Davina garuk-garuk kepala, "Gak janji, Yun."
"Kalau kamu gak datang, aku ngambek! Aku gak mau kenal kamu lagi!" kata Yuni.
Davina pasrah.
***
Yuni siapa kira-kira? 🤭
Oh iya, readers, karena Raka suka menguji kesabaran, mulai hari ini aku update Raka after buka puasa aja ya 😘
IG : @ingrid.nadya
aku tantang author nya jika kau diposisi raka apakah kau akan Terima saja diperlakukan kayak gitu
jadi wanita punya hati sedikit dalam berkarya lihat juga perasaan pemeran utama pria jangan egois hanya semua tentang pemeran utama wanita (posisi diri kalian)
kalian bangga lihat novel yang merendahkan lelaki, di novel kelihatan sekali kalian tidak peduli perasaan pemeran utama pria kalian buat pemeran utama pria kayak orang bodoh yang Terima saja diperlakukan dan dipermain
ini contoh kalian merendahkan karakter raka (pria)
*dibuat kayak pengemis yang terus mengemis cinta
*dibuat kayak lelaki bodoh diperlakukan seperti apapun dia Terima begitu saja
*dibuat hanya sebagai pelarian dia Terima begitu saja
*raka yang ditolak dan campakkna tapi dia juga yang terus mengejar devina
*dipermalukan didepan banyak orang kayak pengemis
*digantung dan dibuat kayak boneka yang bisa dipermainkan begitu saja
*saat diperlukan dia harus ada tapi saat tidak dibutuhkan dia di campakan kayak sampah
author punya hati, coba kau diposisi raka apakah kau Terima begitu saja,
novel memang bagus tapi keegoisan mu sebagia wanuta sangat jelas disini
raka jelas hanya dibuat pelarian oleh davina tapi author seakan karakter raka jadi lelaki bodoh yang harus Terima saja dipermainkan devina, dipermalukan devina, dibuat pelarian devina
aku tantang author jika author diposisi raka, apakah author mau diperlakukan kayak gini
jadi novelis juga harus punya hati dalam membuat novel, jadi novel bisa adil
lihat saat raka melakukan kesalahan pada devina kalian buat devina tegas dan tidak mudah memaafkan raka
tapi saat devina yang mempermainkan raka kalian buat raga menerima begitu saja kayak lelaki bodoh
pakai hati sedikit saja thor dalam berkarya biar kelihatan betapa egois dirimu sebagai wanita dalam membuat novel
dan mirisnya jadi pemeran utama pria ketika dia salah dia akan dibuat dapat balasan dan kayak pengemis, tapi ketika dia disakiti dia dibuat harus menerima begitu saja dan kayak lelaki bodoh yang selalu siap untuk pemeran utama wanita
*aku tantang kalian (author) jika kalian diposisi raka apakah kalian akan Terima begitu saja diperlakukan kayak gitu
pakai hati sedikit dalam membuat novel jadi kalian juga memikir pemeran utama pria jangan hanya melihat dari sudut pandang pemeran utama wanita
sekian