NovelToon NovelToon
MENANTI MENTARI

MENANTI MENTARI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:87.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cahyanti

Cinta adalah anugerah ilahi. Saat cinta kepada pasangan halal didasarkan tuntunan Sang Mahacinta, semua menjadi indah.
Cinta sepasang suami istri tidak hanya sampai tua, tetapi hingga kehidupan berikutnya. Di kala senang, suasana indah dinikmati penuh syukur. Di saat susah, dihadapi bersama penuh tawakal.
Itulah yang dilakukan Azka dan Meli. Pasangan muda yang menikah saat mereka belum lama saling mengenal. Cinta tumbuh subur dalam ikatan yang halal.
Di saat cobaan melanda, mereka dengan penuh kesabaran melewatinya. Mereka saling menguatkan untuk kembali menikmati indahnya mentari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menerima Kabar

Mereka seketika terdiam saat seorang lelaki berdiri di depan ruko. Dia hanya mengenakan kaos oblong dan celana selutut untuk membungkus tubuh kekarnya.

“Permisi, Mbak. Besok pagi kami akan  menjebol tembok sebelah situ. Tolong pindahkan barang-barang yang ada di sekitar tembok,” kata lelaki itu.

Ratna bengong sesaat mendengar penuturan lelaki itu. Beberapa detik kemudian, ia merasa seperti dilecehkan. Seketika amarahnya meluncur ke ubun-ubun.

“Maksud Bapak apa? Bapak ini siapa? Kok tahu-tahu nyuruh saya mindah barang? Apalagi mau jebol tembok. Apa hak Bapak merusak ruko?” ucap Ratna berapi-api.

Lelaki itu terkejut. Ia tak menduga akan dibentak gadis itu.

“Saya…saya ti—tidak bermaksud….”

“Tidak apa? Bicara yang jelas.”

Meli menarik tangan Ratna menjauh dari lelaki yang tengah kebingungan.

“Maaf. Pak. Apa Bapak yang bekerja merenovasi ruko sebelah?” tanya Meli.

“I—iya, betul. Katanya ini mau dijadikan satu. Jadi, besok tembok pembatas itu mau dijebol,” jawab si lelaki yang masih sedikit gugup.

“Kata siapa? Ngomong yang jelas!” Ratna kembali membentak.

Meli menahan Ratna yang telah bersiap maju.

“Sstt, kamu diam saja dulu! Kamu lagi emosi, nggak akan menyelesaikan masalah malah jadi runyam. Bia raku saja yang bicara. Kamu masuk sana! Rekap order belum selesai, kan?”

Kali ini Ratna seperti kerbau dicocok hidungnya. Ia membalikkan badan, kembali ke meja kasir dengan wajah ditekuk.

“Pak, apa Bapak disuruh Mbak Via untuk menjebol tembok itu?” tanya Meli.

“Betul. Nyonya Via, istri Tuan Farhan yang menyuruh. Bukankah beliau pemilik ruko ini?”

“Iya, betul. Sudah, tenang saja! Bapak besok bisa melaksanakan rencana yang telah dibuat, insya Allah. Masalah teman saya tadi, biar saya yang menyelesaikan.”

“Baik, Mbak. Terima kasih. Kalau begini kan enak, nggak pakai dibentak,” ucap lelaki itu dengan raut muka cerah. Ia pun berpamitan kepada Meli.

Setelah pembicaraan dengan tukang bangunan selesai, Meli mendekati Ratna yang masih terlihat kesal.

“Kamu PMS, Rat?” tanya Meli lembut.

“Enggak.” sahut Ratna singkat.

“Kok tadi marah-marah nggak jelas, sih? Nggak biasanya kamu begini.”

“Orang itu bikin kesel. Ngapain coba diam au jebol tembok? Memang ruko ini milik dia?” nada Ratna kembali meninggi.

“Haish, kenapa aku ikut kena marah?” Meli mencoba mendinginkan hati Ratna.

“Salahmu ada di dekatku.”

Meli tersenyum mendengar jawaban konyol Ratna.

“Kalau kamu nggak PMS, aku yakin kalau kamu ada masalah.”

Ratna menunduk. Ia terkesan membenarkan ucapan Meli.

“Bener ucapanku? Kamu sedang ada masalah?” desak Meli.

Ratna menarik nafas panjang lalu menghembuskan dengan kasar.

“Kamu benar. Aku memang sedang kalut.”

“Kalut kenapa? Masalah ruko?” tanya Meli.

Ratna menggeleng lemah.

“Ini soal Mas Rio,” desis Ratna.

Meli tampak kaget. Ia bertanya-tanya dalam hati, mengapa mendadak ada masalah dengan Rio sementara pernikahan mereka makin dekat.

“Kita ngobrol di atas, yuk!” ajak Meli.

Ratna mengangguk setuju. Ia bangkit dari duduknya dan mengayunkan langkahnya menuju lantai 2 ruko.

“Salsa, Wati, kami ke atas dulu.” Meli berpamitan. Ia bergegas menyusul langkah Ratna.

Ratna duduk di sofa membelakangi tangga. Telapak tangannya dirapatkan, menutup wajahnya.

“Ada masalah apa dengan Mas Rio? Bukankah hari pernikahan kalian hanya tinggal menghitung hari? Nggak ada sebulan, kan?

“Sebetulnya bukan Mas Rio, tetapi orang tuanya. Lebih tepatnya ayah angkatnya. Dia belum berubah juga.” Ratna menjawab dengan suara sendu.

“Apa yang dia perbuat? Bukankah papah angkat Mas Rio stroke?”

“Iya. Sekarang sudah agak jelas  ucapannya. Namun, yang aku dengar justru menyakitkan.”

Meli menatap Ratna seolah tak percaya.

“Memang Om Danu bilang apa, sih?”

Ratna terdiam sesaat. Ia seperti  sedang menata pung-puing yang berserakan.

“Waktu aku ke panti hari Minggu lalu, aku sempat ngobrol sebentar. Ia  mengatakan kalau aku memanfaatkan kekayaannya. Aku memengaruhi Mas Rio hingga ia tergila-gila padaku.”

Meli ikut kesal mendengar penuturan Ratna. Ia sebenarnya geram, tetapi ia berusaha tetap tenang.

“Lalu, bagaimana reaksi Mas Rio?” Meli penasaran.

“Mas Rio nggak tahu. Waktu itu, Mas Rio tengah membetulkan kran kamar mandi. Aku juga nggak cerita kepada Mas Rio. Aku nggak mau membebani Mas Rio.”

Meli terdiam. Ia bisa membayangkan perasaan yang dialami Meli.

“Menurutku, sebaiknya kamu bicarakan dengan Mas Rio. Bukankah kalian nantinya tinggal bersama Om Danu? Bagaimana kalau Om Danu mengatakan yang tidak-tidak, yang menyakitkan?”

Ratna terdiam. Sejak pertemuan dengan Danu, ia memang sering gelisah.

“Rasanya ingin kukunci di kamar atas biar dia nggak bisa ke mana-nana.”

Meli tertawa kecil mendengar ucapan Ratna. Teman Meli ini memang sering konyol.

“Apa nggak kasihan? O ya, yang tadi berbicara denganmu itu tukang bangunan yang sedang merenovasi ruko sebelah. Ruko ini akan disatukan dengan ruko sebelah. Itu sebabnya dia memberi tahu kamu dan meminta agar benda-benda di dekat tembok segera dibereskan.”

“Tunggu! Memangnya ruko sebelah milik siapa?”

“Siapa lagi kalau bukan kakak iparku. Mbak Via mengharapkan Om Danu tinggal di lantai 1 agar tidak repot memindahkan Om Danu.”

Ratna tersentak. Ia tak menyangka sahabat baiknya begitu perhatian hingga memikirkan cukup jauh. Ada rasa malu dan sesal karena tadi dia marah-marah tak jelas kepada lelaki yang ternyata orang yang Via pekerjakan.

“Dia masih saja memikirkan orang lain sejauh itu. Sementara yang dipikirkan malah kelakuannya begitu.” Ratna mendengus kesal.

“Kamu harus belajar berdamai, Rat.”

Setelah unek-uneknya tersampaikan, Ratna terlihat lega. Ketenangannya pun terpancar di wajah. Mereka kembali ke lantai 1 untuk bekerja.

*

Pagi yang sangat cerah membuat Meli bersemangat. Ia  pun telah siap berangkat sejak pukul 06.00. Pagi ini Azka memang meminta Meli bersiap lebih awal. Azka ada rapat penting yang dimulai pukul 08.00.

Begitu Meli masuk mobil, sebuah kecupan mendarat  di pipi kanannya. Meli menoleh. Senyum manis Azka membuat Meli enggan berpaling.

“Kenapa, sih? Terpesona wajah suamimu, ya?”

“Hemmm, ayo berangkat!” Meli mengalihkan pembicaraan.

“Iya, deh. Nanti malam kamu punya banyak waktu menikmati suamimu ini,” sahut Azka santai.

Meli mencebik. Ia mengalihkan tatapannya ke depan, menatap aspal hitam tanpa fatamorgana.

“Meli kuliah jam berapa hari ini?” tanya Azka.

“Jam 8, pulang jam 12.30”

“Langsung pulang ke ruko atau …?”

“Atau apa? Jalan-jalan? Males, ah.”

Tak terasa perjalanan mereka telah sampai. Meli berpamitan kepada Azka. Ciuman telapak tangan yang dibalas kecupan di kening menjadi ritual wajib mereka.

Begitu masuk ruko, Ratna menyambut dengan ungkapan keheranan.

“Kamu nggak sedang ngelindur, kan? Kok jam segini sudah sampai sini?” pekik Ratna heran.

“Ish, kau ini. Memang Mas Azka juga mengemudikan mobil sambil tidur?” Meli menoyor Ratna.

“Kebalik, Non. Tidur sambil mengemudikan mobil,” sahut Ratna meralat.

“Tauk, ah,” ucap Meli sambil menapaki tangga ke lantai 2.

Ternyata Meli bermaksud mendirikan salat duha. Salat sunah itu Meli dirikan di kamar Ratna.

“Mel, ni HP kamu bunyi terus,” ucap Wati yang melihat Meli melipat mukena.

Meli bergegas keluar. Ia segera menerima telepon dari seseorang.

“Assalamualaikum.”

….

“Apa? Kok bisa seperti ini? Kapan masuk?”

….

“Baik selama seminggu belakangan, ya.

Baru tadi seperti itu?"

….

“Waalaikumsalam.”

Meli tampak tegang. Wajahnya menyimpan rahasia untuk temannya.

***

Maaf, kemarin nggak upload, sekarang cuma sedikit. Saat ini sedang banyak hal yang harus dikerjakan di dunia nyata.

Jangan lupa mampir ke IKATAN ALENNA, dan TAKDIRKU BERSAMA MU,”

Dukungan readers sangat gkami harapkan.

1
Firda Sari
kapan di lanjut kak?
zee zhia
kapan lanjutanx ini thorr
피롷
kpn lanjutnya
피롷
ini kpn lanjut lg
Dhina ♑
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Heni Rani
udh lama gak up
Sabila Nurul Ma'rifah
kapan up autor aku kangen meli sama azka
Heni Rani
mba uthor nya lg traveling ya
🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ
ok thor , jgn lama lama ya
🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ
yahhhhh😂
Ananda Andin Angraini
D tunggu Kakak... tetap semangat.... semangat .... semangat.... jaga kesehatan ya.. 😘
Heni Rani
ini udh lama gak update lg kemana kah
🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ
wah keren azka dan farhan
Dessy Sugiarti
ditunggu kak kelanjutannya...
semoga bs SEGERA UP nya....
🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ
klo jadi meli gue jg cemburu tingkat balapan😄🤣
Indri Hapsari
salam luv buat Meli-Azka 💙 dan salam semangat untuk akak besan di sana 😊
Aerik_chan
Kusetia untuk menunggu
Asyilah
di nantikan selalu kak
HeniNurr (IG_heninurr88)
Setia menunggu pastinya😍😍
Vie
lanjut torrr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!