"Siapa sangka, pertemuan yang tidak disengaja itulah yang membuat kita sampai saat ini masih bersama" ~ Nadila Azzahra Putri Gunawan.
"Lo bisa nggak sih, seharii aja nggak gangguin gue Vin?" Tanya Nadila kesal.
"Enggak bisa!!!"
"Sebenarnya mau lo itu apa sih Vin?"
Vino mendekat. "Kan udah gue bilang, gue mau jadi pacar lo"
Deg
_________________________________________
Bukankan ada pepatah yang mengatakan, bahwa apapun yang tengah kamu hadapi, kamu harus percaya dan yakin, bahwa Allah akan memberikan jalan keluarnya, bahkan dengan cara yang tidak pernah kamu bayangkan.
Jodoh, memang tidak ada yang tahu. Tidak ada yang tahu seperti apa kita akan dipertemukan dengan jodoh. Seperti halnya dengan Nadila yang bertemu dengan jodoh dengan cara yang tidak pernah ia sangka.
Nadila fikir, pertemuan singkat pada saat itu hanya akan berakhir sampai disana saja. Namun siapa sangka, semuanya masih berlanjut sejak beberapa tahun mereka kembali dipertemukan. Dan ternyata, memang pria yang bernama Vino itulah yang menjadi jodohnya.
Mau tau gimana kisah Nadila dan Vino? Kuy baca. Jangan lupa di like, komen, dan vote :)
Copyright © Afrialusiana
Dont copy my story. Ingat dosa!!
Follow Ig Author : @Afrialusiana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afria Lusiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pacaran
Setelah berpamitan pada Susi untuk pulang, Nadila dan Vino berjalan menuju pekarangan rumah Vino untuk mengambil motor.
"Vin, lo apa apaan sih? Nggak lucu tau candaan lo kayak gini!" Tekan Nadila saat mereka sudah sampai di depan motor Vino.
"Lucu? Emang nggak lucu kok. Lo fikir gue ngelucu? Gue sama sekali nggak ngelucu Nad!" Sahut Vino masih tanpa merasa bersalah.
"Ck! Mau lo apa sih Vin sebenarnya?"
"Udah berkali-kali gue bilang, gue mau jadi pacar lo!" Ucap Vino to the point.
"Lagian kalo lo nggak suka kenapa barusan lo nggak bilang aja sama Mama gue, kalo sebenarnya gue bukan pacar lo!" Sambung Vino kemudian.
"Gue nggak enak sama Mama lo!"
"Berarti sekarang kita pacaran dong?"
"Enggak!"
"Lah, lo kan udah mengakui sama Mama gue. Berarti sekarang kita sah pacaran!" Putus Vino sepihak.
"Aishhh maksa banget sih ini orang" Nadila mengacak-acak rambutnya geram.
"Gue nggak peduli, mulai sekarang kita pacaran. Lo pacar gue! titik!" Tekan Vino sembari menaiki motornya.
Mata Nadila melotot tajam, bibir gadis itu tak henti menggerutu menyumpah serapahi Vino yang ia rasa benar-benar menyebalkan. Sedikit menghentakkan kaki, Nadila menaiki motor Vino dengan raut wajah cemberut.
"Udah?" Tanya Vino.
"Udah!" Jawab Nadila dengan nada suara kesal.
Vino sama sekali tidak memperdulikan kemarahan Nadila. Pria itu justru tertawa kecil sembari melirik Nadila dari spion motornya.
Di sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya, Nadila hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata. Mata gadis itu menatap jalanan dengan fokus siang itu. Ia sama sekali tidak memperdulikan Vino yang saat ini tengah mengendarai motornya.
"Nad, lo marah sama gue?" Tanya Vino dari depan.
Nadila sama sekali tidak menghiraukan. Padahal rungunya jelas sekali mendengar apa yang diucapkan oleh Vino.
"Nad" Panggil Vino sekali lagi.
Dan masih sama, Nadila sama sekali tidak menghiraukan. Hingga, Vino mengerem motornya secara mendadak, sebelum kembali menancap gas dengan pelan.
"Aishh Vino" Sorak Nadila kaget. Gadis itu menepuk pundak Vino kesal. Matanya tak henti melototi Vino dari belakang.
"Makannya pegangan, jatoh gue nggak tanggung jawab lo ya" Seru Vino tersenyum menyeringai. Namun, sama sekali tidak dihiraukan oleh Nadila.
Hingga Vino berinisiatif sendiri untuk mengambil tangan gadis tersebut. Ia melilitkan tangan Nadila ke pinggangnya.
"Pegangan" Ucap Vino.
Nadila terdiam, gadis itu menatap kepala Vino dari belakang. Raut wajah Nadila datar. Ia hendak menarik tangannya kembali. Namun, Vino dengan sigap mencegahnya.
"Jangan di lepas"
Entahlah, kenapa bibir Nadila rasanya saat ini begitu kaku, bahkan untuk menggurutu lagi ia tidak mampu. Nadila pasrah, rasanya apa yang selalu keluar dari mulutnya selalu saja bertolak belakang dengan hatinya.
Diluar Nadila boleh selalu memarahi Vino. Menyumpah serapahi pria itu, kesal akan kelakuan Vino. Tapi jika saja bisa berkata jujur, sesungguhnya gadis itu justru merasakan suatu kenyamanan dan kebahagiaan setiap kali Vino mengganggunya.
Itulah sebabnya, untuk mengatakan tidak pada Mama Vino saja Nadila tidak bisa. Padahal sebenarnya bukan hal yang sulit bagi Nadila untuk mengatakan bahwa dirinya tidak ada hubungan apa-apa dengan Vino.
Vino menghentikan motornya di sebuah mini market yang terletak di pinggir jalan. Hal itu membuat kening Nadila berkerut bingung.
"Ngapain lo berhenti disini? rumah gue disana!" Jutek Nadila menunjuk ke arah rumahnya.
"Iya gue tau! Gausah marah-marah mulu kenapa sih?" Ucap Vino lembut, pria itu tersenyum. "Lo tunggu disini bentar Nad, gue mau beli sesuatu" Pamit Vino sembari mengacak-acak rambut Nadila.
Nadila terdiam, gadis itu memutar tubuhnya memperhatikan langkah pria bertubuh tinggi itu masuk ke dalam minimarket. Sejenak, Nadila memegang kepalanya yang baru saja di sentuh oleh Vino. Tanpa sadar, seulas senyum terpancar dari raut wajah Nadila.
***
Tak berselang lama, Vino keluar dari minimarket dengan membawa dua ice cream vanilla di tangannya. Pria itu melangkah semakin mendekat ke arah Nadila.
"Nih. Kayaknya lo perlu di sejukin dulu biar aura lo nggak panas terus. Sakit juga telinga gue dengerin ocehan lo mulu" Bibir Vino berucap sembari memberikan ice cream tersebut pada Nadila.
"Jadi maksud lo gue setan? gitu? yang auranya panas mulu? Nggak! Gue nggak mau! Lo makan aja sendiri!" Jutek Nadila memalingkan pandangannya dari Vino dengan kedua tangan ia lipat di dada. Bibir gadis itu tak pernah henti dan lelah untuk sekedar menggerutu kesal.
Vino tersenyum. "Lo makin marah makin gemes tau nggak sih Nad" Pria itu membuka bungkus ice crem tersebut kemudian memberikan pada Nadila. "Nih, gausah nolak, gue tau lo mau!"
"Ck! Sini!" Nadila mengambil ice tersebut dari tangan Vino dengan paksa.
"Gue tau, lo mau! Pake sosoan nolak lagi" Ejek Vino sembari menikmati ice miliknya.
"Yaiyalah, yang penting kan basa basi dulu. Nolak dulu baru terima"
"Dasar cewek!"
***
Nadila dan Vino baru saja sampai di depan rumah minimalis milik keluarga Gunawan yang tidak lain adalah Papa Nadila. Gadis itu turun dari motor Vino dengan segera. Nadila memberikan helm pada Vino tanpa mengucapkan satu patah katapun dan hendak berlalu pergi dari sana. Namun, tangan panjang Vino refleks lebih dulu menarik tangan Nadila.
Nadila menoleh. "Ada apa lagi?" Tanya gadis itu dengan raut wajah tak ramah.
"Nggak mau pamit dulu gitu sama pacar?"
"Kita pacaran ya? Gue amnesia soalnya" Sahut Nadila angkuh.
Deg
Jantung Nadila berdetak kencang dan sungguh sangat tidak normal, saat Vino yang saat ini masih duduk di atas motor menarik tangannya dengan paksa. Hingga posisi mereka saat ini benar-benar sangat dekat. Bahkan lebih dekat.
Jantung Nadila berdetak bahkan 1.000 kali lipat dari biasanya. Manik mata gadis itu terbuka dengan sempurna saking kagetnya. Tangan Nadila dingin, yang ia sendiri tidak tahu kenapa.
Vino menatap lekat mata Nadila, begitu juga sebaliknya. Ingin sekali rasanya Nadila mengeluarkan kata-kata. Namun lidahnya terasa sangat berat untuk berucap.
"Ingat, mulai saat ini. Lo pacar gue. Nggak pake titik, nggak pake koma!" Tegas Vino berbicara.
Nadila masih terdiam membisu, menatap Vino dengan tatapan yang tidak dapat di artikan. Seketika, Nadila tersadar, gadis itu segera menjauhkan tubuhnya dari Vino.
"Kalo gue nggak mau lo bisa apa?" Cuek Nadila bertanya.
Vino kembali menarik tangan Nadila. Hinga lagi dan lagi posisi mereka semakin mendekat. "Kalo lo nggak mau, gue cium lo sekarang juga" Ucap Vino saat wajah mereka semakin lama semakin mendekat.
Mata Nadila membulat. "Iya, iya mulai sekarang kita pacaran!" Sahut Nadila. Gadis itu menjauhkan tubuhnya dari Vino dengan segera. Bisa gawat jika Mira tiba-tiba melihatnya.
Vino tersenyum miring penuh kemenangan. Pria itu kembali memakai helmnya. "Gue pulang. Sampai ketemu besok" Vino menjeda ucapannnya. "Sayang" Sambungnya kemudian sebelum pria itu menancapkan gas motornya untuk segera kembali ke rumah.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komen, love dan vote ya. Terimaksih :)