NovelToon NovelToon
Legenda Dewa Kesetaraan Vs Dewa Roh

Legenda Dewa Kesetaraan Vs Dewa Roh

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Barat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.4
Nama Author: MURADIF

*Jilid Satu (Tujuh Bidadari): TAMAT.
[Episode O-58].
*Jilid Dua (Nyanyian Kematian): TAMAT. [59-98].
*Jilid Tiga (Deklarasi Perang Dewa-Dewi): TAMAT. [Episode 99-143].
*Jilid Empat (Dewa Kesetaraan Vs Dewa-Dewi): Berlangsung. [Episode 144-183].

SINOPSIS: Sebagai perwujudan Dewa Kesetaraan yang ketiga belas, 'jiwa tak bernama' telah diwajibkan untuk mempublikasikan rahasia bangsa Barat. Namun ditengah perjuangannya demi membuat warga percaya perihal kebobrokan perang dunia jin ke-18 ini. Dewa Roh nyatanya telah berwujud dan mengemban pula mandat dari Langit, untuk membawa pula roh umat Manusia serta umat Jin, guna membentuk kembali galaksi Dewadewi. Hingga membuat dua Dewa itu kembali saling berperang demi menghentikan kewajiban satu sama lain.

[Sub genre: Dark Fantasy, Psychology, Political, Crime, Martial Arts, Dark Romance.]

⚠Perbuatan dalam novel tidak untuk ditiru.
⚠Novel hanya fiksi semata.
⚠Novel hanya hiburan semata.


*NOVEL INI HANYA ADA DI PLATFORM NOVELTOON/MANGATOON. BILA TERDAPAT DI PLATFORM LAIN SEGERA HUBUNGI AUTHOR.*


✅Untuk mendukung /mengapresiasi /menghargai karya Author, cukup berikan, like, vote(poin/koin) atau favorit. Terima kasih, semoga terhibur dengan kisah kami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MURADIF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30: Berbagi Rasa Sakit. (Part 2.)

Telah tak bernyawa putri yang dicintai Yuyu. Meninggal di tempat menyuguhkan perasaan lara pada sang ibu.

“HUAAAAAAAA ....” Walikota Yuyu mendekap erat jasad kaku putrinya dan menjerit-jerit enggan merelakan nasib malangnya. “BANGUNLAH PUTRIKU! BANGUNLAH ... HIKS ....”

Lutut Nerta mulai lemas memikul beban kenyataan pahit, membuatnya bersimpuh tak berdaya di tanah, jemarinya mengepal erat menahan derita moral. Merana, gusar serta kelesah bersintesis dalam pandangan tertunduknya.

Sedangkan Inky tumungkul prihatin dan tak sanggup berbuat apa pun.

Realita telah mempersembahkan kegagalan, dan menggoreskan luka di hati setiap personal. Harapan telah padam, kepiluan merebak pekat dan di sana bersama semilir angin bertiup, terpaksa menanggung derita kehilangan.

“HUAAAAAAA ....” Walikota Yuyu tak hentinya menangis sembari tetap memeluk Nana penuh cinta.

Dan waktu berputar dalam situasi sendu. Nerta yang mengalami emosi yang berpadu dalam penyesalan dan geram, mulai bernapas dengan berat. Emosi itu dan rasa sakit itu, perlahan mulai melemahkannya, namun diwaktu bersamaan menerbitkan juga perasaan dendam dalam benaknya, dendam pada koloni siluman tadi.

Alih-alih beranjak untuk meluapkan dendamnya, Nerta justru tumungkul dengan sangat menyesal, seraya dengan lantang berucap, “MAAFKAN SAYA! MAAFKAN SAYA! MAAFKAN SAYA ...!”

Sudah sepatutnya Nerta memohon pengampunan, karena bagaimana pun, dirinya telah gagal. Seperti telah memberikan janji manis, tapi hanya sebatas di mulut saja. Terlepas dari ketidaktahuannya, atau keteledorannya, Nerta sudah dipastikan membuat luka mental menganga.

Inky tak bicara, dirinya malah memalingkan muka, merasa tak bersalah dan seakan-akan memang Nerta yang layak bertanggung jawab.

Permintaan maaf Nerta tiba-tiba menghentikan jerit tangis Walikota Yuyu. Membaringkan jasad putrinya, menatap tajam Nerta dengan bergigit murka.

“KAU!” Walikota Yuyu menyentak pada Nerta sebagai isyarat kalau ini segera jadi masalah pelik. “KAU SEYOGIANYA BERTANGGUNG JAWAB! TIADA LAIN SEMUA INI KARENA SALAHMU! KAU MESTI MATI! KAU MESTI MATI!”

“Maaf ... maafkan keteledoran saya nyonya ....” Nerta merengek sampai-sampai membungkuk dan menunduk berkali-kali.

Sekonyong-konyongnya Walikota Yuyu bangkit dari mendeprok, berdiri dengan gusar, dengan napas yang naik turun begitu tak sudi. ”MANA DEWA KESETARAAN BODOH ITU ... MANA ANUGERAHNYA YANG MEMBERIMU PETUNJUK!“

”... tapi malah memberikan kesengsaraan!“ lanjut Walikota Yuyu secara sarkasme dan nada suaranya meninggi, juga bergetar. Berkat kemarahan dan kekecewaannya kesakralan nama Dewa Kesetaraan tak lagi diindahkannya.

Sekujur tubuh Walikota Yuyu nampak bergidik dalam kegetiran. Suatu tanda, kalau jiwanya mengalami rasa trauma dan luka mendalam. Sisi psikologinya terguncang dan tak dapat diredam lagi. Bahkan, matanya memerah dengan air mata yang tak hentinya mengucur lalu jatuh begitu pilu ke tanah.

Nerta yang bersimpuh mulai menengadahkan mukanya, dahinya mengerut dengan gundah gulana. ”Bunuh saya ... saya siap bertanggung jawab!“

Sudah memburu napas Walikota Yuyu, jemarinya mengepal begitu gemas seolah berhasrat meremukan kepala Nerta kalau bisa. Beberapa detik diam dalam hati senak. Lantas kaki jenjang sang Walikota Yuyu mengambil beberapa langkah mendekati Nerta.

Di saat jarak antara Walikota Yuyu serta Nerta menyisakan tiga jengkal untuk bersentuhan. Malah kurang dari tiga jengkal. Ke dua tangan Walikota Yuyu memanifestasikan dua garpu emas, yang kemudian ditancapkan pada dua bola mata hitam Nerta, 'Clep'.

”GHUAAAHK ...!“ Nerta refleks mengerang kesakitan, tertunduk menahan deritanya dan buta seketika.

”Aku tahu, kau tak bisa mati.“ Walikota Yuyu dengan rona muka mendendam, bicarakan niatnya. ”Jadi, bayarlah dengan rasa sakit itu. Demikian aku memaafkanmu.“

Inky hingga menoleh dengan kernyit kening terkaget, menatap Nerta dalam dilema. Kali ini seni masa bodohnya nampak tak sanggup direalisasikan. Ada rasa prihatin yang bergabung dalam belas kasihan dan terpancar dari sorot netra jingganya.

”AAARRRRGH ...!“ Nerta membungkuk serendah-rendahnya, hingga seolah bersujud, jemarinya mengeras tak kuasa menahan rasa sakitnya. ”Haah-haah-haah ....“

Hal itu mungkin nampak kejam bila dilihat dari perspektif masyarakat beradab, tapi sayangnya, bagi Walikota Yuyu itu adalah keadilan dan dalam menegakkan keadilan tidak ada yang namanya kejam.

”Jangan mencabut garpu emas itu dari tempat seharusnya!“ Walikota Yuyu memberikan penuntutan, terlebih ritme suaranya begitu mantap dan melangkah menuju jasad putrinya. ”Jangan kau cabut, sebelum aku angkat kaki dari tempat menjijikkan ini.“

Walaupun hal ini tak sesuai kesepakatan, atau dengan tegasnya, apa yang dilakukan Walikota Yuyu tidaklah adil. Nerta tanpa komplain menerimanya.

Toh, Walikota Yuyu hanyalah sebatas seorang ibu yang berjuang demi melindungi serta menemani putri semata wayangnya. Melindunginya dari kebodohan pemuda yang egois dan memproteksi pula dari cengkeraman dunia yang oportunis.

Pintu teleportasi dibentuk dari energi merah Walikota Yuyu, dan pergi begitu saja dengan membawa putrinya. Akhirnya menyisakan Inky bersama Nerta.

Sampai dengan tega hati, Inky nyeletuk, “Nerta, kau menghambat misi dan menggagalkannya ... lebih-lebih kau mengecewakanku ....”

Kalimat itu sangat dipahami Nerta. Jangankan figur lain yang kecewa, Nerta sendiri pun kecewa berat dan sedikitnya membenci dirinya sendiri.

Dan seni masa bodoh Inky kembali terpampang. “Nerta, cepat pulihkan dirimu. Aku tak punya waktu untuk menemani rasa sakitmu dan tak sudi berbagi kepedihan itu.”

Nerta mencabut dua garpu dari matanya disertai erang penderitaan. Kemudian buru-buru menelan pil Pemulihan yang diraba lebih dulu oleh jemarinya—sulit mengetahui pil yang dicari dalam kebutaan.

Tiga detik sesudahnya mata hitam Nerta utuh kembali, mengerjap beberapa kali, lantas bangkit dari simpuh.

Sebelum melanjutkan misi, Nerta menyempatkan menarik napas panjang dan mengembuskan napas perlahan, mengatur kembali sirkulasi udara di tubuhnya, menenangkan kembali pikiran serta jiwanya.

Dendam pada para siluman mulai surut seiring pikirannya yang jernih kembali. Satu hal yang dirinya yakini, kesalahan terbesar bukan pada perbuatan koloni siluman, melainkan pada dirinya sendiri yang terlampau percaya diri, sampai akhirnya nasib memupuskan harapan manis dan memberikan kematian.

Kendatipun tak dapat dielakan beban moral serta mental yang terguncang menimpa Nerta, hidup mesti berlanjut dan tak layak membuka waktu demi ratapan.

Di bawah sinar rembulan purnama, Nerta yang telah memupuk mentalnya yang sempat rapuh, mulai berteleportasi bersama Inky menuju saksi berikutnya.

Walikota Yuyu, sang ibu yang begitu protektif pada putrinya, rasanya sudah tak mungkin sudi turut berpartisipasi menjadi saksi. Sehingga mesti ditinggalkan.

* * *

Dan inilah provinsi Selatan, tepatnya di kota Kurmi. Kota terpadat sekaligus teraneh. Kata 'aneh' merujuk pada penghuni kota Kurmi yang didominasi jin hasil kawin silang. Secara spesifiknya ialah; satu-satunya kota yang mendapat izin untuk dihuni oleh ras Siluman, namun tentu dinaungi hukum yang begitu ketat.

2000 tahun sudah kota Kurmi berdiri dalam siklus hidup bersama makhluk hasil kawin silang. Kotanya bersih, hanya saja setiap rumah berdempetan bagai enggan berjauhan karena takut kesepian. Semuanya terbentuk dari emas dan mutiara.

Warganya ramah seolah sudah familier sebelumnya. Kehidupan terbilang normal, tanpa embel-embel. Walau tak seramah di kota Arbez ras Peri, setidaknya di sini tak ada yang menghambat pergerakan Nerta hanya karena ingin berjabat tangan.

Hari sudah pagi, Nerta serta Inky terus mengudara menuju koordinat Walikota Seleh. Tatkala mereka tiba di depan kediaman saksi, mereka disambut penuh curiga oleh dua ajudan pria bertubuh kekar.

“Maaf, kami mau bertemu Walikota Seleh.” Nerta secara blak-blakan mengungkapkan maksud kedatangannya. “Kami hendak mengajak Walikota Seleh guna menjadi saksi kebenaran perang dunia ke delapan belas ini.”

Mulanya dua pria berparas kaku dan bertubuh kekar itu membisu, memindai Nerta serta Inky lekat-lekat. Sampai tak terkira, suara seorang kakek tua dengan nada yang antusias menginterupsi, “AHH ... masuklah anak muda dan nona muda ....”

Syukurnya Nerta serta Inky diperkenankan masuk ke dalam rumah yang sekaligus berbincang langsung bersama sang saksi.

Walikota Seleh sudah mengerti siapa yang ditemuinya. Dikarenakan baginya, intelijen negara tak mungkin bicara secara gamblang mengenai tujuan presensinya, biasanya para mata-mata negara akan langsung menyergap dengan berpura-pura menjadi sosok yang baik.

______________________________________________________________________

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup dengan hanya memberikan Like/Vote poin/koin.

(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)

1
Kinia
semangat ya (:
setiyowati b
lg mau baca nih thor... moga asyik
Harman LokeST
njuuuuuuuuuut author
Fahrur Rozi
seperti filem sinetron ajh
🍾⃝ʙͩaᷞiͧ ǫᷠiͣɴƓǫɪɴƓ 💞🇵🇸
baru mulai baca..semgat ka
arfan
up
zien
hadir 🌹🌹❤❤
zien
hadir 🌹🌹
zien
hadir 💗💗
zien
Hadir ❤❤
zien
Hadir 💗💗
zien
hadir ❤❤
Si Autor (IG: Anterta.): 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
zien
hadir 🌹🌹
zien
hadir 💗💗
Gyatsa Dzaky
bahasanu tinggi nian
Dave19
👍
Botha Hantu
ikut
zien
Semoga sukses selalu💗💗🌹🌹
zien
Hadir 💐💐
zien
hadir💗💗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!