TAMAT
Visual Epis 69
Tania adalah gadis yang lugu dan polos, dia anak yatim piatu yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya akibat kecelakan mobil yang mengharuskan dia tinggal di rumah pamannya.
Tania bertemu dengan bos mafia serigala putih yang bernama Denis yang berhati dingin dan cuek
Setelah pertemuanya dengan Denis hidup Tania dalam semalam berubah total.
Pertemuan Tania dan Denis adalah awal hubungan yang dijalani tanpa cinta. Tanpa Denis sadari dia mulai mempunyai perasaan pada Tania sejak pertama kali bertemu.
Perjalanan hidup Tania yang berat dengan penuh rintangan hidup dimulai dengan perjuangan cinta mereka.
Dengan rahasia besar yang tersimpan antara Denis dan Tania, membuat hubungan mereka semakin sulit untuk bersatu. Dengan rahasia yang terbokar membuat kebencian muncul dalam diri mereka berdua.
Apakah Tania dan Denis bisa hidup bersama sama melewati kehidupan Mafia yang kejam, yang selalu berhadapan dengan kematian !!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Fitriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Epis 32 Operasi
Matahari yang mulai terbenam menunjukkan sore hari telah usai, Tania yang duduk menangis, tidak henti-hentinya dia meminta Denis untuk membuka matanya.
"Ayo buka matamu, jangan buat aku takut," ucap Tania sambil menangis.
"Aku tau kau pria yang kuat, kau harus bertahan." Ucap Tania.
"Kita akan ke rumah sakit." Ucap Tania memeluk Denis yang tidak sadarkan diri.
Dari arah jalan salah satu anak buah Denis berlari menuju ke puncak sambil membawa kontak peralatan Dokter yang diminta Arya. Dia selalu membawa peralatan dokter miliknya di mobil saat dia pergi ke tempat di mana Denis akan melakukan pertemuan atau penyerangan terhadap musuh-musuhnya, untuk mengantisipasi jika Denis terluka parah.
Setelah anak buah itu membawakan tas miliknya, Arya langsung bergegas meletakkan tasnya di tanah sambil membuka peralatan operasinya, yang dibantu dengan anak buahnya
"Ayo kita bawa dia ke rumah sakit, dia sudah tidak sadarkan diri." Ucap Tani sambil menangis menarik tangan Arya.
"Kita tidak bisa membawanya dengan kondisi seperti ini, kalau kita terlambat sampai di rumah sakit akan berakibat fatal untuk Kakakku." Ucap Arya dengan raut wajah serius
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" ucap Tania menangis.
"Kau tenang, aku harus mengeluarkan peluru itu sebelum dia menembus ke jantungnya, setelah itu baru kita membawanya ke rumah sakit." Ucap Arya sambil memakai sarung tangan operasi dengan wajah yang serius.
"Bagaimana aku bisa tenang sekarang, dia tidak sadarkan diri." Ucap Tani sambil menangis menatap wajah Denis.
"Kau harus tenang agar aku bisa fokus mengeluarkan peluru itu, jika kau terus menangis seperti ini. Kakakku bisa kehilangan nyawanya," ucap Arya.
Mendengar ucapan Arya, Tania sontak berhenti menangis di hadapan Denis.
"Lalu apa yang harus aku lakukan, agar aku bisa membantumu?" ucap Tania, sambil mengusap air matanya.
"Kau tetaplah seperti itu, aku butuh kau menopang kepalanya dipangkuanmu." Ucap Arya.
Arya memulai operasinya ditengah sore yang menjelang malam dengan bantuan cahaya mobil dan senter hp yang menyinari tempat itu, karena Denis yang mulai kehabisan darah Arya membutuhkan donor darah untuk Kakaknya. Dia menyuruh anak buahnya yang berada di rumah Denis, untuk mengambilkan kantong darah persediaan yang berada di rumah Denis.
"Cepat kau hubungi Moris suruh orang untuk membawakan kantong darah golongan AB negatif yang tersedia di lemari es" ucap Arya ke anak buahnya yang berdiri menjaga tempat itu.
Mendengar ucapan Arya, Tania yang punya golongan darah yang sama dengan Denis. Dia menyarankan diri untuk menjadi penyumbang darah selama proses operasi berlangsung.
"Aku punya golongan darah AB negatif yang sama dengannya, biarkan aku membantu memberikan darahku, kalau kita menunggu mereka membawakannya pasti itu membutuhkan waktu yang lama. Sebaiknya kau ambil saja dulu darahku, sambil menunggu mereka membawakannya." Ucap Tania dengan raut wajah yang serius.
"Baiklah aku tidak bisa menunggu terlalu lama melihat kondisi Kakakku yang semakin memburuk." ucap Arya sambil membuka baju Denis.
Arya pun langsung memasang selang infus ke tangan Denis, setelah selang infusnya terpasang, dia lanjut melakukan transfusi darah, dengan menggunakan alat yang seadannya, setelah transfusi darah Tania berhasil disalurkan ke tubuh Denis. Arya memulai operasinya dengan bantuan lampu mobil dan senter.
Selama proses operasi berlangsung anak buah Denis berkumpul mengelilingi tempat itu dengan perlengkapan senjata yang lengkap di tubuh anak buahnya, untuk melindungi mereka dari serangan musuh yang tidak terduga.
Waktu sudah mulai malam tampak cahaya rembulan menyinari langit, Tania duduk bersadar di batu dengan selang transfusi darah yang menempel di tangan kanannya, menunggu proses operasi selesai. Arya mengiris dada Denis menggunakan pisau bedahnya tanpa menyuntikkan obat keram terlebih dahulu. Dengan berhati-hati Arya mengeluarkan pelurunya, dengan cara menjepit peluruh yang menancap di dada Denis, satu demi satu peluruh yang tertancap di dadanya berhasil dikeluarkan.
Setelah proses operasi yang memakan banyak waktu, akhirnya Denis bisa diselamatkan, kondisinya sudah melewati masa kritis. Sebelum mereka membawa ke rumah sakit Arya menghentikan pendarahannya terlebih dahulu.
Arya dan Tania membawa Denis masuk ke dalam mobil, yang di mana Tania duduk dibelakang bersama Denis yang terbaring di bawah pangkuannya, Tania berlumuran darah operasi, duduk dengan lemas memegang kepala Denis.
"Kau harus kuat, kita akan segera ke rumah sakit." Ucap Tania sambil mengelus kepala Denis dengan tangan yang berlumuran darah.
Arya dan Tania bergegas langsung ke rumah sakit, dengan kecepatan tinggi Arya membawa mobilnya.
Sepanjang perjalanan Tania terus meneteskan air matanya, melihat Denis yang tidak sadarkan diri di bawah pangkuannya.
Tidak butuh waktu yang lama mereka sampai ke rumah sakit, Arya berlari masuk ke dalam rumah sakit. Dia keluar bersama suster yang membawa tempat tidur untuk membawa tubuh Denis.
Mereka langsung mengeluarkan Denis dari mobil dan bergegas dibawanya ke ruang ICU, Tania yang berada di samping tempat tidur Denis, dia terus menggenggam tangan Denis selama perjalanan ke ruangan ICU.
Melihat Denis yang terluka, hati Tania merasa hancur dan sedih melihat kondisinya yang seperti itu.
Sesampainya mereka di ruangan ICU, saat Denis di bawah masuk Tania tidak ingin melepaskan genggaman tangan Denis. Tetapi Tania tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan, mereka hanya bisa menunggu di depan ruangan ICU.
Di sisi lain yang Aleta yang melarikan diri dari tempat itu, masuk ke dalam hutan di pegunungan.
Gelap gulita menyelimuti hutan di pegunungan dengan suara hewan yang berkicau di dalam hutan, Aleta terus berjalan masuk ke dalam hutan dengan ketakutan melihat sekelilingnya hanya ada pohon yang lebat, dia bingung di mana sekarang keberadannya. Selama dia berjalan dia tidak menemukan jalan atau pun rumah di sekitar sana.
"Bagaimana aku bisa keluar dari hutan ini, hari semakin gelap." Ucap Aleta dengan raut wajah yang ketakutan.
Aleta terus berjalan masuk ke dalam hutan, saat langkah kakinya yang ke dua. Dia sengaja menginjak lobang perangkap yang menyebabkan dia terjatuh ke dalam lobang yang besar itu.
Aleta berteriak minta tolong tapi tidak seorangpun mendengarkan suaranya, yang terdengar hanyalah suara kicauan hewan yang ada di dalam hutan.
Tania yang sudah kelelahan dengan kakinya yang terluka akibat dia terjatuh membuat dia pingsan didalam lobang itu.
Di sisi lain Tania yang menunggu Denis di depan ruang ICU cemas menunggu kabar Dokter yang sedang memeriksa kondisi Denis di dalam ruang ICU, Tania yang kehabisan tenaga dan darah yang cukup banyak saat dia menyumbangkan darahnya ke Denis, membuat Tania pusing dan akhirnya Tania terjatuh tergeletak di lantai. Arya berada bersamanya sontak langsung mengangkat Tania membawanya keruangan lainnya untuk di tangani oleh Dokter.
Bersambung
Jangan lupa like dan komentar yah biar author semangat up nya 😉
Jangan lupa vote juga yah, 1 poin bagi author sangat berarti😊
membingungkan.
dah aku manut aja dngan alur ceritamu
bukan Denis ya kak....
patah jadi dua.
Denis, sini tak peluk aja
serasa nyata kita ikut bermain dlm adegan action.
moga anak buah Denis, biar bisa membuka sedikit tabir cerita masa lalu, to jangan back lg lho kak