Edi Sudrajat takpercaya ketika, Erico Atmaja melamar putrinya menjadi istrinya
Syakila gadis 20 tahun yang memilih mengabdikan ilmunya di pesantren, dengan yakin menerima lamaran lelaki 31 tahun menjadi pendamping hidupnya.
Lelaki yang di kenal dingin dan kaku itu, ternyata begitu lemah lembut memperlakukan kila sebagai istrinya, tentu saja itu membawa kebahagiaan pada rumah tangga mereka.
Di depan Kila Rico adalah sosok lemah lembut penuh cinta, sifat itu berbanding terbalik saat dengan anak buahnya dia terkenal dingin dan tanpa ampun, tapi itu dulu..
Mengenal Kila membuat perubahan pada Rico,sedikit demi sedikit, isteri yang penuh kelembutan itu berhasil melunakkan kekerasan hatinya.
Konflik mulai datang, ketika orang di masa lalu Erico mulai muncul satu persatu, membongkar perbuatan sadisnya di masa lalu, hal itu memaksa Erico melakukan banyak pengorbanan, bahkan dia nyaris kehilangan orang yang begitu berharga di dalam hidupnya.
Hal itu malah merubah jalan hidupnya seratus delapan puluh derajat.
Silahkan menikmati kelanjutannya happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32
Kila berbaring di ruang pemeriksaan di sampingnya duduk Rico menemani. Kila melakukan pemeriksaan USG, oleh Dokter Vira, Dokter sepesialis kandungan, tak terasa usia kehamilan Kila sudah memasuki enam belas minggu.
"Ibu Kila, usia janin ibu sudah enam belas minggu ya" ujar dokter Vira yang memeriksa Kila saat ini.
"Mungkin dok" ujar Kila tak yakin, sebab dia tidak tau persis usia kehamilannya. Rico dan dokter Vira menatapnya bersamaan, jawaban Kila membuat mereka heran.
"Seharusnya setiap bulan ibu cek kandungan, tapi menurut catatan saya, ini kali kedua ibu cek kandungan ya" ujar dokter Vira seraya menatap Kila.
"Iya Dok, apa ada masalah dengan kandungan saya Dok" Kila terlihat Khawatir.
"Tidak ada masalah sama sekali, bahkan janin di rahim ibu sudah mulai membuat gerakan, seharusnya ibu sudah bisa merasakan gerakannya sesekali" jelas Dokter Vira.
"Iya dok, sesekali saya merasakan gerakannya," ujar Kila membenarkan. Rico yang berada di sebelahnya menatap Kila dengan tatapan bingung, bayinya sudah mampu mengerakkan tubuhnya, tapi dia bahkan tak tau itu, dan Kila juga tak memberitahu.
"Baiklah mari kita lihat si mungil, apa yang dia lakukan di dalam sana" ujar Dokter Vira, seraya mengerakkan alat yang ada ditangannya, di atas perut Kila yang terlihat membuncit.
"Karena sudah 16 minggu perkembangan janin di dalam rahim sudah mulai membentuk ekspresi wajah," jelas Dokter Vira.
"Lihatlah wajahnya sudah mulai terlihat bukan" ujar Dokter Vira, saat monitor menampilkan gambaran janin yang sudah mulai terlihat bentuknya.
"Berat janin ibu kira-kira mencapai 2 setengah ons, dan sesekali ibu sudah mulai merasakan gerakan janinnya bukan.ukuran janin ibu diperkirakan sudah sebesar buah alpukat dengan panjang badan dari kepala sampai kaki sekitar 12 sentimeter. aduh gemes ya liatnya" ujar Dokter Vira, seraya menatap Kila dengan senyum.
Karena menjalani pemeriksaan USG 4D, maka mereka bisa melihat wajah Si Kecil yang sudah ditumbuhi oleh alis dan bulu mata. Otot-otot di punggung dan wajahnya juga semakin terlihat jelas. mereka sangat beruntung menemukan Si Kecil sekarang sudah bisa menahan kepalanya dengan lurus sambil membuat beberapa ekspresi di wajahnya, seperti mengernyitkan dahi, menyipitkan mata atau cemberut. kini detak jantung bayi juga sekarang bisa terdengar melalui alat yang disebut doppler. Tidak hanya itu, kelopak mata Si Kecil pun kini sudah bisa mendeteksi cahaya yang ada di luar perut ibu.
Kejadian itu sungguh membuat pasangan suami istri ini merasa takjub. Kila sampai meneteskan air mata haru menyaksikan keajaiban itu.
Terlebih lagi Rico, dia tak mampu berkata-kata, dia hanya menggengam jemari istrinya erat, menatap wajah Kila lekat-lekat, wajah ibu dari anaknya.
"Jangan lupa bulan besok datang lagi ya bu" ujar Dokter vira mengingatkan Kila saat mereka selesai melakukan pemeriksaan.
Rico menggengam jemari Kila saat keluar dari ruang priksa, aura bahagia terpancar di wajah mereka, gambaran wajah si kecil yang belum sempurna itu mampu membuat mereka merasa begitu takjub luar biasa.
Rico membawa Kila langsung pulang kerumah, ada yang ingin Rico bicarakan, yang mengganjal di benanya dan ingin dia utarakan dengan Kila segera.
"Mas abis ini langsung kekantor?," tanya Kila, saat sudah berada di mobil.
"Gak sayang," jawab Rico.
"Lho, bukannya mas lagi padat jadwal" ujar Kila menatap Rico heran.
Rico menghela nafas panjang, Kila benar, dia sedang padat-padatnya jadwal hari ini, bukan hari ini, tepatnya beberapa bulan ini, pergi pagi, pulangnya sudah larut malam, bahkan beberapa kali membuat istrinya meradang saat tak sempat memberi kabar.
Mengingat itu membuat nafasnya terasa sesak, dia baru menyadari, dia benar-benar tak punya waktu untuk Kila, dia bahkan tak tau kalau anaknya sudah mampu mengerakkan tubuhnya dirahim ibunya.
"Mas kok malah diem" sungut Kila karena ucapannya tak di tanggapi oleh Rico.
"Hari ini aku ingin di rumah saja sayang" ujar Rico tersenyum hambar.
Kila hanya diam menanggapi sikap Rico, dia berpikir apa dia salah bicara hingga membuat suaminya bertingkah begitu.
Sesampainya di rumah, Rico terlihat sibuk menelpon sekertarisnya agar mengatur ulang jadwalnya.
"Mas, kalau memang sesibuk itu kenapa tidak kekantor saja" ujar Kila, dia merasa tak enak takut kalau-kalau dia salah bicara membuat Rico terpaksa berada di rumah menemaninya.
Rico diam, hanya tatapan tajamnya yang tengah menatapnya entah dengan perasaan apa.
"Kemarilah" ujarnya pelan, seraya menepuk sofa di sampingnya, Kila beringsut memenuhi keinginan.
Rico menatap intens wajah Kila, memperhatikan setiap lekuk di wajahnya, bibir mungilnya, hidung mancungnya, alis tebalnya, seakan mereka baru saja bertemu setelah sekian lama berpisah.
"Ada apa mas," Tanya Kila, khawatir.
"Kau benar sayang, aku terlalu sibuk di luar sana, sampai-sampai aku tidak tau, anakku sudah pandai bergerak di rahim ibunya" ujarnya di sertai tawa kecil.
"Tidak apa mas, aku maklum, hanya kadang perasaan ingin perhatian dari mas sesekali datang"
"Tadinya aku ingin tanya, kenapa tidak cerita bayi kita sudah sepintar itu, tapi, jawabannya sudah tentu karena kesibukanku iya kan sayang" ucap Rico seperti mengeluh pada dirinya sendiri.
"Mas, apa aku salah bicara, sampai mas berpikir sedalam ini, aku sudah bilang aku maklum dengan kesibukan mas, kalau sesekali aku merengek minta perhatian, itu mungkin bawaan hamil" tutur Kila.
"Gak sayang, masalahnya bukan di sayang, hanya aku tidak ingin kehilangan momen-momen seperti ini," ujarnya seraya merengkuh tubuh kila ke dalam pelukannya.
"Bener, bukan karena renge'anku kan mas" ujar Kila masih tak yakin.
"Tentu sayang, aku tidak ingin apa yang ku alami, di alami oleh buah hati kita sayang" ujarnya lirih.
Pernyataan yang membuat tanda tanya di benak Kila, tapi dia memilih diam, tak ingin menambah pikiran suaminya, dia menunggu suaminya yang mengutarakan unek-uneknya tanpa dia bertanya.
"Sejak kapan dia aktif bergerak sayang" tanya Rico, seraya membelai lembut perut buncit Kila.
"Baru dua minggu ini mas" sahut Kila.
"Sudah dua minggu aku bahkan tidak tau" keluh Rico dengan raut sedih.
"Maaf mas, aku tidak cerita ke mas" ujar Kila merasa bersalah.
"Jangan merasa bersalah sayang, sayang bahkan tak punya banyak kesempatan untuk bicara" sergah Rico.
"Sudahlah jangan terlalu di pikirkan, ini momen bahagia gak boleh sedih" ujar Kila membelai wajah Rico dengan lembut.
"Kau benar sayang" ujar Rico, membalas sentuhan Kila dengan mengecup lembut kening istrinya.
"Oh ya mas, tunggu di sini aku punya sesuatu buat mas" ujar Kila, seraya beranjak bangkit, berjalan kearah nakas, mengambil beberapa buku di sana , kemudian kembali duduk disamping Rico.
"Ini, bacalah di waktu luang mas, eh bukan, sempatkanlah membacanya ku mohon" pinta Kila dengan mimik serius.
Rico menerimanya kemudian mulai melihatnya satu persatu.
"Bentuk pertanggung jawaban suami terhadap istri dan anakanaknya" Rico membacanya dengan kening berkerut sempurna, kemudian menatap Kila.
"Menurutmu aku belum menjadi suami bertanggung jawab sayang" entah kalimat tanya atau protes, yang di ajukan Rico.
"Itu bukan tentang dunia mas, aku tau kalau masalah dunia mas lah pakarnya" ujar Kila dengan senyum penuh kelembutan.
"Lalu" ujar Rico penasaran.
"Itu masalah akhirat, tepatnya tanggung jawab mas di akhirat kelak, bacalah dan pelajari, aku yakin mas bukan orang yang sulit memahami sesuatu" ujar Kila penuh penekanan.
"Kau begitu ingin aku berubah sayang" ujar Rico menatap dalam pada manik mata Kila.
"Tak ada yang harus mas rubah, hanya mas perlu mengurangi kegiatan dunia dan menggantinya dengan kegiatan akhirat, sedikit saja luangkan waktu, contohnya membaca buku-buku yang aku belikan buat mas, luangkan sepuluh atau lima belas menit untuk membaca, itu sudah lebih dari cukup" ujar kila berbau bujukan.
"Baikla, baiklah, akan aku baca nanti, kau bisa senang sekarang sayang" ujar Rico akhirnya mengalah. Kila mengangguk setuju, senyum mengembang sempurna di bibir merahnya.
"Hhmm lihatlah wajah mu sayang, aku begitu menyukainya saat kau terlihat begitu bahagia" ujar Rico mendekap tubuh Kila erat.
"Mas akan melihat wajah bahagia istrimu ini setiap hari, kalau mas sudah mulai melaksanakan yang lima waktu" tutur Kila Setengah berbisik. Rico menanggapi ucapan Kila dengan senyum.
"Iya baiklah, aku akan mencobanya" jawab Rico.
"Terdengar seperti uji nyali, pakai coba-coba" protes Kila.
"Sudah jangan cerewet" seru Rico, mendekap mulut Kila dengan tangannya, sontak membuat tawa Kila pecah oleh ulah suaminya.
.
.
Happy reading.
Tingalin dukungannya ya sayang🙏🙏🥰
apa kurang gelap ya malam hari 🤣🤣🤣