Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.
Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.
Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.
Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11 Mode Modus Sae
Ren tetap memasang wajah datar, meskipun telinganya tadi sempat ketahuan berkhianat. Anjani sendiri akhirnya duduk di sofa dekat jendela butik. Tubuhnya sudah terasa lebih hangat sekarang. Sedikit lebih selayaknya manusia.
Namun itu hanya sesaat karena setelah keheningan itu datang, kenyataan kembali mengetuk. Ia tidak punya tujuan, tidak punya tempat pulang. Dan entah harus melangkah ke mana setelah ini.
Sae yang duduk di sampingnya tiba-tiba mengangkat kepala. "Tante."
"Hm?"
"Tante tinggal di mana? Biar aku antar."
Deg.
Hanya pertanyaan normal, tapi langsung membuat senyum Anjani sedikit membeku. Maria yang tadi tertawa juga langsung diam. Sementara Ren yang berdiri tak jauh dari sana perlahan mengangkat pandangan.
Anjani menunduk kecil. Jarinya saling bertaut. "Aku..." Kalimatnya menggantung. Ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
Rumah orang tuanya memang masih ada. Namun letaknya sangat jauh. Berjam-jam perjalanan dari sini. Dan rumah itu sudah lama kosong sejak kedua orang tuanya meninggal. Pulang ke sana sekarang, rasanya seperti membuka kembali luka yang belum tentu mampu ia hadapi.
Sementara menyewa tempat tinggal, ia bahkan belum memiliki ponsel dan uang pegangan. Wanita itu termenung dalam sunyi.
Dan dalam beberapa detik itu, Ren langsung menangkap sesuatu. Raut kebingungan dan keraguan di wajah Anjani.
Ren membuka mulut, berniat mengatakan sesuatu. Apa pun, seperti bantuan, saran, atau setidaknya solusi sementara.
Namun seperti biasa Sae lebih cepat. "Tinggal sama aku aja."
Semua langsung menoleh.
Anjani mengerjap. "Hah?"
Sae terlihat sangat serius. "Rumahku besar."
"Sae..."
"Ada banyak kamar kosong."
"Sae."
"Banyak banget."
Anak itu mulai menghitung dengan jari kecilnya. "Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima, lalu aku lupa."
Maria mengulum bibir, menahan tawa. Sedangkan Ren memijat pelipis. Tanda-tanda migrain ayah tunggal mulai muncul.
Tapi Sae tetap melanjutkan. "Daripada ditempati hantu."
Anjani spontan menutup mulut. Sementara Maria menunduk, bahunya bergetar hebat. Jelas tawanya yang sedari tadi tahan hampir lolos.
Ren akhirnya bicara. "Dari mana kamu tahu ada hantu?"
"Aku tidak tahu."
"Kalau begitu kenapa bilang ada?"
"Karena kamar kosong terlalu banyak."
"Itu bukan bukti."
"Tapi mencurigakan."
Nah, 'kan. Mereka mulai lagi. Ditambah logika anak itu benar-benar ajaib. Namun Sae belum selesai. Ia malah menoleh lagi pada Anjani dengan ekspresi lebih serius.
Sae kembali menoleh pada Anjani. Ekspresinya sangat fokus, tulus, dan sedikit mencurigakan.
"Tante bisa tinggal di lantai dua."
"Hm?"
"Kamar sebelah kamarku kosong."
Ren langsung menyela. "Kok spesifik sekali? Ada kamar lain di lantai satu."
Sae diam beberapa detik, lalu menjawab jujur. "Biar dekat."
"Phff. Astaga..."
Sae menoleh bingung. "Apa yang lucu?"
"Kamu."
"Aku sedang membantu."
"Kamu sedang modus."
"Aku enam tahun."
"Justru itu yang lucu! Bocil kang modus."
Anjani sampai menggeleng lucu. Sementara Ren menghela napas panjang sekali. Seperti lelaki yang sedang mempertanyakan semua keputusan hidup yang membawanya menjadi ayah anak ini.
Sae belum menyerah. Ia kembali menatap Anjani. "Tante suka bunga?"
"Suka."
"Di rumah ada taman."
"Tante suka ikan?"
"Ya..."
"Ada kolam ikan."
"Tante suka baca?"
"Hm."
"Perpustakaan juga ada."
Ren langsung menoleh. "Kamu sedang jual rumah?"
"Aku sedang presentasi."
"Kamu tidak diminta presentasi."
"Aku proaktif."
Lucu sekali. Dan yang lebih lucu lagi Sae terlihat tidak bercanda dan main-main. Ia sungguh sedang berusaha merekrut Anjani masuk ke kehidupannya dengan cara yang menurutnya logis.
Sementara Ren sudah bisa melihat semuanya dengan jelas. Anak itu tidak peduli kamar kosong. Tidak peduli taman, atau pun kolam ikan. Anak itu hanya tidak ingin kehilangan Anjani lagi. Sama seperti semalam saat pesan stikernya tidak dibaca.
"Tante." Sae kembali memanggil. "Kalau tinggal sama aku, aku bisa memastikan Tante nggak nangis lagi."
Deg.
Anjani sulit berkata. Sikap Sae terasa begitu hangat. Hangat yang tidak pernah ia sangka akan datang dari anak kecil yang baru dikenalnya semalam.
"Tante bisa tinggal sama aku. Aku sering kesepian."
Ucapan Sae langsung membuat suara di butik sedikit mereda, karena berbeda dari sebelumnya. Yang ini terdengar sangat tulus.
Sae menunduk sebentar, lalu melanjutkan pelan. "Kalau Tante takut tidur sendiri..."
Anjani mulai punya firasat buruk.
"Tante bisa tidur sama aku."
Maria langsung tersedak. Ren menutup mata.
Sementara Anjani membelalak. "Hah?!"
Sae mengernyit bingung. "Apa?"
"Apa maksudnya tidur sama kamu?" tanya Anjani.
"Ya tidur. Tidur itu aktivitas yang normal," jawab Sae terlampau polos.
Ren akhirnya membuka mata. Tatapan tajamnya sekarang sudah cukup untuk membuat karyawan magang menghilang dari bumi.
Namun Sae tidak peduli. "Aku sering sendiri."
"Lalu?"
"Tante juga sendiri."
"Lalu?"
"Kita bisa saling mengisi."
Maria sudah tidak sanggup lagi. Tawanya pecah ke udara. Benar-benar pecah hingga menggema. Sampai harus berpegangan pada meja kasir.
Sementara Anjani sudah merah padam menahan malu dan tawa sekaligus.
Sae masih melanjutkan presentasinya. "Bahkan sebenarnya Papa juga kesepian."
Ren langsung menoleh perlahan, menghunus tatapan mematikan. Namun Sae tetap bernyali besar. Sama sekali tidak takut.
"Tapi jangan dekat-dekat sama Papa. Dia membosankan."
Suasana seketika sunyi. Lalu--
BRAK!
Maria kembali tertawa keras sampai hampir jatuh dari kursi. Anjani sampai harus memegang perut.
Sementara Ren terlihat sedang mempertimbangkan apakah anak kandung bisa dikembalikan ke pabrik.
"Sae." Suara Ren terdengar geram.
"Hm?"
"Tolong diam."
"Aku sedang membantu."
"Kamu sedang mempermalukanku."
"Aku jujur."
"Diam."
"Baik." Sae diam, tapi hanya dua detik, lalu kembali nyeletuk. "Tapi aku benar."
"Sae."
"Oke."
Anak itu akhirnya diam, meski wajahnya jelas tidak merasa bersalah sedikit pun.
Maria masih terkekeh sambil mengusap sudut matanya yang basah, kemudian menoleh pada Anjani.
"Nja."
"Hm?"
"Kalau mau, kamu tinggal sama aku aja." Nada suara Maria kali ini melembut.
Anjani menoleh.
Maria tersenyum. "Aku tinggal sendiri. Apartemenku cukup besar. Ada kamar tamu. Aku juga sering pulang malam, jadi nggak bakal ganggu."
Senyum di wajah Anjani perlahan melembut. Hatinya menghangat karena ada orang-orang yang benar-benar memikirkan dirinya tanpa syarat, tanpa pamrih, dan tanpa menghitung untung rugi.
Akan tetapi setelah beberapa detik Anjani menggeleng pelan. "Makasih."
Maria langsung tahu arah pembicaraan ini.
Anjani tersenyum kecil. "Tapi nggak usah."
"Nja--"
"Nggak apa-apa." Suaranya lembut, tenang, tapi tegas. "Aku baik-baik saja."
Maria jelas tidak percaya. Begitu juga Ren dan Sae. Bahkan mungkin semua karyawan butik pun tidak percaya.
Anjani masih tersenyum. "Di kota sebesar ini..." Tatapannya bergeser ke luar jendela butik. Kota besar itu masih sama. Masih ramai, sibuk, dan penuh orang yang berjuang dengan hidupnya masing-masing. "Pasti ada kontrakan yang bisa disewa. Aku pasti menemukan tempat tinggal."
"Nja..." Maria mulai khawatir.
Tapi Anjani menggeleng lagi. Kali ini lebih mantap. "Aku nggak mau dikasihani."
Kalimat Anjani sederhana, tapi begitu kuat. Itulah Anjani. Perempuan yang baru saja kehilangan rumah, keluarga, dan hidup yang dibangunnya bertahun-tahun, tapi masih berusaha berdiri dengan kedua kakinya sendiri, meski gemetar, terluka, dan nyaris tidak punya apa-apa.
Dan entah kenapa, saat melihat senyum tenang itu, Ren merasa ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Untuk pertama kalinya ia melihat seseorang yang begitu hancur, namun tetap menolak mengemis belas kasihan. Bukan karena sombong, melainkan karena harga dirinya sudah terlalu banyak diinjak hari ini. Dan sekarang, ia sedang berusaha memungut sisa-sisanya kembali.
Bersambung~~