Azalae Djadmika, gadis 22 tahun. Dia berpikir telah menikah dengan seorang pria lajang berstatus duda. Ternyata tidak. Syafira Bella, isteri Zayn Putra Maliq yang di beritakan telah meninggal Dunia satu tahun yang lalu. Tiba-tiba kembali dan mengambil semua cinta yang singgah pada Lea.
Apalagi Zayn merasakan cintanya pada Bella tidak pernah memudar seiring waktu hilangnya isterinya. Kehadiran istrinya kembali, membuat Zayn kembali seperti pria muda yang sedang kasmaran dan jatuh cinta sekali lagi pada Bella.
Oleh karena itu, sikap Zayn mulai berubah, dia mulai mengabaikan kehadiran Lea. Apalagi bisikan Bella menuntut agar Zayn segera menceraikan Lea.
***
Karya ini menggunakan nama tokoh yang di usulkan oleh teman baikku, Lele. Alur cerita dan pokok pikirannya pun di sumbangkan oleh temanku yang comel itu.
Selamat membaca 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TSO-30
Lea memejamkan matanya berkali-kali. Namun, tetap saja setiap ujung matanya terasa berkedut keras dan dalam bola mengisi air yang terkadang tumpah sendiri.
"Kenapa kau belum pulang, Zayn?" khawatir Lea menatap ponselnya. Dia gelisah sepanjang hari, dari matahari berganti bulan hanya ingin menanyakan, Siapa sang ayah dari janin yang berkembang dalam rahim Bella.
Lea menggengam ponsel, menatap angka pada layar ponsel. Pukul 23.00 Wib. Lea menjulingkan matanya, seakan hari ini adalah hari pertama Zayn terlambat pulang kerja. Sedari tadi, dia telah menahan diri untuk tidak menghubungi pria itu lebih dahulu. Tetapi Bulan telah berada tinggi di tengah cakrawala, suara jangkrik pun terdengar berisik membelah kesunyian malam.
Zayn, kau dimana? Mengapa terlambat pulang bekerja. Lea mengirim pesan segera.
Beep! Tidak menunggu lama, terdengar pemberitahuan pesan masuk.
Aku sedang bekerja di ruang kerja. Aku telah kembali dari pukul 7 malam. Beristirahatlah.
Lea membaca perlahan. Selesai membacanya, dia membaca untuk kedua dan ketiga kalinya pesan tersebut dalam hatinya. Deg! hatinya tetap di tuntut rasa gelisah dan teka-teki kehamilamilan Bella, membuat dirinya ingin jatuh limbung ke lantai segera. Walau suaminya telah memberi kabar, jika dia sedang bekerja. Tetapi bukankah kamar Bella dan ruang kerja berada di lantai yang sama.
Dup! dup! dup! degup jantung Lea menggebu-gebu seakan ingin mendobrak lapisan daging dan kulitnya. Berdebar-debar sangat gelisah. Dia memantapkan langkah, dengan sepasang mata yang menampung banyak air mata. Dengan langkah yang ragu-ragu, dia keluar dari kamar yang merupakan persembunyian dukanya. Berjalan dengan luka yang menoreh trauma melihat tangga melingkar yang menjadi penghubung antar lantai.
Haruskah aku ke sana, memeriksanya sendiri, pikir Lea dengan sepasang mata yang terlihat ambigu menatap tangga yang melingkar, dan setiap telapak kakinya merasakan dinginnya ubin yang terasa membekukan niatnya.
Aku harus memeriksa, tekad Lea bangun memantapkan telapak kakinya menginjak satu anak tangga pertama. Dia berhenti disana untuk beberapa saat. Sesaat hatinya terusik bagaimana bisa banyak tikus melewati tangga? Tetapi, setelah sekian lama dari kejadian itu, dia tidak pernah bertemu satu tikus, ataupun mendengar cicitannya, tidak pernah terdengar pula.
Hal ini ... apakah aku di celakai? tanya Lea pada dirinya sendiri. Dia mulai mengurutkan kejadian dan satu demi satu adegan yang terasa sangat janggal dan tidak masuk akal. Banyak anak tikus berlari-larian di sekitar kakinya, dan dia kehilangan keseimbangan, dan dia jatuh.
Darimana tikus-tikus itu berasal? Lea merenung sesaat. Dia berjalan tanpa sadar menapaki setiap anak tangga yang mengantarnya kepada anak tangga yang pernah menggulingkannya dari atas. Tangannya bergetar berpegangan pada pagar tangga. Dup! dup! dup ! darahnya terpompa cepat, yang memacu jantungnya berdebar lebih keras. Membayangkan kecelakaan tersebut adalah satu hal yang di rencanakan. Lea bergindik takut dan dendam.
Siapa? Ka Bella kah itu? Lea hampir merosotkan tubuhnya segera ke belakang. Untung saja, tangannya masih meraup ketat pagar tangga.
Ka Bella apakah kau merencanakan hal jahat untukku? tikus itu berasal dari dirimu.
Lea bergindik ketakutan bercampur aduk rasa kecewa yang sangat dalam. Embun di matanya tumpah segera perlahan membasahi pipinya. Perlahan, kakinya menapaki lebih keras setiap anak tangga, mendorongnya untuk naik dan naik mencapai lantai atas.
Sepasang kaki Lea telah bertumpu pada lantai koridor. Sepasang matanya tertuju pada ruang kerja yang berada di lorong. Di sisi kanan ada kamar Lin-Lin dan Lie Lie. Setelah itu kamar Bella. Pintu kamar Bella, terlihat tidak merapat dengan kusen. Terlihat celah kecil di sana. Deg! jantung Lea berdegup kencang seketika, dengan rasa penasaran dan cemasnya, dia membawa sepasang tapak kakinya menginjak ubin lantai mengikis jaraknya dengan kamar tersebut.
Langkahnya senyap dan akhirnya terpaku di satu titik terminal ubin, dia menatap sepasang pria wanita yang bergaul di atas ranjang. Deg! bagai tali pegas yang telah putus dan mengejutkan Lea, dengan ujung tali yang menampar pedas wajahnya beserta hatinya. Tubuh Lea kaku bagai jasad yang telah membeku, ingin rasanya dia meminta seseorang untuk mengubur dirinya. Pengkhianatan Zayn, menoreh-noreh daging jantungnya, dan meremasnya Hinga terus berdarah-darah.
Sayup-sayup panca inderanya yang masih mampu mendengar setiap desahan yang di keluarkan oleh Bella. Jijik dan ingin meledak menangkap perselingkuhan ini. Tetapi, bukankah Bella, istri pertama yang sah di mata hukum dan Tuhan.
Ya, Tuhan ... Mengapa kau persulitkan langkahku dengan takdir menjadi wanita kedua. Aku membenci perselingkuhan ini. Tetapi, akulah yang datang terakhir. Pantaskah, aku mencemburui hubungan seperti ini.
Lea menyadarkan tubuhnya ke dinding, menyembunyikan dirinya, menajamkan telinganya, ada bisikan sayang terlontar dari mulut suaminya memuja Bella, "Sayang, kau cantik sekali bermain."
Deg! Seluruh cintanya pada Zayn, bagai daun hijau yang rontok pada musim semi. Belum saatnya menguning dan jatuh, kini harus berguguran, dan setiap batang pohon tampak gundul. Hatinya hancur bagaikan gelas kaca yang di remukkan oleh sang pemilik hati.
Mengapa aku harus jatuh cinta padamu, jika kau tidak akan pernah menetap padaku. Bagaimana kau bisa melukaiku, setelah banyak janji cinta yang kau ucapkan. Mengapa harus berjanji, jika kau tak bisa membuktikan kesetianmu. Kau melunturkan setiap warna indah yang kau berikan.
Lea menangis tanpa suara di antara lututnya yang terlipat dalam kukungan tangannya. Di antara kesedihannya, tercipta rasa malu yang menggerogoti jiwanya.
Apa yang harus aku katakan pada ibu? Apa yang harus aku lakukan sekarang? jeritnya sendiri membantin. Desahan-desahan dari dalam kamar Bella, membuat dirinya merasa kejijikan pada pria yang telah dia puja selama ini.
Aku tidak bisa berbagi, jerit Lanjut Lea membantin. Dia segera bangkit dari keterpurukannya. Dengan punggung yang seakan tertikam sebilah pisau yang menancap hingga jantungnya, Lea berjalan dengan kebingungannya. Kedua kakinya berhenti melangkah, dia menatap tangga yang melingkar ke bawah.
Tangga ini ... tikus-tikus waktu itu, apakah hasil rekayasa? Lea terjebak akan batinnya sendiri, di saat ini dirinya mulai meragukan setiap kelemahlembutan Bella di luar, dan setiap kebaikan yang di tawar wanita pertama itu padanya. Mengapa terasa sangat palsu? Lea menitikkan air matanya.
Perlahan Lea meraba perutnya. Seakan dia baru saja merasakan kehilangan janinnya. Bagai peluru yang di cabut dari jantungnya, sakitnya sangat luar biasa. Lea menitikkan air matanya lagi dan lagi.
"Apakah kematianmu hasil rekayasa, nak?" jeritnya perih menatap setiap anak tangga yang menjulur melingkar menghubungi antar lantai.
Berpegangan dengan pagar tangga, perlahan setiap kaki Lea turun menginjak satu demi satu anak tangga, "Jika itu adalah rekayasa. Betapa jahatnya dia mencelakai kehidupan kecilmu, nak."
Lea berhenti di satu anak tangga. Sepasang matanya menatap lantai dasar. Dia terlihat miris, teringat akan setiap darah yang bersimbah di atas lantai. Darahnya terlihat segar dan merah.
Kau baru segumpal darah. Namun, telah di celakai. Menyakitkan sekali. Aku tidak akan memaafkan pembunuhmu.
......................
Bersambung ....
Jadi wanita strong yah Lea. Walau dia hadir jadi wanita kedua pun, terjebak dan terjerat tanpa sengaja. Wanita pertamanya aja sadis dan licik, yah karena tokoh pertama prianya juga hatinya sudah terbagi-bagi. Hatinya terbagi, hempaskan saja yah readers 😏