NovelToon NovelToon
Istri Pengantin Untuk CEO Lumpu

Istri Pengantin Untuk CEO Lumpu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Belajar Melangkah Bersama Arka

Hari itu terasa begitu istimewa. Argan memutuskan untuk mengajak Arka berjalan-jalan di taman kota—tempat terbuka yang luas, tempat di mana putranya bisa berlari, bermain, dan bernapas lega tanpa rasa takut atau curiga. Aruna pun ikut serta, berjalan di samping keduanya dengan senyum yang tak pernah pudar, seolah setiap langkah yang mereka ambil bersama adalah anugerah yang tak ternilai harganya.

“Ayah, lihatlah! Bunga itu warnanya sangat indah!” seru Arka sambil menunjuk hamparan bunga bermekaran di sudut taman. Anak itu berlari kecil ke arah bunga-bunga itu, lalu berhenti sejenak untuk mengamatinya dengan saksama, tak berani menyentuhnya agar tak merusak keindahannya.

Argan tersenyum melihat tingkah laku putranya. Ia berjalan mendekat, lalu berlutut perlahan di samping Arka sehingga wajah mereka sejajar. “Benar, Nak. Bunga itu tumbuh indah karena ia tumbuh dengan sabar dan tak pernah terburu-buru. Ia menerima hujan, menerima panas matahari, dan perlahan-lahan mekar menjadi seindah ini.”

Arka menoleh, menatap ayahnya dengan mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu. “Seperti Arka juga, Ayah? Arka juga harus sabar agar bisa tumbuh menjadi anak yang baik?”

“Tepat sekali,” jawab Argan sambil mengusap lembut kepala putranya. “Dan Ayah juga masih belajar tumbuh bersama Arka. Dulu Ayah kesulitan melangkah, kau tahu? Kaki Ayah sempat tidak bisa berjalan. Tapi Ayah belajar melangkah pelan-pelan, sama seperti Arka saat baru belajar berjalan dulu.”

Arka mengangguk mantap. “Ibu pernah bercerita. Katanya Ayah tidak menyerah. Dan sekarang Ayah bisa berjalan lagi. Arka bangga pada Ayah.”

Kalimat sederhana namun begitu tulus itu membuat hati Argan terasa hangat hingga ke ulu hati. Ia meraih tangan kecil Arka, menggenggamnya erat. “Terima kasih, Nak. Tapi sebenarnya Ayah bisa melangkah kembali bukan hanya karena Ayah berusaha sendiri. Ada Ibu yang selalu mendampingi, dan ada Arka yang menjadi semangat Ayah. Tanpa kalian, Ayah mungkin tidak akan pernah berdiri tegak lagi.”

Aruna yang berdiri tak jauh dari sana tersenyum haru menyaksikan keduanya. Ia melangkah mendekat, lalu merangkul bahu suaminya. “Kita semua saling belajar, Arka. Ayah mengajarimu tentang ketabahan, Ibu mengajarimu tentang kesabaran, dan kau... kau mengajari kami tentang ketulusan yang murni.”

Mereka berjalan beriringan menyusuri jalan setapak taman yang dipenuhi pepohonan rindang. Arka berjalan di tengah, tangan kanannya menggenggam tangan Argan, tangan kirinya menaut pada jemari Aruna. Langkah mereka tak sama cepatnya—Arka melangkah kecil dan cepat, sementara Argan dan Aruna melangkah lebih perlahan dan tenang. Namun mereka berusaha menyesuaikan langkah satu sama lain, agar tak ada yang tertinggal, dan tak ada yang berjalan terlalu cepat sendirian.

“Lihatlah bagaimana kita berjalan ini,” ucap Argan pelan saat mereka berjalan selaras sejenak. “Kita harus saling menyesuaikan langkah, bukan? Jika Ayah berjalan terlalu cepat, Arka akan tertinggal. Jika Arka berlari terlalu jauh, Ayah dan Ibu akan khawatir. Begitu pun dalam hidup, Nak. Kita harus selalu berjalan bersama, saling memperhatikan, dan saling menguatkan agar tak ada yang jatuh.”

Arka berhenti sejenak, lalu menatap kedua orang tuanya dengan wajah yang serius namun polos. “Jadi kalau nanti Arka sudah besar dan bisa berjalan sangat cepat, Arka harus menunggu Ayah dan Ibu, ya?”

Aruna tersenyum lembut, mencium kening putranya. “Benar, sayang. Dan jika suatu hari nanti Ayah dan Ibu sudah tua dan langkah kita menjadi lambat, Arka harus berjalan perlahan bersama kami. Itulah arti keluarga—selalu saling menjaga agar tetap bersama, apa pun yang terjadi.”

Sore itu di taman kota, di bawah naungan pohon-pohon besar yang rindang, mereka belajar sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar berjalan. Mereka belajar bahwa melangkah bersama bukanlah tentang siapa yang paling cepat atau siapa yang paling jauh. Melainkan tentang kesediaan untuk menyesuaikan diri, untuk menunggu, untuk menopang, dan untuk tetap berada di sisi satu sama lain, dalam keadaan apa pun.

Saat matahari mulai turun dan mereka berjalan pulang menuju mobil, Arka berjalan di depan sesaat, lalu berbalik dan tersenyum lebar kepada kedua orang tuanya. “Ayah, Ibu! Lihatlah, Arka bisa berjalan sendiri! Tapi Arka tetap menunggu kalian, ya!”

Argan dan Aruna saling berpandangan, lalu tersenyum bahagia. Di hadapan mereka, bukan hanya seorang anak yang sedang belajar melangkah. Di hadapan mereka, masa depan sedang tumbuh—dengan hati yang baik, dengan kasih yang tulus, dan dengan keyakinan bahwa selama berjalan bersama, tak ada rintangan yang tak dapat dilewati.

 

Lanjut ke Bab 33: Keputusan yang Sulit? 📖

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!