Langit malam menggantung pekat ketika langkah Viona tersandung di gang sempit napasnya memburu, jantungnya nyaris pecah saat suara tawa kasar para pria di belakangnya semakin dekat.
“Jangan lari, manis...kami cuma ingin bersenang-senang bersamamu...”
Air mata Viona jatuh tanpa suara hingga tiba-tiba, langkah lain memecah malam.
Satu sosok berdiri di hadapannya.
Bryan.
Tatapannya dingin, tajam, tak tersentuh. Dalam hitungan detik, teriakan berubah menjadi pekikan. Baku hantam tak terhindarkan, cepat, dan tanpa ampun.
Sunyi kembali turun saat para pria itu terkapar.
Dengan tubuh gemetar, Viona mendekat.
“Te-terima kasih...”
Namun Bryan bahkan tak menoleh lama padanya.
“Gak usah berlebihan,” ucapnya datar.
“Lekas pulang. Area ini bukan untuk gadis kecil sepertimu.”
Dingin. Jauh dari kata ramah. Tetapi sejak malam itu takdir mereka telah saling terikat satu sama lain. Mereka kerap tak sengaja bertemu di tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yogitha Ratnajyoti , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegalauan Hati Roy
Siang mulai beranjak ketika suasana rumah sakit perlahan kembali normal. Setelah dokter memastikan kondisi Viona aman, Bryan akhirnya keluar dari kamar inap bersama Harsh dan yang lainnya.
Akhirnya memasuki kendaraan mereka masing-masing dan Harsh, Viona, Alvania dan Silvia masuk ke mobil Bryan.
Namun berbeda dengan mereka yang terlihat lega, Roy justru berjalan paling belakang. Tatapannya kosong mengarah ke lantai. Biasanya Roy adalah orang yang paling mudah tersenyum, pria yang terkenal santai, suka menggoda, dan selalu terlihat percaya diri dengan pesonanya.
Tapi kali ini berbeda, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Bayangan Viona terus muncul di kepalanya terutama saat melihat bagaimana Viona menatap Bryan.
Bukan tatapan kagum biasa, ada rasa percaya, ada rasa aman. Sesuatu yang bahkan Roy harus akui, Bryan berhasil mendapatkan semua itu darinya. Roy memasukkan kedua tangannya ke saku celananya sembari bersandar di dinding koridor.
"Lucu juga,"
Dion yang sejak tadi berjalan di belakangnya menatapnya heran.
"Lucu apa, Tuan Roy?"
Roy tertawa kecil tanpa humor.
"Selama ini gue pikir gue selalu bisa mendapatkan apa pun yang gue mau..."
Dion diam mendengarkan.
"Tapi ternyata untuk seorang seperti Viona...gue bahkan enggak tahu apa gue benar-benar menginginkannya atau cuma tertarik karena dia berbeda..."
Dion menyipitkan mata.
"Maksud Tuan?"
Roy menghela napas.
"Gue suka Viona. Dia polos, baik, berbeda dari wanita yang biasanya gue temui..."
"Dia enggak ngelihat gue karena nama atau kekuasaan..."
Roy tersenyum tipis.
"Tapi...,"
Dia berhenti.
"Tapi saat gue ngelihat Bryan tadi..."
Dion langsung memahami.
"Tuan merasa kalah?"
Roy menoleh.
"Ya."
Jawaban jujur itu membuat Dion sedikit terkejut karena Roy bukan tipe orang yang mudah mengakui kekalahan. Namun ada satu hal lain yang membuat Roy semakin bingung.
Alvania, tanpa sadar, pikirannya beralih pada gadis itu. Gadis yang selalu membuatnya kesal karena keras kepala, gadis yang sering membalas perkataannya, gadis yang bahkan tidak pernah mencoba menarik perhatiannya.
Tapi entah kenapa, setiap kali Alvania dalam masalah, Roy selalu menjadi orang pertama yang bergerak. Dia melindungi Alvania tanpa diminta, dia memastikan gadis itu baik-baik saja, dia bahkan sering memperhatikan hal kecil yang tidak pernah dia lakukan pada orang lain.
Roy mengerutkan keningnya.
"Kenapa gue selalu ngelakuin itu?"
Dion menatapnya.
"Melakukan apa?"
Roy terdiam sebentar.
"Melindungi Alvania..."
Dion akhirnya tersenyum kecil.
"Ah..."
Roy langsung menatapnya curiga.
"Apa?"
Dion mengangkat tangan.
"Tidak ada, Tuan..."
"Jangan bilang apa yang ada di pikiran lo..."
Dion menahan senyum.
"Tapi sepertinya saya harus bilang..."
Roy menghela napas malas.
"Apa?"
Dion menatapnya serius.
"Mungkin Tuan Roy bukan bingung memilih antara Viona atau tidak..."
Roy diam.
"Mungkin Tuan bingung menerima kenyataan bahwa selama ini orang yang paling Tuan perhatikan bukan Viona..."
Tatapan Roy berubah.
"Dion..."
Dion melanjutkan.
"Kalau hanya kagum, Tuan gak akan berkali-kali mempertaruhkan diri untuk Viona. Saya akui itu..."
Roy mengangguk pelan.
"Terus?"
Dion tersenyum.
"Tapi kalau soal Alvania..."
Dia menunjuk ke arah Roy.
"Setiap kali nama dia disebut, ekspresi Tuan selalu berubah..."
Roy langsung membantah.
"Omong kosong..."
"Tuan bahkan gak sadar kalau Tuan selalu mencari keberadaan Alvania..."
Roy terdiam.
"Kapan terakhir kali Tuan benar-benar memikirkan perasaan seseorang selain diri sendiri?"
Pertanyaan itu membuat Roy tidak langsung menjawab karena jauh di dalam hati, dia tahu.
Dion mungkin benar, dia teringat bagaimana Alvania selalu berani melawannya, bagaimana gadis itu memarahinya ketika dia bertindak ceroboh.
Bagaimana Alvania tetap percaya padanya meskipun mengetahui sisi gelap dirinya. Berbeda dengan Viona yang membuatnya penasaran, Alvania kerap membuatnya nyaman.
Roy mengusap wajahnya kasar.
"Jadi menurut lo, gue enggak cinta ke Viona?"
Dion menggeleng.
"Bukan begitu..."
"Perasaan manusia gak sesederhana itu..."
Dion menatapnya.
"Mungkin Tuan memang menyukai Viona. Tapi mungkin juga itu adalah rasa kagum karena melihat seseorang yang begitu kuat meski pernah terluka..."
"Sedangkan Alvania..."
Dion tersenyum kecil.
"Mungkin dia adalah orang yang membuat Tuan lupa kalau Tuan sedang berpura-pura menjadi pria yang tidak punya hati..."
Roy terdiam cukup lama. Saat ini dia tidak punya jawaban sementara di ujung koridor, Alvania baru saja keluar dari mobil Bryan lagi dan kembali ke ruang inap Viona. Dia melihat Roy berdiri bersama Dion ketika usai menerima ponselnya yang tertinggal diruang inap dari seorang perawat.
"Roy?" Suara itu membuat Roy langsung menoleh.
Alvania berjalan mendekat.
"Lo belum pulang?"
Roy kembali memasang senyum khasnya.
"Belum. Kenapa? Lo kangen sama gue?"
Alvania langsung memutar bola matanya jengah.
"Masih sempat bercanda..."
Roy tertawa kecil, tetapi entah kenapa melihat Alvania berdiri di depannya membuat pikirannya jauh lebih tenang. Roy bertanya pada dirinya sendiri, apakah selama ini dia mengejar Viona karena benar-benar mencintainya?
Atau karena dia baru menyadari ada seseorang yang membuatnya tertarik? Sedangkan orang yang selama ini selalu berada di sisinya, justru tidak pernah dia sadari.
Alvania menatapnya heran.
"Lo kenapa diam?"
Roy tersenyum tipis.
"Gak apa-apa..."
Namun dalam hati, satu hal mulai berubah, Roy tidak ingin menjadi pria yang mendapatkan semuanya. Dia hanya ingin tahu, siapa sebenarnya orang yang ingin dia pertahankan.
Roy mengernyitkan dahinya.
"Kenapa lo balik lagi?"
Alvania tersenyum malu.
"Iya. HP gue ketinggalan hehehe..."
Roy mengangguk pelan.
"Sekarang udah lo ambil?"
Alvania mengangguk lalu menunjukkan ponselnya yang baru saja diambilnya dari seorang perawat.
Sementara mobil Bryan sudah bersiap meninggalkan parkiran. Roy melihat ke arah mobil hitam Porsche milik Bryan yang sudah menunggu.
"Lihat mereka udah mau jalan..."
Alvania melihat ke arah mobil itu.
"Ah...iya...gue duluan ya..."
Roy lalu menawarkan tumpangan pada Alvania.
"Gak usah, biar gue aja yang antar lo pulang..."
Alvania langsung menatapnya.
"Gak perlu, gue bisa ikut yang lain..."
Roy mengangkat alis.
"Yang lain udah di mobil Bryan..."
Alvania terdiam.
"Gue juga kebetulan mau mampir ke rumah keluarga Prasetya lagi..."
Roy tersenyum kecil.
"Jadi sekalian aja..."
Alvania terlihat ragu.
"Lo yakin?"
"Kenapa enggak?"
Roy menyandarkan tubuhnya di pintu mobil.
"Gue gak mungkin ngebiarin lo pulang sendiri Al..."
Kalimat itu membuat Alvania terdiam sesaat. Biasanya Roy selalu berkata dengan nada bercanda. Selalu menggoda, selalu membuatnya kesal, tapi kali ini nada suaranya terdengar berbeda, lebih serius. Akhirnya Alvania menghela nafas pelan.
"Ok deh..."
Roy tersenyum puas.
"Nah, begitu lebih baik..."
Alvania langsung menunjuknya.
"Jangan salah paham. Gue cuma nerima tumpangan aja ya gak lebih, jangan geer ya lo..."
Roy tertawa kecil.
"Iya, iya. Gue tahu..."
Mereka kemudian berjalan menuju Harsh yang masih berada di dekat mobil Bryan.
"Mas Harsh..."
Harsh menoleh.
"Kalian belum masuk?"
Alvania menjelaskan.
"Aku mau pulang bareng Roy. Hpku udah aku ambil, dan Roy kebetulan mau mampir ke rumah..."
Harsh melihat Roy sebentar lalu tersenyum kecil.
"Baiklah...Jaga adik gue dengan baik ya..."
Tatapan Harsh seolah menyimpan sesuatu yang membuat Roy sedikit tidak nyaman, Roy pun langsung berdeham.
"Apa?"
Harsh hanya menggeleng.
"Gak ada..."
Bryan yang berdiri di samping mobil hanya memperhatikan mereka dengan senyum tipis. Sepertinya bukan hanya dirinya yang mulai menemukan seseorang. Setelah berpamitan, mobil milik Bryan akhirnya bergerak meninggalkan parkiran rumah sakit.
Di dalam mobil, suasana jauh lebih tenang. Arlian menyetir dengan kecepatan stabil, Viona yang duduk disamping Silvia masih tetap terdiam membisu, pikirannya masih dipenuhi kejadian semalam.
Sedangkan di sisi lain, mobil hitam Exphander milik Roy mulai melaju perlahan meninggalkan area rumah sakit. Dion duduk di kursi pengemudi sambil sesekali melihat kaca spion.
Di belakangnya, Roy duduk bersama Alvania.
Suasana awalnya hening hingga akhirnya Dion tersenyum kecil. Dia menekan tombol musik di dashboard. Beberapa detik kemudian terdengar sebuah lagu romantis dari Al Ghazali yang membuat suasana mobil berubah.
"Cinta itu buta dan tuli..."
"Tak melihat tak mendengar..."
"Namun datangnya dari hati..."
"Tidak bisa dipungkiri..."
"Itu benar memang benar..."
"Cinta itu ruang dan waktu..."
"Tak sekejap harus mau..."
"Cinta butuh ruang yang sepi..."
"Tuk mengutarakan hati..."
"Kamu aku bincang bincang..."
"Mau bilang cinta tapi takut salah...."
Roy yang awalnya santai langsung mengenali nuansa lagu itu. Dia menatap Dion melalui kaca mobil.
"Dion..."
"Iya, Tuan?"
"Lo sengaja?"
Dion berusaha menahan senyum.
"Saya hanya memilih musik, Tuan..."
Roy menyipitkan mata.
"Kebetulan sekali..."
Dion hanya tertawa kecil sementara Alvania yang duduk di samping Roy hanya terdiam. Dia menatap keluar jendela namun wajahnya menunjukkan ekspresi yang sulit ditebak. Antara merasa aneh atau mungkin sedikit salah tingkah.
Roy yang biasanya selalu punya kata-kata untuk menggoda seseorang, kali ini justru ikut terdiam.
Karena entah kenapa lagu itu membuat pikirannya kembali pada ucapan Dion tadi.
"Orang yang membuat Tuan lupa kalau Tuan sedang berpura-pura tidak punya hati..."
Roy melirik Alvania sebentar, gadis itu masih melihat pemandangan di luar. Tapi dia sadar satu hal, dia sudah terlalu lama memperhatikan gadis itu hanya saja selama ini dia tidak pernah mau mengakuinya.
Dion tersenyum kecil melihat dari kaca spion. Untuk pertama kalinya, Casanova yang terkenal sulit ditaklukkan justru terlihat kehilangan kendali atas perasaannya sendiri.
Dan tanpa mereka sadari, perjalanan menuju rumah keluarga Prasetya siang ini bukan hanya sekadar perjalanan pulang. Tetapi mungkin juga menjadi awal bagi Roy untuk memahami hatinya sendiri.
BERSAMBUNG.