Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.
Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.
Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.
Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Cara kotor Adinata
“Tuan, tidak ada data tentang pemindahan uang ke rekening pribadi yang dilakukan oleh Tuan Adhyaksa. Di sini tercatat adanya pemindahan ke rekening pribadi milik Nona Kamila dan Nona Kanista.”
Adinata menghentikan kegiatannya yang sedang membaca dokumen tentang laporan keuangan yang Gerry serahkan. “Kamila dan Kanista?” ulang Adinata.
“Benar, Tuan. Hanya tercatat dua rekening tersebut di catatan keuangan perusahaan.”
Adinata yakin yang melakukannya adalah sang papa. Ketika ketahuan, Hanung tentu akan membawa nama Adinata agar kesalahan tidak dilemparkan ke dia sepenuhnya, tapi Adinata akan mendapatkan kemarahan dari sang kakek juga.
Adinata menghela napas. “Nominal besar?”
“Lebih besar dari kejadian tiga bulan yang lalu, Tuan.”
Kali ini, Adinata tidak akan membantu sang papa lagi. Dia tidak akan mendapat ancaman dari Hanung yang selalu membawa Nadine untuk melindungi kesalahannya. Nadine sudah berada di tempat aman dan dia akan mendapat kesempatan besar untuk melakukan pembalasan atas perilaku sang papa.
“Tambahkan, Ger. Ubah catatan keuangan ini dengan dua kali lebih besar dari nominal yang papa kirimkan ke rekening adikku. Cantumkan juga nama Hanung Hardiyanto di keterangan.”
Gerry merasakan keanehan. “Baik, Tuan.”
“Aku tidak akan menutupi pemindahan uang perusahaan ke rekening kedua adikku. Biarkan Hanung menjelaskan perilakunya dengan ancaman baru.” Adinata menghela napas. “Untuk menjawab rasa penasaranmu.”
“Saya tidak berbicara, Tuan.”
“Memang, tapi wajahmu memperlihatkan rasa penasaranmu atas ucapanku.”
Gerry menganggukkan kepalanya. Dia tertawa canggung ketika sang atasan menatapnya.
“Bagaimana kabar istriku?”
“Nyonya Nadine menjalani hari-harinya dengan baik, Tuan. Tidak ada yang berubah dari Nyonya. Sering berjalan-jalan di sekitar rumah bersama dengan Nona Andini.”
Adinata menganggukkan kepalanya. “Usahakan untuk mendapatkan foto Nadine, Ger. Saya menginginkannya. Tidak peduli bagaimana cara orang suruhanmu untuk mendapatkan foto Nadine.”
“Akan saya sampaikan, Tuan.”
Adinata menganggukkan kepalanya. “Ada lagi laporan yang ingin kamu sampaikan?”
“Tentang Tuan Adhyaksa.” Gerry berkata dengan suara ragu, tapi dia harus tetap mengatakannya.
“Ada apa dengannya?”
“Tuan Adhyaksa mengirim janji temu dengan Anda di luar kantor, Tuan. Bagaimana balasan Anda kepada Tuan Adhyaksa?”
Adinata menganggukkan kepalanya. “Terima. Kamu aturkan dia untuk datang ke Apartemen saya.”
“Tuan,” panggil Gerry.
“Aku mengenalnya dari kecil, Ger.”
Adinata dan Adhyaksa sering bermain bersama di tempat yang jauh dari mata keluarga mereka. Mereka mengerti jika keluarga Hardiyanto tidak memiliki jiwa kekeluargaan yang terlintas tulus. Hanya terlihat bahagia di depan para media yang menyorot mereka. Kenyataannya di dalam keluarga tidak ada perilaku kekeluargaan atau tolong menolong.
Mereka hanya fokus dengan persaingan untuk merebut harta dan tahta. Tinggal menunggu sang kakek tiada, semua akan berebutan dengan kejam.
Sebelum sang kakek tiada, Adinata harus mendapatkannya lebih dahulu dibandingkan mereka.
Gerry menganggukkan kepalanya. “Baik, Tuan. Hanya itu saja yang bisa saya sampaikan kepada Anda.”
“Ger,” panggil Adinata.
Gerry yang telah berdiri dari duduknya kembali mendudukan dirinya di kursi yang berhadapan dengan kursi kerja sang atasan.
“Telusuri juga tentang berita yang ditayangkan. Perusahaan tidak ingin tahu tentang kebenaran pemberitaan, Ger. Dimana bayaran yang lebih tinggi, mereka akan mengambilnya tanpa memberi empati ke korban.”
Gerry menganggukkan kepalanya. “Bagaimana dengan Tuan Hanung ketika mendengar rencana Anda, Tuan? Apa beliau tidak akan meminta semua orang untuk mengangkat berita tentang Anda yang bercerai dengan Nyonya.”
Adinata mengetukkan jari-jarinya di meja yang berlapiskan kaca di depannya. “Sebelum itu terjadi, kamu bawa mereka untuk bekerja sama denganmu. Berita tidak berhasil tersebar kalau kamu menutup mulut mereka. Tidak usah bertele-tele ketika berhadapan dengan produser, cukup ucapkan namaku.”
“Saya akan menemui Tuan Hendri.”
Adinata tertawa. “Ancam dia menggunakan jabatan. Dia tidak suka mendengar kalau Paman Manunggal mendapatkan posisi sebagai produser utama.”
“Akan saya lakukan perintah Anda.” Gerry menganggukkan kepalanya dengan sopan. Dia akan menemui Hendri setelah keluar dari ruangan Adinata. “Ohya, Tuan Fregy memberi undangan makan malam untuk Anda menghadiri perayaan ulang tahun Tuan besar Hasibuan.”
“Tolak saja. Sudah ada papa dan mama yang akan datang.” Fregy tidak pernah memberikan undangan pribadi kepadanya ketika berkaitan dengan acara keluarga besarnya. Sebaliknya, keluarga besarnya yang sering memberikan ke Adinata dengan memanfaatkan Fregy sebagai teman dekatnya.
Dan Adinata selalu menolaknya. Mereka tidak menyerah. Apalagi jika mereka mendengar perceraiannya dengan Nadine. Mereka akan mendaftarkan anak perempuan mereka kepada Adinata. Yakin saja, Meranti akan melakukan hal bodoh yang sangat merugikan Adinata itu.
“Baik, Tuan. Lalu untuk janji temu dari Tuan Adhyaksa, apa Anda akan melakukannya malam ini?”
“Suruh dia menghubungi sendiri, Ger. Tidak perlu lewat dirimu atau sekretarisnya. Pastikan tidak ada dari keluargaku yang mendengar tentang janji temu ini.”
“Baik, Tuan. Saya permisi untuk kembali ke pekerjaan saya.”
“Silahkan.”
Gerry berpamitan pergi dan meninggikan Adinata sendiri di dalam ruangan yang berukuran sangat besar baginya. Tangan Adinata bergerak membuka laci meja kerjanya. Dia mengambil pigura yang berisi foto pernikahannya.
Adinata mengusapnya secara perlahan. Dia menghela napas dengan berat. “Aku rindu, Nad. Aku tidak mau terus berjauhan darimu.”
Andai saja Nadine tidak meminta bercerai. Andai saja dia tidak memilih untuk menuruti omongan orang tuanya untuk tinggal bersama. Adinata hanya bisa berandai-andai tanpa tepi.
“Aku selalu cinta kamu. Aku tidak menguranginya, aku hanya selalu menambah rasa cintaku kepadamu. Tunggu aku selesai dengan hal kotor ini sebelum aku menjemputmu untuk kembali.”