Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.
Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.
Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.
Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Fregy dan Xavier
“Apa tujuan lo datang ke sini, Freg?” Xavier memberikan kaleng coca cola kepada Fregy yang duduk berhadapan dengannya.
Fregy membuka kaleng tersebut dengan mudah sebelum menegaknya.
“Lo gak mungkin kangen sama gue, kan.” Xavier tertawa.
“Gue gak ingin ketemu lo. Gue hanya ingin bertemu dengan Nadine.”
Raut wajah Xavier berubah menjadi tanpa ekspresi. Dia mendengar ucapan Fregy dengan jelas. “Untuk apa bertemu dengan Nadine?”
Fregy tertawa. “Ingin menyapa keponakanku yang masih berada di perut Nadine.”
Xavier terdiam karena Fregy benar-benar mengetahuinya. Dia meneguk minuman di tangannya tanpa peduli dengan Fregy yang masih memperhatikannya.
“Ayolah, Xav. Gue udah tahu.”
Xavier menaruh kaleng yang sudah dia habiskan isinya ke atas meja dengan keras. “Lo dapat informasi yang salah, Fregy. Mana mungkin Nadine hamil. Lo, kan tahu kalau dia udah cerai dengan Adinata.”
“Nadine hamil anak Adinata.”
Xavier berpikir dengan janjinya untuk membantu Nadine menutupi kehamilannya dari Adinata dan lingkungannya, tapi Fregy sudah mengetahuinya.
“Dari mana lo tahu?”
“Seseorang yang sengaja gue suruh datang di sekitar Nadine.”
Xavier mendengus kasar. “Nadine suruh gue untuk sembunyikan kehamilannya, tapi kenapa lo bisa tahu dengan mudah tanpa gue yang kasih informasinya, Fregy?”
“Gue cuma ingin memastikan lingkungan yang Nadine tinggali. Gue gak ingin lihat dia gak nyaman setelah berpisah dengan Adinata.”
“Lo suka dengan Nadine?”
“Gila pikiran lo, Xavier.” Nada suara Fregy terdengar keras sampai membuat beberapa orang yang duduk di Kantin rumah sakit menolehkan kepalanya dengan terkejut. “Gak mungkin gue suka dengan istri teman dekat gue sendiri. Gue lama mengenal Nadine, gak mungkin gue gak akan perhatikan dia dari jauh.”
Xavier menghembuskan napasnya dengan perasaan lega. “Gue cuma tanya. Lo emosian banget.”
“Lo, kan yang suka sama Nadine.”
Xavier menggelengkan kepalanya. “Bukan! Gue udah punya calon istri. Jaga mulut lo sebelum bicara.”
“Mungkin saja.” Fregy mengangkat bahunya.
“Iya. Nadine mengandung anak Adinata dan gue yang jadi dokter kandungannya di sini.”
“Gue udah tahu.” Fregy tersenyum miring. “Akal busuk lo pasti jalan karena ada kesempatan.”
Xavier tertawa kecil. “Ya, sekalian aja gue pantau Nadine. Kalian semua, kan jauh di sana.”
“Gue tetap bisa datang ke sini kalau aja lo bicara ke gue dari awal. Menyetir mobil sendiri dari kota sebelah untuk sampai ke sini gak susah.”
“Nadine yang minta gue untuk diam dan gak kasih tahu siapapun.”
“Seharusnya kecuali gue.” Fregy menatap Xavier dengan serius. “Bisa tolong bawa gue untuk bertemu dengan Nadine?”
Xavier menggelengkan kepalanya. “Itu tindakan gila. Gimana bisa lo bertemu dengan Nadine kalau lo ada di bawah pantauan Adinata, Freg?”
“Adinata gak tahu tentang ini. Suruhan gue dan Adinata berbeda.”
Xavier menampilkan raut wajah tidak percaya dengan jawaban yang Fregy berikan. Fregy juga tangan kanan Adinata, selain Gerry. Tidak mungkin Fregy bertindak sendiri tanpa perintah Adinata.
Fregy berdecak. “Gue gak bohong. Hanya gue yang tahu kehamilan Nadine. Adinata gak mengetahuinya.”
“Gimana gue bisa percaya?”
“Perlu gue telepon Adinata, Xav?”
“Bodoh,” umpat Xavier.
“Lo gak percaya kalau hanya gue yang tahu tengah ini?” tanya Fregy.
“Lo orang pertama yang dihubungi Adinata diantara pertemanan kita. Gimana mungkin gue percaya ke lo, Fregy?” Xavier tertawa sinis. “Lo tiba-tiba datang ke sini tanpa bilang ke gue sebelumnya. Tiba-tiba juga lo bilang ingin bertemu dengan Nadine. Siapa yang menjamin Adinata gak datang ke sini untuk menjemput Nadine?”
Fregy menghembuskan napasnya. “Gue datang ke sini sendiri. Tanpa Adinata. Tujuan gue datang ke sini untuk bertemu dengan Nadine. Gue ingin lihat dia dan kandungannya. Gak ada hal yang berlebihan.”
Xavier tetap teguh dengan pendiriannya. “Siapa yang bisa jamin setelah lo pulang ke kota sebelah, lo akan tetap diam, Fregy? Seberapa lama bisa lo tahan untuk gak bicara dengan Adinata?”
“Kalau Nadine yang ingin tetap menyembunyikan kandungannya, gue akan bantu dia. Udah cukup lama dia menderita selama menikah dengan Adinata karena ulah keluarga Adinata yang gila harta.”
Xavier meresapi ucapan Fregy dengan tetap diam.
“Lo gak lupa, kan kalau Nadine dan Adinata gak benar-benar bercerai.”
Xavier menganggukkan kepalanya. “Gue ingat.”
“Seharusnya bukan masalah besar kalau Adinata tahu, kan?”
Xavier mengangkat bahunya. “Nadine yang meminta. Gue gak mungkin ikut menyembunyikan kehamilan Nadine kalau bukan dia sendiri yang memintanya.”
“Dia mungkin trauma,” ucap Fregy. Dia menatap ke sekitarnya. “Gue hanya ingin ketemu dan bicara dengan Nadine. Setidaknya kalau dia ingin bersembunyi dari Adinata, dia tetap bisa mengandalkan gue untuk membantu dirinya.”
Xavier menatap Fregy. Dia menghembuskan napasnya. “Untuk persalinan nantinya bukan gue yang mengurusnya, tapi gue udah bilang ke dokter perempuan yang akan mengurus persalinan Nadine.”
“Biaya lainnya?” tanya Fregy. “Gue gak mungkin biarkan dia sendirian dengan anaknya.”
“Kita tetap diam?”
Fregy menganggukkan kepalanya. “Biarkan Adinata menyelesaikan urusannya dulu, kita cuma perlu menjaga Nadine dari dekat dan sebisa mungkin menutupinya dari Adinata.”
Xavier tertawa. “Bukannya dia memerintahkan Gerry untuk mengawasi Nadine? Gerry udah sempat bertemu dengan gue di rumah sakit ini, tapi gue rasa dia gak membuahkan hasil dari pertanyaannya.”
“Maksud lo?”
“Dia tanya ke direksi rumah sakit karena suruhan dia gak sengaja melihat Nadine periksa ke rumah sakit tempat gue bekerja. Sebelum dia datang ke sini, gue udah lebih dulu membuat direksi atas menutup mulutnya dan menutupi pemeriksaan Nadine.”
“Terdengar berbahaya, Xav. Kemarahan Adinata akan lebih gila kalau mengetahui ini.”