NovelToon NovelToon
Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Dokter / Tamat
Popularitas:294.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.

Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32

Kamar Eyang Mirah tidak berbau sakit.

Itu yang pertama kali membuat Naira marah.

Orang yang benar-benar dirawat lama biasanya meninggalkan bau obat, antiseptik, minyak telon, linen baru, atau tubuh yang berjuang. Kamar itu justru wangi berlebihan. Lavender mahal. Pendingin ruangan terlalu dingin. Tirai tebal ditutup rapat agar matahari tidak masuk.

Di tempat tidur besar, Mirah Anggraini berbaring seperti boneka tua yang dipaksa tidur.

Kulitnya pucat.

Napasnya teratur, terlalu teratur.

"Beliau stroke berat," kata Ratri dari pintu. "Dokter keluarga sudah menangani. Jangan sentuh sembarangan."

Naira tidak menjawab.

Ia mendekat, memeriksa pupil, warna bibir, kuku, suhu tangan, dan reaksi kecil pada otot wajah. Jemarinya menyentuh nadi pergelangan tangan Mirah.

Lambat.

Terlalu bersih untuk pasien yang disebut memburuk alami selama bertahun-tahun.

"Di mana catatan obatnya?" tanya Naira.

Wibowo berdiri dengan tangan terlipat. "Kamu datang sebagai cucu atau penyidik?"

"Sebagai dokter."

"Kami tidak meminta."

"Pasien tidak bisa meminta."

Ratri mendengus. "Kamu selalu bicara seolah paling tahu. Baru satu menit masuk kamar, sudah mau menuduh kami?"

"Saya belum menuduh."

"Matamu sudah."

Naira menoleh. "Bagus. Berarti Anda masih bisa membaca."

Wajah Ratri memerah.

Surya berdiri dekat pintu, menahan diri dengan susah payah. Sejak melihat Mirah, kemarahannya berubah bentuk. Dulu Mirah adalah ibu mertua yang keras, tetapi ia tidak pernah kejam. Perempuan itu pernah menolak Surya karena latar belakang keluarganya terlalu gelap, tetapi ia tetap datang diam-diam saat Naira lahir.

"Mirah tidak pernah setipis ini," ucap Surya.

"Wajar," jawab Wibowo. "Beliau bertahun-tahun sakit."

"Wajar kalau sakit." Naira membuka kelopak mata neneknya lagi. "Tidak wajar kalau semua tanda vitalnya seperti orang yang dipertahankan dalam sedasi ringan."

Ratri langsung berkata, "Hati-hati dengan ucapanmu."

"Minta daftar obat."

"Tidak bisa."

"Kenapa?"

"Privasi pasien."

"Saya keluarga kandung."

"Belum diakui."

Maya maju. "Dalam kondisi dugaan kelalaian medis, kami bisa minta akses melalui jalur hukum."

Wibowo menatapnya dingin. "Silakan. Prosesnya lama. Sementara itu jangan ada yang menyentuh alat apa pun."

Naira menatap infus kecil di samping ranjang.

Cairannya bening. Labelnya rapi, tetapi terlalu baru. Tidak ada nama apotek rumah sakit, hanya kode internal klinik keluarga.

"Siapa dokter keluarga?" tanya Naira.

"Dr. Harun."

"Nomor SIP?"

Ratri terdiam.

Naira mengeluarkan ponsel dan mengambil foto label infus. Wibowo langsung bergerak untuk merampasnya.

Bagas menahan pergelangan tangannya.

Tidak kasar.

Cukup kuat sampai wajah Wibowo berubah.

"Lepaskan," bentaknya.

Bagas tersenyum tipis. "Saya cuma memastikan Bapak tidak jatuh."

Naira menyimpan ponsel. "Saya ingin bicara dengan perawat yang menjaga Eyang."

"Tidak ada."

"Pasien koma bertahun-tahun tanpa perawat tetap?"

"Kami punya staf."

"Panggil."

Ratri memalingkan wajah. "Mereka sedang libur."

Surya tertawa pendek. Suaranya membuat ruangan terasa lebih sempit. "Semua orang di rumah ini kebetulan libur saat cucunya datang?"

Di balik pintu, terdengar suara kecil.

Naira menoleh. Seorang perempuan muda memakai seragam rumah tangga menunduk dengan nampan di tangan.

"Siapa namamu?" tanya Naira lembut.

Perempuan itu melirik Ratri.

"Jangan jawab," kata Ratri.

Naira mendekat satu langkah, suaranya tetap rendah. "Saya tidak akan membuatmu disalahkan. Saya hanya perlu tahu kapan terakhir Eyang sadar."

Bibir perempuan itu gemetar.

Wibowo membentak, "Keluar!"

Naira lebih cepat. "Dia pernah sadar?"

Perempuan muda itu meneteskan air mata. "Kadang malam, Non. Sebentar. Beliau suka bilang nama Bu Sari."

Ratri menampar nampan dari tangan perempuan itu. Gelas jatuh, air menyebar di lantai.

"Pembohong!"

Naira menatap Ratri.

Kali ini tidak ada senyum.

"Terima kasih," kata Naira kepada perempuan itu. "Keluar dulu. Bagas, pastikan dia aman."

Bagas mengangguk.

Wibowo melangkah ke depan. "Kamu tidak punya kuasa di rumah ini."

"Saya punya kuasa sebagai dokter ketika melihat pasien dalam risiko."

"Omong kosong."

Naira membuka tas kecilnya. Ia selalu membawa peralatan dasar. Kebiasaan dari daerah bencana, dari ruang operasi lapangan, dari tempat-tempat di mana menunggu izin bisa berarti kematian.

"Saya akan hentikan infus ini dan ambil sampel darah."

"Tidak boleh!" Ratri hampir berteriak.

"Kalau saya salah, Anda bisa laporkan saya ke IDI, KKI, kepolisian, siapa pun yang Anda mau. Tapi kalau saya benar, setiap menit yang lewat membuat Eyang makin jauh dari sadar."

"Kamu mau membunuhnya lalu menyalahkan kami?"

Naira menatapnya lama.

"Kalimat itu seperti sudah Anda siapkan."

Ratri terdiam.

Dari koridor, Dimas yang mengikuti sampai lantai dua akhirnya berkata, "Naira, apa yang bisa kubantu?"

Semua mata menoleh kepadanya.

Naira tidak membutuhkan bantuannya. Tetapi ia melihat wajah Ratri berubah saat mendengar nama Mahendra. Ada hubungan di sana. Atau setidaknya kepentingan.

"Telepon direktur RS Medika Mahendra," kata Naira. "Minta ambulans ICU dan tim neurologi independen. Jangan pakai dokter keluarga Anggraini."

Dimas mengangguk cepat. "Baik."

Ratri mencibir. "Lucu. Mantan suami yang dulu kamu permalukan sekarang kamu pakai lagi?"

Naira menyiapkan jarum. "Saya memakai fasilitas medis, bukan pernikahan lama."

Surya hampir tersenyum, meski matanya tetap dingin.

Tangan Mirah bergerak sangat kecil saat jarum menyentuh kulit.

Naira membeku.

"Eyang?"

Tidak ada jawaban.

Tetapi bulu mata Mirah bergetar.

Ratri melihat itu dan wajahnya pucat.

"Cukup," katanya. "Keluar dari kamar ini sekarang."

"Tidak."

"Kamu berani melawan pemilik rumah?"

"Saya sedang melawan orang yang mengurung pasien."

Wibowo mengambil ponsel. "Saya panggil polisi."

"Silakan." Maya mengangkat map. "Saya akan menunjukkan foto label infus, saksi staf rumah, dan penolakan akses medis."

Hening pecah oleh dering telepon Dimas.

Ia menjawab singkat, lalu menatap Naira. "Ambulans berangkat. Tiga puluh menit."

"Terlalu lama," kata Naira.

Ia mengganti posisi kepala Mirah, mengecek jalan napas, lalu menurunkan tetesan cairan. Ratri maju, tetapi Surya berdiri di depannya.

"Jangan," kata Surya.

Satu kata.

Cukup membuat Ratri berhenti.

Naira bekerja tanpa menatap siapa pun. Setiap gerakannya bersih. Tidak ada panik. Tidak ada pertunjukan. Hanya seorang dokter yang tahu pasien di hadapannya mungkin selama ini tidak tidur karena penyakit, melainkan karena seseorang membuatnya terus tertidur.

Setelah sampel darah masuk tabung, Naira menempelkan label sementara.

"Saya beri tiga hari," katanya.

Wibowo tertawa tajam. "Tiga hari untuk apa?"

"Untuk membuat Eyang sadar."

Ratri menatapnya seperti ingin merobek wajahnya. "Kalau gagal?"

"Saya keluar dari dewan medis Yayasan Anggraini dan tidak mengajukan klaim waris sampai pemeriksaan hukum selesai."

Surya langsung berkata, "Naira."

Naira tidak menoleh.

Wibowo menyipit. "Dan kalau berhasil?"

"Anda berdua menyerahkan akses arsip Sari Anggraini, daftar obat Eyang, dan berita acara pencoretan ibu saya."

Ratri menjawab cepat, "Tidak."

Mirah tiba-tiba mengeluarkan suara parau.

Sangat pelan.

Hampir tidak berbentuk.

Tetapi Naira mendengarnya.

"Sa... ri..."

Ratri mundur satu langkah.

Naira menggenggam tangan neneknya.

"Iya, Eyang. Naira di sini."

Mata Mirah tetap tertutup.

Namun setetes air mata turun dari sudut matanya.

Dan semua orang di kamar itu tahu, perempuan tua yang mereka sebut tidak sadar ternyata selama ini masih mendengar.

Ratri memegang tepi ranjang. "Itu refleks. Pasien koma sering mengeluarkan suara."

"Benar," kata Naira. "Karena itu kita uji dengan benar, bukan menutup telinga karena jawabannya tidak nyaman."

Ia mengambil senter kecil lagi. "Eyang, kalau bisa dengar saya, gerakkan jari telunjuk kanan."

Tidak ada gerakan.

Wibowo mengembuskan napas seperti menang.

Naira menunggu.

Satu detik.

Dua.

Jari Mirah bergerak sangat kecil.

Lilis yang masih berdiri di luar pintu langsung menangis tanpa suara.

Surya menutup mulutnya dengan kepalan tangan.

Naira menunduk di dekat telinga Mirah. "Eyang, saya akan bersihkan obat yang membuat Eyang tidur. Prosesnya tidak enak. Mungkin sakit kepala, mungkin tubuh terasa berat. Tapi saya tidak akan tinggalkan."

Jari itu bergerak lagi.

Ratri berkata lirih, "Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi kalau dia bangun."

Naira menoleh.

"Saya justru mulai tahu."

Maya mencatat setiap kalimat. "Saya butuh semua staf rumah tetap tersedia untuk pemeriksaan. Tidak ada yang diberhentikan, dipindah, atau disuruh pulang tanpa pemberitahuan hukum."

Wibowo tersenyum kaku. "Kamu mengatur rumah kami?"

Surya menjawab sebelum Naira. "Mulai sekarang, ya."

Ratri menatap Mirah lama. Ketakutannya tidak lagi bisa disembunyikan dengan kemarahan.

Naira mengganti infus dengan cairan standar yang dibawa tim ambulans, lalu menempelkan label baru.

"Tiga hari," katanya lagi.

Kali ini tidak terdengar seperti tantangan.

Terdengar seperti janji kepada orang yang terlalu lama dipaksa diam.

Ratri memegang tepi ranjang. "Itu refleks. Pasien koma sering mengeluarkan suara."

"Benar," kata Naira. "Karena itu kita uji dengan benar, bukan menutup telinga karena jawabannya tidak nyaman."

Ia mengambil senter kecil lagi. "Eyang, kalau bisa dengar saya, gerakkan jari telunjuk kanan."

Tidak ada gerakan.

Wibowo mengembuskan napas seperti menang.

Naira menunggu.

Satu detik.

Dua.

Jari Mirah bergerak sangat kecil.

Lilis yang masih berdiri di luar pintu langsung menangis tanpa suara.

Surya menutup mulutnya dengan kepalan tangan. Untuk pria yang selama ini bisa membuat satu ruangan tunduk, ia tampak hampir roboh oleh gerakan satu jari perempuan tua.

Naira menunduk di dekat telinga Mirah. "Eyang, saya akan bersihkan obat yang membuat Eyang tidur. Prosesnya tidak enak. Mungkin sakit kepala, mungkin tubuh terasa berat. Tapi saya tidak akan tinggalkan."

Jari itu bergerak lagi.

Ratri berkata lirih, "Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi kalau dia bangun."

Naira menoleh.

"Saya justru mulai tahu."

Maya mencatat setiap kalimat. "Saya butuh semua staf rumah tetap tersedia untuk pemeriksaan. Tidak ada yang diberhentikan, dipindah, atau disuruh pulang tanpa pemberitahuan hukum."

Wibowo tersenyum kaku. "Kamu mengatur rumah kami?"

Surya menjawab sebelum Naira. "Mulai sekarang, ya."

Ratri menatap Mirah lama. Ketakutannya tidak lagi bisa disembunyikan dengan kemarahan.

Naira mengganti infus dengan cairan standar yang dibawa tim ambulans, lalu menempelkan label baru.

"Tiga hari," katanya lagi.

Kali ini tidak terdengar seperti tantangan.

Terdengar seperti janji kepada orang yang terlalu lama dipaksa diam.

1
Priskha
ini knp sih kok diulang2 bikin bingung bacanya
Priskha
aq tadinya ngantuk berat tp setelah baca novel ini ngantukku jd ilang dan pingin baca trs krn penasaran dan senang dg tokoh wanitanya yg tegas
Priskha
baru baca sdh bikin esmosi.... lanjut thor....
SediaKala
Quotes lagi weh.. ini keren sih kata2nya
SediaKala
Mendadak jadi detektif klo baca cerita ini.. beh mantap sekali
Otak berputar terus ini
Good job author🤏
SediaKala
Quotes hari ini
Mr T
👍
Anonim
Nani heri Upitarini
semakin membaca,semakin mumet....
Nani heri Upitarini
kaku sekali bahasax....
Nani heri Upitarini
terulang LG episode sebelumx
Reni Setia
makasih untuk novelnya ya
Night Watcher
tau ah.. bingung di bab ini..
ada yg diulang2, ada dimas yg ikut nimbrung.
naira yg cucunya dilarang masuk, tp stlh bisa masuk, tau2 dimas jg ada disitu. aneh & membungungkan.
Tangsah Jagad
diulang lagi ulang lagi
Tangsah Jagad
karakter tangguh keren Dokter naira👍👍👍👍
Tangsah Jagad
mantapppp👍👍👍
Tangsah Jagad
tbah seruuuuu👍👍👍👍👍
Tangsah Jagad
smart thor👍👍👍👍
Tangsah Jagad
Clara km gak punya malu banget
Tangsah Jagad
kereeeen👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!