NovelToon NovelToon
Royal Bride

Royal Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.

Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.

Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fitting

Lampu ruang fitting yang tadinya terasa terlalu terang kini seolah menjelma menjadi panggung yang sempurna bagi Lilly. Di balik pantulan cermin, ia bukan lagi sekadar seorang wanita yang sedang menghitung mundur jam menuju hari besarnya.

Keheningan sesaat kembali melingkupi ruangan setelah pujian Madam Elish mereda. Lilly memandangi detail gaunnya sekali lagi. Kilauan satin yang lembut itu bergerak mengikuti napasnya yang perlahan. Tanpa payet berlebih, tanpa kristal yang mencolok, gaun itu justru berhasil menonjolkan dirinya sendiri di tengah sesak dunia bangsawan.

Ia menyentuh gaunnya, lalu beralih menyentuh anting kecil yang menggantung di telinganya. Ada rasa haru yang tiba-tiba menyergap, sejenis debar yang halus namun nyata. Dua hari lagi. Hanya dua hari lagi, dan ia akan resmi menjadi Putri Mahkota Vardoria.

"Apakah ada bagian yang terasa kurang nyaman, Lady?" tanya Madam Elish memecah keheningan, matanya dengan jeli memperhatikan setiap lipatan kain.

Lilly menggeleng pelan, senyumnya belum pudar. "Tidak, Madam. Semuanya terasa... sangat pas. Seperti memang diciptakan untukku."

Madam Elish tersenyum puas. "Kalau begitu, kita bisa melakukan sentuhan akhir sekarang."

Suara langkah terdengar mendekat ketika Madam Elish membenahi area gaun yang menjuntai panjang. Ketukan sepatunya tenang.

Noah.

Pria itu tengah berdiri di sana. Netra gelapnya memperhatikan Lilly dengan seksama. Gadis itu segera ikut memandanginya. Sudut bibirnya terangkat.

"Pangeran," Madam Elish telah lebih dulu memberi hormat.

Sedangkan pria itu hanya menganggukkan kepalanya. Tatapannya tak teralihkan sedikit pun dari Lilly.

"Apakah ada yang kurang, Pangeran?" tanya Lilly.

Noah hanya menggeleng. "Tidak, ini sempurna."

Mendengar itu, Madam Elish dengan peka langsung membungkuk hormat. "Saya mohon izin ke ruang sebelah, Yang Mulia," pamitnya, memberikan ruang bagi kedua calon pengantin itu.

Begitu pintu bergeser menutup, keheningan kembali merayap. Namun, kecanggangan kaku yang biasanya menyelimuti mereka kini terasa berbeda. Selama beberapa bulan terakhir, sejak skandal yang melibatkan mereka hingga pertunangan ini diumumkan, dinding es di antara mereka perlahan mengikis.

Noah melangkah mendekat. Ketukan sepatunya yang tenang kini terasa mendebarkan bagi Lilly. Saat jarak mereka hanya tersisa dua langkah, Noah berhenti. Netra gelapnya beralih dari cermin, langsung mengunci sepasang mata Lilly.

"Kau tidak menyukai lampunya?" tanya Noah pelan, mengingat ucapan Lilly di awal tadi tentang ruang fitting yang terlalu terang. Suaranya rendah, namun ada nada perhatian yang tulus di sana.

Lilly sedikit terkejut karena Noah menyadarinya. Ia terkekeh canggung, jemarinya meremas pelan kain satin gaunnya. "Hanya sedikit melelahkan. Tapi melihat gaun ini... kurasa lampunya jadi tidak terlalu buruk."

Noah tidak menjawab, namun tatapannya melembut. Pria itu memperhatikan bagaimana gaun putih itu melekat indah di tubuh Lilly.

Tangan Noah terangkat pelan. Ia mendekati wajah Lilly, berniat merapikan veil di sisi wajah gadis itu.

"Dua hari lagi, Lilly," ucap Noah, suaranya melembut, seolah meyakinkan dirinya sendiri. "Jika ada hal yang membuatmu cemas tentang upacara nanti, katakan padaku. Kita bisa melaluinya bersama."

Lilly menatap Noah, menangkap kilat ketulusan di mata pria itu. Desiran halus yang asing tiba-tiba muncul di dada Lilly.

"Terima kasih, Noah," balas Lilly dengan senyuman yang jauh lebih tulus. "Setidaknya, aku tahu aku tidak akan berdiri sendirian di altar nanti."

Suara ketukan pintu terdengar pelan. "Lady, ada tamu untuk Anda."

"Baik," Lilly menjawab singkat.

"Siapa yang kau undang?" tanya Noah.

"Sabrina."

"Biarkan dia masuk," ucap Noah lebih dahulu. Sesaat kemudian, ia mendekat ke arah Lilly. Jemarinya menyentuh pipi gadis itu perlahan. "Bersenang-senanglah."

Setelahnya, Noah pergi meninggalkan Lilly yang mematung. Tak butuh waktu lama, Sabrina masuk dengan kehebohan yang dahsyat.

"Lillyane Jones! Kau benar-benar akan menikah!" Sahabatnya mendekat, lalu beberapa kali melihat kanan-kiri Lilly. "Benar-benar seperti calon putri mahkota."

Lilly hanya tersenyum samar. "Bagaimana perjalananmu?"

"Ini cukup jauh."

"Tapi terima kasih karena telah menyempatkan datang kemari."

Sabrina mengelap ujung matanya yang tak berair. "Aku terharu melihatmu akan menikah."

Lilly tertawa kecil, rasa haru sekaligus geli membuncah di dadanya. Ia kembali melirik pantulan dirinya di cermin besar ruang fitting. Sentuhan hangat jemari Noah di pipinya tadi seolah masih tertinggal di sana, membuat rona wajahnya kian memerah.

Di tengah riuhnya celotehan Sabrina, bayang-bayang pernikahan megah Vardoria yang menanti dua hari lagi kini tak lagi terasa begitu menakutkan.

1
dysa
AAA NOAH MANIS BANGET😍😍
Ana Dww: Noah adalah impian para gadis 👻
total 1 replies
dysa
😍
dysa
Semangat up teruss ya kaaaa❤️❤️❤️
Ana Dww: Terimakasih untuk dukungannya kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
Ana Dww
🤭🤭🤭
dysa
asbun bangt noah😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!