NovelToon NovelToon
THE BRITISH ROYAL FAMILY

THE BRITISH ROYAL FAMILY

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: Moms Celina

Deskripsi

The British Royal Family karya Moms Celina adalah novel roman kerajaan yang mengisahkan perjuangan cinta, pengorbanan, dan harapan kedua kalinya. Berlatar di istana megah Inggris, cerita ini mengikuti perjalanan Elizabeth yang harus menyeimbangkan hati dan tanggung jawab, serta Taylor yang harus memilih antara takhta dan orang yang dicintainya. Dengan alur yang menegangkan, adegan yang hangat, dan konflik yang menyentuh hati, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta yang melawan aturan, serta ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Balik Kemegahan

Hari-hari berikutnya berlalu dengan penuh kesibukan namun juga penuh semangat baru di ibu kota. Kedatangan Panglima Argan dan rombongannya bukan sekadar menjadi berita besar, melainkan menjadi gerbang pembuka menuju dunia yang lebih luas. Selama beberapa minggu itu, kedua belah pihak saling bertukar kunjungan, berbagi cerita, ilmu pengetahuan, dan pengalaman hidup. Rakyat kerajaan ini terpesona melihat keahlian para pelaut Samudera Biru dalam hal pembuatan kapal, navigasi bintang, dan pengolahan hasil laut. Sebaliknya, orang-orang dari seberang lautan itu takjub melihat bagaimana tatanan masyarakat di sini berjalan begitu tertib, damai, dan adil tanpa perlu penjagaan senjata yang berlebihan atau ketakutan yang menekan.

Di setiap kesempatan, Panglima Argan tidak pernah menyembunyikan rasa kekagumannya. Dia berkelana ke seluruh penjuru kota, mengunjungi pasar-pasar, sekolah-sekolah, hingga desa-desa pinggiran, ditemani oleh para penasihat kerajaan. Dia melihat sendiri bahwa apa yang dia dengar di seberang sana bukanlah sekadar dongeng atau cerita berlebihan. Dia melihat petani dan pedagang bertransaksi dengan jujur tanpa ada yang mengawasi. Dia melihat anak-anak dari berbagai latar belakang belajar bersama di bawah bimbingan guru yang tulus. Dia melihat bagaimana hukum berlaku sama rata, sehingga seorang pejabat pun bisa dihukum jika berbuat salah, sama seperti rakyat biasa. Semua hal ini adalah hal-hal yang hampir hilang di negerinya sendiri, dan melihatnya hidup dan tumbuh subur di sini membuat hatinya semakin penuh harapan sekaligus semakin berat beban yang dibawanya.

Suatu sore, di teras belakang istana yang menghadap ke arah matahari terbenam, Hunter, Taylor, dan Elizabeth duduk bersama Argan menikmati secangkir teh hangat. Angin sore bertiup lembut, membawa aroma bunga-bunga taman yang harum. Suasana damai itu kontras dengan ekspresi wajah Argan yang terlihat berat dan penuh kekhawatiran.

"Yang Mulia," kata Argan memecah keheningan, menatap ketiga pemimpin itu bergantian dengan tatapan jujur. "Semakin lama aku berada di sini, semakin aku sadar betapa besarnya perbedaan antara negeri ini dengan tanah kelahiranku. Di Kerajaan Samudera Biru, kami memiliki segala kemegahan yang bisa dibayangkan manusia. Istana kami terbuat dari marmer putih dan dihiasi permata laut yang berkilauan. Pasukan kami tak terkalahkan di atas air. Gudang kami penuh dengan rempah-rempah, sutra, dan logam mulia. Namun... di balik semua kilauan itu, ada sesuatu yang membusuk perlahan di akarnya."

Dia menunduk sejenak, meremas tangannya yang kekar dan kasar akibat pekerjaan berat di laut.

"Aku belum menceritakan semuanya, Yang Mulia. Masalah kami bukan hanya soal perpecahan rakyat atau kerusakan alam. Ada kekuatan-kekuatan besar yang sedang bermain di balik layar, kekuatan yang sangat sulit dilawan bahkan oleh Kaisar sekalipun. Di negeriku, kekuasaan dan kekayaan telah dikuasai oleh segelintir keluarga besar dan pedagang raksasa yang kami sebut Grup Tangan Besi. Mereka menguasai jalur perdagangan, menguasai sebagian besar angkatan perang laut, dan bahkan memiliki pengaruh yang sangat kuat di dalam istana. Bagi mereka, hukum hanyalah kertas yang bisa ditulis ulang sesuai keinginan mereka, dan rakyat hanyalah alat penghasil kekayaan."

Taylor menyimak dengan saksama, matanya menajam mengerti arah pembicaraan ini. "Jadi, ketidakharmonisan dan kerusakan yang terjadi di sana bukanlah kebetulan atau akibat kemajuan zaman semata, melainkan hasil dari kebijakan segelintir orang yang terlalu berkuasa dan serakah."

"Tepat sekali, Yang Mulia," jawab Argan dengan nada getir. "Kaisar Liora adalah penguasa yang bijaksana dan berhati mulia. Dia menyadari kesalahan ini dan berusaha keras mengubah keadaan. Namun, kekuatan Grup Tangan Besi sudah terlalu besar, sudah terlalu lama mengakar. Setiap kali Kaisar mencoba membuat aturan yang adil, membatasi penimbunan kekayaan, atau melindungi rakyat kecil, mereka akan melawan. Kadang dengan cara halus, seperti menekan ekonomi negara. Kadang dengan cara kasar, seperti menghasut kerusuhan atau bahkan ancaman pembunuhan terhadap mereka yang dianggap menghalangi jalan mereka."

Elizabeth menghela napas panjang. "Masalah seperti ini pernah kita hadapi juga di sini, dulu sekali. Waktu di mana kekuasaan terpusat pada orang-orang yang salah, yang mengira bahwa jabatan adalah hak milik dan rakyat adalah bawahan yang harus ditindas. Perubahan menuju keadilan tidak pernah mudah, Argan. Karena mereka yang merasa dirugikan oleh keadilan akan selalu berusaha melawannya dengan segala cara."

"Itulah sebabnya mengapa kedatangan kami ke sini sangat rahasia di awal," lanjut Argan. "Grup Tangan Besi tidak mengetahui tujuan sebenarnya dari perjalanan ini. Kepada mereka, Kaisar mengatakan kami pergi untuk menjelajah wilayah baru dan mencari peluang perdagangan. Jika mereka tahu bahwa kami datang untuk mencari cara mengubah sistem, mencari kebijaksanaan untuk membatasi kekuasaan mereka... mungkin kapal kami sudah ditenggelamkan di tengah samudra sebelum sempat sampai ke sini."

Hunter menegakkan punggungnya, sorot matanya berubah tegas. Dia mulai mengerti seberapa berat beban yang dipikul oleh bangsa ini, dan seberapa besar risiko yang telah diambil oleh Kaisar Liora serta Panglima Argan. "Jadi, kami bukan hanya diminta untuk mengajarkan cara membangun kedamaian. Kami diminta untuk membantu menyelamatkan sebuah kerajaan dari keruntuhan yang disengaja oleh orang-orang di dalamnya sendiri."

"Benar, Yang Mulia," Argan mengangguk dalam. "Dan itulah sebabnya Kaisar sangat berharap, bahkan memohon, agar Yang Mulia Hunter bersedia berkunjung ke Kerajaan Samudera Biru. Hadirnya seorang pemimpin yang telah membuktikan kebijaksanaannya, membawa ajaran leluhur yang agung, akan menjadi kekuatan besar bagi Kaisar. Kehadiranmu bisa mengubah pandangan banyak orang, bisa menjadi dukungan moral yang sangat kuat bagi mereka yang selama ini berjuang demi kebaikan namun tertekan. Dan mungkin... hanya mungkin, ajaran kebijaksanaan itu bisa menembus hati mereka yang keras kepala dan serakah itu."

Keheningan melanda kembali. Taylor dan Elizabeth saling berpandangan. Keputusan ini sangat besar. Mengirimkan pemimpin negeri ke seberang samudra yang jauh, ke negeri yang penuh intrik dan bahaya, adalah risiko yang sangat tinggi. Namun, mereka juga tahu bahwa nilai dari kebijaksanaan dan kebaikan adalah kemampuannya untuk menyebar dan menyelamatkan. Jika mereka hanya menyimpannya di sini, di balik tembok istana yang aman, maka itu sama saja dengan menyembunyikan cahaya di bawah keranjang.

Hunter menatap ayah dan ibunya, lalu menatap Argan dengan keyakinan yang mantap. "Aku akan datang, Panglima Argan. Aku akan datang ke tanah kelahiranmu. Bukan sebagai penguasa yang ingin memerintah, bukan sebagai penakluk yang ingin menguasai, melainkan sebagai saudara yang ingin berbagi cahaya yang dia miliki. Aku akan membawa serta ajaran leluhur kami, dan aku akan melihat sendiri apa yang bisa kami lakukan untuk membantu saudara-saudara kami di sana."

Keputusan itu diambil. Persiapan besar pun segera dimulai. Perjalanan menyeberangi samudra luas membutuhkan waktu berbulan-bulan, persiapan bekal, perlengkapan, dan juga rombongan pendamping yang tepat. Hunter tidak akan pergi sendirian. Dia akan membawa penasihat-penasihat cerdas, ahli hukum, ahli pertanian, dan ahli pengelolaan alam yang telah banyak berjasa di negeri ini, agar mereka bisa berbagi ilmu secara langsung.

Taylor dan Elizabeth, meski sudah tua, bersikeras untuk ikut serta. Pengalaman dan kearifan mereka adalah aset paling berharga yang bisa dibawa. Selain itu, kehadiran mereka akan menunjukkan kesungguhan hati negeri ini, bahwa mereka memandang persaudaraan ini sangat penting hingga melibatkan pendiri kedamaian itu sendiri.

Sebulan kemudian, di Pelabuhan Tanjung Emas, suasana sangat meriah namun juga penuh haru. Ribuan rakyat berkumpul di pinggir pantai, melambaikan tangan, mendoakan keselamatan perjalanan pemimpin mereka. Di depan dermaga, berlabuh sebelas kapal besar yang megah. Sepuluh kapal dari Samudera Biru, dan satu kapal besar yang baru saja diselesaikan pembuatannya oleh para pengrajin lokal dengan bantuan ilmu para pelaut asing, diberi nama Kapal Cahaya Persahabatan, kapal yang akan mengangkut rombongan Hunter.

Di bawah langit biru yang cerah, diiringi nyanyian rakyat dan doa para tetua, rombongan besar itu perlahan berlayar meninggalkan tanah air, menembus cakrawala timur, menuju samudra luas yang misterius.

Perjalanan di atas laut adalah pengentirean yang sama sekali baru bagi penduduk kerajaan ini. Bagi Hunter dan rombongannya, yang selama ini hanya mengenal daratan, sungai, dan danau besar, hamparan air yang luas tak berujung ini terasa menakjubkan sekaligus menakutkan. Air berwarna biru tua pekat, ombak naik turun seolah bukit dan lembah bergerak tanpa henti, dan angin bertiup kencang membawa aroma yang kuat dan asin.

Namun, di bawah bimbingan Panglima Argan dan para pelaut andalannya, perjalanan berjalan lancar. Argan mengajarkan mereka cara membaca arah angin, cara membaca bintang di malam hari, dan cara memahami tanda-tanda alam di laut. Di saat yang sama, Hunter dan para penasihatnya berdiskusi panjang lebar dengan Argan, menggali lebih dalam lagi tentang keadaan politik, sosial, dan budaya di Kerajaan Samudera Biru, agar mereka tidak datang sebagai orang asing yang buta keadaan.

Semakin lama mereka berlayar, semakin jelas gambaran yang terbentuk. Kerajaan Samudera Biru adalah kerajaan kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau besar dan kecil, yang tersebar di hamparan lautan luas. Ibu kotanya terletak di pulau terbesar dan paling makmur, sebuah kota megah yang dibangun di atas air dan daratan, terkenal sebagai pusat perdagangan dunia. Namun, keindahan itu menyimpan luka mendalam. Argan bercerita bahwa di pulau-pulau kecil yang jauh dari pusat kekuasaan, rakyat hidup sangat miskin dan terlantar, dieksploitasi habis-habisan oleh para tuan tanah dan pedagang besar. Sumber daya alam mereka diambil paksa dengan harga murah, sementara mereka sendiri dibiarkan hidup dalam kekurangan.

"Di sana, Yang Mulia," kata Argan suatu hari saat mereka berdiri di haluan kapal memandang lautan luas, "Uang adalah segalanya. Nilai seseorang diukur dari berat kantong emasnya. Kehormatan bisa dibeli, dan keadilan adalah milik mereka yang mampu membayarnya. Grup Tangan Besi menguasai jalur pengiriman, sehingga mereka bisa menentukan harga barang sesuka hati. Jika ada yang menentang, mereka akan memutus akses, membuat kelaparan, atau menuduh pemberontak."

"Maka, tugas kita di sana akan berat," jawab Hunter pelan namun tegas. "Kita tidak bisa sekadar berpidato tentang kebijaksanaan. Kita harus menunjukkan bukti bahwa ada cara hidup yang lain, cara hidup yang lebih baik, di mana kesejahteraan bisa dinikmati semua orang, bukan hanya segelintir saja."

Taylor, yang berdiri di samping mereka sambil memegang pagar kapal, menatap jauh ke depan. "Ini akan menjadi pertarungan ide dan hati, Nak. Kekuatan senjata tidak akan berguna di sana, karena jumlah pasukan mereka jauh lebih banyak dan lebih terlatih dari kita. Kekuatan kita ada pada kebenaran dan bukti nyata yang telah kita bangun di tanah air kita dulu. Itulah satu-satunya senjata yang bisa menembus tembok keserakahan mereka."

Perjalanan selama dua bulan itu akhirnya sampai di puncaknya. Suatu pagi, saat kabut pagi mulai menipis, terlihatlah garis besar daratan di kejauhan. Semakin dekat, semakin jelas pemandangan yang terhampar, membuat seluruh rombongan dari daratan itu menahan napas takjub.

Di hadapan mereka terbentanglah pemandangan yang luar biasa indah dan megah. Sebuah pulau besar yang dikelilingi perairan jernih berwarna biru muda dan hijau toska. Di pesisirnya, membentang kota yang sangat luas, bangunan-bangunannya berwarna-warni cerah, beratap lengkung dan runcing dengan gaya arsitektur yang unik dan indah. Kapal-kapal dagang dari berbagai penjuru dunia berlabuh berjejer rapi di pelabuhan yang seolah tak berujung panjangnya. Di tengah kota, menjulang istana Kaisar yang megah, berwarna putih bersih dengan atap emas yang berkilauan terkena sinar matahari, dikelilingi taman-taman indah dan kanal-kanal air yang bersih.

"Inilah dia," kata Argan dengan suara bergetar haru dan bangga, sekaligus sedih. "Inilah Kota Bintang, ibu kota Kerajaan Samudera Biru. Kota terindah, terkaya, dan tersibuk di seluruh dunia yang kami kenal."

Kapal-kapal besar itu perlahan merapat ke dermaga utama. Di sana, penyambutan besar telah disiapkan. Di pinggir dermaga, berbaris pasukan pengawal istana dengan pakaian seragam indah berwarna biru dan emas, memegang senjata yang berkilauan. Di depan barisan itu, berdiri sosok laki-laki paruh baya yang berwibawa luar biasa, mengenakan jubah kebesaran yang sangat indah namun sederhana potongannya. Wajahnya tampan, mata tajam namun lembut, memancarkan kecerdasan dan kebaikan hati yang mendalam. Itulah Kaisar Liora.

Di sebelah kiri Kaisar, berdiri para penasihat dan pejabat tinggi. Namun, di sebelah kanan, terlihat sekelompok orang yang penampilan dan sikapnya sangat kontras. Mereka berpakaian sangat mewah, berhias emas dan permata berlebihan, wajah mereka berkilauan karena kekayaan namun sorot mata mereka dingin, tajam, dan penuh penilaian. Itulah para pemimpin dan wakil dari Grup Tangan Besi. Mereka hadir karena mereka harus hadir, namun wajah mereka tidak menyembunyikan rasa curiga, rasa tidak suka, dan rasa angkuh yang tinggi.

Saat Hunter, Taylor, dan Elizabeth turun dari kapal, Kaisar Liora maju selangkah dengan senyum tulus yang melebar hingga ke matanya. Dia tidak menunggu mereka membungkuk, melainkan maju sendiri dan memeluk mereka layaknya saudara lama yang berpisah puluhan tahun.

"Selamat datang, saudara-saudaraku," ucap Kaisar Liora dengan suara lantang dan penuh emosi. "Selamat datang ke tanah air kami. Nama kalian telah lama kami puja sebagai simbol kebaikan dan kebijaksanaan. Akhirnya, mata kami beruntung bisa melihat kalian secara langsung."

Hunter membalas sapaan itu dengan hormat dan hangat. "Kehormatan ada di pihak kami, Yang Mulia. Kami datang bukan sebagai pengunjung yang ingin melihat kemegahan semata, tapi sebagai saudara yang ingin berbagi dan saling menguatkan."

Namun, suasana hangat itu perlahan mendingin saat salah satu orang dari kelompok mewah itu melangkah maju. Laki-laki itu tinggi besar, gemuk karena kekayaan, wajahnya bulat dan kemerahan, matanya kecil yang menyipit penuh hitungan. Namanya Tuan Goran, pemimpin tertinggi Grup Tangan Besi. Dia membungkuk sekilas dengan sangat santai, hampir tidak menurunkan badannya, senyumnya sinis dan penuh rasa meremehkan.

"Selamat datang di Kota Bintang, Raja dari tanah seberang itu," ucap Goran dengan nada suara yang lembut namun menusuk. "Kudengar di negerimu itu kalian hidup sangat sederhana, bahkan mungkin terlalu sederhana. Kami berharap kalian tidak akan kaget atau terganggu melihat kemegahan dan kekayaan kami di sini. Karena di sini, kami percaya bahwa kekayaan adalah bukti kehebatan seseorang, dan kemewahan adalah hak mereka yang pandai mengumpulkannya."

Ucapan itu jelas sekali merupakan tantangan terselubung. Di sekelilingnya, para pengikutnya tersenyum licik, menunggu reaksi rombongan dari daratan itu. Mereka ingin menguji, ingin mengecilkan arti kedatangan ini sejak hari pertama.

Taylor dan Elizabeth hanya tersenyum tenang, tidak terganggu sedikit pun. Hunter menatap lurus ke mata Goran, dengan pandangan yang jernih, tenang, namun penuh wibawa yang membuat nyali orang itu sedikit ciut.

"Kekayaan memang indah jika digunakan untuk kebaikan dan kebahagiaan semua orang, Tuan Goran," jawab Hunter pelan namun tegas, terdengar jelas oleh semua orang yang hadir. "Kami di tanah kami juga memiliki kekayaan yang melimpah. Hanya saja, kami mengukur kekayaan kami bukan dari seberapa banyak emas yang kami simpan di gudang, melainkan dari seberapa banyak perut rakyat kami yang kenyang, seberapa banyak anak-anak kami yang bisa belajar, dan seberapa damai hati setiap orang yang hidup di sana. Kemegahan yang sesungguhnya, menurut kami, ada di dalam kebahagiaan rakyat, bukan di perhiasan yang menempel di tubuh segelintir orang."

Jawaban itu membuat Kaisar Liora tersenyum puas dan bangga. Namun, wajah Goran mengeras, senyum sinisnya hilang berganti tatapan dingin dan penuh kebencian yang tersembunyi. Di detik itu juga, di dermaga penyambutan itu, terjalinlah pertentangan diam-diam. Grup Tangan Besi menyadari bahwa kedatangan rombongan ini bukanlah hal sepele. Mereka adalah ancaman nyata bagi kekuasaan dan cara hidup mereka.

Kota Bintang yang indah dan megah itu kini menjadi panggung pertarungan besar. Di satu sisi ada kebijaksanaan, keadilan, dan persaudaraan. Di sisi lain ada keserakahan, kekuasaan, dan kepentingan pribadi. Dan di tengah-tengahnya, nasib jutaan rakyat Kerajaan Samudera Biru sedang dipertaruhkan.

Babak baru telah dimulai, dan ujian terberat bagi Hunter, Taylor, dan Elizabeth baru saja benar-benar dimulai. Di negeri asing ini, mereka harus membuktikan bahwa kebenaran lebih kuat dari emas, dan keadilan lebih kokoh dari benteng pertahanan apa pun.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!