Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Langkah kaki Louis Enver Osborn bergema berat di sepanjang lorong marmer lantai tertinggi Menara Osborn Group. Kertas rekam medis yang tadi diremasnya kini tersimpan rapat di dalam saku jaket kulit hitamnya, terasa laksana sebuah batu panas yang terus membakar kulitnya.
Di hadapannya, pintu lift privat terbuka dengan dentingan halus. Louis melangkah masuk, membiarkan tubuh tegapnya bersandar pada dinding lift yang dingin.
Begitu pintu berlapis cermin itu tertutup, dia memejamkan matanya rapat-rapat.
“Bawa dia kembali... Wanita itu mengandung penerus sah dari darahmu!”
Kalimat Arthur terus berputar di kepalanya, bercampur dengan teriakan penuh kebencian dari Raynazh.
Louis terkekeh rendah, sebuah tawa getir yang terdengar sangat parau di dalam kotak lift yang sunyi. Dunia benar-benar telah berbalik seratus delapan puluh derajat.
Pria yang dahulunya dianggap sampah dan tidak pernah diinginkan di menara megah ini, kini justru diserahi takhta tertinggi hanya karena dia telah menidurkan istri kakaknya sendiri hingga hamil.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai dasar, menampilkan area lobi yang luas dan dijaga ketat. Zack sudah berdiri di sana, bersandar pada pilar dekat pintu keluar dengan ekspresi wajah yang teramat serius.
Detektif swasta itu segera menegakkan tubuhnya begitu melihat bosnya keluar dengan aura yang begitu menggelap.
"Louis," panggil Zack, melangkah cepat menyamai langkah lebar Louis menuju pelataran parkir luar. "Aku baru saja menerima laporan terbaru dari jaringan kita di Eropa. Sesuatu yang aneh sedang terjadi."
Louis tidak menghentikan langkahnya. Dia membuka pintu mobil SUV hitam miliknya, masuk ke kursi kemudi, dan memberi isyarat agar Zack duduk di kursi penumpang di sampingnya. Begitu pintu tertutup rapat dan mesin mobil menderu halus, Louis menoleh. "Apa yang kabar?"
"Agenku di Zurich kehilangan jejak manifes domestik klan Abbey," ujar Zack, dahinya berkerut rapat.
"Jet pribadi milik George Abbey memang mendarat di sana, dan protokol keamanan mereka terlihat sangat ketat di sekitar hotel utama mereka di pusat kota. Tapi... suasananya terlalu tenang, Louis. Tidak ada pergerakan medis, tidak ada dokter kandungan pribadi yang dipanggil, dan tidak ada tanda-tanda bahwa Adiba Abbey benar-benar berada di dalam bangunan itu. Ini seperti... mereka sengaja meninggalkan umpan agar kita terus mengawasi Swiss."
Tangan Louis yang mencengkeram kemudi mendadak menegang. "Maksudmu, Adiba tidak ada di Swiss?"
"Ada kemungkinan besar seperti itu," jawab Zack pelan. "Klan Abbey adalah master dalam hal pengalihan isu. Jika mereka ingin menyembunyikan putri tunggal mereka yang sedang hamil dari jangkauan keluarga Osborn, mereka tidak akan menempatkannya di tempat yang paling mudah kita tebak."
Louis terdiam, pandangan matanya lurus menatap jalanan Manhattan di hadapannya. Jiwanya didera frustrasi yang mendalam.
Dia baru saja memegang kekuasaan penuh sebagai CEO Osborn Group, memiliki akses dana dan intelijen tak terbatas, namun musuh yang dihadapinya kini bukanlah bisnis legal, melainkan sebuah dinding pelindung raksasa bernama klan Abbey.
Dan di balik itu semua, Louis merasakan ada sebuah kekuatan tak kasat mata yang teramat rapi, yang sengaja mengaburkan jalurnya.
"Lacak setiap properti tersembunyi milik keluarga Abbey yang ada di pantai timur, Zack," perintah Louis, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin.
"Jangan batasi pencarianmu hanya di Eropa. Jika Adiba tidak pergi jauh, dia pasti berada di suatu tempat yang dekat dengan New York, tempat yang cukup aman untuk mengontrol penarikan modal bisnis mereka."
"Baik, Louis. Aku akan mengerahkan seluruh tim malam ini juga," sahut Zack bersiap turun dari mobil.
Sebelum dia membuka pintu, dia menatap Louis dengan pandangan prihatin. "Dan tentang Christine... apa yang akan kau katakan padanya?"
Nama Christine mendadak membuat dada Louis berdenyut sakit. Dia telah mengkhianati gadis itu, dan kini dia harus memimpin perburuan untuk membawa wanita lain kembali ke hidupnya.
"Aku akan menyelesaikannya dengan caraku sendiri," desis Louis, mengakhiri pembicaraan sebelum membiarkan mobilnya melesat membelah jalanan kota menuju Brooklyn.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, suasana di griya tawang klan Abbey di Long Island justru dipenuhi oleh atmosfer yang sepenuhnya bertolak belakang. Kehangatan sisa makan siang tadi masih terasa di ruang makan keluarga.
Adiba Abbey duduk di sofa beludru dekat jendela besar, memandangi hamparan laut lepas dengan secangkir teh chamomile hangat di tangannya.
Wajahnya tampak jauh lebih rileks, dan rona merah alami mulai kembali ke pipinya yang sempat pucat.
Di hadapannya, Giorgio Chiellini duduk dengan keanggunan yang mutlak, melipat satu kakinya di atas kaki yang lain sembari menyesap kopi hitamnya.
George Abbey dan Eleanor telah pamit ke ruang kerja mereka beberapa menit lalu, sengaja memberikan ruang bagi putri mereka untuk mengobrol lebih jauh dengan senior masa kuliahnya itu.
"Nasi goreng buatanmu benar-benar tidak berubah, senior," ucap Adiba, memecah kesunyian dengan senyuman tipis yang tulus. "Masih sama persis dengan rasa nasi goreng yang sering kau bawakan dulu."
Giorgio menurunkan cangkir kopinya perlahan, sepasang mata sehitam jelaga miliknya menatap Adiba dengan intensitas yang teramat teduh—sebuah topeng sempurna yang menyembunyikan kegilaan obsesi di dalam jiwanya.
"Aku hanya memastikan juniorku tidak mati kelaparan karena terlalu memikirkan hal-hal yang tidak penting."
Adiba tertawa kecil, menyandarkan punggungnya ke bantalan sofa. "Kau selalu tahu bagaimana cara menenangkanku. Rasanya aneh... setelah bertahun-tahun kita tidak bertemu, kau tiba-tiba muncul di sini, tepat di saat duniaku sedang berantakan karena perceraian dan... hal-hal lain."
"Dunia tidak pernah benar-benar berantakan, Adiba," sahut Giorgio, suaranya baritonnya terdengar begitu lembut namun memiliki daya pikat yang kuat.
Dia condong ke depan, menopang kedua tangannya di atas lutut, menatap lurus ke dalam sepasang mata Adiba. "Terkadang, takdir hanya sedang membersihkan orang-orang yang tidak pantas berada di sisimu, agar kau bisa melihat siapa orang yang sebenarnya selalu berdiri di tempat yang sama untukmu."
Adiba tertegun mendengar kalimat itu. Ada getaran ganjil yang mendadak menyusup ke dalam dadanya. Kalimat Giorgio terdengar sangat dalam, seolah memiliki makna tersirat yang melompat jauh dari sekadar hubungan senior dan junior.
Namun, sebelum Adiba sempat menganalisis perasaan ganjil itu, sebuah ketukan lembut di pintu ruang santai memotong momen di antara mereka.
Seorang pelayan masuk dengan membungkuk hormat. "Maaf mengganggu, Nyonya Adiba, Tuan Giorgio. Ada kiriman paket besar di depan gerbang untuk Anda, Tuan Giorgio. Pengawal Anda di luar mengatakan paket ini harus segera dipindahkan ke dapur."
Giorgio tersenyum tipis, lalu bangkit berdiri dengan keanggunan seorang bangsawan. Dia menoleh ke arah Adiba. "Ah, paketnya sudah tiba ternyata. Aku sengaja memesan beberapa kotak buah beri segar dan es krim organik khusus dari perkebunan klan Chiellini di utara. Aku mendengar dari ibumu bahwa kau sedang suka menyontek camilan manis belakangan ini."
Mata Adiba seketika berbinar. "Es krim? Kau memesan es krim khusus?"
"Tentu saja. Ikutlah denganku ke dapur, kita lihat apakah kiriman ini sesuai dengan seleramu yang pemilih itu," ajak Giorgio, mengulurkan tangannya dengan sangat sopan di hadapan Adiba.
Adiba tanpa ragu menyambut uluran tangan kokoh itu, bangkit dari sofa dengan senyuman lebar. Dia merasa benar-benar dimanjakan hari ini. Sepanjang jalan menuju dapur, mereka berdua mengobrol ringan, tertawa membahas tentang dosen-dosen kaku yang sering mereka bahas di Universitas Washington dahulu.
Namun, begitu mereka tiba di dapur bersih dan para pelayan mulai membuka kotak-kotak es krim organik tersebut, sebuah pemandangan epik yang dipenuhi oleh getaran obsesi yang pekat kembali tersaji secara tersembunyi.
Adiba sibuk membuka salah satu wadah es krim rasa vanila madu dengan wajah gembira, sepenuhnya membelakangi Giorgio. Dia tidak menyadari bahwa di detik wanita itu berpaling, senyuman ramah di wajah tampan Giorgio Chiellini seketika menguap tanpa bekas.
Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu berdiri tegak di tengah ruangan, bayangannya memanjang di atas lantai marmer. Sepasang matanya yang sehitam jelaga mendadak menggelap ekstrem, memancarkan tatapan seorang predator penuh obsesi yang teramat masif dan Penuh Damba.
Giorgio melangkah perlahan tanpa suara, mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa satu langkah di belakang punggung Adiba. Pandangannya terkunci mati, lurus ke arah perut Adiba yang tertutup sweater longgar.
Di dalam benak Giorgio yang dipenuhi kegilaan yang tertata rapi, dia sedang menatap takhta masa depannya. Rahim wanita itu membawa darah dagingnya—sebuah rahasia jahanam yang dia tanam dengan tangannya sendiri.
Selama sesi Adiba mencicipi es krim itu, Giorgio berdiri di sana dengan sebuah senyuman tipis yang sangat dingin, senyuman laksana orang gila yang puas karena berhasil mengelabui seluruh dunia.
Dia menikmati bagaimana Adiba mengira kehamilan ini adalah anak dari Louis Osborn, membiarkan wanita itu membakar energinya untuk membalas dendam pada keluarga Osborn, sementara dirinya sendiri berdiri dengan tenang di barisan paling depan sebagai pelindung sejati.
“Nikmatilah setiap detiknya, Adiba-ku,” batin Giorgio menggeram penuh kepuasan yang mutlak. “Biarkan berandal Brooklyn itu membusuk dalam penyesalan mencari anak yang bukan miliknya. Pada akhirnya, kau dan bayi di rahimmu itu hanya akan menjadi milikku seutuhnya.”
"Gio! Ini benar-benar enak! Kau harus mencobanya!" Adiba mendadak membalikkan tubuhnya dengan ceria, menyodorkan sendok kecil berisi es krim ke arah Giorgio.
Dalam hitungan sepersekian detik, seolah memiliki sakelar emosi yang sempurna, tatapan predator di mata Giorgio lenyap seketika, berganti menjadi binar mata hangat seorang senior yang teduh.
Dia menerima suapan itu dengan senyuman menawan. "Jika kau menyukainya, aku akan memastikan pasokan es krim ini tidak akan pernah habis di lemari esmu, Junior."
Adiba tertawa renyah, merasa suasana hatinya hari ini adalah yang terbaik dalam beberapa bulan terakhir, tanpa pernah tahu bahwa dia sedang menari dengan sangat indah di dalam jaring-jaring manipulasi yang dirancang oleh pria di hadapannya.
Perang tak terlihat di New York baru saja dimulai, dan bidak-bidak catur Giorgio telah bergerak dengan sangat sempurna tanpa cacat.