NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Tamat
Popularitas:107.8k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Sesampainya di halte depan gedung perusahaan, atau lebih tepatnya saat ia berjalan melewati gerbang besar itu, petugas keamanan yang biasanya bersahabat kini menyapa dengan penghormatan yang lebih dalam. Kabar mengenai apa yang terjadi kemarin, mengenai pembongkaran kejahatan dan pemecatan Dimas serta Rina, sudah menyebar ke seluruh penjuru kantor. Semua orang tahu, Ani-lah yang menjadi pahlawan kebenaran di balik itu semua, Ani-lah wanita yang teguh memegang prinsip, dan Ani-lah yang kini berdiri tegak dengan nama baik yang bersih berkilau.

"Selamat pagi, Bu Ani! Selamat datang kembali!" sapa Pak Satpam dengan senyum lebar dan membungkukkan badan sedikit. Wajahnya penuh rasa hormat.

"Selamat pagi, Pak. Terima kasih ya," jawab Ani ramah, tersenyum manis sambil mengangguk sopan. Ia tetaplah Ani yang rendah hati, tidak sombong sedikit pun meski namanya kini harum di mana-mana.

Begitu melangkah masuk ke lobi dan menuju lift, setiap karyawan yang berpapasan dengannya langsung menyapa, tersenyum, atau mengangguk hormat. Dulu, saat pertama kali masuk, mereka melihatnya sebagai karyawan biasa, atau sekadar kenalan bos. Tapi hari ini, mereka melihatnya sebagai sosok yang dikagumi.

"Pagi, bu Ani! Semangat ya hari ini!"

"Wah, cantik sekali hari ini, Bu Ani!"

"Selamat pagi, Bu Ani. Senang sekali melihat ibu masuk lagi dengan senyum itu."

Berbagai sapaan ramah terdengar di telinga Ani, dan ia membalas semuanya dengan keramahan yang sama. Ia tidak merasa di atas siapa pun. Ia tahu, posisinya ada di sini untuk bekerja, untuk mengabdi, dan memberi manfaat.

Saat pintu lift terbuka di lantai tempatnya bekerja, suasana ruangan kantor yang biasanya sibuk, pagi itu terasa lebih hangat. Begitu Ani muncul di ambang pintu, beberapa rekan kerjanya langsung bertepuk tangan kecil, menyambut kedatangannya dengan gembira. Mereka semua tahu betapa berat ujian yang harus Ani lalui kemarin, dan mereka ikut bahagia melihat Ani bangkit kembali dengan semangat yang jauh lebih besar.

Ani tertegun sejenak, terharu menyambut sambutan itu. Ia berjalan masuk ke tengah ruangan, menatap wajah-wajah rekan kerjanya yang ramah dan tulus.

"Wah, wah... Aduh, jangan gini dong, teman-teman. Jadi malu saya," ucap Ani sambil tertawa kecil, tangannya sedikit melambai meminta mereka berhenti. Wajahnya merona bahagia.

Salah satu rekan kerjanya, Sari, wanita yang paling akrab dengannya, langsung berlari mendekat dan memeluk bahu Ani dengan erat.

"Kamu hebat sekali, Ani! Kami semua bangga banget sama kamu, tahu? Kemarin itu... kami deg-degan luar biasa. Kami takut kamu jatuh, kami takut kamu sedih, kami takut kamu pergi. Tapi lihatlah kamu hari ini... luar biasa! Masih tetap senyum, masih tetap ramah, dan semangatnya malah makin bertambah!" seru Sari dengan mata berbinar kagum.

"Betul sekali, Ani," sambung Budi, rekan kerja yang lain. "Jujur saja, kami semua tahu siapa Dimas dan Rina itu. Kami semua tahu kelakuan mereka. Tapi kami diam saja karena takut. Kami pikir mereka akan menang terus karena licik dan curang. Tapi kamu... kamu buktikan, bahwa kejujuran dan kebenaran itu memang pasti menang, meski jalannya berliku. Kamu ajarkan kami satu hal penting: jangan pernah takut pada orang jahat, karena kejahatan itu akhirnya akan makan tuannya sendiri."

Ani mengangguk mendalam, menatap mereka satu per satu dengan rasa terima kasih yang besar.

"Terima kasih banyak ya, teman-teman... Terima kasih atas dukungan dan kepercayaan kalian sama saya. Jujur saja, kemarin itu berat sekali buat saya. Rasanya dunia seolah terbalik, rasanya hati ini sakit sekali difitnah, dituduh yang bukan-bukan. Saya sempat sedih, saya sempat menangis. Tapi kemudian saya ingat... saya ingat kalian, saya ingat Pak Damar, saya ingat orang tua saya, dan saya ingat Tuhan. Saya ingat, kalau saya mundur karena rasa takut atau sedih, berarti saya membiarkan kejahatan menang. Berarti saya tidak menghargai kepercayaan kalian sama saya."

Ani berhenti sejenak, menarik napas panjang, lalu melanjutkan ucapannya dengan lantang dan tegas agar semua yang ada di ruangan itu mendengar.

"Dan satu hal lagi yang saya pelajari dari semua kejadian kemarin... Bahwa musuh terbesar kita itu bukanlah orang lain, bukan pula kesusahan. Tapi keraguan di hati kita sendiri. Selama kita yakin kita benar, selama kita yakin kita jujur, selama kita yakin kita tidak menyakiti orang lain... maka tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang bisa menjatuhkan kita. Mau dipasang jerat sehalus apa pun, mau diputarbalikkan fakta sehebat apa pun... pada akhirnya, kebenaran pasti akan terang benderang juga. Dan orang yang benar... dia akan tetap berdiri tegak, seperti matahari yang tidak pernah berhenti bersinar hanya karena ada awan mendung sesaat."

Tepuk tangan kembali bergemuruh di ruangan itu, kali ini lebih keras dan lebih antusias. Semua orang mengagumi ketegasan dan kebijaksanaan Ani. Bagi mereka, Ani bukan sekadar rekan kerja biasa, tapi sudah menjadi teladan.

Belum lama kemudian, pintu ruangan utama terbuka, dan keluarlah Pak Damar. Ia berdiri di ambang pintu, menatap suasana ruangan yang hangat itu dengan senyum puas di bibirnya. Ia sudah mendengar semua ucapan Ani dari dalam, dan hatinya penuh rasa bangga luar biasa. Ia tidak salah menilai Ani. Ia tidak salah memberi kesempatan pada wanita ini. Ani benar-benar permata yang terpendam, dan kini permata itu bersinar terang di bawah bimbingan yang tepat.

Melihat kehadiran atasan mereka, semua karyawan langsung terdiam dan menegakkan badan. Ani pun berbalik menghadap Pak Damar, menatapnya dengan pandangan hormat dan percaya diri.

"Selamat pagi, semuanya," sapa Damar tenang namun berwibawa. Matanya kemudian tertuju tepat pada Ani. "Dan selamat pagi khusus buat kamu, Ani."

Damar berjalan mendekat hingga berdiri tepat di hadapan Ani. Ia menatap wajah wanita itu lekat-lekat, melihat ketenangan dan semangat yang menyala di sana.

"Ani... saya tidak perlu lagi bertanya apakah kamu baik-baik saja atau tidak. Jawabannya sudah terlihat jelas dari sorot matamu, dari senyummu, dan dari semangatmu pagi ini," ucap Damar pelan namun penuh makna. "Jujur saja, kemarin saat semuanya terjadi, saat kejahatan mereka terbongkar dan mereka diusir... saya sempat khawatir. Saya khawatir kamu akan merasa bersalah, saya khawatir kamu akan merasa kasihan lalu sedih, atau saya khawatir kamu akan merasa puas lalu menjadi sombong. Tapi ternyata... kekhawatiran saya salah sama sekali."

Damar tersenyum lebar, menepuk bahu Ani dengan bangga.

"Kamu luar biasa, Ani. Kamu menerima kemenangan ini dengan hati yang rendah, dengan rasa syukur, dan dengan semangat baru untuk bekerja lebih giat lagi. Itu sifat pemimpin yang sejati. Ingatlah selalu apa yang kamu ucapkan tadi di depan rekan-rekanmu. Itu benar sekali. Selama kamu memegang teguh kebenaran dan kejujuran, selama kamu tetap menjadi dirimu sendiri yang baik... maka di perusahaan ini, di mana pun itu, posisimu akan selalu kokoh, harga dirimu akan selalu terjaga, dan kebahagiaanmu tidak akan bisa direnggut siapa pun."

"Terima kasih banyak, Pak Damar," jawab Ani tulus, matanya berkaca-kaca karena haru namun tetap tegas. "Terima kasih sudah percaya sama saya dari awal, terima kasih sudah mendukung saya saat saya sendirian dan difitnah banyak orang. Tanpa Bapak, mungkin saya sudah tidak ada di sini lagi. Bapak bukan sekadar atasan buat saya, tapi Bapak adalah guru, adalah kakak, adalah orang yang menyelamatkan harga diri saya."

Ani menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat yang mendalam, lalu kembali menatap Damar dengan tegas.

"Dan izinkan saya berjanji di sini, Pak... Di hadapan Bapak dan di hadapan teman-teman semua... Hari ini, dengan semangat baru ini, saya berjanji akan bekerja lebih keras lagi. Saya akan belajar lebih banyak lagi. Saya akan menjaga amanah dan kepercayaan yang Bapak berikan ke saya sebaik-baiknya. Saya akan buktikan, bahwa wanita yang pernah jatuh dan sakit hati ini, mampu bangkit dan memberikan karya terbaiknya buat perusahaan ini. Saya tidak akan membiarkan masa lalu menghentikan langkah saya. Saya hanya akan memakai masa lalu itu sebagai pelajaran, sebagai kekuatan, dan sebagai alasan untuk terus melangkah maju ke depan, semakin jauh, semakin tinggi, dan semakin bermanfaat bagi orang lain."

Suasana hening sejenak, penuh rasa haru dan kekaguman. Damar mengangguk mantap, hatinya puas sekali.

"Bagus! Itu yang ingin saya dengar! Itu Ani yang saya kenal!" seru Damar lantang, suaranya bergema penuh semangat. "Sudah, jangan buang waktu lagi. Tugas-tugas baru sudah menunggu. Proyek-proyek besar ada di depan mata. Mari kita buktikan bersama, bahwa kebersamaan kita yang jujur dan saling mendukung inilah kekuatan terbesar perusahaan ini. Mari kita bekerja dengan hati, dengan senyum, dan dengan semangat yang tidak pernah padam!"

"Siap, Pak!" jawab semua karyawan serentak dengan suara lantang dan antusias, diiringi senyum lebar di wajah mereka masing-masing.

Damar kembali menatap Ani sekali lagi sebelum berjalan kembali ke ruang kerjanya.

"Silakan, Bu Ani. Meja kerja dan tanggung jawab besar sudah menunggu. Selamat bekerja. Ingat... langkah kakimu sekarang bebas, hatimu bersih, dan masa depanmu cerah. Teruslah berjalan lurus ke depan."

Ani mengangguk mantap, tersenyum paling lebar yang pernah ia tunjukkan. Ia pun berjalan menuju meja kerjanya dengan langkah yang penuh percaya diri. Duduk di kursinya, menatap tumpukan berkas di hadapannya... namun kali ini, berkas-berkas itu bukan beban, melainkan peluang. Peluang untuk berkarya, peluang untuk membuktikan diri, dan peluang untuk membangun masa depan yang indah.

Di luar sana, Dimas dan Rina mungkin sedang meratapi nasib, penuh amarah dan penyesalan. Tapi di sini, di ruangan yang penuh cahaya ini, Ani sedang memulai lembaran baru yang gemilang. Ia sadar sepenuhnya, bahwa rasa sakit yang ia derita dulu adalah harga yang harus dibayar untuk kebahagiaan yang ia nikmati hari ini. Dan ia bersyukur, ia bertahan, ia menang, dan ia kini bersinar lebih terang dari matahari pagi itu sendiri. Hari ini, dan hari-hari seterusnya... adalah milik Ani sepenuhnya.

Bersambung ,,,

1
Ririn
semangat kak
Yunita Asep
/Rose//Rose//Rose/
Surati Surati: 💪💪💞💞💞 lanjuty thoorr
total 1 replies
Yunita Asep
nama sahabat Ani, kok sama dngn nama si pelakor si thorr selingkuhan Dimas...
Yunita Asep
lanjuut.,
Yunita Asep
pelakor.. pasti ad..
Yunita Asep
lanjutkan...
Yunita Asep
yaa kasiaan deh Dimas kena karma tu...
Surati Surati: iya kasihan jg sih....apalagi adik dan ibunya dimas yg baru merintis usaha warung makan kecil"lan moga""ada jalan solusi yg baik buat kedua belah pihak amiinn....
total 1 replies
Yunita Asep
lanjut..
Yuni Ngsih
semangat Ani jangan kalah ,dengan kemampuanmu yg hebat itu pasti berhasil biarkan si Dimas jadi salting dengan kemapuannya dasar Mokindo .....maju trs Ani ....Author mksh ceritramu bgs jd ku yg baca asyik nih ....ok
Yunita Asep
Arga kan dah tau, kalo ortunya Ani mau pulang.!
Yunita Asep
Arga y...
Yunita Asep
lanjuutt...
Yunita Asep
lanjut thorr...
Yuni Ngsih
Authooooor duh ku bcnya ngenes banget suami Ani berpikiran picik tentang istrinya suami mokondo gitu Ani buang & jauhi nanti jg akan berasa oleh suamimu klw kamu tinggalkan ...dasar Dholim ...eheheh ku ko ngeyel ya pdhal itu cuma ceritra ya...jd Thor ceritramu bgs bangeeeet ...ok
Yunita Asep
jangn Si Rina aj yg menderita thorr... kasih juga tu si suami luknutt... Dimas...!!
Surati Surati: q s 7 thorr berikan jg hukuman yg berat buat dimas ....biar imbas sama”kena karma tunaii dari othorr🤣
total 1 replies
Yunita Asep
udah pastilah hamil, mereka sering berdua, sejak dulu, ih berzina, jjikk amat y...
Yunita Asep
syukurin lu Rina, suami orang lu hembat, skrng hamil.. ihh.. zina jjik.. amat azab tu..
Surati Surati: iiiihhh jinik banget aq thoorr.....bodoh amet lah sama rina....yg penting bahagiakan ani ya thoorrr ,dan smoga doa"kita fi ijabah othorr buat ani bahagia sama arga....lanjuuttt
total 1 replies
Yunita Asep
allaaah.. pura2... ampe rumah, kebayang truss... ya kan thorr
Yunita Asep
udah sama Ani aj, Arga... ccokk...
Surati Surati: iya arga sama ani aj cocok bangett loo.....ayo thorr ketukkan pintu hati arga agar terbuka buat ani dan bucin kan arga sama ani yaa.....💪💪💪👍👍👍💓💓💓💓💐💐💐
total 1 replies
Yunita Asep
jodoh spertinya y thorr...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!