NovelToon NovelToon
Di Jodohin Sama Santri

Di Jodohin Sama Santri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Romansa
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.

Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Setelah malam itu mereka tertidur lelap dalam dekapan yang begitu erat, gema azan Subuh kembali membangunkan seisi pesantren. Zuhair dan Celina bergegas mengambil wudhu dan menunaikan salat Subuh berjemaah di kamar. Rasa cemas, takut, dan beban pikiran yang sempat menghantui mereka berdua kemarin sore seolah menguap, digantikan oleh kehangatan subuh yang begitu intim.

Selesai salam dan berdoa bersama, Celina baru saja hendak melipat mukenanya ketika Zuhair tiba-tiba menahan pergelangan tangannya. Celina menoleh dan langsung mendapati tatapan mata suaminya yang sudah berubah menggelap—mode "predator" jam subuh yang sudah sangat dihafalnya.

Tanpa banyak bicara, Zuhair menarik lembut tubuh Celina ke atas kasur. Mukena putih itu terlepas begitu saja, menyisakan daster satin tipis yang membungkus tubuh sintal Celina. Pagi itu, pergulatan panas dan penuh gairah kembali pecah di dalam kamar Ndalem yang terkunci rapat.

Namun, ada yang berbeda dalam sesi wleo-wleo subuh kali ini. Ketika Zuhair melakukan penetrasi dalam, ia seketika mengerang rendah karena merasakan sensasi yang luar biasa nikmat. Area intim Celina terasa jauh lebih menjepit, berdenyut kencang, dan suhunya terasa jauh lebih hangat—bahkan cenderung panas—dari biasanya, seolah menjebak milik Zuhair di dalam kehangatan yang sempurna.

Bukan cuma itu, saat tangan kekar Zuhair merayap naik ke dada istrinya, ia menyadari sesuatu yang berbeda. Pa*udara Celina terasa jauh lebih padat, berisi, dan sangat sensitif ketika disentuh, membuat Celina mendesah kencang sampai mencengkeram sprei dengan erat.

"Ahhh... Gu-Gus... pelan-pelan," rintih Celina dengan napas yang memburu gila, matanya terpejam menikmati setiap sentuhan suaminya.

Zuhair mempercepat temponya, menyatukan tubuh mereka tanpa celah. Ia menunduk, berbisik tepat di telinga Celina dengan suara bariton yang sangat serak karena menahan nikmat yang luar biasa.

"Cel... di dalam kamu hangat sekali pagi ini," bisik Zuhair parau, napas panasnya menerpa leher Celina. Tangannya meremas payudara Celina yang terasa semakin penuh di genggamannya. "Wah... kayaknya ini karena mekaniknya handal. Tiap malam dihajar tanpa ampun, makanya jadi makin berisi begini."

Muka Celina langsung memerah padam di tengah rasa nikmat yang menderanya. "Ih... Zuhair, diem lo! Ahh—"

Zuhair hanya tersenyum miring, menulikan telinga dari protes malu-malu istrinya. Ia terus memacu gerakannya dengan lihai dan bertenaga, menumpahkan seluruh sisa gairah dan cintanya jauh di dalam rahim Celina yang terasa sangat hangat subuh itu, berharap benih yang ia tanam kali ini benar-benar membuahkan hasil.

Beberapa hari setelah subuh yang panas itu, suasana tenang di Ndalem mendadak pecah karena kedatangan tamu yang sama sekali tidak diduga. Sebuah mobil mewah berplat nomor daerah Jawa Timur terparkir di halaman.

Zuhair dan Celina yang baru saja selesai merapikan berkas administrasi pesantren di ruang tengah langsung berjalan menuju teras. Jantung Celina mendadak berdegup kencang saat melihat siapa yang turun dari mobil. Itu Ummi Zuhair.

Namun, beliau tidak datang sendiri. Di sampingnya, berdiri seorang perempuan muda berwajah teduh, kulitnya putih bersih, mengenakan gamis syar'i berwarna hijau botol lengkap dengan cadar yang menutupi sebagian wajahnya. Auranya sangat anggun, mencerminkan sosok didikan pesantren tulen.

"Assalamu'alaikum, Zuhair, Celina," sapa Ummi Zuhair dengan senyum yang dipaksakan ramah, melirik dingin ke arah Celina sebelum beralih menatap putranya dengan penuh arti.

"Wa'alaikumussalam, Ummi," jawab Zuhair datar. Rahang tegasnya langsung mengeras, tatapan matanya berubah sedingin es karena ia tahu persis arah kedatangan ibunya ini.

Celina yang belum tahu apa-apa hanya tersenyum sopan dan maju untuk menyalami tangan ibu mertuanya itu. "Ummi... silakan masuk, biar Celina buatkan minum dulu."

"Tidak usah repot-repot, Celina. Ummi ke sini cuma sebentar karena ada urusan penting buat pesantren ini," potong Ummi dengan nada bicara yang terkesan menjaga jarak.

Ummi kemudian menggeser tubuhnya, mempersilakan perempuan di sampingnya untuk maju. "Zuhair, Celina... kenalkan, ini Mitha. Dia putri dari Kyai besar di Subang, lulusan terbaik dari salah satu universitas di Mesir juga. Kebetulan keluarganya itu kolega dekat Papa kamu."

Mitha menunduk, menangkupkan kedua tangannya di depan dada tanpa menyentuh Zuhair. "Assalamu'alaikum, Gus... Mbak Celina," sapanya dengan suara yang sangat lembut dan santun.

Celina membalas sapaan itu, namun instingnya sebagai seorang perempuan mendadak merasa ada yang tidak beres. Tatapan mata Ummi mertuanya kepada Mitha seperti sedang memamerkan sebuah barang berharga.

"Tujuan Ummi bawa Mitha ke sini itu baik," lanjut Ummi kandung Zuhair sambil tersenyum lebar menatap putranya. "Ummi dengar belakangan ini santriwati baru makin banyak dan pengajarnya kurang. Nah, Mitha ini sengaja Ummi bawa ke sini untuk dikenalkan sebagai guru baru di pesantren kita. Biar kalian berdua mengajar santrinya gak repot kalau gurunya makin banyak dan kompeten."

Mendengar alasan "guru baru" tersebut, Zuhair langsung menaikkan sebelah alisnya. Senyum miring yang sangat dingin terukir di wajah tampannya. Zuhair tahu betul ini hanyalah taktik busuk ibunya untuk menyelundupkan Mitha ke dalam lingkaran hidupnya, sebagai langkah awal untuk menjadikannya istri kedua seperti ancamannya kemarin.

Zuhair melangkah maju satu tindakan, lalu dengan sengaja menarik pinggang Celina erat-erat, merapatkannya ke tubuh tegapnya di depan mata sang Ummi dan Mitha. Gestur posesif itu membuat Celina sedikit terkejut namun memilih diam.

"Oh, guru baru untuk membantu mengajar?" ucap Zuhair dengan sarkas. "Terima kasih atas perhatian Ummi yang luar biasa pada perkembangan pesantren saya. Tapi seingat saya, urusan perekrutan ustadzah baru itu mutlak wewenang Abi dan saya sebagai pengurus, bukan wewenang Ummi."

Wajah Ummi kandung Zuhair seketika berubah agak kaku mendengar sindiran halus namun telak dari putranya.

"Zuhair, Ummi kan cuma berniat membantu—"

"Iya, Ummi. Dan bantuan Ummi kami terima sebatas Mitha mendaftar secara resmi melalui tes di kantor yayasan besok pagi, sama seperti calon ustadzah yang lain," potong Zuhair lagi tanpa memberi celah, matanya menatap tajam sang ibu. "Kalau begitu, mari silakan masuk dulu ke ruang tamu. Biar istri tercinta saya, Celina, yang menjamu Ummi. Karena di Ndalem ini, Celina adalah satu-satunya ratu dan nyonya rumah yang berhak mengatur segalanya."

Mitha yang berdiri di belakang Ummi langsung menunduk lebih dalam, sementara Celina yang mulai menangkap ketegangan itu hanya bisa meremas pelan jemari tangan Zuhair yang masih melingkar di pinggangnya, bersiap menghadapi badai yang tampaknya mulai mendekat ke rumah tangga mereka.

Melihat ketegangan yang terjadi di teras Ndalem, dada Celina mendadak terasa sesak luar biasa. Senyum ramah yang tadinya ia pasang perlahan memudar. Kata-kata ummi kandung Zuhair tentang membawa Mitha dari Subang, ditambah dengan tatapan dingin yang dilemparkan kepadanya, membuat potongan-potongan teka-teki di kepalanya mendadak menyatu.

Celina terdiam seribu bahasa. Sambil berpura-pura merapikan ujung khimarnya untuk menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas, air matanya hampir saja menetes. Di dalam benaknya, sebuah kesadaran yang menyakitkan mulai berputar-putar.

‘Jadi... selama ini Ummi tuh sayang sama aku cuma pura-pura?’ ngebatin Celina, dadanya berdenyut perih menahan rasa kecewa yang teramat sangat.

‘Pantas aja selama ini dia kelihatan perhatian banget, nanya kabar, selalu senyum kalau ketemu... Ternyata itu semua cuma pura-pura. Cuma sandiwara biar Mas Zuhair bisa cepet dapet anak, dan dia bisa pamer punya cucu dari anak Kyai kondang kayak ayah gue di Jakarta. Begitu tahu gue belum hamil-hamil juga setelah balik dari Mesir, dia langsung bawa cewek lain ke sini dengan dalih jadi guru baru.’

Celina meremas kain gamisnya dengan erat. Rasa bersalah, sedih, dan marah bercampur aduk jadi satu di dalam hatinya. Dia merasa dirinya seperti tidak ada harganya lagi di mata sang ibu mertua, hanya dinilai dari seberapa cepat rahimnya bisa menghasilkan keturunan untuk menjaga gengsi keluarga.

Namun, di tengah badai batin yang berkecamuk itu, Celina merasakan pelukan tangan Zuhair di pinggangnya semakin mengencang, seolah-olah suaminya itu bisa membaca pikirannya dan sedang menyalurkan seluruh kekuatannya agar Celina tidak tumbang.

"Ayo, Ummi, Mitha, silakan masuk. Jangan sungkan," suara Zuhair kembali menggema, terdengar sangat tegas dan dingin, sama sekali tidak memberikan ruang bagi ibunya untuk mengintimidasi sang istri lebih jauh.

Zuhair lalu menunduk sedikit, menatap mata Celina yang mulai berkaca-kaca dengan tatapan yang begitu dalam dan penuh penyesalan. "Cel, tolong buatkan teh hangat untuk Ummi dan tamu kita, ya? Setelah itu kamu istirahat saja di kamar, biar saya yang selesaikan urusan ini."

Celina hanya bisa mengangguk. Dengan hati yang hancur berkeping-keping, ia berbalik menuju dapur, mencoba menahan air matanya agar tidak tumpah di depan wanita yang telah menganggapnya tidak berguna hanya karena belum berbadan dua.

1
Ulfa 168
seru lanjut thor
Veronicacake: aaaaa maacie udah baca yaaaa, jan lupa like komennya yahhhh! aku update tiap hari kok ka💕💕
total 1 replies
ChaManda
😭😭
Veronicacake: kak😭😭
total 1 replies
Ntaaa___
Jangan lupa mampir di ceritaku kak🤭😇
Anonim
SUKAAAA, GA TAMPLATE NARASINYAAAA! SEMANGAT THOR DI TUNGGU UDATE💕💕💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!