NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENJADI ISTRI KONTRAK ZAYN DEVANDRA

TERPAKSA MENJADI ISTRI KONTRAK ZAYN DEVANDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Menikah Karena Anak / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nirna Juanda

Aluna Maharani adalah gadis sederhana dengan hati yang terlalu tulus untuk dunia yang kejam. Hidupnya berubah dalam satu keputusan yang bahkan bukan miliknya—saat ayahnya memintanya menikah dengan Zayn demi sebuah alasan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Ia menurut.
Bukan karena cinta, tetapi karena kepercayaan.
Namun di balik pernikahan itu, Aluna tidak pernah tahu bahwa semuanya hanyalah kesepakatan—sebuah ikatan tanpa perasaan yang memiliki batas waktu.
Lebih menyakitkan lagi, ia juga tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya… telah lebih dulu memiliki seseorang.
Di rumah keluarga Devandra, Aluna bukanlah istri.
Ia hanya tamu yang tidak diinginkan.
Dingin, tekanan, dan tatapan merendahkan menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di balik semua itu, Aluna tetap bertahan—dengan luka yang ia sembunyikan, dan rasa penasaran yang perlahan membawanya pada rahasia besar yang seharusnya tidak pernah ia ketahui

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Lagi Sekedar Kontrak

POV Zayn

Malam terasa lebih sunyi dari biasanya.

Tidak ada suara dari luar. Tidak ada gangguan. Bahkan dunia seolah berhenti tepat di luar pintu kamar itu.

Zayn berdiri diam.

Beberapa langkah dari tempat tidur.

Tangannya masih sedikit kaku. Napasnya tidak setenang yang ia kira. Untuk seseorang yang selalu mengendalikan segalanya malam ini… ia tidak sepenuhnya yakin.

Bukan tentang apa yang akan terjadi.

Tapi tentang bagaimana ia harus bersikap setelahnya.

Aluna duduk di tepi ranjang.

Tidak menunduk.

Tidak juga menghindar.

Namun jelas ada kegugupan yang sama.

Yang tidak diucapkan.

Tapi terasa.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

Hanya suara napas.

Dan jarak yang perlahan terasa semakin sempit.

“saya…” Zayn akhirnya membuka suara.

Namun kalimatnya terhenti.

Ia tidak terbiasa seperti ini.

Tidak terbiasa… mencari kata.

Aluna menatapnya.

Menunggu.

Tidak memaksa.

Zayn menghembuskan napas pelan.

“saya tidak ingin ini… terasa seperti kewajiban.”

Kalimat itu keluar pelan.

Jujur.

Aluna sedikit terkejut.

Namun tidak menyela.

“says tahu… ini memang bagian dari pernikahan,” lanjut Zayn. “Tapi jika kamu merasa terpaksa,,,,”

Ia menggeleng pelan.

“saya tidak akan melanjutkan.”

Hening.

Aluna menatapnya lebih dalam.

Ada sesuatu di matanya yang sulit dijelaskan.

“Aku tidak terpaksa,” jawab Aluna pelan.

Suaranya lembut.

Tapi jelas.

Zayn menatapnya.

Seolah memastikan.

“Aku memilih ini,” lanjut Aluna.

“Bukan karena siapa pun. Bukan karena Ayahmu. Bukan karena keadaan.”

Ia menarik napas kecil.

“Karena aku sadar… aku adalah istrimu.”

Kata itu

Masih terasa asing bagi Zayn.

Namun malam ini

Maknanya berbeda.

Zayn melangkah mendekat.

Perlahan.

Tidak terburu-buru.

Seolah memberi ruang bagi Aluna untuk mundur

Jika ia ingin.

Namun Aluna tidak bergerak.

Zayn berhenti di depannya.

Cukup dekat.

“saya… mungkin tidak tahu bagaimana memulai ini dengan benar.”

Suaranya lebih rendah sekarang.

Ada sedikit kegugupan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.

Aluna tersenyum tipis.

“Sama.”

Untuk sesaat

Zayn hampir tertawa kecil.

“Setidaknya kita jujur,” gumamnya.

Hening kembali.

Namun kali ini

Tidak setegang sebelumnya.

Zayn mengangkat tangannya perlahan.

Berhenti di udara.

Seolah meminta izin tanpa kata.

Aluna menatapnya.

Lalu mengangguk pelan.

Sentuhan pertama itu

Lembut.

Berbeda dari apa pun yang pernah ia bayangkan.

Zayn tidak terburu-buru.

Tidak memaksa.

Ia bahkan berhenti beberapa kali

Hanya untuk memastikan.

“Kamu… baik-baik saja?” tanyanya pelan.

Aluna mengangguk.

“Iya.”

Jawaban sederhana.

Namun cukup untuk membuat Zayn melanjutkan.walaupun kuku kuku cantik Aluna beberapa kali mencengkram punggung Zayn karena menahan sakit

Dan malam itu

Bukan tentang hasrat.

Bukan tentang paksaan.

Tapi tentang dua orang

Yang sama-sama belajar.

Tentang satu sama lain.

Tentang batas.

Tentang kepercayaan.

Dan ketika semuanya berakhir

Tidak ada kata yang langsung terucap.

Zayn berbaring di sampingnya.

Menatap langit-langit.

Napasnya perlahan kembali stabil.

Namun pikirannya

Tidak.

Ada sesuatu yang berubah.

Ia bisa merasakannya.

“Zayn…”

Suara Aluna terdengar pelan di sampingnya.

“Ya?”

“Setelah ini…”

Aluna berhenti sejenak.

Seolah ragu.

“Kita akan seperti apa?”

Pertanyaan itu

Sederhana.

Namun berat.

Zayn menoleh.

Menatapnya.

Aluna tidak menatap balik.

Matanya lurus ke depan.

“Apakah kita akan seperti suami istri pada umumnya?” lanjutnya pelan.

“Atau… tetap seperti sebelumnya?”

Hening.

Zayn tidak langsung menjawab.

Karena untuk pertama kalinya

Ia tidak memiliki jawaban pasti.

Selama ini

Semua sudah ia tentukan.

Semua sudah ia rencanakan.

Namun sekarang

Segalanya berubah.

Ia menatap Aluna lebih lama.

“saya tidak tahu.”

Jawaban itu keluar pelan.

Jujur.

Aluna sedikit terdiam.

“Tapi…” Zayn melanjutkan.

Suaranya lebih dalam.

“saya tahu satu hal.”

Aluna menoleh.

“saya tidak ingin ini menjadi sekadar kewajiban.”

Tatapan mereka bertemu.

“Dan saya juga tidak ingin… menyakitimu lagi.”

Hening.

Aluna tidak langsung menjawab.

Namun matanya

Sedikit melembut.

“Itu sudah cukup untuk sekarang,” ucapnya pelan.

Zayn menghela napas.

Tidak ringan.

Tapi tidak seberat sebelumnya.

Ia tidak tahu ke mana arah hubungan ini.

Tidak tahu apakah ini akan berubah menjadi sesuatu yang nyata

Atau tetap seperti kontrak yang suatu hari akan berakhir.

Namun satu hal yang pasti

Garis itu sudah dilewati.

Dan setelah itu

Tidak ada yang benar-benar bisa kembali seperti semula,,

Zayn tidak langsung menyadarinya.

Pada awalnya, semuanya terasa… tenang.

Terlalu tenang.

Seolah malam itu akhirnya mencapai titik hening yang selama ini tertunda.

Ia berbaring di samping Aluna, napasnya perlahan kembali teratur. Pikirannya belum sepenuhnya jernih, namun setidaknya tidak lagi seberisik sebelumnya.

Namun

Ada sesuatu yang berbeda.

Suara itu pelan.

Sangat pelan.

Nyaris tak terdengar.

Zayn menoleh.

Dan di situlah ia melihatnya.

Aluna menangis.

Bukan tangisan keras.

Bukan isakan yang meledak.

Namun air matanya mengalir begitu saja—diam, tanpa suara, tanpa perlawanan.

Seolah ia sendiri tidak tahu mengapa ia menangis.

Zayn terdiam.

Untuk beberapa detik

Ia hanya menatap.

Tidak bergerak.

Tidak bicara.

Karena untuk pertama kalinya

Ia tidak tahu harus melakukan apa.

“Aluna…”

Suaranya keluar pelan.

Hati-hati.

Seolah takut menyentuh sesuatu yang rapuh.

Tidak ada jawaban.

Aluna tetap menatap ke depan.

Kosong.

Air matanya terus jatuh.

Zayn bangkit sedikit.

Mendekat.

“Kenapa kamu menangis?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Namun bahkan ia sendiri tahu

Jawabannya tidak akan sesederhana itu.

Aluna menggeleng pelan.

Sangat pelan.

“Aku… tidak tahu…”

Suaranya hampir tidak terdengar.

Zayn mengernyit.

Ia memperhatikan lebih saksama.

Wajah itu

Bukan hanya sedih.

Bukan hanya lelah.

Tapi… kehilangan.

Seperti seseorang yang baru saja meninggalkan sesuatu.

Namun tidak tahu apa.

Dan tiba-tiba

Zayn mengerti.

Bukan sepenuhnya.

Namun cukup.

Usianya.

Keadaannya.

Semua yang terjadi begitu cepat.

Sembilan belas tahun.

Usia di mana seseorang seharusnya masih mencari arah.

Masih belajar memahami dunia.

Namun Aluna

Sudah dipaksa masuk ke dalam kehidupan yang bahkan belum sempat ia pilih.

Pernikahan.

Tanggung jawab.

Peran.

Dan malam ini

Satu batas lain telah terlewati.

Zayn menarik napas dalam.

Tanpa banyak kata

Ia menggeser tubuhnya.

Mendekat.

Tangannya perlahan meraih Aluna.

Menariknya ke dalam pelukan.

Aluna tidak menolak.

Justru

Tangisnya sedikit berubah.

Lebih dalam.

Lebih terasa.

Zayn memeluknya erat.

Bukan karena tahu apa yang harus dilakukan.

Tapi karena… itu satu-satunya hal yang bisa ia lakukan.

“aku Tidak apa-apa…”

Suaranya Aluna rendah.

Lebih lembut dari sebelumnya.

Ia tidak tahu apakah kalimat itu tepat.

Namun ia tetap mengatakannya.

Aluna menggenggam kain bajunya.

Erat.

Seolah itu satu-satunya hal yang bisa ia pegang.

“Aku… seperti kehilangan sesuatu…”

Suaranya pecah.

Zayn menutup mata sejenak.

Ia tahu.

Ia mengerti maksudnya.

Bukan hanya tentang apa yang baru saja terjadi.

Tapi tentang segalanya.

Tentang hidup yang berubah terlalu cepat.

Tentang masa depan yang belum jelas.

Tentang dirinya sendiri

Yang mungkin belum sepenuhnya ia pahami.

Dan Zayn

Untuk pertama kalinya

Merasa bersalah dengan cara yang berbeda.

Bukan karena kata-katanya.

Bukan karena sikapnya.

Tapi karena

Ia menjadi bagian dari perubahan itu.

“Maaf…”

Kata itu keluar begitu saja.

Pelan.

Tulus.

Aluna sedikit terdiam.

Namun tidak melepaskan pelukannya.

“says tidak bermaksud membuatmu seperti ini…”

Lanjut Zayn.

Tangannya mengusap perlahan punggung Aluna.

Berusaha menenangkan.

Meskipun ia sendiri tidak yakin bagaimana caranya.

“aku hanya…”

Ia berhenti.

Mencari kata.

“Aku hanya tidak ingin kamu merasa sendirian,dengan tekanan tuan Misra”

Kalimat itu—

Jujur.

Tanpa lapisan.

Aluna terisak pelan.

“tapi aku tidak tahu harus bagaimana…”

Bisiknya.

Zayn tidak menjawab.

Ia hanya mempererat pelukannya.

Untuk beberapa saat

Tidak ada kata.

Hanya suara napas.

Dan sisa tangis yang perlahan mereda.

Zayn menunduk sedikit.

Dagunya hampir menyentuh kepala Aluna.

Ia tidak pernah berada dalam posisi seperti ini sebelumnya.

Tidak pernah harus menenangkan seseorang

Dengan cara seperti ini.

Namun malam ini

Ia tidak bisa menjaga jarak.

Karena untuk pertama kalinya

Ia melihat Aluna bukan sebagai tanggung jawab.

Bukan sebagai kewajiban.

Tapi sebagai seseorang

Yang benar-benar rapuh.

Dan entah sejak kapan

Ia mulai tidak tega melihatnya seperti itu.

“Aluna…”

Panggilnya pelan.

“Ya…”

“Kamu tidak harus tahu semuanya sekarang.”

Aluna terdiam.

“Kamu tidak harus punya semua jawaban malam ini.”

Tangannya masih mengusap pelan.

Menjaga ritme.

“Kita bisa… pelan-pelan.”

Kalimat itu sederhana.

Namun

Untuk pertama kalinya

Zayn tidak merasa harus mengendalikan segalanya.

Ia hanya ingin

Menenangkan.

Menjaga.

Aluna mengangguk kecil.

Masih dalam pelukannya.

Tangisnya mulai mereda.

Namun sisa-sisa emosinya masih terasa.

Zayn tidak melepaskannya.

Dan untuk pertama kalinya malam itu

Ia tidak merasa terganggu.

Tidak merasa terbebani.

Justru

Ia merasa… harus tetap di sana.

Karena mungkin

Di balik semua yang terjadi

Bukan hanya Aluna yang sedang belajar memahami hidupnya.

Tapi juga dirinya sendiri

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!